Yosafat Setiawan, Riau SAYA INGIN, BISNIS DAN PEKERJAAN SAYA MEMULIAKAN TUHAN

0
294

Meski menyandang nama salah satu raja Yehuda yang sangat terkenal, Yosafat Setiawan tak pernah menikmati kemewahan hidup ala istana. Sejak kecil, pemuda yang biasa disapa “Wawan” ini sudah terbiasa hidup dalam perjuangan.

Ayahnya, Zakaria Sutrisno Atmojo, bekerja sebagai seorang buruh tani. Namun karena tenaganya tidak kuat lagi untuk bekerja keras, Sutrisno beralih menjadi tukang pijat.

”Dari kecil saya sudah berkeinginan mandiri dan tidak mau terus-menerus merepotkan orang tua. Bahkan, saya dari SD (sekolah dasar) sudah bekerja mencari brondolan sawit di kebun untuk membayar SPP (sumbangan pembinaan pendidikan)  dan membeli kebutuhan sekolah lainnya. Jika mau membeli sepatu, saya harus menabung dulu,” ungkap pemuda kelahiran Pasir Pengaraian, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau 1 September 1998 ini kepada kontributor Suara Baptis, Yonghan Lim.

Ketika tamat sekolah menengah pertama (SMP), Wawan sudah tidak tinggal serumah dengan orang tuanya. Anak ketiga pasangan Sutrisno dan Yunias Temu ini harus meninggalkan kampung transmigran kelahirannya yang lebih dikenal dengan nama Kampung SP 4, demi melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Rambah Samo, Rokan Hulu, Riau. Karena sekolah ini berjarak satu jam perjalanan dari kampungnya, juga harus melewati hutan dan perkebunan sawit, Wawan pun mencari rumah kos di dekat sekolah.

Meskipun sejak kecil sangat tertarik pada dunia permontiran, berdasarkan nasihat orang-orang terdekatnya, Wawan memilih jurusan Teknik Komputer Jaringan. Dunia seputar komputer dianggap lebih menawarkan masa depan ketimbang bidang permontiran. Maka, ia dengan serius menuntaskan studi supaya bisa segera bekerja begitu lulus SMK. Wawan ingin segera mandiri supaya tidak lagi membebani ayahnya.

Meskipun ingin segera bekerja, jauh di dalam hatinya, Wawan menyimpan keinginan untuk bisa berkuliah. Universitas Riau (UNRI) menjadi impiannya. Beberapa kali Wawan berkunjung di kompleks Unri dan membayangkan dirinya suatu hari bisa berkuliah di sana.

Namun Wawan memendam keinginan ini dalam-dalam. Ia sadar, tidak ada biaya untuk mewujudkannya.

Dalam suatu kebaktian Natal di kampungnya, yang pada waktu itu dilayani Pdm. Johannes Riwayat (Wayat), ada isi khotbah yang mendorongnya untuk percaya pada pertolongan dan cara Tuhan. Maka, seusai kebaktian, Wawan bernazar dalam hati, ”Tuhan, di mana pun Engkau, bukakan jalan supaya saya bisa berkuliah kelak. Saya ingin setia melayani Tuhan di tempat itu.”

Tuhan memang kemudian menjawab keinginan hati Wawan dengan cara yang ajaib. Menjelang akhir masa SMK, Wawan dan teman-teman seangkatannya tiba-tiba mendapatkan kesempatan untuk didaftarkan sebagai penerima beasiswa Bidikmisi dari Kementerian Riset dan Teknologi. Syarat siswa yang boleh mendaftar adalah mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu, namun berprestasi.

Maka, Wawan yang menjadi juara umum sewaktu duduk di bangku SMP dan SMK ini pun ikut didaftarkan. Dari 35 siswa pendaftar, hanya dua yang berhasil mendapatkan beasiswa ini termasuk Wawan. Semua biaya kuliahnya di Unri Jurusan Teknik Informatika selama delapan semester, akan ditanggung oleh beasiswa ini. Juga, Wawan akan menerima uang saku Rp 700 ribu per bulan selama masa delapan semester itu.

Pertolongan Tuhan ini diterimanya dengan penuh ucapan syukur. Kesempatan baginya untuk bisa berkuliah setidaknya sudah terbuka. Tuhan sudah membukakan jalan.

”Saya dari kecil sudah terbiasa hidup susah dan harus bekerja keras. Semoga dengan berkuliah, saya kelak bisa bantu orang tua yang sudah uzur,” ujar Wawan.

Dari anak Kampung SP 4, merantau ke Rambah Samo, kini ia akan mulai menjalani hidup sebagai anak Kota Pekanbaru. Wawan pun bisa mulai berkuliah di Unri sejak 2017 kemarin.

Meskipun hatinya dipenuhi ucapan syukur, Wawan tahu kalau uang saku Rp 700 ribu per bulan tidak akan cukup baginya untuk menjalani hidup di Pekanbaru. Maka, ia harus segera mencari jalan bagaimana mencukupkan kebutuhan hidupnya tanpa perlu merepotkan orang tua.

Selama tidak melanggar hukum, Wawan rela bekerja apa saja untuk mencukupkan kebutuhannya. Tidak ada pekerjaan yang membuatnya merasa gengsi untuk melakukannya. Pemuda yang aktif di berbagai organisasi kampus ini pernah mengajar les privat. Juga, ia sempat menawarkan jasa mencetak foto dan spanduk.

Ayahnya sempat beberapa kali ingin mengirimkan uang, namun Wawan tahu diri. Ia berusaha menenangkan hati prang tuanya dengan berkata, ”Kalau saya belum bilang tidak ada uang, berarti Tuhan masih pelihara.”

