SUNDAY SCHOOL DONE RIGHT: Diakon Di Gereja SSDR: SEKALIGUS MENJADI PEMIMPIN KELAS SUNDAY SCHOOL Pastor Alex S *)

0
272

Bagi yang mengikuti tulisan Sunday School Done Right (SSDR) kurang lebih tiga tahun terakhir ini di Majalah Suara Baptis, akan mengenali bahwa yang penulis maksud dengan Kelas Sunday School adalah kelompok kecil seperti Kelompok Pembinaan Warga (KPW) di gereja-gereja Baptis Indonesia. Berhubung di Indonesia tidak ada kelompok kecil yang karakteristiknya sama dengan kelas Sunday School di gereja SSDR kami di Amerika, supaya tidak terjadi salah pengertian, saya akan tetap menggunakan istilah kelas Sunday School di artikel ini.

Para diakon di gereja SSDR (anggota Konvensi Baptis Selatan/SBC) tempat saya dimuridkan, adalah pemimpin kelas-kelas Sunday School bersama anggota gereja lainnya. Namun tidak semua pemimpin Sunday School di gereja anggota SBC adalah diakon. Kenyataannya, hanya sedikit anggota SBC yang adalah gereja SSDR.

Sebagaimana saya sampaikan di beberapa artikel sebelumnya, setiap kelas Sunday School mempunyai fungsi 5P (Penjangkauan, Penginjilan, Pengajaran, Pemuridan, dan Pelayanan). Fungsi 5P ini dihidupi setiap hari oleh para anggota kelas Sunday School.

Ini berarti, seorang diakon di gereja kami adalah orang yang seyogyanya  terpanggil untuk:

Menjangkau (baik itu menjangkau anggota gereja yang sedang malas-malasan datang di gereja, maupun orang-orang di sekitar gereja yang belum mengenal Tuhan Yesus).

Menginjil (terutama menginjili mereka yang belum mengenal Tuhan Yesus).

Mengajar (baik mengajar anggota-anggota gereja yang belum dewasa rohani maupun para simpatisan gereja yang belum mengenal Tuhan Yesus).

Memuridkan, dan

Melayani (yang adalah tugas utama seorang diakon)

Pejabat-pejabat Gereja

Di gereja kami, hanya ada dua jabatan. Pertama, elder /overseer / pastor (penatua). Seorang pendeta adalah juga seorang penatua. Namun seorang penatua belum tentu seorang pendeta. Jabatan kedua, deacon (diakon) sebagaimana diatur Alkitab.

Filipi 1:1 menyatakan, “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para  Penilik Jemaat (Elders) dan Diakon (Deacons).”

Dalam 1 Timotius 3: 1-13 dan Titus 1, Tuhan juga mengatur perihal elder dan deacon ini. Juga pada Kisah Para Rasul 6: 1-6, Tuhan menyampaikan perihal deacon.

Seorang diakon bertanggung jawab mempelajari dan meredakan persungut-sungutan (pernyataan-pernyataan ketidakpuasan) dalam gereja. Seorang diakon melayani keperluan janda-janda dan kebutuhan anggota jemaat lain yang memerlukan pelayanan. Seorang diakon membantu penatua dalam tugas penggembalaan dan pengajaran. Dengan demikian, penatua dapat memusatkan pikiran dan tenaganya dalam doa dan pelayanan Firman Tuhan.

Diakon Memperkuat Kelas Sunday School

Dengan melakukan tanggung jawabnya di atas, seorang diakon juga berfungsi memperkuat kelas Sunday School yang dipimpinnya. Misalnya, ketika meredakan persungut-sungutan, seorang diakon mengurangi (bahkan menghilangkan) pergunjingan di kelas Sunday School yang dipimpinnya. Dengan begitu, anggota kelas menjadi lebih kompak. Ini juga akan membangun dan memelihara sikap positif antarjemaat dalam kelas Sunday School.

Dengan rajin melayani keperluan janda-janda dan anggota jemaat lainnya di kelas Sunday School, seorang diakon menarik orang luar untuk menjadi calon anggota kelasnya. Setiap anggota kelas yang dilayani dengan baik akan mengalami pertumbuhan rohani dan pemenuhan kebutuhan jasmani. Hal itu akan menjadi kesaksian kuat bagi sanak-saudaranya sehingga mereka akan tertarik untuk bergabung dengan kelas tersebut. maka, ini akan menumbuhkan kelas Sunday School  secara  kuantitatif.

