LIPSUS 4 – Panggilan Merawat Pasien Covid-19 Di RS Imanuel Bandarlampung

0
194

WAS-WAS BAKAL MENULARKAN VIRUS KE RUMAH

 

Sejak pertengahan Maret 2020, sewaktu pemerintah mengumumkan pandemi Covid-19 masuk di Indonesia, Rumah Sakit (RS) Imanuel  Bandarlampung segera memberi tanggapan. RS Imanuel menyediakan satu bangsal dan tenaga medis untuk merawat pasien-pasien yang kemungkinan terpapar Covid-19. Sekalipun mulanya agak gamang, RS Imanuel tetap siap sedia merawat pasien-pasien yang dicurigai terpapar virus corona tersebut.

Ruang Bougenvile di RS Imanuel

Sesudah selesai direnovasi, Bangsal Tulip menjadi tempat perawatan pasien Covid-19 yang semula dirawat di Bangsal Bougenvile. Sedangkan untuk komunikasi dengan pasien Covid-19, kecuali perawat yang bertugas di Bangsal Tulip, semua dilakukan di Bangsal Aster sebagai “base camp” dengan menggunakan video call.

Merawat pasien Covid-19 menjadi pengalaman khusus bagi para perawat, karena sungguh-sungguh baru dalam panggilan pelayanannya.

Ruang Tulip

Perawat Ineng Sianturi menceritakan pengalamannya, “Mula-mula saya bertanya kepada diri sendiri, kenapa ditempatkan di Bangsal Tulip, merawat pasien-pasien Covid-19? Kenapa saya dipisahkan dengan teman-teman lainnya? Tentu ada seribu pertanyaan,’kenapa?’ Siapa sih yang tidak takut menghadapi Covid-19 ketika virus ini baru-baru masuk ke Indonesia? Tetapi setelah beberapa waktu, saya bersyukur ditempatkan di Bangsal Tulip. Ini karena tidak semua orang diberi kepercayaan merawat pasien yang berhubungan dengan virus Corona.”

Diakuinya, ia semula was-was apalagi waktu itu Alat Pelindung Diri (APD) masih sangat terbatas. Para tenaga kesehatan hanya menggunakan jas hujan plastik tipis selutut, yang selesai dinas langsung dibuang.

Novita lase

Perawat Novita Lase yang sejak Maret 2020 bertugas di Bangsal Bougenvile kemudian dilanjutkan di Bangsal Tulip, berkata, ”Sekarang ini perawatan terhadap pasien Covid-19  jauh lebih baik karena APD jauh lebih aman, dibandingkan waktu sebelumnya. Sewaktu saya pertama kali diserahi tugas merawat pasien yang terpapar virus Corona, ini suatu anugerah. Surprise (kejutan) banget! Ini kepercayaan sekaligus tantangan bagi saya merawat pasien Covid-19.”

Novita mengungkapkan, pertama kali mengenakan APD, sungguh tidak nyaman. Selama jam dinas sekitar delapan jam, ia kegerahan, harus menahan haus dan lapar, menahan buang air kecil sehingga setelah itu anyang-ayangan.

“Dan terus-terang, saya mula-mula tidak terbiasa pakai pampers. Jadi, maaf, habis pipis, risi rasanya. Tetapi ya, jalani saja, demi tugas pelayanan merawat pasien corona,” tukasnya.

Meski dia begitu, Novita lebih mengutamakan situasi para pasein.

”Sebenarnya yang perlu mendapat perhatian lebih besar adalah pasien Covid-19 itu sendiri. Rata-rata pasien mengalami kecemasan tinggi, stres, sehingga kadang-kadang hal itu justru melemahkan daya tahan tubuh pasien sendiri. Karena itu, tugas seorang perawat di Bangsal Tulip, di samping merawat kepulihan pasien, juga sebagai keluarga, karena tidak seorang pun diizinkan masuk menunggu pasien yang bersangkutan. Juga sebagai motivator, yang memberi semangat hidup pasien agar tidak mudah putus asa, memiliki pengharapan untuk bertahan hidup,” lanjutnya.

