Liputan Khusus 1 – Mereka yang Menang Melawan Covid-19 KESAKITAN, LENGAN LESTARI TERPAKSA DIIKAT

0
451

“Corona itu adanya di China bukan di sini. Di sini cuma diada-adakan. Lagian corona hanya penyakit biasa…“ begitu bunyi sebuah postingan di FaceBook Oktober 2020 lalu.

Sementara yang lain menimpali, “Ternyata benar ya, corona memang ada.”

Ungkapan-ungkapan yang menyangkal dan yang lainnya mengakui adanya Covid-19 sesudah melihat sendiri orang-orang terdekatnya terinfeksi, masih sering terlontar. Padahal pada pertengahan Februari 2021 ini, virus ganas tersebut genap setahun diketahui sudah beraksi di Indonesia. Meski begitu, masih banyak orang yang menyepelekan Covid-19 ini.

Sejak virus ini diketahui masuk Indonesia, pemerintah terus mengupayakan berbagai pencegahan penyebarannya. Namun hingga Minggu pertama Februari 2021 tak juga menunjukkan angka penurunan. Sebaliknya, kasus yang didapati justru semakin banyak.

Dari Maret 2020 hingga 27 Januari 2021, kasus terpapar Covid-19 di Indonesia menembus angka satu juta kasus. Hal ini membawa Indonesia berada pada urutan ke-19 negara penyumbang kasus Covid-19 lebih dari satu juta (tekno.tempo.co).

Menanggapi hal ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat bersama-sama bekerja keras mengurangi laju penularan Covid-19. “Kita harus memastikan, kita harus bekerja keras mengingatkan diri kita sendiri, mengingatkan teman-teman kita, mengingatkan keluarga kita, dan seluruh rakyat yang ada di lingkungan kita agar kita disiplin, protokol kesehatannya kita patuhi,” ujar Budi (www.kompas.com).

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pukul 14.00 WIB, total ada 1.278.653 kasus Covid-19 di Tanah Air, terhitung sejak diumumkannya kasus perdana pada 2 Maret 2020.

Satu persatu tenaga medis mulai terpapar, baik dokter, perawat maupun tenaga bidang lainnya. Sejumlah dokter dan perawat Baptis pun turut terinfeksi Covid-19. Bahkan di antaranya berakibat fatal. Ev. Peter Harinowo, staf bagian kerohanian Rumah Sakit (RS) Baptis Batu meninggal dunia pada 15 Agustus 2020. Anggota Panitia Pengabaran Injil Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kebayoran Jakarta, dr. Willy Ken juga meninggal pada 3 Februari 2021 Bahkan Wakil Direktur RS Baptis Kediri dr. Arnold Serworwora juga berpulang pada 30 Januari 2021 akibat virus ini.

Kalau saja semua orang tahu betapa menderitanya pasien Covid-19 di ruang isolasi rumah sakit, tentu ia tak lagi menyepelekan penyakit ini. Dengar saja kisah Sekretaris GBI Imanuel Bandung, Lestari Iswandi yang belum lama sembuh dari Covid-19.

“Saya di dalam ruang ventilator lima hari (karena saturasi oksigen menurun). Jadi dibantu, (saturasi oksigennya) sekitar 80 persen. Kedua tangan saya diikat di ranjang.”

Kedua lengan Lestari diikat erat lantaran alat yang dipasang ditubuhnya akan membuatnya kesakitan ketika badannya bergerak. Tali pengikat juga mencegah pasien mencabut alat-alat yang terpasang ditubuhnya ketika Lestari didera kesakitan di sekujur tubuh akibat serangan virus Covid-19.

Perawatan lima hari yang dijalaninya di ruang isolasi benar-benar sebuah pengalaman buruk. Dua kali sehari, suster menyedot cairan dari paru-paru melalui mulut. Setelah keluar dari ruang perawatan intensif pun tak serta merta semua kesakitan yang dirasakannya, berakhir. Lestari harus menjalani perawatan lanjutan selama sepuluh hari. Delapan kali sehari, perutnya disuntik obat pencegah pengentalan darah setelah keluar dari ruang ventilator.

“Setelah keluar dari ruang ventilator, kan melewati masa pemulihan (pindah ruangan). Saya sempat bisu, nggak bisa ngomong apa-apa karena pakai alat itu (ventilator), belajar menyesap minuman, pokoknya kayak bayi aja. Nggak bisa makan karena pakai ventilator itu. Jadi, semua makanan lewat hidung,” ungkap ibu dari satu anak ini.

