Sekolah Minggu di Era New Normal Life – INTERAKSI PENTING, JANGAN SEPERTI NONTON FILM

0
373

Di masa ketika Sekolah Minggu masih belum bisa diadakan di gereja, kebanyakan gereja berusaha tetap mengadakannya secara daring (dalam jaringan internet). Aplikasi yang digunakan adalah WhatsApp (WA), video call, atau Zoom.  Di kota-kota besar, Zoom menjadi pilihan. Mereka bisa bertatap muka dan bertanya jawab.

Tetapi aplikasi ini memerlukan kuota yang cukup besar dan jaringan yang kuat. Di samping belajar, mereka juga bisa ngobrol. Ada “host” yang membuka setengah jam sebelum pelajaran dimulai, agar mereka bisa bertegur sapa. Ini mengobati rasa rindu satu sama lain.

Kelas Sekolah Minggu kami bertemu pada Sabtu malam.  Sesuai kesepakatan bersama. Dan ada pula anggota-anggota yang sudah pindah ke luar negeri yang bergabung. Seusai belajar, kelas akan difoto dan diserahkan kepada ketua bagian Sekolah Minggu untuk dicatat jumlah pesertanya.

(foto kelas Ibu Julia)

Kelompok usia Madya sampai dengan Dewasa Muda lebih memilih Zoom. Di gereja Kebayoran, anak-anak Indria dan Pratama juga belajar melalui aplikasi ini.  Sedangkan anak-anak Asuhan belajar via YouTube. Ada gereja-gereja lain juga yang menggunakan YouTube juga untuk Sekolah Minggu anak-anak Indria.

Guru-guru membuat rekaman lebih dulu. Keuntungannya, mereka bisa belajar kapan saja. Namun mereka tidak bisa bertatap muka dengan teman-teman kelas dan tidak bisa bertanya-jawab.

Bagi anak-anak Asuhan, tentunya keikutsertaan orang tua sangat diperlukan untuk menampingi anak-anak mereka mengikuti Sekolah Minggu ini. Diperlukan kreativitas tinggi untuk mempertahankan minat anak-anak dalam belajar. Tentu saja alangkah baiknya jika waktu membuka YouTube ini disesuaikan dengan jam Sekolah Minggu yang biasa mereka ikuti sebelum adanya pandemi ini.

Ada yang memilih memakai video call. Ini pun seringkali terganggu jika jaringan internet lemah. Dan hanya bisa untuk delapan orang.

Ada guru yang mengajar tiga kali menggunakan video call. Kelas pertama diadakan pada Minggu pagi. Kelas berikut pada Minggu sore dan satu lagi pada Senin malam. Karena pesertanya kaum lanjut usia (lansia) dan tergantung pada anak-anak mereka untuk menolong menggunakan aplikasi ini, juga karena berbagi handphone (HP) dengan anak, maka waktu disesuaikan dengan kesempatan yang ada. Penggunaan video call sangat bermanfaat bagi lansia yang HP-nya tidak memiliki aplikasi Zoom, juga mereka tidak bisa menggunakan WA karena kesulitan mengetik.

Kelas Pdt. Julianus

Walaupun kurang diminati, ada kelas yang tetap menggunakan WA sebagai sarana mengajar. Guru merekam pengajarannya. Kemudian ada pembagian tugas di antara peserta yang semuanya direkam dan disiarkan pada jam Sekolah Minggu dibuka. Ada yang membawakan pujian, ada yang menyampaikan doa. Ada yang memberikan kesaksian.

Sekolah Minggu ini diadakan pada Sabtu siang dengan ditentukan, jam berapa WA ini akan dibuka. Bagi yang berhalangan hadir pada waktu yang sudah ditentukan, mereka bisa tetap mengikutinya sesudah jam pelajaran.

Semua rekaman ini diposting di dalam grup WA mereka. Setelah setiap anggota selesai mengikuti pelajaran, mereka diminta mengirim foto untuk dikompilasi. Dengan demikian diketahui siapa yang mengikuti Sekolah Minggu dan yang tidak.

Cara ini bisa menjangkau teman-teman mereka yang berada di luar pulau, seperti Papua, Makassar bahkan hingga Hong Kong. Jumlah kehadiran bisa mencapai rata-rata 24 anggota setiap minggunya.  Kelemahan cara ini ialah peserta tidak bisa bertatap muka dan bersoal jawab.

