Orang Muda Tuh Begini – Michael Salomo Hahuly – TUHAN SURUH, GUE YA HARUS NURUT

0
306

Mengerjakan apa yang kita cintai dan mendapatkan penghasilan yang cukup darinya, adalah kesenangan yang tak ternilai. Passion, katanya. Tetapi seberapa besar peluang keberhasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja sesuai passion?

Cukup kecil hingga kita sampai pada satu poin hidup bahwa terlepas dari melakukan apa yang kita cintai, kita juga perlu mencintai apa yang kita lakukan. Apa pun itu, termasuk pekerjaan dan pelayanan yang Tuhan percayakan bagi kita.

Inilah yang diyakini Michael Salomo Hahuly atau yang akrab dipanggil “Mike”. Menurut pemuda 29 tahun ini, ketika kita mencintai apa yang sudah Tuhan tentukan bagi kita, ketika kita menikmati panggilan Tuhan, di situlah sukacita sempurna yang Dia siapkan.

Mike yang melayani di Gondangdia Baptist Fellowship, Jakarta ini menerima karunia luar biasa dalam pelayanan dan pengajaran. Selain menjadi anggota tim pastoral gereja, ia pemusik, pemimpin acara kebaktian maupun menyampaikan khotbah. Bagi Mike, semua yang untuk Tuhan, perlu ia lakukan, apa pun itu.

Selain pelayanannya di gereja, Mike juga Ketua Persekutuan Kaum Muda Baptis (PKMB) DKI-Jaya Banten sejak 2015 dengan jumlah 5 rayon. Ia juga termasuk pendiri Komunitas Duduk Bareng dan anggota podcast platform musik, Podsyandu.

Pekerjaan sehari-hari Mike adalah Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Jakarta. Di sana, Mike seperti bapak kos yang memantau kualitas pendidikan dan pelayanan setiap mahasiswa. Ia juga bekerja sama dengan para gembala sidang terkait pertumbuhan pelayanan mahasiswa di gereja-gereja lokal.

Pemuda kelahiran 29 Mei 1991 ini juga pengajar mata kuliah ilmu tafsir, teologi sistematis dan kitab nabi-nabi.

“Secara spesifik, mata kuliah gue adalah tentang Allah dan Alkitab.  Dasar teologi banget gitu loh,” jelasnya kepada wartawan Suara Baptis, Ima Apriliyani.

Mengajar adalah pekerjaan yang diyakininya sebagai panggilan dan karunia dari Tuhan Yesus. Baginya, ini panggilan yang ia gumulkan sejak masih di Sekolah Menengah Atas, ketika pembimbing rohaninya melihat potensi dan hati Mike bagi pelayanan dan pengajaran.

Saat itu, di Surabaya, pembimbing rohaninya meminta Mike mengajar di Pusat Pengembangan Anak (PPA) dan Mike mulai menikmati prosesnya dalam mengajar. Pelayanan mengajarnya pun berlanjut sebagai guru Sekolah Minggu kelas Indria._

Tuhan pun membuka jalan bagi Mike untuk melanjutkan pendidikan di STT, menjadi asisten dosen pada 2016 lalu dosen penuh tahun 2018 hingga sekarang. Saat ini, ia sedang melanjutkan pendidikan S3-nya di STT Berita Hidup Surakarta, Jawa Tengah.

Mike mengingat kembali masa di kelas empat sekolah dasar. Ketika bermain di gereja, ia penasaran dengan mimbar di sana. Ketika guru Sekolah Minggunya berkata, hanya pendeta yang bisa berdiri di sana, Mike seketika berkata, ia akan menjadi pendeta agar bisa berdiri di mimbar tersebut.

“Nggak jelas kan, gue? Hahaha…” candanya.

Dan Tuhan mengantarkan kakak pertama dari tiga bersaudara ini sebagai pengajar.

Bagi Mike, setiap panggilan Tuhan bisa bermacam-macam fokus dan bentuknya. Itu bisa saja penginjil, gembala sidang, pengajar atau apa pun itu.

Tentang panggilan Tuhan baginya, Mike sudah yakin benar.

“Terserah Tuhan, Tuhan mau tempatkan di pelayanan mana? Kan Tuhan yang suruh? Harus nurut. Dan yang gue rasain sekarang, Tuhan mau gue di pengajaran, khususnya di STT,” Mike menjelaskan.

