TUHAN MENDAMAIKAN SAYA DENGAN BAPAK – Leni Wahyuni

0
185

Kepahitan dan dendam di masa lalu menyebabkan Leni Wahyuni, wanita kelahiran Kasokandel, Majalengka, Jawa Barat, bertekad belajar pencak silat. Ia yang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus, mendalami ilmu kanuragan yang melibatkan kuasa-kuasa kegelapan. Namun semua itu justru menyeretnya semakin menderita hingga nyaris bunuh diri, melompat dari jalan layang Pasupati, Bandung.

Sesudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, Leni mengalami pemulihan sedikit demi sedikit. Sang suami yang sudah Kristen, menjadi penolong penting baginya supaya mengenal Tuhan Yesus dan bertobat (lihat Suara Baptis Nomor 3 Tahun 2020).

Berikut adalah kelanjutan kesaksian Leni, yang ketika menjadi Kristen, keluarga di Majalengka lalu memusuhi dan kerapkali merendahkannya:

 

Awal saya menjadi seorang Kristen, orang tua sangat menentang. Setiap kami pulang ke Majalengka, tanggapan yang saya dan suami terima, sungguh menyakitkan. Saya sering sekali menangis dengan perilaku yang mereka lakukan pada kami. Sampai-sampai saya tidak mau pulang karena kalau pulang, kami harus siap dengan segala umpatan, cacian dan ejekan.

Tuhan sungguh baik. Dia terus membawa kami dalam doa yang tak henti-hentinya. Sampai suatu ketika Roh Kudus berbicara melalui Firman Tuhan dalam renungan pagi saya di Kitab Ulangan 5:16. “Hormatilah ayahmu dan ibumu seperti yang diperintahkan oleh TUHAN Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN Allahmu kepadamu.”

Setelah itu saya mulai berdoa dan bergumul untuk mengampuni orang tua saya, terutama Bapak karena saya banyak tersakiti sehingga menyimpan banyak luka di hati. Puji Tuhan, saya dimampukan Tuhan supaya dapat mengampuni Bapak. Rasanya begitu ringan setelah terbebas dari kepahitan hati yang menyiksa selama ini.

Sesudah itu, saya memberanikan diri untuk pulang meskipun dengan penuh rasa takut. Takut ditolak, takut dicaci, takut akan segala yang mereka lakukan sebelumnya kepada saya dan suami.

Tiba di kampung, saya turun turun dari bus. Kebetulan, rumah orang tua saya pas sekali terletak di pinggir jalan besar. Jadi, saya tinggal menyeberang

Di saat saya dipenuhi kekhawatiran dan rasa takut terhadap tanggapan orang tua, saya melihat pemandangan yang sungguh tak pernah saya duga. Di seberang jalan, Bapak berdiri menatap saya sambil tersenyum… Dan…. Sesampai di depan Bapak, ia tiba-tiba merangkul dan memeluk saya….

Ajaib Engkau Tuhan! Tidak henti-hentinya saya mengucap syukur atas peristiwa itu….

Sampai sekarang hubungan kami sangat baik. Saya dan suami berdoa dan terus bergumul supaya semua anggota keluarga kami dimenangkan.

Walaupun sampai hari ini belum ada yang bertobat, saya tidak pernah jemu mendoakan mereka. Saya rindu, orang tua dan saudara saya dapat bertobat dan menerima anugerah keselamatan dari Tuhan.

Saat ini saya, suami dan anak-anak masih terus belajar hidup saling mengasihi. Semakin hari, semakin indah berjalan bersama Tuhan.

Saya sangat bersyukur mempunyai orang-orang baik yang dikirim Tuhan untuk terus mengasah hidup kami di dalam Dia. Saya belajar untuk tidak egois dengan tidak mementingkan diri-sendiri. Hal-hal materi yang Tuhan berikan, luar biasa. Tak pernah terpikir dengan keterbatasan kami.

Maka, kami juga selalu ingin berbagi kasih dengan siapa pun, berbelas kasih kepada siapa pun tanpa memandang orangnya. Seperti Tuhan Yesus yang selalu berbelas kasih kepada kami.

Kadang cara Tuhan memberkati, membuat kita terheran-heran. Sungguh, saya bangga punya Allah seperti Dia.

