Pelantikan Direktur Lembaga Literatur Baptis HARAPAN MEMBUAT LLB KEMBALI BERJAYA

0
278

Sesudah empat bulan kosong, kursi Direktur Lembaga Literatur Baptis (LLB) Bandung kembali terisi. Selasa 30 Maret 2021, Yayasan Baptis Indonesia (YBI) melantik Pdt. John H.L. Serworwora menjadi Direktur LLB. Pria yang akrab disapa “Ronny” ini menggantikan direktur LLB sebelumnya, Daniel Kusmara.

Dalam khotbah kebaktian pelantikan, Wakil Ketua Pengurus YBI Pdt. Radik Irianto meminta supaya peristiwa ini menjadi kesempatan untuk memurnikan pelayanan. Dengan demikian, LLB kembali berkibar. Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kebayoran Jakarta ini mengajak karyawan dan direktur baru untuk bekerja sama, berkomunikasi dengan baik dan saling terbuka.

“Transparansi itulah yang perlu dibangun sekarang,” tandas Pdt. Radik.

Sementara Ketua Pengurus YBI Edi Krisharyanto mengatakan, “Pergantian direktur adalah sesuatu yang biasa terjadi dalam sebuah organisasi di mana pun. Dan saat ini menjadi (pelantikan) direktur ke-13 di LLB. Lima direktur dari luar negeri, selebihnya nasional. Dan saat ini juga (menjadi) sejarah, direktur yang bergelar Ph.D. (Pdt. Ronny meraih doktor teologi dari Southwestern Baptist Theological Seminary, Amerika Serikat, red.) Tentunya dengan gelar ini akan mengembangkan LLB.”

Anggota GBI Pengharapan Surabaya ini berpesan agar karakteristik Baptis menjadi lebih kuat melalui produk-produk literatur LLB. “Jadi, ketika kita mendapat tugas untuk mengelola ini (LLB), mari terus mendengar apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan umat melalui literasi, baik buku-buku SM (Sekolah Minggu), SB (majalah Suara Baptis), maupun ada program baru seperti penerbitan sebuah jurnal yang sangat bermanfaat bagi para dosen STT Baptis maupun denominasi lain,” ujarnya

Edi mengapresiasi direktur sebelumnya, Daniel Kusmara juga para direktur LLB sebelumnya.

Sementara Pdt. Ronny dalam sambutannya menyampaikan, lembaga-lembaga Baptis perlu bekerja sama untuk bangun-membangun. Ia juga mengungkapkan kerinduannya untuk bekerja sama dengan sekolah-sekolah teologi Baptis, Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) dan Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI).

“Apakah kita mau membiarkan lembaga-lembaga kita berada dalam perpecahan, sibuk dengan lembaga sendiri?” tanyanya.

Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, ia berharap LLB kembali berjaya. “Bukan saja kita membangun kembali kejayaan LLB di tahun 1960-an, tetapi di dalam nama Yesus, saya ingin mengatakan bahwa di Jalan Tamansari 16 ini kita akan melihat kembali kejayaan Lembaga Media Baptis untuk memberkati pelayanan Indonesia, LLB menjadi pemimpin penerbitan Kristen di Indonesia.”

Menurut Pdt. Ronny, ada pengusaha-pengusaha yang siap menolong LLB berkembang. Namun dengan 600 gereja Baptis, lembaga-lembaga Baptis serta sekian banyak orang Baptis di Indonesia yang bekerja sama, menjadikan kekuatan yang jauh lebih besar daripada para pengusaha tersebut.

“Para pemimpin YBI, YRSBI, BPN (GGBI), Bamusnas (Badan Permusywaratan Nasional GGBI), semua hamba Tuhan, lupakan perbedaan yang ada di antara kita, karena Allah kita terlalu besar untuk kita yang masih memiliki perbedaan pendapat, yang membuat kita tidak bisa maju,” tandasnya.

Ia melanjutkan, ““Jangan berpikir keuntungan apa yang dapat saya peroleh dari LLB, tetapi pikirkanlah apa yang dapat saya berikan untuk keuntungan LLB. Karena keuntungan untuk LLB yang dimiliki umat Baptis, akan secara signifikan berdampak kepada pelayanan umat Baptis Indonesia.”

