Menemukan Keluarga Baru di JATISIA DENVA

0
471

”Menggembalakan gereja tidak perlu melakukan hal-hal yang spektakuler. Kami hanya berfokus bagaimana jemaat bisa bertumbuh sebagai keluarga Kristen yang kokoh sehingga bisa menjadi saksi yang baik di tengah-tengah dunia. Jika pada level keluarga sudah menjadi saksi yang baik, otomatis gereja sebagai kumpulan keluarga akan menjadi saksi yang baik pula,” kata Gembala Sidang Jatisia Denva Pdt. Johni Mardisantosa.

“Jatisia Denva” adalah akronim yang akrab di telinga jemaat untuk sebutan pendek dari Gereja Baptis Indonesia (GBI) Golden Boulevard BSD City, Tangerang Selatan, Banten. Akronim ini hasil sayembara di lingkup jemaat pada tahun keempat gereja tersebut mandiri. Jemaat mencari ”singkatan keren” bagi gereja di Kompleks Ruko (rumah toko) Golden Boulevard Blok B. No. 8 – 9 BSD City ini.

Jatisia Denva terbilang unik karena berada di kompleks ruko yang memiliki banyak gereja dan tempat hiburan malam sekaligus. Maka, gereja ini dituntut menjadi terang dunia, ibarat ”kota di atas gunung” bagi mereka yang masih hidup dalam kegelapan.

Cikal bakal Jatisia Denva adalah dari jemaat rumah di kediaman Pdt. Johni di Jl. Palem Bintaro, Pondok Aren Tangerang Selatan. Jemaat rumah ini bermula dari Persekutuan Baptis di Gedung Balai Mahasiswa Baptis (BMB) Grogol, Jakarta yang dilayani mantan Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) Pdt. Guntur Subagyo. Karena kediaman Pdt. Johni lebih dekat dengan tempat tinggal jemaat tersebut, penggembalaan diserahkan kepadanya.

Pada saat itu, Pdt. Johni masih menjadi Asisten Gembala Sidang bidang Pengabaran Injil GBI Kebayoran Baru, Jakarta. Lulusan Sekolah Tinggi Teologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang ini pun harus membagi waktunya untuk melayani jemaat rumah ini sekaligus melayani di GBI Kebayoran. Karena itu, jemaat biasanya berbakti pada Minggu sore pukul16:00.

Pada Oktober 2006, GBI Kebayoran setuju mengadopsi jemaat rumah ini sebagai gereja cabang. Pdt. Johni diberi mandat untuk menyewa satu ruko tiga lantai di daerah BSD City sebagai tempat beribadah bagi jemaat ini. Ayah dua anak tersebut lalu ditunjuk untuk menggembalakan 18 anggota jemaat ini.

Pada 21 Desember 2006 GBI Kebayoran meresmikan jemaat ini sebagai GBI Kebayoran Cabang BSD City. Saat itu, gereja masih berlokasi di Kompleks Ruko Golden Boulevard Blok S. No. 11 BSD City. Biarpun masih sedikit anggotanya, jemaat dengan iman bertekad menjadi gereja mandiri selambat-lambatnya pada tahun ketujuh. Untuk hal ini, mereka mengandalkan pertolongan Tuhan.

”Sejak semula saya ingin menjadikan Alkitab sebagai dasar utama bagi jemaat. Saya memilih mengkhotbahkan kitab atau surat tertentu, ayat per ayat secara berurutan supaya jemaat bisa semakin memahami isi hati Tuhan. Khotbah tidak berdasarkan keinginan manusia tetapi mengikuti alur yang ada di dalam Alkitab,” cerita Pdt. Johni.

Dengan konsep penggembalaan seperti itu, seorang simpatisan gereja bernama Djaja Putra UG pun tertarik. Djaja melihat ada ruang baginya untuk melayani Tuhan secara maksimal melalui gereja ini. Maka, ia lalu menggabungkan diri hingga akhirnya menjadi salah satu anggota panitia perancang Jatisia Denva.

”Saat itu jemaat Denva masih sedikit. Saya ingin dipakai Tuhan untuk ikut pelayanan di Jatisia Denva agar jemaat bisa bertumbuh. Saya cari gereja Baptis yang terdekat dengan rumah saya dan kebetulan saya kenal Pdt. Johni sudah lama,” tutur Djaja.

Apa yang dilihat Djaja dengan mata rohaninya terbukti benar. Juli 2007, jemaat sudah bertambah menjadi 30 orang sehingga membutuhkan tambahan ruang untuk beribadah. Kebetulan ruko tetangga sebelah tidak dipakai, sehingga gereja diizinkan memakainya secara cuma-cuma selama setahun. Setelah itu, gereja baru membayar sewa sampai tahun 2011.

Di lokasi ini, jemaat mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Pada akhir 2011, ruangan yang ada tidak cukup lagi menampung mereka. Jumlah anggota jemaat sudah bertambah hingga menjadi 80 orang. Dan keberadaan tim paduan suara (padus) mungkin menjadi salah satu keunikan gereja ini.

”Jatisia Denva memiliki tim padus yang saya suka. Tidak semua gereja Baptis memiliki tim
padus,” kata Djaja. Sejak anggota jemaat baru berjumlah 18 orang, Pdt. Johni sudah mendorong mereka untuk memuliakan Tuhan melalui paduan suara. ”Biar pun tim padus bernyanyi hanya bagi dua anggota jemaat, Tuhan tetap ikut mendengar.

Suatu hari nanti, Tuhan tidak lagi memerlukan saya berkhotbah. Namun, kita akan terus bernyanyi memuliakan Tuhan di surga. Nah, dari sekarang jemaat sudah harus dibiasakan,” tuturnya. Selain paduan suara, Jatisia Denva menaruh perhatian mendalam pada urusan Sekolah Minggu (SM).