Dan dengan setia membantu penatua menggembalakan dan mengajar jemaat, seorang diakon turut merawat kesejahteraan rohani anggota kelas Sunday School-nya. Ini akan menumbuhkan kelas secara kualitatif.

Diakon Memperkuat Gereja

Di gereja kami, seorang diakon juga melakukan tugas-tugas penting lain yang memperkuat gereja. Seorang diakon bertanggung jawab mengelola fasilitas gereja dengan membersihkan dan mempersiapkan ruangan ibadah dan ruangan-ruangan lain di gereja, sebelum maupun setelah digunakan. Ada juga yang membersihkan dan mempersiapkan sound system, multimedia dan peralatan-peralatan lain.

Dalam pelayanan sosial, tugas diakon antara lain mengelola, menyimpan, dan menyalurkan sembako dan bahan-bahan lain dalam melayani anggota jemaat yang membutuhkan. Ada juga yang mengelola dana dari donatur dan menyalurkannya. Diakon yang lain bertugas mengelola keuangan gereja, meliputi pembukuan, pengumpulan dan penghitungan perpuluhan serta persembahan dan masih banyak lagi.

Seorang diakon lainnya menjadi seorang penyambut tamu. Ia menyambut pengunjung yang datang di gereja, membawa tamu ke tempat duduk yang telah disediakan dan memberikan buletin gereja kepada mereka ketika ibadah akan dimulai.

Diakon Saya

Saya akan menutup artikel ini dengan menyampaikan pengalaman pribadi berinteraksi dengan seorang diakon di gereja saya di Amerika. Meskipun gereja ini waktu itu bukan gereja SSDR, namun mempraktikkan prinsip-prinsip SSDR di dalamnya.

Ini dimulai saat saya pertama kali menginjakkan kaki di gereja tahun 2005. Saat itu saya masih belum Kristen.

Kurang dari 5 menit dari saya memasuki lobi gereja, seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai diakon menyapa dan mengajak saya bercakap-cakap.  Ia lalu mengantar saya ke tempat duduk di barisan depan. Ini tempat yang memang disediakan untuk orang-orang yang baru pertama kali mengunjungi gereja tersebut.

Ketika ibadah hampir selesai, seseorang seusia saya datang lalu duduk di samping kanan saya. Dalam hati saya bertanya-tanya, ibadah sudah hampir selesai, mengapa masih ada juga orang yang nekat datang untuk ikut ibadah?

Setelah ibadah selesai, seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai salah satu pendeta di gereja itu, naik ke panggung. Ia mengumumkman agar para tamu tidak terkejut dengan adanya seseorang yang duduk di samping mereka saat ibadah sudah hampir selesai. Seseorang ini adalah diakon yang bertugas melayani masing-masing tamu secara pribadi. Satu diakon melayani satu tamu.

Setelah pengumuman selesai, diakon yang melayani saya, mengajak ke dining hall, ruangan besar tempat jemaat dan tamu menikmati makanan ringan. Setelah sekitar 15 menit menikmati hidangan, ia mengajak saya ke kelas Sunday School yang dipimpinnya. Diakon ini pula yang kemudian hari membimbing saya supaya dapat mengerti dan mempraktikkan 5P ala SSDR itu.

Atas anugerah Tuhan — antara lain melalui bimbingan diakon ini pula — pada Maret 2010 saya ditahbiskan menjadi seorang Southern Baptist Pastor. Ini dilakukan setelah saya menyelesaikan gelar kepastoran dari Southern Baptist Theological Seminary.

Hari ini, diakon yang melayani saya tahun 2005, saat saya belum menjadi anak Tuhan itu, adalah diakon yang sama, yang dengan setia masih melayani saya di medan pelayanan di Indonesia. Dia jugalah yang setiap Jumat siang (di Amerika Serikat), dengan penuh komitmen memimpin kelompok doa di kelas Sunday School-nya yang khusus mendoakan pelayanan saya di Indonesia.

Saat menulis artikel ini, saya melakukannya sambil berdoa agar Tuhan  juga  memberikan  pengalaman  bagi  para tamu di gereja-gereja Baptis Indonesia, sama dengan  yang saya alami di gereja saya di Amerika Serikat itu – yaitu pengalaman  bergereja dengan dilayani seorang diakon yang baik.

Siapa tahu, ada salah satu dari para tamu gereja itu yang di kemudian hari mempersembahkan hidupnya menjadi seorang hamba Tuhan.

 

*) Penulis adalah seorang pastor yang ditahbiskan di First Baptist Church of Rock Hill, Missouri, USA yang sekarang melayani di Indonesia

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here