Sunday School Done Right (SSDR) – Ber-KOINONIA Di Masa Pandemi COVID-19

0
432

Firman Tuhan dengan jelas menyatakan tiap-tiap hari Tuhan berkehendak menambah jumlah Anak-Anak-Nya (Kisah Para Rasul 2: 41, 47).  Dan itulah yang terjadi setelah Rasul Petrus berkotbah di Hari Pentakosta.

Dalam KPR 1:9, kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus terangkat ke sorga beberapa hari sebelum Hari Pentakosta. Kemudian para rasul berkumpul di ruang atas di tempat di mana mereka menumpang di Bukit Zaitun yang letaknya kira-kira seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Di sana, mereka semua bertekun dan dengan sehati berdoa bersama-sama.

Ketika tiba Hari Pentakosta, semua orang percaya kepada Tuhan Yesus berkumpul di sekitar Bukit Zaitun. Lalu turunlah Roh Kudus melalui tiupan angin keras dan tampak lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap kepada masing-masing rasul yang tengah berkumpul di ruang atas itu.

Mendengar suara angin keras itu, maka dengan berbondong-bondong datanglah dan berkerumunlah orang banyak.

Tidak berapa lama kemudian, Rasul Petrus penuh dengan kuasa Roh Kudus bangkit berdiri dan mulai berkotbah. Dengan mengutip Kitab Nabi Yoel dan Kitab Mazmur Raja Daud, Rasul Paulus dengan jelas dan lantang mengkotbahkan Injil Yesus Kristus.

Banyak orang yang mendengar kotbah Rasul Petrus itu yang kemudian percaya kepada Yesus Kristus. Pada Hari Pentakosta itu, Tuhan menambahkan jumlah orang percaya kira-kira tiga ribu jiwa.

Ber-KOINONIA-lah

Di KPR 2:42, Tuhan berfirman “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. KPR menyampaikan atas aktifitas yang dilakukan oleh orang-orang percaya ini, Tuhan semakin menambah jumlah orang percaya dengan orang-orang baru yang diselamatkan (KPR 2:47).

Jika kita membaca ayat 42, di atas dengan seksama, kita akan mendapati ada empat aktifitas yang dilakukan oleh orang-orang percaya. Pertama, bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Kedua, bertekun dalam persekutuan. Ketiga, berkumpul untuk memecahkan roti dan keempat, berkumpul untuk berdoa.

Untuk artikel SSDR kali ini, kita akan melihat lebih jauh mengenai aktifitas kedua yaitu bertekun dalam persekutuan.  Namun sebelum kita menggali lebih dalam mengenai aktifitas kedua ini, mari kita bersama mengimani Firman Tuhan bahwa Tuhan berkehendak agar semua anak-anak-Nya melakukan keempat aktifitas di atas dengan baik dan seimbang, karena Tuhan berkehendak menambah jemaat-Nya setiap hari.

 

KOINONIA

Koinonia berasal dari bahasa Yunani yang di terjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai persekutuan, dalam bahasa Ingrris adalah fellowship. Kata koinonia inilah yang dipakai oleh Lukas di Kisah Para Rasul (KPR) 2:42.

Kata koinonia digunakan 18 kali dalam kitab Perjanjian Baru. Selain Lukas, Rasul Paulus pun memakai kata ini dalam surat-suranya kepada jemaat Tuhan sebanyak 14 kali. Begitu juga dengan Rasul Yohanes dalam suratnya kepada jemaat sebanyak 3 kali.

Meskipun arti kata koinonia yang ditulis ketiga hamba Tuhan di atas memiliki arti yang sama pada saat kata itu digunakan, namun masing-masing penulis memberikan nuansa yang berbeda. Lukas menggunakannya dalam persekutuan yang melibatkan sesama anak-anak Tuhan-nuansa horizontal. Rasul Paulus memakainya untuk persekutuan yang melibatkan Tuhan Yesus- horizontal dan vertical. Sementara Yohanes memakainya dalam persekutuan yang melibatkan Bapa di sorga-nuansanya vertikal.

Ternyata bukan hanya para penulis di atas yang memberikan beberapa nuansa yang berbeda, para komentator dan ahli-ahli Alkitab pun juga menambah keberagaman dari nuansa dan arti kata koinonia.

Berdasarkan Firman Tuhan dalam KPR, ada tiga makna penting yang menggambarkan arti kata koinonia.  Pertama sharing (berbagi). Kedua participating (berpartisipasi) dan ketiga berkomunitas (community)

Sharing, Participating dan Community

KPR 2:44-45 “… segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. KPR 4:32, 34, 35 “… tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama, semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa … ; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” Menyuratkan dan menyiratkan makna sharing, participating dan community.

Pertama sharing (berbagi) dengan sesama anggota kelompok/komunitas. Ayat-ayat di atas dengan jelas menunjukkan aspek berbagi dengan sesama. Kedua participating (berpartisipasi). Dalam ayat di atas, menunjukkan partisipasi  dalam kepemilikan bersama yaitu menjual harta benda milik sendiri dan membagi-bagikan kepada orang lain. Ketiga community (komunitas) adalah kesatuan orang-orang yang memiliki satu kesamaan dalam hal-hal tertentu (termasuk tujuan dan kepercayaanagama). Kata mereka dalam ayat-ayat di atas menunjukkan community.

