NYARIS MELOMPAT DARI JALAN LAYANG PASUPATI Leni Wahyuni *)

0
320

Shalom, Saudara terkasih dalam Tuhan. Sungguh saya bangga dan bersyukur punya Allah yang begitu hebat. Jika bukan karena kasih-Nya yang luar biasa, saya saat ini mungkin sudah tiada di dunia ini, menjadi orang yang sia-sia…

Semua berawal dari hati yang pahit, penuh dengan dendam dan ingin diakui. Saya lahir dan besar di Kasokandel, Majalengka, Jawa Barat. Saat kecil, saya selalu dianggap sebagai anak laki-laki yang tangguh. Padahal saya anak perempuan yang ingin seperti anak perempuan lain: bermain boneka, bermain selayaknya anak perempuan.

Pada suatu waktu, saya mau berpakaian selayaknya anak perempuan memakai rok. Saat itu saya bermain dengan teman-teman di sekitar rumah. Tengah bermain, saya didekati anak laki-laki yang adalah saudara saya sendiri. Dan… sungguh tega, dia melakukan pelecehan terhadap saya….

Saya mencoba lari dan berteriak tetapi sungguh tak sanggup. Di situ Tuhan ternyata selalu ada buat saya… saya tidak sampai diperkosa karena Tuhan jagai. Namun kejadian itu membuat hidup saya berubah. Yang tadinya ingin berpakaian cantik, bermain boneka, seketika itu juga lenyap karena saya berpikir, perempuan adalah makhluk yang lemah.

Dari kejadian itu saya mulai mengikuti kegiatan pencak silat, puasa patigeni, tidur di kuburan untuk mendalami segala ilmu kanuragan atau okultisme. Itulah awal mula saya mengikut si Iblis. Saya benar-benar tekun melakukannya.

Singkat cerita, di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), saya dihadapkan lagi dengan kejadian waktu kecil. Saya dilecehkan lagi.

Mulailah ilmu-ilmu kanuragan yang pernah saya tekuni, saya keluarkan. Kata teman yang melihat, saya seperti singa mengamuk, menggeram dengan tangan yang kaku dan mata merah.

Saya bangga dengan keadaan itu. Berarti, saya tidak akan lagi dilecehkan.

Jika sudah sangat sakit hati, saya berkata orang itu mati, ya benar-benar mati. Wah, sungguh gampang ya, mencelakai seseorang…

Saya semakin bangga. Semakinlah Iblis bercokol dalam jiwa saya…

Tetapi sungguh, Tuhan itu baik… Saat SMA, selalu ada kerja kelompok di rumah teman. Kebetulan dia seorang Kristen. Itulah pengenalan pertama saya dengan Tuhan Yesus. Saya mulai bertanya, siapa sih Yesus?

Teman saya menjelaskan dan itu sungguh menarik. Tetapi saya sudah terlanjur menjadi pengikut Iblis, yang mengeraskan hati saya…

Kadang-kadang saya seperti orang yang mempunyai dua kepribadian. Kadang-kadang saya tenang sekali mendengar cerita tentang Yesus yang sungguh menarik. Tetapi kadang-kadang saya begitu bersikap bengis mendengar nama-Nya.

Lulus SMA, saya bekerja di daerah yang masih dekat dengan rumah. Rasanya ingin sekali bekerja di luar kota.

Mulailah saya mencari lowongan kerja. Saya mendapat pekerjaan di sebuah pabrik di Bandung. Tetapi sayang, Bapak tidak mengizinkannya.

Saya pun terus bercokol dengan si Iblis. Sampailah saya bertemu dengan laki-laki yang sekarang menjadi pendamping hidup saya. Tuhan Yesus sungguh baik, Dia yang membuat hidup saya berubah. Yang tadinya dalam gelap, menjadi dalam terang walaupun banyak sekali yang harus kami lewati bersama getir dan pahitnya kehidupan. Puji Tuhan, kami dapat melewatinya….

Memulai rumah tangga, rasanya seperti dalam neraka karena saya seorang muslim penganut okultisme, sedangkan dia anak Tuhan yang taat. Benar kata Firman Tuhan, terang dan gelap tidak dapat bersatu. Sampai-sampai di suatu titik, saya ingin bunuh diri, melompat dari jembatan layang Pasupati, Bandung.

