Pelita Jiwa – ALLAH DI DALAM KESUNYIAN

0
389

Mengungkapkan keyakinan seperti syair lagu “Nyamanlah Jiwaku” (buku Nyanyian Pujian No. …..) dan tetap tenang di tengah kedukaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi di tengah pandemi yang bukan saja mengancam kesehatan tetapi juga perekonomian dunia. Selain pandemi, mungkin banyak permasalahan yang bertubi-tubi melanda hidup kita. Di tengah kondisi seperti ini apakah kita akan tetap mampu berkata, ”Nyamanlah jiwaku”?

Seseorang yang pesimistis akan berkata, “Di manakah Allah? Mengapa Ia membisu? Ia sudah tidak peduli terhadap kita? Apakah Ia masih berkarya di tengah kekacauan yang sedang terjadi?

Mari kembali kepada Alkitab. Ingatlah, sikap “kebisuan” Allah pernah Nuh alami beserta keluarganya. Selama berbulan-bulan terombang-ambing dalam bahtera, Allah sepertinya mengabaikan mereka. Alkitab mencatat, setelah 150 hari lamanya, barulah Allah “mengingat” Nuh dan keluarganya (Kejadian 7:24; 8:1).

Mungkin saja mereka gelisah, mengira Allah memang melupakan mereka. Nuh dan keluarganya sudah berbulan-bulan dalam bahtera tanpa mendengar suara Allah, suara yang sama ketika Nuh untuk pertama kalinya diperintahkan membuat bahtera. Tidak ada petunjuk-petunjuk lain yang memperlihatkan kalau Allah mengingat mereka.

Namun perhatikan, sekalipun dalam waktu yang lama seolah-olah Allah membisu, ayat pertama memberitahu bahwa Allah tetap mengingat Nuh dan keluarganya. “Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar…” (Kejadian 8:1).

Kata “mengingat” juga diterjemahkan sebagai “memperhatikan, tidak melupakan”. Ini berarti sejak semula Allah tetap menaruh perhatian kepada keluarga Nuh. Ayat ini bukan mengartikan bahwa, Allah sebelumnya melupakan keluarga Nuh. Melainkan karena Allah mengendalikan waktu dan Ia memilih waktu terbaik untuk menolong Nuh dan keluarganya.

Dari kisah ini ada beberpa hal yang dapat kita pelajari untuk memahami karya Allah dan mempercayai-Nya di masa-masa yang sulit, di masa-masa yang sepertinya Ia sedang diam, jauh dan sedang tidak bertindak apa pun. Apa saja yang dapat kita pelajari?

Pertama, ketahuilah bahwa Allah mampu bertindak di tengah kesunyian.

Di tengah ketidakmengertian Nuh dan keluarganya, di luar bahtera sana, Allah sedang bekerja bagi mereka. Kejadian 8:1-4 mencatat: Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun. Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit, dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah 150 hari. Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ke-17 bulan itu, terkandaslah bahtera pada pegunungan Ararat.

Lihatlah cara Allah mengingat Nuh dan keluarganya. Tanpa sepengetahuan Nuh dan keluarganya, di masa yang sulit, ketika mereka merasa Allah masih terdiam, sesungguhnya Ia sedang melakukan perkara besar bagi mereka di luar bahtera. Memang mereka tidak merasakan kehadiran kuasa Allah yang begitu dahsyat memerintah angin, memberhentikan hujan dan menutup mata air sehingga air mulai surut. Mereka tidak mengetahui hal ini karena semua itu di luar pemikiran mereka.

Manusia adalah makhluk terbatas untuk memahami Allah sepenuhnya. Apalagi di masa-masa yang sulit. Kehidupannya bisa seperti kapal yang sedang terombang-ambing di samudera raya sendirian. Benarkah hidup kita seperti itu?

Buanglah perasaan-perasan negatif tentang Allah. Lihatlah bagaimana Ia menolong Nuh dari luar bahtera. Tanpa sepengetahuannya, Allah berkarya dengan luar biasa. Percayalah, Ia melakukan perkara besar bagi kita sesuai dengan kehendak dan waktu-Nya.

Belajarlah untuk tetap percaya walaupun pertolongan Tuhan belum tiba. Karena Ia adalah Allah yang tak pernah meninggalkan hidup kita. Alkitab katakan, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Sebab itu, dengan yakin kita dapat berkata: Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut (Ibrani 13:5-6).”

Kedua, orang beriman akan tetap melakukan hal yang baik, yang bisa ia kerjakan dan mempercayakan segalanya pada Tuhan.

Di tengah kesunyian, Nuh tetap menantikan Allah di dalam bahtera. Dan dalam penantiannya, Nuh melakukan sebuah tindakan.

“Sesudah lewat 40 hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi. Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi.

Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air. Lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera.

Menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi. Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya (Kejadian 8:6-12).