Pelayanan ini memang dikembangkan dengan serius. Tenaga pengajarnya juga tidak asal-asalan. Di antaranya Dumaria Simbolon (yang akrab dipanggil Duma) dan Royana Lumban
Gaol, lulusan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Medan. Keduanya mengajar pada salah
satu sekolah negeri di Cisauk, Tangerang, diajak Pdt. Johni untuk terlibat dalam pengembangan Sekolah Minggu sejak 2014.

”Berdasarkan info dari pendeta di Medan, Pdt. Johni dan Ibu Retno langsung mengunjungi kami ke Cisauk. Sejak saat itulah kami bergabung di Jatisia Denva,” cerita Duma. Banyak anggota jemaat yang memang merasa bertumbuh dan diberkati melalui Sekolah Minggu.

Pdt. Johni mengingatkan, ”SM tidak hanya bagi anak-anak. Gereja harus memikirkan  bagaimana SM bisa diikuti setiap kelompok usia. Karena itu, jemaat kami yang berumur 80 tahun tetap bisa diteguhkan kerohaniannya melalui SM.” Winarsih Irma Nurani yang lebih akrab dipanggil Wiwin, rela jauh-jauh datang dari wilayah Gunung Sindur (Kabupaten
Bogor, Jawa Barat) untuk beribadah di Jatisia Denva. Mereka sekeluarga rela melakukan perjalanan lintas provinsi sejauh 15 kilometer demi mencari gereja yang ada sekolah Minggunya.

”Gereja Baptis dekat rumah kami memang ada SM-nya, tetapi kadang diadakan, kadang tidak. Karena itu kami memilih Jatisia Denva. Memperjuangkan keimanan anak-anak menjadi pertimbangan utama kami,” tukas Wiwin. Ia sekeluarga pun memutuskan bergabung menjadi jemaat Jatisia Denva sejak 2016. Di gereja ini, Wiwin merasa bertumbuh kerohaniannya melalui Sekolah Minggu. ”Saya merasa sangat diberkati setelah
ikut SM, apalagi dengan latar belakang saya yang sejak kecil adalah muslim.” Karena ada salah satu anggota jemaat yang menghibahkan ruko di kompleks yang sama, gereja lalu pindah ke lokasi saat ini sejak Februari 2012.

Sementara itu, ruko yang berada di sebelahnya dibeli dengan cara diangsur. Gedung gereja kemudian diresmikan penggunaannya pada 26 Agustus 2012. Di bawah penggembalaan  Pdt. Johni, jemaat pun terus bertumbuh dalam kedewasaan rohani maupun jumlahnya. Keinginan menjadi gereja mandiri selambat-lambatnya dalam tujuh tahun, terkabulkan. Sejak 24 Agustus 2013, jemaat ini resmi menjadi gereja mandiri bernama GBI Golden  Boulevard. Anggota jemaat pada saat itu sudah berkembang hingga 90 orang.

Memasuki 2020, anggota jemaat Jatisia Denva mencapai 168 orang. Jemaat dilayani tiga hamba Tuhan, yaitu Pdt. Johni Mardisantosa (gembala sidang), Pdm. Andreas (asisten gembala untuk pelayanan kepemudaan), dan Pdm. Yogga Trihartanto (pelayan PI untuk perintisan di lingkungan Karawaci).

Gereja juga sudah menaungi dua jemaat perintisan PI, yaitu BPW Blossomville di Cikupa, Banten dan Pos Perintisan Griya Karawaci, Banten. ”Saat ini gereja terus berupaya bagaimana tiap tahun bisa membuka pos PI baru sambil menguatkan yang sudah ada,” tutur. Pdt. Johni.

Diana Esterina Lontorin, perantauan dari Nusa Tenggara Timur NTT, merasa jemaat dan pelayan Tuhan Jatisia Denva membuat dirinya nyaman. ”Mereka ramah dan bersahabat.
Jemaat saling sapa disertai senyum dan sering saling menanyakan kabar. Jika sempat seseorang tidak hadir, jemaat sering menanyakan satu sama lain.” Selain itu, Jatisia Denva memiliki keunikan dengan makan prasmanan setiap kali kebaktian Minggu pagi usai. ”Gereja tidak hanya menyediakan makanan rohani, tetapi juga harus menyediakan makanan fisik. Kita harus meneladani Tuhan Yesus yang memerintahkan para murid memberi makan orang-orang yang datang pada-Nya,” ujar Pdt. Johni.

Suasana kekeluargaan pun terbangun dengan tradisi seperti ini. Meskipun bukan seorang perantau seperti halnya Diana, Wiwin juga merasa menemukan keluarga baru di Jatisia Denva. ”Kami setiap hari selalu ada komunikasi dengan teman gereja, terutama di grup SM. Kami merasa selalu diperhatikan dari hal-hal kecil sampai besar. Kalau kami curhat,
teman-teman selalu beri solusi dan dukungan kepada kami.

Pada 24 Agustus 2020 lalu, Jatisia Denva tepat memasuki tujuh tahun pelayanan. Jemaat memang tampak sudah bertumbuh dan berbuah  dengan baik. Namun, Pdt. Johni  mendorong jemaat untuk terus menyampaikan berita tentang Tuhan Yesus Kristus dan tekun melayani sesama. ”Perjalanan belum berakhir. Kita akan meneruskan sampai kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Meskipun ada Covid-19, pekerjaan Tuhan tidak boleh berhenti,” tandasnya.

Dirgahayu Gereja Baptis Indonesia Golden Boulevard, teruslah setia menjalankan
pelayanan.

 

Penulis: Yonghan Lim
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here