Tak ada gelaja berat maupun penyakit penyerta yang membuatnya harus melalui semua perawatan ini. Bahkan awalnya Lestari memeriksakan diri ke klinik karena merasa pusing serta badannya sakit. Hasilnya, trombositnya menurun, namun tidak disarankan untuk dirawat di rumah sakit.

Setelah tiga kali memeriksakan diri dan tidak ada perubahan, Lestari memutuskan ke rumah sakit.

“Awalnya dikira DB (demam berdarah) karena trombosit menurun. Tetapi ketika diperiksa suster, katanya, ‘Kok saturasi oksigennya menurun?’ Akhirnya di-swab dan ternyata positif,” ujarnya.

Begitu masuk ruang isolasi, Lestari merasa sesak napas. Ia merasa stres karena memikirkan keluarga dan tugas di gereja.

Pdt. Tri Hadianto & Keluarga

Sementara Gembala Sidang GBI Duta Ilahi Tulungagung, Jawa Timur Pdt. Tri Hadianto yang kehilangan sang istri karena Covid-19, mengungkapkan, “Dalam perjuangan melawan Covid-19, istri saya meninggal. Saya juga mikirin anak-anak (mereka juga terpapar Covid-19, red.). Rasanya seperti bertubi-tubi dipukuli. Kalau pemain tinju, sudah jatuh, masih dipukuli terus…”

Pdt. Tri dinyatakan positif covid-19 bersama istri dan keempat anaknya setelah merasakan demam sejak 26 Desember 2020 dan menjalani swab test pada 28 Desember 2020. Namun karena tidak ada ruang kosong di RS Baptis Kediri sehingga Pdt. Tri dan keluarga melakukan isolasi mandiri dengan bantuan obat-obatan dari Puskesmas. Hingga 5 Januari 2020 Pdt. Tri bersama Theresia, sang istri, baru dipersilakan datang di RS Baptis Kediri.

“Yang paling berisiko itu saya, karena ada beberapa penyakit bawaan, ada diabetes, ada hipertensi. Jadi, makanya setelah positif, saya lemas sekali. Istri saya malah tidak ada keluhan ataupun riwayat penyakit berat,” ujar Pdt. Tri.

Menyadari dirinya berisiko tinggi, Pdt. Tri sempat pamit ke istri. Namun nyatanya setelah masuk ruang isolasi, Theresia mengalami penurunan kondisi, bergejala seperti flu, muntah-muntah hingga batuk disertai darah. Tak hanya itu, saturasi oksigennya pun terus turun. Akibatnya, wanita kelahiran Kediri tersebut harus masuk ruang perawatan intensif (ICU) supaya dapat dibantu ventilator. Namun karena ruangan penuh, Theresia baru dapat masuk keesokan harinya.

Kondisi Theresia yang sempat membaik sesudah menerima plasma darah penyintas Covid-19, kembali merosot. Bahkan pada Minggu 10 Januari 2021 Theresia akhirnya berpulang.

Pdt. Tri  yang masih diopname di ruang terpisah, sangat terpukul. Apalagi saat itu anak pertama dan kedua harus juga dirawat inap sehingga menyisakan kedua anaknya yang masih kecil untuk isolasi mandiri di rumah.

“Benar-benar merasa ujian yang tidak ada henti-hentinya. Kondisi saya masih parah, istri harus masuk ruang ICU, nggak berapa lama dokter minta izin pasang ventilator hingga akhirnya Minggu 10 Januari, istri saya meninggal. Kalau ini api ujian, orang mungkin merasakan hangatnya (atau) setidaknya panasnya. Tetapi saya benar-benar dilelehkan Tuhan. Tuhan membentuk saya. Kalau mental nggak kuat, wah… ambruk saya,” ungkap Pdt. Tri.

Kalau saja mampu, rasanya ia ingin menjerit. Namun Pdt. Tri bersyukur, semua masih dapat dilalui berkat pertolongan Tuhan.

Dkn Prabowo dan Istri

Sementara Dkn. Prabowo, anggota GBI Baitlahim Bandung mengungkapkan, tak ada gejala yang dirasakan pada awalnya. Ia dan istrinya mengunjungi rumah sakit untuk mengecek kondisinya yang sebelumnya pernah mengalami gagal ginjal. Namun setelah diperiksa dan dinyatakan positif Covid-19, ia kaget dan seketika lemas.

