YRSBI – Edukasi Covid-19 Melalui Kesenian Ketoprak , “JANGAN ADA KLASTER COVID-19 DI GEREJA BAPTIS”

0
204

Dengan gaya jenaka, dua pria pemain ketoprak bermasker yang berpakaian kain ungu dan merah, bergurau di tengah panggung.

Anget-anget wedang jahe…” kata si baju merah.

“Apa tuh Mas?”

Pengen slamet ning ngomah wae (Ingin selamat, dirumah saja)!”

Sontak penonton tergelak ditimpali suara kendang.

Si baju ungu tak mau kalah. Dia pun ganti bicara, “Tuku beras kudu ditaker (Beli beras harus ditakar), Mas.”

“Lho, apa tuh?”

Wong nek pengin awak waras, nganggo masker (Orang, kalau ingin sehat, pakai masker)!”

Penonton kembali terbahak-bahak.

Keduanya melanjutkan berpantun bahasa Jawa dalam video yang ditayangkan di YouTube 11 April 2021 lalu. Teks terjemahan dalam bahasa Indonesia di bagian bawah layar sangat membantu penonton memahami percakapan itu.

Dengan gaya berseloroh, mereka menyampaikan pesan-pesan supaya semua orang waspada dengan pandemi Covid-19, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan menggunakan sabun. Juga mereka mengungkapkan simpati kepada tenaga kesehatan yang bekerja keras dalam penanggulangan pandemi tersebut.

Pagelaran ketoprak berjudul “Sirnaning Memala” (Musnahnya Petaka) ini memang bertujuan mengajak masyarakat waspada namun juga penuh harapan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Acara ini merupakan persembahan Paskah Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) dan Sanggar Tobong Institute Yogyakarta. Pagelaran ketoprak yang mengisahkan upaya Naaman, panglima perang Kerajaan Aram mendapatkan kesembuhan dari penyakit kusta dengan meminta bantuan Nabi Elisa itu telah ditonton lebih dari 1.400 kali pada 28 Mei 2021.

Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Covid-19 Baptis Pdt. Victor Rembeth mengatakan, penggunaan kesenian ketoprak sebagai media pendidikan tentang pandemi adalah salah satu cara yang kreatif. Cara ini dapat diterima masyarakat khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut perkiraan Pdt. Victor, 60 persen umat Baptis adalah orang Jawa.

“Dan kebetulan Pak Dwi dan Risang (Pdt. Dwi Tartiyasa dan putranya, Risang adalah pemimpin ketoprak tersebut, red.) punya skenarionya. Ternyata pagelaran itu diapresiasi gereja-gereja lain (non-Baptis). Seperti GKJ (Gereja Kristen Jawa) misalnya, ‘Lho, kok orang Baptis bisa melakukannya? Kita yang orang Jawa kok malah nggak (terpikir) begitu?’ Maksudnya, secara umum diapresiasi banyak pihak,” ujar Pdt. Victor.

Bahkan Tim Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19 Nasional yang April lalu masih di bawah pimpinan Letjen Doni Monardo, menyampaikan penghargaannya, demikian Pdt. Victor.

“Sebetulnya kita mau minta sambutan Pak Doni Monardo, tetapi terlambat waktunya. Karena kami berpikir, santai-santai saja, tetapi ternyata surat permintaannya terlambat. Jadi, nggak mungkinlah, karena Pak Doni sedang di lapangan. Sebetulnya dia bersedia tapi karena kesibukan, jadi nggak bisa,” sesal Pdt. Victor.

Aktivis Kristen dan gerakan sosial ini berharap, tayangan edukasi tersebut bukan hanya memberikan harapan tetapi juga memampukan masyarakat sadar diri menghadapi pandemi Covid-19.

Senada dengan itu, Ketua Satgas Covid-19 Baptis Rudi Phadmanto mengatakan, penyampaiaan pesan seputar pandemi melalui ketoprak ini dapat diterima masyarakat dengan baik. Namun supaya masyarakat umum juga dapat memahami pesan tersebut sekaligus menikmati pementasan ketopraknya, Rudi meminta Pdt. Dwi Tartiyasa menambahkan teks berbahasa Indonesia.

