OPINI – VIRUS CORONA, BENARKAH HUKUMAN TUHAN?

0
217

Berita yang membuat kita sebagai orang Kristen dapat tersentak kaget, seorang pendeta evangelis mengklaim bahwa virus corona adalah hukuman atau malaikat maut yang dikirim oleh Tuhan. Pendeta Rick Wiles mengatakan kepada pemirsa di acara web TruNews, virus corona itu dimulai di Tiongkok karena pemerintah komunis yang tidak percaya Tuhan, menganiaya orang-orang Kristen hingga banyaknya kasus aborsi paksa. Ia juga mengatakan, “malaikat maut” ini juga dapat mengawasi Amerika Serikat (https://www.indozone.id/news/r8s4Za/pendeta-as-sebut-wabah-virus-korona-adalah-azab-dari-tuhan).

Pernyataan pendeta ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah pernyataan ini hal yang benar dilakukan oleh orang yang menerima panggilan Allah, atau justru orang yang lari dari panggilan-Nya?

Lari dari panggilan Allah adalah sesuatu yang jarang disadari namun sering terjadi, saat kita merasa tidak cocok dengan apa yang Allah lakukan. Ini terkadang seperti hal yang lumrah terjadi, tak ada perasaan bersalah, bahkan dirasa tak ada yang salah. Santai berjalan, seperti tidak ada kejadian yang janggal atau salah.

Tidak sedikit orang yang sudah percaya pada Tuhan Yesus Kristus, mundur bahkan berbalik meninggalkan Dia. Ada yang sudah menjadi hamba Tuhan, sesepuh gereja, pelayan aktif gereja, di tengah jalan mundur. Seperti yang dilakukan Pendeta Rick Wiles, ini juga mundur dari panggilan Tuhan karena menghakimi orang lain, sementara Alkitab jelas menyatakan, penghakiman adalah hak Tuhan.

Saat sedang terjadi pandemi Covid-19 seperti ini, saat inilah kita harus menjalankan panggilan Allah, yaitu menebarkan kebenaran di tengah hiruk-pikuk suasana. Banyak pembawa berita kebenaran, ada juga pembawa berita kesesatan. Lalu, di manakah kita? Apakah kita akan lari dari panggilan sebagai pembawa kebenaran, berdiam diri lalu bersembunyi, atau malah kita akan menjadi pembawa kesesatan?

Apa arti panggilan Allah? Panggilan Allah bagi kita secara sederhana adalah membaktikan seluruh hidup untuk memberitakan Injil dan membawa jiwa-jiwa bagi Kristus. Di dalamnya, sarat janji Allah yakni kita akan tetap tinggal dalam Dia dan kepastian penyertaan Allah sampai pada akhir zaman (Matius 28 : 18-20).

Lalu bagaimanakah kita akan menyikapi panggilan-Nya?

Alasan Yunus melarikan diri dari panggilan Allah, pertama Yunus salah mengambil sikap terhadap kemurahan Allah. Yunus tahu bahwa Allah pasti mengampuni orang-orang Niniwe jika bertobat. Terkadang, bahkan seringkali, pengertian kita bahwa Allah itu murah hati, membuat kita berpikir, “Ah… nanti juga pasti Allah mengampuninya. Buat apa kita bersusah payah untuk mengingatkannya? Toh nanti juga Allah akan menyadarkannya.”

Pemahaman seperti ini yang membuat kita tidak cepat tanggap terhadap panggilan Tuhan. Membuat kita santai karena kita pikir, jika sudah waktunya, maka segala sesuatu dapat berubah dengan sendirinya. Juga bahwa karena kasih Tuhan yang besar akan menjadikan perubahan melalui cara Dia, tidak perlu melibatkan kita.