Tetapi saat itu tiba-tiba ada orang yang mengendarai sepeda motor matic merah, mengingatkan saya ketika bersiap terjun dari jembatan layang. Dia berkata, “Buat apa kamu loncat dari sini? Nanti kamu malah akan lebih sengsara karena kamu akan menjadi roh bergentayangan dan ujungnya masuk neraka yang sangat panas. Dan di neraka tidak bisa bunuh diri, itu adalah kekekalan!”

Saat itu saya seperti disambar petir… Perlahan-lahan saya mengurungkan niat dan turun dari tembok itu.

Dia berkata lagi, “Kalau ingin masalahmu beres dan damai sejahtera, pulanglah kepada yang menciptakan kamu.”

Lalu dia pergi.

Seketika saya menangis. Apakah masih ada kasih Tuhan bagi saya yang hina ini?

Setelah kejadiaan itu saya lebih banyak diam dan merenung.

Setiap kali suami mengajak ke gereja, saya selalu menolak, selalu mengeraskan hati dan berujung dengan pertengkaran. Setelah kejadian itu saya sering kesurupan, sering ngamuk-ngamuk tanpa sebab seperti orang gila. Puji Tuhan, suami sangat sabar. Beliau sering sekali mengajak saya bergabung di kelas pemuridan yang dia ikuti bersama bosnya. Cuma, lagi-lagi saya menolak.

Suatu waktu, ketika saya sedang sholat, suami memperhatikan saya dengan tatapan yang sedih. Setelah sholat, tiba-tiba ada roh jahat yang mau merasuki saya.

Melihat hal itu, suami lalu berdoa dan menengking roh jahat itu. Sesudah reda, suami saya berkata, “Kamu tidak capai begini terus? Mau lepas nggak dari hal-hal yang terkutuk ini?”

Saya mengangguk karena sulit sekali untuk berbicara. Lidah rasanya kelu…

Akhirnya saya dipimpin suami untuk lahir baru. Dari situlah saya berjuang untuk lepas dari cengkeraman si jahat. Perlu waktu bertahun-tahun baru bisa benar-benar terlepas, dengan penuh cucuran air mata, bertelut dan selalu berdoa. Dan tidak lupa untuk membaca Firman Tuhan, karena itulah kekuatan kami.

Tuhan Yesus luar biasa baik. Saya dipulihkan sedikit demi sedikit dan akhirnya sembuh. Kunci untuk itu adalah hati yang mau mengampuni, tidak menyimpan dendam dan sakit hati. Bebaskan dan lepaskanlah segala beban dengan selalu mempunyai belas kasih seperti Tuhan. Karena dengan kita berbelas kasih, di situ ada pengampunan. Dan di dalam pengampunan ada damai sejahtera.

Memang tidak mudah untuk mengampuni orang yang menyakiti kita. Tetapi dengan kekuatan dari Allah Bapa, Tuhan Yesus yang memampukan, Roh Kudus yang menuntun, kita pasti sanggup melakukannya.

Seperti yang saya alami belakangan ini, ada seorang tetangga yang begitu membenci saya tanpa sebab. Kalau saya melintas depan rumahnya, dia langsung menutup pintu.

Duh, saya menjadi tidak merasa damai sejahtera. Ingin rasanya membalas…

Saya hanya membawa masalah itu dalam doa, supaya tetangga kami diberkati dan diampuni. Saya terus mendokan hal itu.

Suatu waktu, saya baru pulang dari pasar mengendarai sepeda motor dan membawa belanjaan yang lumayan banyak. Pintu rumah yang tadinya terbuka, tiba-tiba ditutup seperti dibanting begitu saya melintas. Duarrrrr! Keras sekali suaranya.

Sontak saya kaget dan secara refleks, sepeda motor saya tabrakkan ke kursi yang ada di depan rumahnya. Karena emosi, sampai di rumah saya pun membanting pintu. Lalu saya mandi dan mencoba menenangkan diri dengan membaca Firman Tuhan serta berdoa mohon ampun atas tindakan bodoh yang saya lakukan….

Setelah itu saya masuk kamar dan menangis, berdoa, “Tuhan mohon ampun, Tuhan tolong…”

Hanya itu yang bisa saya ucapkan… sampai saya terlelap ketiduran.

Keesokan harinya saya mengantar pisang ke tetangga itu. Dan… dia memberi sambutan yang baik! Haleluya!

Betapa saya sangat senang! Dengan berbelas kasih, saya menjauh dari pertengkaran dan duka cita. Di dalam Dia selalu ada damai sejahtera!

 

*)Penulis adalah anggota Gereja Baptis Pertama, Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here