(Foto kelas Ibu Widha)

Namun ada kelas yang juga menggunakan aplikasi WA. Walaupun mereka tidak bisa saling melihat masing-masing, interaksi masih bisa diadakan.  Ini bisa diikuti orang-orang yang bisa mengetik dan membaca dengan cepat. Satu contoh ialah kelas yang saya pimpin pada Sabtu sore.

Waktu belajar dan pertemuan ditentukan dari jam 16:00 sampai 18:00. Artinya, semua peserta hadir di tempat masing-masing dan mengikuti semua pembicaraan. Guru menyampaikan pelajaran melalui WA (tidak direkam). Kemudian murid bisa bertanya melalui WA dan juga bisa berdiskusi. Peserta diberi pertanyaan-pertanyaan berdasarkan materi yang sudah disampaikan, kemudian mereka bisa memberikan jawaban atau pandangannya.

Bagi yang tidak sempat hadir, masih bisa membaca semua percakapan dan pembahasan dari pelajaran yang bersangkutan. Lalu, ia memberitahu jika sudah membacanya. Batas waktu yang ditentukan untuk membaca pelajaran ialah Minggu sore.  Bagi kelompok ini, mereka juga masih bisa bertanya atau menyampaikan pandangannya kapan saja. Jadi, walau tidak bisa bertatap muka, anggota masih bisa berinteraksi satu sama lain.

Interaksi ini penting. Dengan demikian jalinan antara guru dengan anggota dan sesama anggota tetap terjalin. Demikian juga hendaknya guru tetap menjalin hubungan dengan anggota-anggotanya di luar acara Sekolah Minggu. Hal ini penting di masa pandemi ini supaya guru tahu, apa yang sedang dialami anggota-anggotanya.

Baik juga sekali-kali menelepon untuk menanyakan keadaannya karena mungkin ada yang mau curhat tetapi tidak bisa mengetik. Untuk menelepon mungkin ia kesulitan membeli pulsa. Nah, guru hendaknya menelepon duluan. Baik jika ada Sekolah Minggu yang bisa menyiapkan dana bagi guru untuk membeli pulsa. Karena perangkat inilah yang sangat dibutuhkan dan bermanfaat pada masa ini.

Guru hendaknya mampu menjadi “miniatur gembala”  pada masa ini, seperti dikatakan editor Prisetyadi Teguh Wibowo. Sebagai miniatur gembala sidang, guru diharapkan bisa menjadi pemberi semangat, kekuatan serta penghiburan bagi anggota-anggotanya. Dan yang penting ia harus tahu apa saja yang sedang dialami anggota-anggotanya.

Pada masa kini, banyak saluran yang bisa dibuka untuk menikmati baik pelajaran Alkitab, khotbah ataupun Sekolah Minggu. Ada satu acara yang setiap Minggu ditayangkan via YouTube, yaitu Sekolah Minggu online Superbook. Memang menarik. Tetapi Sekolah Minggu itu mirip menonton film. Dan karena tidak diselenggarakan oleh gereja setempat, maka tidak ada interaksi sama sekali dengan guru-guru Sekolah Minggunya. Sayang sekali jika ada jemaat yang tidak berusaha menyelenggarakan Sekolah Minggu untuk anak-anak dan membiarkan bahkan menyarankan mereka belajar dari Superbook.

Dimasa pandemi ini adalah kelompok yang paling senior yang tidak terjangkau karena tidak adanya HP. Seandainya ada, mereka tak bisa mengoperasikannya dan harus tergantung pada anak. Jika mereka tinggal terpisah dari anak, kaum senior sama sekali terlewatkan.

Bagaimana pun juga Sekolah Minggu hendaknya diusahakan bisa tetap berjalan. Karena saat-saat ini menjadi kesempatan yang baik untuk menjangkau orang, mendengar dan belajar Firman Tuhan. Mari jangan menyerah walau peserta mungkin hanya satu orang. Mari mencari dan mengundang orang-orang yang kita kenal yang belum terjangkau untuk ikut kelas-kelas online kita.  Inilah waktunya.

 

*)Penulis adalah guru Sekolah Minggu GBI Kebayoran, Jakarta

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here