Namun dalam menemukan panggilan Tuhan, bukan berarti selalu dijawab dengan penerimaan. Ketika Mike bergumul tentang masa depan dan panggilannya, lantas mendapat jawaban untuk berlanjut ke seminari, Mike sempat menolak. Ia tawar-menawar dengan Tuhan. Ada banyak pertimbangan karena alasan keluarga. Sebagai anak pertama yang harus juga menjaga ibu dan adik-adiknya, Mike merasa perlu lebih dahulu bekerja dan mengurus keluarganya.

Ketika lulus SMA, Mike masih menawar Tuhan sambil mencari-cari pekerjaan. Namun dengan hasil yang nihil, akhirnya ia menyerah. Mike menurut kepada Tuhan untuk melanjutkan pendidikan di STT.

Memang, bila Tuhan sudah berkehendak, maka jadilah. Tetapi Tuhan kita bukanlah Allah yang memaksakan kehendak-Nya. Karena dalam penyerahan diri, Tuhan juga menyediakan berkat bagi ketaatan kita. Sejak 2009 Mike merantau untuk menerima panggilan Tuhan, Allah memelihara Mike bahkan keluarganya tanpa kekurangan dan tanpa kekhawatiran.

Pengalaman ini mengajarkannya, Tuhan bisa mewujudkan panggilan pelayanan dengan cara apa pun. Dia yang memanggil adalah Tuhan yang pasti juga menyediakan pertolongan dan kekuatan-Nya. Dengan cara-Nya, Tuhan membuka cara dan jalan pikir manusia yang terbatas.

Apakah panggilan dan pelayanan Tuhan hanya tentang pelayanan gereja dan penginjilan?

Mike menampik. Dijelaskannya, Tuhan bisa memanggil kita untuk apa pun. Mungkin sebagai guru, penulis, akuntan, dokter, penjaga toko, desainer grafis atau apapun.

Dilanjutkannya, ketika Tuhan percayakan suatu hal, Dia sendiri yang akan menunjukkan cara-Nya bagi kita untuk bisa memuliakan nama-Nya.

Lalu, bagaimana cara menemukan panggilan hidup itu?

“Yaaa…, cari tahu. Tanya sama Tuhan lewat doa, ngobrol sama Tuhan, Tuhan maunya apa di hidup kita. Tuhan pasti akan kasih tahu lewat berbagai cara,” jawabnya.

Pesan dari Mike untuk setiap anak muda yang masih bimbang dengan panggilan hidupnya, pertama, bangunlah hubungan yang erat dengan Tuhan. Jadikan Tuhan Yesus sahabat kita. Ketika kita memiliki sahabat, setiap hal pasti akan dengan leluasa kita ceritakan. Kita mengetahui apa yang menjadi kesenangannya dan apa yang tidak disukainya.

Ketika kita menjadikan Tuhan Yesus sebagai sahabat kita dan mempunyai hubungan yang baik dengan Dia, maka kita tidak perlu repot-repot mencari apa yang Tuhan inginkan dari kita untuk menjalankan panggilan-Nya. Kita akan dengan mudah mengerti jawaban Tuhan bagi pergumulan kita.

Bukan berarti setiap jalan yang kita lalui akan mulus dan lancar. Tetapi kita mempunyai kepastian bahwa Sahabat Agung kita, akan menguatkan dan memampukan kita.

Kedua, boleh saja menulis rancangan jalan hidup kita. Tetapi jangan lupa, ketika selesai menulis rancangan masa depan kita, jangan lupa menyerahkan pensil dan kertasnya kepada Allah. Tuhan yang memiliki lini masa hidup kita secara utuh, Dialah yang memahami pribadi kita dan apa yang terbaik bagi kita. Biarkan Tuhan yang mengoreksi apa yang sudah kita rancangkan.

Selamat menikmati panggilan hidup sebagai anak muda!

 

Penulis: Ima Apriliyani

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

 

MICHAEL SALOMO HAHULY

Lahir   : 29 Mei 1991

Gereja : Gondangdia Baptist Fellowship, Jakarta

Profesi : Dosen

Ayah   : Gyston Peter Isak Hahuly (Almarhum)

Ibu     : Suprihatin

 

Saudara: Ruth Stefanny Hahuly

Daniel Meirando Hahuly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here