YRSBI – Pendapatan Menurun Akibat Covid-19 , MAMPUKAH RS BAPTIS BERTAHAN?

0
127

Di masa pandemi, rumah-rumah sakit menerima dana besar dari pemerintah bagi perawatan pasien Covid-19. Namun di sisi lain, pasien noncovid-19 cenderung menghindar berobat ke rumah sakit. Lalu, bagaimana sebenarnya dampak pandemi setahun lebih ini terhadap keuangan dan operasional rumah-rumah sakit Baptis?

Sundari, anggota Pengawas Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) mengungkapkan, pemerintah mengeluarkan stimulus di sektor kesehatan, bantuan sosial, dan industri agar ekonomi berjalan terus. Salah satunya dengan

membentuk gugus tugas nasional dan menugaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai ketua; memperkuat koordinasi dengan kementerian kesehatan agar kebutuhan alat kesehatan dapat dikoordinasikan; juga menanggung anggaran pembiayaan pasien Covid-19 di rumah sakit.

“Namun, karena biaya perawatan pandemi Covid-19 tidak termasuk jenis biaya yang bisa dicover BPJS Kesehatan, pendanaan pasien Covid-19 akan diambil dari APBN dan atau APBD,” ujar Sundari kepada Prisetyadi Teguh Wibowo dari Suara Baptis 24 Mei 2021 lalu.

Dilanjutkannya, pemerintah juga memberikan insentif bagi para pekerja medis yang menangani pasien Covid-19 terutama di rumah sakit (RS) rujukan untuk tiga bulan.

Masalahnya, terjadi penurunan drastis pasien noncovid-19 yang mengurangi pendapatan rumah-rumah sakit di Indonesia termasuk milik umat Baptis. Sundari mencatat, pada April 2020, semua RS di bawah naungan YRSBI mengalami penurunan pendapatan. Kondisi keuangan RS mulai meningkat sekitar Juli dan Agustus 2020.

Meski begitu, secara keseluruhan sisa hasil usaha (SHU) rumah-rumah sakit Baptis menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Itu sebabnya, Pengurus YRSBI dan direksi rumah sakit merevisi anggaran.

“Sebagai contoh, RS Baptis Batu menghentikan proyek kebun di luar area pelayanan kesehatan dan renovasi poliklinik. Penghentian renovasi poliklinik terpaksa dilakukan karena adanya perubahan lay out yang harus menyesuaikan dengan persyaratan terkait Covid-19,” ujar Sundari.

Meskipun berbagai langkah penghematan dilakukan, rumah-rumah sakit tetap belanja peralatan PCR Swab untuk menanggapi perubahan pelayanan terkait pandemi, tambahnya.

Lantas, apakah penurunan pendapatan ini juga menimpa Klinik Baptis Mitra Setia (KBMS) di Ungaran Jawa Tengah dan Klinik Baptis di Kupang, Nusa Tenggara Timur?

“Meskipun sebagian besar pasien memiliki masalah dengan tulang, KBMS juga terdampak dengan adanya pandemi Covid-19. Penurunan pasien disebabkan beberapa hal, di antaranya salah satu dokter yang melayani terpapar Covid-19. Selang beberapa waktu kemudian, keluarga dokter yang lain terpapar Covid-19 juga. Hal ini sangat memengaruhi jumlah kunjungan pasien non-covid dan kondisi keuangan,” ungkap Sundari.

Sejumlah soal lain turut menyebabkan penurunan. Misalnya, perbaikan gaji pegawai sesuai standar upah di Kabupaten Semarang, peningkatan kompetensi perawat secara formal dengan menyekolahkan mereka ke jenjang S1 keperawatan dan pembuatan master plan sebagai persiapan menuju RS tipe D.

“Klinik Baptis Kupang (KBK) tetap didoakan dan didukung baik dalam hal keuangan maupun sumber daya manusia. Saat ini KBK didukung RS Imanuel Bandarlampung setelah sebelumnya didukung RS Baptis Kediri,” kata Sundari.

Baca ini : memang tidak kalah seru tentang stga covid-19 GGBI.