Ocha Helena

Sedang perawat Ocha Helena mempunyai pengalaman berbeda. Ketika ia diberitahu bertugas di Bangsal Tulip merawat pasien Covid-19, Ocha menangis dan menolak keras. Ia tidak siap dan benar-benar takut. Salah satu alasannya, ibunya tengah sakit-sakitan dan sampai sekarang masih dalam pengobatan rutin. Itu sebabnya Ocha takut kalau-kalau karena merawat pasien Covid-19, justru ia akan membawa virus itu ke rumah dan menularkan kepada ibunya.

Tetapi setelah bertugas beberapa lama di Bangsal Tulip, Ocha dapat menikmati panggilannya merawat pasien. Tentu saja, dengan tetap memperhatikan prosedur kesehatan yang berlaku.

Seorang perawat pria yang biasa dipanggil “Bos Edy” mengatakan, dirinya sudah enam bulan terakhir bertugas merawat pasien Covid-19. Baginya, merawat pasien di Bangsal Tulip sama seperti melayani pasien di bangsal lainnya.

“Segala pekerjaan pasti ada risikonya,” ucapnya.

Bos Edy yang berperawakan kecil dengan jambul tipis di atas kepala dan berkulit sawo matang, mengisahkan bagaimana beratnya merawat pasien Covid-19 ini. Bukan saja pakaian APD yang panas membuat keringat mengucur sehingga tubuh basah kuyup di dalam APD, tetapi juga berembun. Tidak mungkin selama bertugas, membuka APD sedetik pun. Maklum, karena ini dapat membahayakan bukan hanya diri sendiri, namun juga orang-orang di sekitarnya.

Ia juga kasihan kepada pasien Covid-19 yang harus tinggal sendirian di ruangan. Bukan hanya secara fisik ia sakit, tetapi pasien kadang-kadang merasa terbuang, tak diperhatikan, dan takut akan kematian.

Tetapi yang paling membuat Bos Edy was-was adalah setelah dinas dan pulang ke rumah. Sebelum mandi, ia tidak berani masuk rumah, berjumpa istri dan anaknya yang masih kecil. Setelah mandi, berganti pakaian bersih, dan yakin benar-benar aman, barulah ia masuk rumah menemui keluarga kecilnya. Bos Edy tidak mau pelayanannya merawat pasien Covid-19 justru menyengsarakan keluarganya karena ikut terpapar virus corona.

isolasi di ruang Tulip

Bukan saja berat menjalankan tugas merawat pasien Covid-19, pandangan masyarakat terhadap perawat pun mendua. Ada yang begitu menghargai panggilan para tenaga kesehatan yang merawat pasien Covid-19 ini. Tetapi di sisi lain, ada yang merasa jijik dan berusaha menghindar sewaktu jalan berpapasan. Juga, terkadang tetangga rumah ada yang berusaha menjaga jarak karena takut perawat yang bekerja di rumah sakit menularkan virus corona ke lingkungan sekitarnya.

Stigmatisasi masyarakat terhadap tenaga medis, pasien dan keluarga pasien Covid-19 seringkali amat kejam. Penderita Covid-19 sering dianggap sebagai aib atau suatu kejahatan yang tak terampunkan. Padahal pasien Covid-19 dapat disembuhkan dan kembali berkarya di tengah-tengah masyarakat.

Belum lagi orang yang memukul rata dan menyebut, jika seseorang terkena Covid-19, berarti seluruh  anggota keluarga, tempat usahanya, tempat kerja, sekolah, tempat ia biasa beribadah, semuanya sudah pasti juga terpapar Covid-19.

Benarkah demikian?

Semoga kita bijak dalam menyikapi pandemi Covid-19

Salam sehat selalu.

 

Penulis: Cerimas Heru

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here