Di Dalam Yesus

Hal lain yang harus dipahami mengenai Sharing, participating, dan community,  sebagaimana yang ditulis Lukas adalah di dalam Yesus (sudah lahir baru atau sudah menjadi milik Yesus Kristus).

KPR 2:41 “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka…” dan KPR 4:32 “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa…” menunjukkan bahwa mereka yang melakukan ketiga hal di atas adalah orang-orang yang sudah berada Dalam Yesus.

BerKOINONIAkah Anda?

Apakah anda memiliki community di gereja anda? Seorang anggota gereja yang hanya datang untuk beribadah di hari Minggu saja sudah pasti tidak memiliki community di gerejanya. Dan anggota gereja yang seperti ini tidak berkoinonia. Untuk memiliki community di samping menjadi anggota gereja, jadilah anggota kelompok kecil di gereja anda seperti, Sekolah Minggu/Kelompok Pembinaan Warga/Care Group/Kelompok Paduan Suara/Persekutuan Kaum Muda Baptis (PKMB)/Persekutuan Kaum Remaja Baptis (PKRB)/Pria Baptia Indonesia (PBI)/Wanita Baptis Indonesia (WBI) dan melayanilah bersama-sama anggota kelompok kecil anda.

Apakah anda membagikan kelebihan milik anda kepada orang-orang di gereja anda yang tengah kurangan? Seorang anggota gereja yang hanya memberikan perpuluhan dan persembahan saja dan tidak pernah membagikan kelebihan miliknya dengan orang-orang di gerejanya yang sedang membutuhkan, maka anggota gereja ini tidak ber-koinonia.  Jadilah anggota gereja yang berkomunitas dan berbagi.

Pada saat gereja anda sedang menghadapi pergumulan atau memerlukan bantuan, apakah Anda berpartisipasi dalam membantu menyelesaikan pergumulan atau memberikan bantuan kepada gereja Anda? Seorang anggota gereja yang tidak pernah terlibat di dalam menyelesaikan pergumulan gerejanya dan tidak pernah memberikan bantuan untuk keperluan-keperluan gerejanya adalah anggota gereja yang tidak ber-koinonia.  Terlibatlah di dalam menyelesaikan pergumulan dan memberikan bantuan kepada gereja anda. Jadilah ‘diakon’ atau ‘panitia perancang’ atau ‘anggota komite’ tertentu di gereja lokal anda.

Ber-KOINONIA Di Masa Pandemi COVID-19

Kata-kata seperti pandemi, COVID-19, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), New Normal, protokol kesehatan, dan social distancing akhir-akhir ini sudah menjadi bagian dari kosa-kata Bahasa Indonesia sehari-hari kita. Hal ini menunjukkan betapa sudah merasuknya dampak dari Pandemi COVID-19 ini ke dalam sendi-sendi kehidupan kita sebagai bagian dari Negara Indonesia tercinta ini.

Banyak sekali orang yang mengalami dampak negatif dari Pandemi COVID-19, termasuk mereka yang kehilangan pekerjaan, mereka yang menderita sakit, bahkan mereka yang anggota keluarganya meninggal dunia. Namun bagi kita anak-anak Tuhan yang mengalami dampak negatif ini, janganlah kuatir karena gereja Tuhan memiliki jawabannya yaitu koinonia sebagaimana dijelaskan di atas.

Bagi anda yang sudah membaca artikel-artikel SSDR di edisi-edisi Suara Baptis yang sudah terbit pada edisi-edisi sebelumnya, maka anda akan mendapati bahwa Sharing, participating, dan community adalah karakteristik dari gereja/kelompok kecil yang ber-SSDR dengan baik. Dengan kata lain, gereja/ kelompok kecil yang ber-SSDR memiliki anggota-anggota yang ber-koinonia setiap hari.

Mungkin kita akan sependapat bahwa sebaik apapun gereja ber-koinonia, ia tidak akan dapat menghentikan Pandemi COVID-19. Namun saya mengimani jika seluruh jemaat gereja bersungguh-sungguh dan bersatu-hati ber-koinonia, maka gereja akan sanggup mengatasi dampak negatif dari Pandemi COVID-19 atas jemaat-jemaatnya.

Untuk itu, marilah kita semua sebagai gereja Tuhan selalu berkoinonia yaitu Sharing, participating dan bercommunity, sekalipun saat ini kita tengah dilanda Pandemi COVID-19. Di jaman sekarang di mana teknologi sudah begitu canggih, sebagai anggota gereja kita bersama-sama sebagai satu tubuh Yesus, bisa tetap selalu Sharing, berparticipating, dan community secara online maupun melalui jasa pengusaha-pengusaha online yang ada.

Ingatlah, bagaimana pun juga, Tuhan kita menghendaki anak-anak-Nya untuk ber-koinonia karena Tuhan berkehendak menambah jumlah jemaat-Nya setiap hari. Amin.

*) Penulis adalah seorang pendeta di the First Baptist Church of Rock Hill, MO, USA, sekarang melayani di Jakarta

Editor: Juniati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here