YRSBI – Satgas Covid-19 GGBI – BUKAN UNTUK MEMERINTAH GEREJA DAN LEMBAGA

RS Bukan Pusat Penyebaran Covid-19

WHO memperkirakan, pandemi akan dapat diatasi awal tahun depan. Menteri Kesehatan pun mengatakan, sebuah pandemi dapat dihentikan paling cepat dalam dua tahun, namun ada juga yang perlu 5, 10 bahkan 30 tahun (https://nasional.sindonews.com ). Lalu, apa yang bisa terjadi dengan rumah-rumah sakit Baptis?

“Mengacu pada hasil survei kegiatan dunia usaha yang dilakukan Bank Indonesia triwulan 1 tahun 2021, optimisme harus dibangun bahwa RS Baptis akan tetap berlangsung dengan baik. Laporan keuangan tahun 2020 hasil audit kantor akuntan publik juga menunjukkan hal yang sama, bahwa RS Baptis mampu bertahan dalam masa pandemi Covid-19,” terang Sundari.

Dosen akuntansi Universitas Gunadarma Depok, Jawa Barat ini menyambung, masalah keuangan adalah ujung dari segala aktivitas yang terjadi di semua jenis bisnis pada masa pandemi. Selain masalah keuangan, terdapat masalah yang dihadapi RS secara umum yakni sistem informasi manajemen (SIM) RS dan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Sundari lalu menunjukkan hasil analisis Dcode Economic & Financial Consulting (EFC) yang menyediakan informasi, analisis, dan data intelijen tentang lanskap politik dan ekonomi. Data tersebut menyebutkan, digitalisasi menyentuh hampir seluruh sektor usaha yang berkontribusi pada kinerja usaha. Sektor kesehatan bertumbuh dari 3,7 persen pada tahun 2018/2019 menjadi 4,3 persen pada tahun 2019/2020.

“Berdasarkan data tersebut, RS perlu memperkuat SIM serta SDM yang mendukung dan kompeten untuk diterapkannya SIM RS. Jika SIM RS yang dibeli tidak didukung SDM yang kompeten, SIM RS tidak akan bermanfaat sama sekali bahkan menjadi masalah tersendiri,” tandas anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Pabaton, Bogor, Jawa Barat tersebut.

Gambar 4.

Potensi bisnis di masa pandemi

Hasil analisis Dcode EFC menunjukkan, industri kesehatan merupakan bisnis yang paling potensial menjadi pemenang sekaligus bisnis terbaik dalam masa pandemi. Karena itu Sundari mengingatkan supaya para pemimpin RS Baptis menyikapi potensi tersebut dengan baik.

“Di samping itu, rumah sakit adalah mitra Tuhan dalam menjalankan grand design mengabarkan keselamatan melalui pelayanan kesehatan. Karena itu rumah sakit harus dikelola secara profesional untuk mendapatkan profit, berkelanjutan, berkembang dan bertambah agar kabar keselamatan disampaikan seluas-luasnya,” dorong Sundari.

Ia lantas mengingatkan sebuah prinsip kunci, yakni bijaksana dalam mengelola sumber daya yang ada dan selalu berjaga-jaga. “Karena kita tidak pernah tahu secara pasti apa yang akan terjadi,” tukasnya.

Menanggapi soal kecemasan banyak orang yang menganggap mudahnya tertular virus Covid-19 di rumah sakit, Ketua Pengurus YRSBI Pdt. Victor Rembeth mengatakan, anggapan tersebut keliru samasekali. “Sebetulnya yang perlu dikampanyekan adalah soal rumah sakit itu bukan tempat penyebaran Covid-19, lho. Justru survei di mana-mana mengatakan, (penyebaran virus Covid-19 di rumah sakit) kurang dari 10 persen, bahkan 5 persen orang terdampak. Bahkan di rumah sakit kita, kurang dari 2 persen.”

Kalaupun ada tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19, itu terjadi karena mereka bekerja langsung menangani pasien. Namun jika seorang pasien berobat, rumah sakit sudah mempersiapkan berbagai protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran virus Covid-19 maupun penyebab penyakit-penyakit lainnya.

“Itu yang kita bahas kemarin di seminar profesi, kita bicara, rumah sakit bukan tempat penyebaran (Covid-19). Media sosial, siapa pun, harus memperkuat (informasi) ini,” tandas Pdt. Victor.

SB/Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here