Dalam perjalanan rumah tangga kami, meskipun banyak tantangan, sedikit demi sedikit Tuhan pulihkan, hingga akhirnya benar-benar tuntas pulih dari berbagai kepahitan masa lalu.

Juga ketika di rumah kontrakan kami tidak punya apa-apa, sampai-sampai tidur pun beralaskan selimut. Dan memang Tuhan sedang mendidik kami untuk tidak hidup menuruti keinginan kedagingan, termasuk keinginan untuk punya ini dan itu di rumah. Sampai akhirnya Tuhan yang berikan sesuai keinginan-Nya. Misalnya, perlengkapan barang-barang di rumah, mulai dari kasur, ranjang, lemari dan perlengkapan rumah tangga lainnya.Tuhan kirim orang-orang untuk memberkati kami, termasuk dana untuk membiayai sekolah anak-anak kami.

Jika dipikir secara akal manusia, hal itu mustahil. Ada kalanya kami benar-benar menghemat pengeluaran karena ingin sekali menabung. Tetapi apa yang terjadi?

Tiba-tiba anak kami yang kecil sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Uang yang selama ini kita tabung dengan susah-payah, ludes untuk membayar biaya perawatan.

Di situlah Tuhan lalu berbicara bahwa kami tidak boleh menabung. Sungguh aneh, kan? Dan kami mencoba untuk taat. Uang yang ada kami gunakan untuk perpuluhan, persembahan, keperluan sehari-hari, membayar biaya sekolah anak, juga membantu keluarga dan sesama.

Puji Tuhan, semua tercukupi. Dan dengan uang itu, keluarga kami pun dapat melihat dan merasakan kasih Tuhan luar biasa. Dan Dia juga memberikan keinginan-Nya supaya kami mempunyai tabungan bukan dari hasil jerih payah bekerja melainkan karena berkat Tuhan melalui orang-orang yang Dia pakai untuk memberkati kami.

Suatu hari, ketika sedang mengedarai sepeda motor, suami berhenti di lampu merah. Lalu ada seorang anak meminta bantuan untuk biaya sekolah.

Suami saya kemudian memberikan uang kepada anak itu karena belas kasihan, sebesar Rp 100 ribu. Sesampai di kantor, atasan suami saya meminta nomor rekening.

Dua hari kemudian, atasan suami saya memberitahu, berkat sudah ditransfer. “Untuk deposito,” katanya.

Dan nilainya luar biasa, beratus kali ganda dari uang yang suami berikan kepada anak yang perlu biaya sekolah tersebut. Tuhan Yesus mengganti uang tadi. Sungguh dahsyat Tuhanku!

Di masa awal menerima Tuhan Yesus, saya ikut suami kebaktian di sebuah gereja di gedung Bandung Trade Center (BTC) Jalan Pasteur. Sesudah sebulan, kami lalu mengikuti kebaktian di gereja lain dan kembali pindah gereja yang berbeda.

Sampai kemudian anak sulung kami masuk sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Kristen Baptis di lingkungan Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung. Dari situ, anak-anak diajak bersekolah minggu di GBP.

Anak-anak sangat senang. Lalu secara bergantian, saya dan suami mengantar mereka ke Sekolah Minggu.

Suatu ketika, ketika suami saya sedang menunggu anak-anak selesai mengikuti Sekolah Minggu, ada yang mengajak dia bergabung di kelas pasangan suami istri. Ternyata yang mengajak suami saya adalah Pdt. Isriyanto.

Dari situlah akhirnya kami ikut Sekolah Minggu dan berkebaktian di GBP. Sampai pada suatu ketika kami bergabung secara resmi menjadi anggota gereja ini hingga sekarang.

Puji Tuhan, setelah bergabung di Sekolah Minggu Kelas Pasangan Suami-Istri, kami bertumbuh. Kami semakin dikuatkan, semakin mengenal Firman Tuhan. Kami sangat diberkati dan mampu menjadi berkat juga bagi orang lain.

Di gereja ini, kami sudah seperti keluarga sendiri. Jika sedang ada pergumulan di antara kami, anggota kelas Sekolah Minggu saling dukung doa dan saling menguatkan.

Baca juga :

Maydeline – TUHAN TIDAK MENCIPTAKAN PRODUK GAGAL!

*)Penulis adalah anggota GBP Bandung

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here