Nggak bisa berbuat apa-apa, saya pasrah, berdoa. Keluarga berdoa dan pasti istri saya berdoa,” ungkapnya kepada Yohanes Aris dari Suara Baptis, Kamis 21 Januari 2021. “Ketika divonis corona, ya nggak bisa berbuat apa-apa, menyerah. Umur sudah menjelang 78 tahun, fisik saya sudah rapuh (apalagi sempat menjalani cuci darah namun kemudian sembuh). Saya nggak bisa menangis. Tetapi waktu sembuh, kalau sekarang memberikan kesaksian, saya bisa menangis.”

Pdm. Johanes Riwayat dan Keluarga

Gembala Sidang GBI Getsemani Cabang Pandau, Kampar, Pekanbaru, Pdm. Johannes Riwayat juga terinfeksi Covid-19. Awalnya seperti masuk angin. Dua hari kemudian muncul gejala-gejala mual, demam naik-turun hingga kehilangan indra penciuman.

“Istri berkata, ‘Kemungkinan Covid-19.’ Karena kita nggak tahu Covid-19 atau demam (biasa), kemudian melakukan swab  test mandiri. Karena hasilnya nggak langsung keluar, saya sampaikan ke istri, saya akan tinggal di gereja. Mereka (anak dan istri) pulang ke pastori,” ujarnya kepada Juniati dari Suara Baptis, Rabu 20 Januari 2021.

Berkat dukungan keluarga dan para hamba Tuhan Baptis maupun non-Baptis, Pdm. Johanes tidak khawatir selama menjalani isolasi mandiri. Ia sendiri meyakini, dirinya pasti terkena Covid-19 dengan demam yang sejumlah gejala yang muncul terutama kehilangan daya penciuman itu.

Sedangkan Asisten Gembala Sidang GBI Kalvari Jakarta Pdt. Refli Sumanti dan istrinya yang diketahui positif Covid-19, sempat kebingungan bagaimana memberitahu tetangga sekitarnya.

“Saya dan istri bingung, wah, ini bagimana ya? Ini harus diketahui, saya nggak mau diam-diam terus nanti (ketahuan jika terkena Covid-19), malah jadi masalah sama warga. Jemaat menyarankan isolasi mandiri di salah satu rumah pastori yang kosong. Karena sudah (menyebar) dari mulut ke mulut, akhirnya Ketua RT (Rukun Tetanga) tahu dan menelepon saya, menyarankan untuk tidak keluar-keluar. Setelah pihak lingkungan tahu, satgas Covid-19 datang, akhirnya mau nggak mau, heboh dong,” ungkapnya kepada Yohanes Aris.

Karena sempat kritis selama tiga hari, Pdt. Refli maupun keluarga agak was-was. Apalagi salah satu anggota jemaat kemudian meninggal karena Covid-19. Meski demikian, Pdt. Refli merasa ikhlas menjalaninya. Kekhawatiran yang muncul lebih kepada keluarga.

Merian Wana Gabriella dan Keluarga

Sementara Merian Wana Gabriella, putri Gembala Sidang GBI Setia Bakti Kediri, Jawa Timur Pdt. Yosia Wartono, tidak menyangka ketika ia dan kedua orang tuanya dinyatakan positif Covid-19.

“(Awalnya) pasti denied  (tidak bisa menerima). Kok bisa kena sih? Karena kan, saya termasuk anak rumahan. Dalam hati kayak mencari kambing hitam. Trus juga kecewa banget, kemudian mulai muncul rasa takut, nanti gimana?” tuturnya kepada Yohanes Aris.

Dia akui Gaby, panggilan akrabnya, usia mudanya menyebabkan dirinya belum mampu menerima kenyataan pahit dengan mudah. Ia juga takut jika hal buruk menimpa ayah dan ibunya yang memiliki penyakit penyerta. Inilah masalah paling berat yang dirasakannya sesudah dinyatakan positif Covid-19.

Peperangan melawan pandemi Covid-19 masih terus berlangsung. Meski vaksinasi sudah dilakukan, jumlah orang baru yang terinfeksi Covid-19 tiap hari masih tetap tinggi.

Masihkah Anda menyangkal, Covid-19  hanya ada di China?

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here