Dan memang, cara ini ternyata ampuh. Pagelaran yang ditonton lebih dari 1.400 kali tersebut menjadi bukti.

Dalam tayangan pagelaran ketoprak ini, Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Nasional GGBI David Vidyatama mengajak gereja-gereja turut memberikan bantuan. “Bagimana kisah Naaman? Apa pesan yang kita dapatkan? Tuhan sangat mempedulikan umat-Nya. Dan Tuhan juga dapat memakai umat-Nya untuk menolong sesamanya. Nah, kita juga dapat menolong saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur dengan cara memberikan donasi.”

Hasilnya, terkumpul dana Rp 10.666.000,00. Dana ini dibagi dua, 80 persen untuk umat Baptis di Nusa Tenggara Timur, 20 persen untuk Sanggar Tobong Institute.

Baca juga tntng YRSBI lainnya :

http://suarabaptis.com/yrsbi-pendapatan-menurun-akibat-covid-19-mampukah-rs-baptis-bertahan/

Jangan Ndableg

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, pandemi Covid-19 baru dapat diatasi awal tahun depan. Sedangkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin 11 Mei 2021 lalu mengatakan, menurut pengalaman, pandemi baru dapat benar-benar diatasi paling cepat dua tahun (www. sindonews.com).

Ketika penanganan pandemi tengah berlangsung, muncul varian virus corona baru yang ditemukan di Inggris. Berita buruk lalu muncul dari tempat lain. Sesudah angka kasus penderita Covid-19 menurun di India, mendadak terjadi ledakan kasus sesudah ribuan orang merayakan upacara keagamaan dan beberapa acara publik lainnya. Kematian yang ditimbulkan akibat ledakan virus Covid-19 ini pun mencemaskan dunia. Sejak 27 April hingga 2 Mei 2021, jumlah kematian mencapai lebih dari 3.000 jiwa (www.tirto.id, 2 Mei 2021).

Menanggapi peristiwa mengerikan ini, Pdt. Victor berujar, “Justru (sesudah muncul) pengalaman buruk di India, kemudian di Malaysia bahkan Vietnam yang katanya (pandemi Covid-19) sudah hampir habis sama sekali, tiba-tiba meningkat. Dan terakhir Nepal yang semakin parah karena juga infrastruktur kesehatan mereka yang sudah parah. Karena itu, harusnya pengalaman itu bisa membuat orang semakin sadar bahwa tidak mudah (menangani pandemi ini).”

Ia memberitahu, dalam webinar yang baru saja diikutinya, staf ahli Tim Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19 Nasional mengatakan perlunya pendekatan keagamaan dan budaya untuk mencegah memburuknya kondisi pandemi ini.

“Di situ letak titik pentingnya semua agamawan dan rohaniwan dalam upaya mengatasi gelombang kedua atau gelombang memburuknya pandemi ini. Kalau semua orang terlibat dengan baik, pemerintah sudah terlibat dengan baik, tidak akan terjadi seperti di India,” tandasnya.

Terhadap sebagian orang yang menganggap remeh Covid-19, anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Grogol Jakarta ini meminta supaya tidak berkeras kepala.

Barusan ada kisah seseorang yang antimasker tapi akhirnya juga terdampak parah. Itu viral. Jadi, jangan ndableg (keras kepala), jangan merasa hebat. Kerohanian yang baik itu bukan sekadar berpikir bahwa segala sesuatunya itu (bisa terjadi) kalau kehendak Tuhan. Tetapi Tuhan juga memberi kita akal sehat dan pilihan,” ujar Pdt. Victor.

Serupa dengan itu, Rudi berharap, pagelaran ketoprak tersebut akan mendorong masyarakat turut terlibat menghentikan pandemi.

“Pasti akan memiliki kemampuan dari sisi dukungan tim ketoprak untuk mendukung penyebaran luas info berkaitan dengan apa yang sekarang sedang diimbau pemerintah, yaitu menghentikan penyebaran virus Covid-19. Dengan demikian, tidak akan muncul klaster (Covid-19) di gereja Bapis Indonesia,” harapnya.

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Baca juga :

YRSBI – Satgas Covid-19 GGBI – BUKAN UNTUK MEMERINTAH GEREJA DAN LEMBAGA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here