Utuslah Aku – Pdt. Ed Merdhiriawan – DARI KEDOKTERAN HEWAN MENJADI GEMBALA SIDANG

0
113

Menjadi pendeta…. bukanlah cita-cita awalku. Aku memang terlahir di tengah keluarga yang sudah mengenal Tuhan Yesus. Semua aktivitas keagamaan dapat dijalankan dengan baik tetapi cenderung menjadi rutinitas saja.

Saat muda, aku mulai banyak belajar melayani melalui komisi pemuda di gereja (keluarga besar kami bukan dari gereja Baptis). Waktu berlalu sampai waktunya lulus sekolah menengah atas (SMA) dan harus menentukan langkah untuk tingkat perguruan tinggi. Ada ganjalan dalam benakku, jika aku kuliah tetapi tidak punya keterampilan khusus pun, nanti aku sulit cari kerja (aku tidak bisa main musik, dan menyanyi hanya pas-pasan).

Tahun pertama lulus SMA aku pilih untuk bekerja. Waktu itu tahun 1996, di kotaku, Kediri, Jawa Timur, baru muncul angkutan kota (angkot). Ayahku seorang guru. Penghasilan sopir angkot waktu itu jauh di atas gaji ayahku. Maka aku bilang untuk menjadi sopir angkot saja, dan aku memulainya dengan kursus mengemudi.

Tetapi selesai kursus mengemudi, Ayah tidak mengabulkan niatku menjadi sopir angkot. Akhirnya aku bekerja menjadi sales (penjual) handphone yang waktu itu masih menjadi barang mewah.

Berjalannya waktu, semangat untuk kuliah terus disampaikan orang tuaku serta teman-teman yang sudah lebih dulu kuliah. Ayah ingin aku masuk ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) supaya bisa meneruskan menjadi guru seperti kakak keduaku.

Di tahun ke dua, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah. Tidak punya pilihan yang jelas, minimnya informasi dan gambaran yang aku dapat tentang jurusan di kampus membuatku cukup asal-asalan menentukan pilihan jurusan. Teknik Elektro Universitas Brawijaya (UNBRA) Malang dan Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya itu yang akhirnya aku pilih tanpa pertimbangan apa pun.

Tuhan begitu baik. Di sinilah rencana-Nya yang tidak pernah gagal, mulai dinyatakan. Tanpa aku duga, aku diterima di pilihan kedua yaitu kedoteran hewan UNAIR. Di kampus ini, aku bertemu rekan-rekan yang berkomitmen dengan pelayanan. Di organisasi pelayanan mahasiswa, aku belajar berorganisasi. Itu sangat mewarnai aktivitas rutinku selain kuliah.

Sampai pada titik di semerter 5, aku merasakan ada panggilan sepenuh waktu untuk melayani. Keyakinan ini semakin dikuatkan setelah aku berkenalan lebih dekat dengan seorang gadis (yang menjadi istriku saat ini), salah satu pengurus pelayanan di kampus. Melalui dialah aku dikenalkan dengan pelayanan Baptis.

Pdt. Wawan Aprillianto, itulah pendeta Baptis pertama yang aku kenal dan mengajakku melakukan pelayanan pertama kalinya di Pos Pengabaran Injil (PI) Nglebo, Trenggalek, Jawa Timur.

Setelah semakin mengenal pelayanan Baptis, Minggu 21 April 2001 Pdt.  Firmanius Wanudjaya membaptiskanku. Waktu itu aku masih bekerja di Surabaya dan setiap akhir pekan ke Trenggalek untuk belajar melayani.

Tahun 2003 aku memutuskan untuk diperlengkapi di Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang. Saat itu ada acara Hari STBI di daerah Kediri, Pdt.  Stefanus Priyantoro, dosen STBI, menyampaiakan Firman Tuhan. Dan aku menyambut tantangan untuk diperlengkapi di STBI.

Jadi, jadwal pulang setiap akhir pekan menjadi bertambah agenda. Bukan hanya pulang untuk pelayanan, tetapi ditambah dengan konseling pranikah karena aku dan teman gadisku berkomitmen untuk menikah.

Tantangan dan keraguan muncul dari keluarga besarku saat aku memutuskan diperlengkapi di STBI. Orang tua yang sudah cukup bangga bisa membiayai kuliah di UNAIR dan aku sudah bekerja sebagai salesman obat di sebuah perusahaan farmasi, meragukan masa depanku jika aku nanti menjadi hamba Tuhan. Aku berusaha menyakinkan dan akhirnya izin diberikan.

Berawal dengan kuliah umum lalu diperlengkapi di STBI tidaklah mudah. Tetapi Tuhan memampukan.

Belajar melayani di Tempat Pembinaan Warga (TPW) Kecik bersama Pdt. Eko Kurniadhi (sekarang Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia/GBI Candi Semarang) menjadi pengalaman tak terlupakan. Selain di tempat yang sunyi, itu adalah waktu hari-hari kami menikmati bulan madu pengantin baru.

Saya merasakan Tuhan begitu baik dan memampukan kami bisa melewati masa itu dengan baik. Istriku masih bekerja di Surabaya. Dia yang harus bekerja keras, dan ketika akhir pekan membagi waktu dan mendampingiku melakukan pelayanan.

Semangat dalam panggilan Tuhan menjadi motivasi kami. Sampai akhirnya bulan April 2004 kami berpindah pelayanan di GBI Karunia Kediri sampai saat ini.

Aku memulai pelayanan di gereja ini dari berstatus mahasiswa Kerja sama Proyek Pelayanan Mahasiswa (KPPM). Lalu aku menjadi asisten gembala sidang waktu GBI Karunia digembalakan Bapak Basri Iskak (almarhum). Akhirnya di ujung tahun 2005, jemaat menetapkan aku menjadi gembala sidang sampai saat ini.

Warna demi warna, mulai dari kuliah di UNAIR, membantu pelayanan di tempat perintisan juga masa-masa diperlengkapi di STBI, menjadi bagian tak terpisahkan dalam pelayanan sebagai gembala sidang. Aku dan istriku sadar, saat kami ada dalam situasi sekarang ini bukanlah karena kuat dan gagah kami, tetapi Tuhan yang sudah memilih, Tuhan pula yang memampukan kami melayani sampai hari ini.

Istriku sampai hari ini masih aktif menjadi abdi negara di bidang kesehatan. Dengan dikaruniai dua putri dan satu putra, kami tetap berkomitmen untuk membagi waktu dengan baik.

Bersyukur, kami bisa melayani karena Tuhan. Hubungan dengan anggota gereja sangat harmonis kami rasakan. Juga dukungan dari masyarakat sekitar gereja menjadikan semangat untuk kami berjuang melayani seperti yang Tuhan maksud.

Kami tidaklah sempurna, tidak bisa menyenangkan semua orang. Tetapi yang kami rindu adalah dapat menyenangkan hati Tuhan yang sudah memanggil dan memperlengkapi kami.

Penulis: Pdt. Ed Merdhiriawan

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here