Hal kedua, Yunus egois, mementingkan diri sendiri. Dia tidak peduli pada orang-orang Niniwe. Keegoisan Yunus yang berpikir bahwa Allah akan menghukum bangsa Niniwe dan kekecewaannya akan pembatalan nubuat yang disampaikannya karena pertobatan bangsa Niniwe, serta pemikirannya bahwa Allah hanya mengasihi bangsa Yunus sendiri. Orang lain menurut Yunus, pantas dibinasakan (Kitab Yunus).

Bagaimana seharusnya melihat panggilan Allah?

Pengerjaan panggilan Allah dalam kehidupan kita harus memiliki pemahaman yang tepat. Pertama, kemurahan hati Allah haruslah disikapi dengan benar, bahwa Allah berkehendak melibatkan kita dalam karya-Nya bagi seluruh manusia. Kita adalah utusan Allah untuk memberitakan kebenaran dan kedamaian. Dalam Roma 10 : 13-15, kita adalah utusan Allah untuk memberitakan Injil.

Kedua, mari hilangkan keegoisan kita. Inilah yang terkadang terjadi, bahwa setelah kita menikmati anugerah Tuhan, itu cukup buat kita dan orang-orang yang kita kasihi saja. Ini salah. Anugerah itu untuk semua orang, baik yang kita kasihi, yang biasa-biasa saja, tidak kita kenal, bahkan orang yang membenci kita dan memusuhi kita. Jangan kita melarikan diri dengan berpura-pura tidak mendengarkan panggilan tersebut. Entah apa alasannya, telinga kita tiba-tiba menjadi tersumbat.

Banyak sumbatan dalam telinga sehingga tidak mendengar panggilan Allah. Marilah kita bersihkan sumbatan-sumbatan itu, seperti kekhawatiran, kemalasan dan keegoisan. Di tengah pandemi Covid-19 ini, jangan kita melarikan diri dari panggilan Allah. Mari bawa kebenaran Injil apa pun risikonya. Karena kebenaran Injil itu membawa kebaikan, kedamaian, pikiran yang sehat, ketaatan, dan banyak lagi hal-hal baik. Buktikan bahwa kita sebagai pembawa Kabar Baik dapat mengubah dunia yang dicekam kepanikan, kekacauan akan pandemi, menjadi dunia yang tenang, damai dan penuh keberanian dengan hikmat yang datangnya dari Allah.

Seperti pernyataan seorang pendeta dari Wuhan, Tiongkok tempat pandemi Covid-19  berawal, “(Saat) Bencana menimpa kita, itu adalah bentuk kasih Tuhan. Wabah penyakit Wuhan tidak bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Kasih ini ada di dalam Tuhan kita Yesus Kristus.”

Dia juga percaya, saat semua orang Kristen berdiri untuk meminta belas kasihan Tuhan atas Wuhan, maka kedamaian akan hadir (www.komentaren.net).

Pada akhirnya, panggilan Allah merupakan hal yang terutama dalam hidup. Panggilan Allah adalah prioritas pertama yang harus dikerjakan. Panggilan Allah merupakan tujuan hidup kita sebagai umat pilihan-Nya. Mari kita kerjakan panggilan Allah dengan perbuatan yang nyata seperti yang dilakukan warga Caohe.

Berbeda dengan yang terjadi di daerah sekitar tempat penyebaran virus Covid-19, ternyata warga Caohe yang lokasinya dekat Wuhan, kini lebih bersemangat untuk pergi ke tempat-tempat ibadah seperti mesjid dan gereja. Mereka berdoa sebagai bentuk perlawanan terhadap pandemi yang dalam dua bulan pertama sudah menewaskan ribuan orang di negaranya.

Tidak hanya berdoa, warga juga membuka sumbangan hingga berhasil mengumpulkan dana 30 juta dolar Amerika Serikat (setara lebih dari Rp 416 miliar, www.pikiran-rakyat.com).

Selamat menikmati panggilan Allah bagi kita. Amin.

 

*)Pdm. Joko Susilo adalah Gembala Sidang GBI Cilegon TPW Cisoka-Adiyasa, Banten.

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here