Pdt. Ronny berharap, LLB dapat menciptakan sebuah aplikasi baru sehingga semua produk LLB dapat diakses gereja-gereja melalui internet.

Menanggapi hal ini, pemilik Hotel Aviary Bintaro Jakarta Selatan Aswin Sumampau mengatakan, “Sebagai seorang pengusaha dan selaku umat Baptis, kita rindu ada suatu kemajuan dalam proses umat Baptis menjadi umat yang dipakai Tuhan.”

Aswin melihat LLB sebagai sebuah kunci atau jendela informasi yang dapat menyatukan bahkan menolong pertumbuhan iman para pendeta, hamba-hamba Tuhan, dan juga umat Baptis.

“Seperti aku kan bukan pendeta, (tetapi) itu bisa dibangun dengan mempersatukan para pengusaha, orang-orang profesional, maupun umat Baptis. Sehingga, aku melihat hal ini merupakan poin penting yang harus didukung bersama-sama,” ujar salah satu Penatua GBI The Light Communities Church tersebut.

Ditanya mengenai bantuan apa yang akan dilakukan untuk mengembangkan LLB, Aswin menjawab, pertama adalah pengelolaan manajemen yang tepat. Menurutnya dalam dunia pelayanan, pengelolaan manajemen kadang-kadang tidak seprofesional dalam perusahaan-perusahaan. Sementara ketika bekerja untuk Tuhan, terdapat tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada ketika bekerja untuk uang. Maka, lembaga pelayanan pun harus dikelola secara profesional, ujarnya.

“(Selain itu), LLB membutuhkan ide-ide, ide digital, ide bagaimana mengembangkan LLB ke depannya, bagaimana (perubahan) di luar sana, apa yang menjadi tolok ukurnya. Misalnya generasi-generasi berikutnya seperti apa sih, yang diinginkan dari LLB?” terangnya.

Tak hanya itu, menurut Aswin, supaya LLB semakin berkembang, memerlukan dana. Karena itu perlu para pengusaha Baptis mesti mendukung perubahan-peruhanan yang sedang dilakukan LLB.

Kerinduan menjadikan LLB menjadi percontohan penerbitan di Indonesia ditanggapi Aswin. Menurutnya, Toko Buku Lifeway di Amerika bisa menjadi “kakak rohani” LLB. Juga pendeta-pendeta besar seperti Pdt. Rick Warren adalah aset besar Baptis yang tidak boleh dilupakan. Selain itu juga ada 500-an gereja Baptis Indonesia yang menjadi pasar luar biasa, dan ada jaringan yang luar biasa di Amerika.

“(Itulah) sebabnya, LLB seharusnya bisa menjadi pusat informasi. (Ketika) pendeta-pendeta mau belajar, ada kebutuhan-kebutuhan untuk kelas pemuridan, bahkan buku-buku rohani dapat melalui LLB. Buku-buku Kristen di Indonesia itu kan sangat minim?” tandasnya.

Itu sebabnya buku-buku rohani berbahasa Indonesia sangat sukar didapatkan, kata Aswin. Karena itu ia berharap, LLB dapat memulai perubahan dari sana. Ketika kebutuhan buku-buku rohani sudah tercukupi, LLB dapat memikirkan perkembangan selanjutnya seperti buku elektronik (e-book) hingga audio-book.

Menurutnya, belum ada yang memunculkan e-book dan audio-book Kristen di Indonesia. Karena itu, ketika LLB dapat melakukan perubahan-perubahan ini, akan sangat mendobrak dan bermanfaat bagi umat Baptis maupun masyarakat Kristen umumnya.

“Jadi perlahan-lahan, kebutuhan buku terpenuhi, baru lanjut ke e-book selanjutnya audio-book. Kalau LLB melakukan, ini akan jadi yang pertama (di Indonesia). Aku melihat, ini bukan market yang besar, sebagian dari pengusaha, kompetitor kita tidak banyak. Cuma, mau nggak sih kita maju? Itu aja,” tandasnya.

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here