YRSBI – Satgas Covid-19 GGBI – BUKAN UNTUK MEMERINTAH GEREJA DAN LEMBAGA

0
109

 Rumah-rumah sakit Baptis menghadapi tantangan yang semakin besar dalam situasi pandemi Covid-19. Ketika kasus terpapar Covid-19 terus meningkat, beberapa tenaga kesehatan RS Baptis menjadi korban. Juga, semakin banyak anggota gereja Baptis yang kemudian terinfeksi virus ini.

Menanggapi situasi tersebut, Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) bekerja sama dengan Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) membentuk Satuan Tugas (satgas) Covid-19 GGBI.

“Pada mulanya adalah keprihatinan kita terhadap pandemi ini yang secara nyata dari apa yang kita lihat di media, pandemi ini yang sudah mengakibatkan umat Baptis juga ikut merasakan akibatnya. Kita sudah mendengar beberapa hamba Tuhan dan keluarganya terpapar. Selain itu, rupanya lebih banyak lagi tenaga kesehatan rumah sakit Baptis yang juga (terpapar Covid-19) seperti itu,” tutur Ketua Satgas Covid-19 GGBI Rudi Phadmanto kepada Pemimpin Redaksi Suara Baptis, Prisetyadi Teguh Wibowo Senin 25 Januari 2021 lalu.

Pembentukan Satgas Covid-19 GGBI juga sebagai tanggapan terhadap imbauan Ketua Satgas Covid-19 Republik Indonesia Letjen TNI Doni Monardo supaya setiap komunitas bisa menolong pemerintah untuk mengajak anggotanya bekerja sama memutus rantai penularan Covid-19.

“Misalnya, untuk taat pada 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, membatasi mobilitas serta interaksi) dan sebagainya. Paling tidak, meyakinkan umat Baptis sendiri secara internal,” ujar Rudi yang adalah mantan Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB tersebut.

Ruddi Phadmanto

Menurut Rudi, gerakan-gerakan pencegahan yang sudah dilakukan setiap gereja, BPD dan BPN GGBI maupun YRSBI sendiri dalam lingkup kesehatan, akhirnya mendapatkan status dengan pembentukan Satgas Covid-19 GGBI. Satgas tersebut dibentuk untuk satu tahun ke depan dengan harapan tidak terlalu birokratis.

Koordinator Komunikasi Publik Satgas Covid-19 GGBI Pdt. Victor Rembeth mengatakan hal senada, Rabu 3 Februari 2021. Sebelum terbentuknya Satgas Covid-19 GGBI pun, gereja-gereja Baptis dan Badan-badan Pengurus Daerah GGBI sudah melakukan banyak hal. Karena itu, satgas bentukan YRSBI dengan BPN GGBI tersebut tidak menjadi lembaga yang bersifat menguasai gereja dan lembaga.

“Tugas satgas ini lebih kepada koordinasi, lebih kepada menyediakan akses untuk upaya-upaya kampanye maupun melakukan tata kelola penanganan Covid-19 berbasis gereja. Antargereja bisa berkarya bersama-sama,” tandas Pdt. Victor. “Dan saya pikir ini, sebuah momen yang bisa ditangkap. Tidak direktif (bersifat memerintah, red.) atau aktivitasnya harus a, b, c tetapi justru terbalik, membangun dari partisipatoris, kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh suatu gereja, kemudian direplikasikan ke gereja lain.”

Jangan Ada Klaster Baptis

Memang, Satgas Covid-19 GGBI akan sering mengulang kampanye protokol kesehatan dan kebijakan-kebijakan pemerintah berkaitan dengan Covid-19. Namun dengan begitu, diharapkan dampak yang dihasilkan terutama dalam komunitas Baptis akan lebih kuat karena satgas milik umat Baptis sendiri turut menyuarakannya.

“Antara jemaat dengan pemerintah dan jemaat dengan kita (Satgas Covid-19 GGBI), lebih dekat dengan kita. Sehingga ketika berbicara (pun), lebih persuasif, lebih bisa diterima, apalagi jika menggunakan gaya daerah masing-masing,” ujar Rudi.

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab, Satgas Covid-19 GGBI akan melaporkannya kepada Ketua BPN GGBI. Organisasi tersebut sudah menyalurkan dana Rp 20 juta untuk pekerjaan awal satgas. Upaya-upaya penggalangan dana pun dilakukan, antara lain dengan ajakan membantu pengadaan pakaian alat pelindung diri (APD) tenaga kesehatan di rumah-rumah sakit pada Minggu 14 Februari 2021 lalu.

Satgas juga akan membuat rekening bank untuk menerima donasi sehingga siapa pun dapat berpartisipasi di dalamnya. “Baik itu pribadi, gereja, organisasi atau siapa pun yang terpanggil untuk melayani dan mendukung, baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri,” kata Rudi.

Anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Cibubur, Jakarta Timur tersebut melanjutkan, Satgas Covid-19 GGBI akan mendahulukan kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biaya terlalu besar. Di antaranya, memperkuat kebijakan pemerintah dengan menyebarkannya ke gereja-gereja. Contohnya, meneruskan imbauan pemerintah mengenai ibadah tatap muka yang dapat dilakukan di sejumlah daerah, namun di daerah lain harus mematuhi pembatasan-pembatasan yang diberlakukan. Dengan begitu, ada tindakan nyata yang dilakukan umat Baptis dalam membantu pemerintah.

“Dengan harapan, bisa meningkatkan ketaatan umat Baptis sehingga upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dapat berjalan dengan baik. Kalau boleh dikatakan, harapan kita, tidak ada klaster di gereja Baptis di seluruh Indonesia,” ujar ayah tiga anak tersebut.

Secara terpisah, Pdt. Victor berharap, Satgas Covid-19 GGBI dapat menyediakan media informasi atau menjadi pusat data, “Kita berbicara mengenai tanggap Covid-19 berbasis gereja. Misalnya, bagaimana kita menjadi fasilitator untuk donor plasma. Biasanya, gereja-gereja akan mendokumentasikan siapa saja yang sudah bisa menjadi pendonor plasma.”

Pdt. Victor Rembeth

Anggota GBI Grogol Jakarta ini berharap, akan terjadi kerja sama antarkomunitas dalam penanggulangan bencana. “Ada namanya Jaringan Komunikasi Kristen (JaKomKris) yang menangani penanggulangan bencana Indonesia, dan mereka menyambut (ajakan bekerja sama melalui Satgas Covid-19 GGBI). Artinya, kita masuk dalam era bukan saja berbicara tentang diakonia (pelayanan) ke dalam (komunitas Baptis) tetapi diakonia juga marturia (pemberitaan Injil) keluar sekaligus terjadi koinonia (persekutuan).”

Menutup perbincangan, Rudi berpesan, “Saya hanya ingin mengimbau, mari taati apa yang dianjurkan pemerintah supaya umat Baptis (baik) individual atau secara komunitas melalui gereja-gereja di mana umat Baptis ini bergabung, bisa membantu memutus penyebaran covid-19 dengan mematuhi 5M. Dengan demikian, tidak muncul klaster jemaat Baptis di Indonesia.”

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

APA ITU GERAKAN 5 M?

Dengan area penyebaran Covid-19 yang kian luas, muncullah ajakan untuk melakukan Gerakan 5 M. Apakah itu?

Gerakan 5 adalah:

  • Memakai masker.
  • Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
  • Menjaga jarak.
  • Menjauhi kerumunan.
  • Membatasi mobilisasi dan interaksi.

Yuk, bergabung untuk turut mencegah penyebaran Covid-19 yang menakutkan itu.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here