Dari hal ini ada prinsip yang Alkitab ajarkan, yaitu lakukanlah apa yang bisa dilakukan, namun janganlah bersandar pada pengertian sendiri. Menunggu pertolongan Allah bukan berarti kita hanya diam tanpa melakukan apa pun. Nuh sedang melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk melihat kondisi bumi. Ini bukanlah sesuatu yang salah karena Allah memberi hikmat kepada manusia untuk melakukan sesuatu. Yang salah adalah kalau kita bersandar kepada pikiran sendiri tanpa menyerahkannya pada Tuhan (Amsal 3:5).

Di dalam kesunyian, Allah memberikan kita hikmat dan kemampuan. Tuhan tidak mau melihat umat-Nya menjadi pemalas. Karena itu Kitab Amsal memerintahkan si pemalas untuk belajar dari semut (Amsal 6:6-11).

Terkadang Tuhan memakai masa-masa sukar atau kondisi-kondisi yang tidak diinginkan untuk mendidik dan melatih kita menggali kemampuan dan talenta. Keadaan yang buruk dan masa-masa sukar bukanlah waktu untuk berhenti berkarya. Tuhan mau kita tetap menjadi manusia yang produktif sesuai dengan kehendak-Nya.

Seperti halnya Daud, walaupun dia kecil, dianggap remeh, Tuhan memberinya kemampuan untuk mengalahkan Goliat. Allah juga memberi kita kemampuan untuk mengalahkan Goliat-goliat. Walaupun kita direndahkan, diremehkan, kelihatannya mustahil, Allah akan memampukan kita masuk dalam kemenangan.

Ketiga, orang beriman tak pernah lupa mempersembahkan kurban syukur.

Ketika Allah memerintahkan Nuh dan keluarganya keluar dari bahtera beserta binatang-binatang di dalamnya, inilah waktu yang mereka tunggu-tunggu. Akhirnya, Allah yang telah memerintahkan mereka masuk, Dia juga yang memerintahkan untuk keluar.

Rasa syukur Nuh terlihat dengan dia mendirikan mezbah dan mempersembahakan kurban bakaran bagi Allah. Perhatikan, tidak ada perintah untuk mendirikan mezbah, tetapi Nuh melakukannya. Inilah bentuk kesukarelaaan Nuh. Inilah prinsip-prinsip peribadatan yang sejati, tidak adanya paksaan melainkan dengan sukarela.

Kesadaran Nuh akan pertolongan Tuhan membuat dia memprioritaskan Allah. Yang dia cari bukan tempat tinggal, tuntutan kenyamanan setelah keluar dari bahtera, tetapi mendirikan mezbah bagi Allah. Tidak hanya itu, dia juga mempersembahkan kurban bakaran dengan memilih yang terbaik untuk Allah yaitu binatang-binatang yang tidak haram.

Keseriusan Nuh dalam baktinya kepada Allah sangatlah tampak dengan tidak mempersembahkan kurban yang asal-asalan. Ucapan syukur Nuh bukan di bibir saja. Dia melakukan dengan sebuah tindakan dan pengurbanan.

Kita pun seharusnya seperti itu, mengucap syukur karena keselamatan yang telah kita terima. Inilah dasar utama mengapa kita juga harus bersyukur. Paulus berkata dalam Tesalonika 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Mengapa demikian?

Pertama, karena orang yang ada di dalam Kristus telah menerima anugerah Allah. Kedua, karena orang yang beriman kepada Kristus telah menjadi milik Allah sepenuhnya.

Ketikayat ini ditulis, Paulus ingin menekankan kepada jemaat Tesalonika bahwa setelah menerima dan hidup dalam Kristus, mereka mendapatkan anugerah keselamatan yang begitu ajaib. Dan secara rohani mereka adalah milik Allah sepenuhnya. Inilah yang menjadi kunci untuk bersyukur karena kehidupan kita sudah ada di dalam Kristus Tidak ada alasan untuk kita tidak bersyukur sebab pertolongan Tuhan terus ada dalam kehidupan kita yang sesuai dengan rencana-Nya.

 

Kesimpulan

Di masa seperti ini Allah mau kita tetap percaya walaupun pertolongan-Nya belum tiba. Tetaplah menjadi seorang yang produktif, berkarya dan mengembangkan setiap talenta yang Tuhan percayakan. Jangan sampai masalah kehidupan membuat kita berhenti berharap, berhenti melayani. Ingatlah persoalan kehidupan kita tidak sebanding dengan karya Kristus yang telah menyelamatkan kita dari murka Allah. Inilah yang seharusnya membuat kita mampu berharap, kasih-Nya telah dinyatakan dalam kehidupan kita.

Percayalah, Allah di dalam kesunyian tetap berkarya walaupun kita tidak merasakannya. Ia tetap bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya.

Tuhan Yesus Memberkati.

 

Penulis: Rendi Cristiawan

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here