Kesempatan lain terbuka ketika seorang lulusan satu jurusan dari kampusnya, yang juga memiliki toko laptop bekas, membutuhkan tenaga pemasaran. Wawan mencoba peruntungannya di sana. Dan Tuhan menolongnya dalam pekerjaan baru ini. Sambil menyelam minum air, ia juga sekalian menawarkan jasa service laptop di rumah. Melalui peluang ini, Wawan tidak hanya dapat mencukupi kebutuhan hidup. Ia bahkan bisa mengirim dana kepada ayah ibunya di kampung.

Bukan hanya itu, ia juga mampu membeli sepeda motor bekas pakai Jupiter MX 2012. Mahasiswa semester 7 ini bisa membeli motor idamannya di bawah harga pasar yang seharusnya Rp 8,5 juta, dengan harga miring Rp 6,7 juta.

”Teman saya ini kebetulan anak orang yang berada. Motornya dalam kondisi bagus, tetapi ia merasa bosan dan ingin mengganti dengan yang baru. Puji Tuhan, saya dikasih ‘harga teman’,” ucapnya.

Tentu, Wawan sangat bersukacita melihat hasil kerja kerasnya telah berbuah manis.  Meskipun sibuk bekerja sana-sini, Wawan tidak melupakan nazarnya untuk setia melayani Tuhan di tempat Dia membuka jalan baginya untuk berkuliah. Karena sejak kecil sudah berjemaat di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Getsemani BPW SP 4 yang digembalakan Ev. Abdiel Tugiono, Wawan lantas berjemaat di GBI Getsemani Pos PI Pandau, Pekanbaru. Gereja ini digembalakan Pdm. Wayat, figur yang dihormatinya sejak Wawan duduk di SMP.

”Dulu waktu mau masuk SMK, saya pernah mendengar Pak Wayat berkhotbah. Khotbah beliau itu jelas dan tidak bertele-tele. Sempat muncul keinginan supaya suatu hari saya bisa melayani bersama-sama beliau,” ungkap Wawan.

Kembali, Tuhan mengabulkan doanya. Dalam jemaat Pandau ini, sejak mulai berkuliah pada 2017, Wawan memang setia melayani sebagai pemimpin pujian. Ia juga menjadi guru Sekolah Minggu kelas Madya. Setiap Minggu sore, Wawan bersama rekan pelayanan lainnya pergi melayani Minggu Ceria di daerah Pasir Putih, setengah jam perjalanan dari Pandau. Setiap Sabtu malam, ia juga biasanya membawakan renungan bagi kaum muda. Kesibukannya bekerja mencari nafkah tidak membuat Wawan lalai melayani di gereja.

Meskipun rajin melayani dan percaya kepada Tuhan Yesus sejak kecil, dalam lubuk hatinya yang terdalam Wawan merasa belum memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. ”Bangun pagi, saya biasanya malah langsung sibuk menawarkan laptop. Saat itu, belum ada kebutuhan untuk bersaat teduh sama sekali,” cerita Wawan.

Pelayanan seolah-olah sekadar sebuah kesibukan rohani baginya. Suatu hari, pada bulan Oktober 2019, datang pengkhotbah kebaktian kebangunan rohani (KKR) kaum muda dari GBI Golden Boulevard, Banten. Dalam KKR bertema ”Engkaulah orang itu” (2 Sam. 12:7), Wawan merasa dilahirbarukan Roh Kudus ketika pengkhotbah mengajak peserta yang hidup dalam dosa, untuk segera bertobat dengan berkali-kali menyerukan, ”Engkaulah orang itu!”

Pikiran Wawan menjadi terbuka bahwa tidak ada manusia yang bisa benar di hadapan Allah dengan usahanya sendiri. Itu sebabnya, sehingga setiap orang membutuhkan Juru Selamat pribadi. Ada perasaan yang begitu berbeda memenuhi hatinya pada KKR itu.

”Padahal saya yang bertanggung jawab membuat spanduk acara KKR itu. Namun, ayat Firman Tuhan yang tertera di spanduk tidak berdampak apa-apa pada saya sampai malam itu tiba,” ungkap Wawan.

Ia pun maju menyambut undangan pengkhotbah untuk bertobat dan beriman pada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya. Hidupnya menjadi berubah drastis sejak KKR itu.

”Sekarang, kalau bangun pagi, saya sudah tidak langsung berjualan lewat HP. Saya merasa ada kebutuhan untuk bersaat teduh. Kalau mau berbuat sesuatu, meskipun tidak ada yang akan tahu, sekarang muncul kesadaran, apakah yang akan saya lakukan ini berkenan atau tidak bagi Tuhan,” ceritanya.

Wawan memang harus banyak bergumul dalam usahanya, apakah mau ikut cara dunia atau cara Tuhan. Kalau ikut cara Tuhan, labanya mungkin tidak setebal teman-teman yang bersedia menghalalkan trik dan cara apa pun. Wawan menolak mengikuti cara dunia.

”Saya ingin menjadikan semua bisnis dan pekerjaan saya untuk memuliakan Tuhan. Setiap keuntungan yang didapatkan, saya ingin menyisihkan 10 persen bagi pekerjaan Tuhan. Kalau belum melakukannya, hati saya merasa tidak sejahtera,” tegas pemuda yang tidak segan-segan memakai hasil jerih usahanya untuk membantu kebutuhan gereja ini.

Pertolongan dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup Ketua Persekutuan Kaum Muda Baptis (PKMB) Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) Sumatra bagian Tengah (Sumbagteng) ini memang nyata. Tak heran jika hati Wawan semakin berkobar-kobar ingin melayani Tuhan.

 

Penulis: Yonghan Lim

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here