Liputan Khusus : Dampak Covid-19 bagi Murid Sekolah Minggu ANAK JADI BOSAN DAN SULIT DIKONTROL

0
336

Tak hanya mengubah tatanan kehidupan sosial, pandemi Covid-19 juga mengubah tatanan kehidupan bergereja. Tak hanya berdampak dalam ibadah umum, Covid-19 juga mempengaruhi tata cara pelaksanaan Sekolah Minggu.

Kegiatan yang biasanya dilakukan setiap hari Minggu dengan bertatap muka, kini harus dilakukan secara daring (dalam jaringan alias online). Banyak gereja yang tidak siap ketika Sekolah Minggu pun harus “dirumahkan”.

Maryati

“Kami sempat nggak Sekolah Minggu sekitar tiga minggu, karena kami pikir ini akan cepat berlalu tetapi ternyata berkepanjangan,” tutur Ketua Sekolah Minggu Gereja Baptis Indonesia (GBI) Palembang, Maryati, kepada Juniati dari Suara Baptis Rabu 17 Juni 2020.

Diakuinya, situasi ini membuat semua program berkaitan Sekolah Minggu yang telah dirancang di awal tahun harus dibatalkan, termasuk Paskah Sekolah Minggu, pesekutuan guru dan lain-lain. Meski sempat berhenti beberapa Minggu, gereja tetap memikirkan bagaimana pendidikan gereja inii dapat kembali berjalan.

Sampai kemudian Sekolah Minggu GBI Palembang dilakukan secara online melalui Google Meet, Zoom bahkan percakapan di WhatsApp. Cara ini tak serta merta menjadikan Sekolah Minggu dapat berjalan lancar secara bersama-sama. Beberapa kendala lalu muncul bagi kelas anak-anak sehingga Sekolah Minggu online tidak dapat digunakan.  Maka, guru harus memikirkan kembali cara yang lebih mudah.

Lia Kris Agustina

Sementara menurut Ketua Sekolah Minggu GBI Candi Semarang, Lia Kris Agustina, pihaknya dituntut mengubah waktu kegiatan. “(Sekolah Minggu online) kendalanya adalah menyesuaikan waktu dengan murid. Kalau dulu kan  pukul 09.00 sudah mulai, sekarang harus menyesuaikan karena anak-anak biasanya masih ada kegiatan yang lain,” tuturnya.

Senada dengan itu, Ketua Sekolah Minggu GBI Karunia Tuhan Bandar Lampung, Agnes A. Wibawati mengungkapkan kendala waktu yang dihadapinya. Menurutnya, setiap guru diminta merekam pengajaran Sekolah Minggu untuk kelompok kelas masing-masing.

Agnes mengatakan, sejak awal memulai Sekolah Minggu online, pihaknya sudah memperghitungkan tak semua anak memiliki fasilitas untuk dapat mengikutinya. Hal ni menjadi tantangan tersendiri bagi guru-guru dalam menyiapkan materi Sekolah Minggu.

Agnes

“Anak-anak yang tidak dapat mengikuti (Sekolah Minggu) online itu akan tetap kami kontak. Bersyukur, administrasi Sekolah Minggu sudah mulai tertata dengan baik sehingga kami mempunyai data semua murid. Kami share (bagikan) ke guru Sekolah Minggu dan saya mendorong guru-guru  untuk mendoakan murid-muridnya satu per satu,” ujarnya.

Agnes juga mendorong para guru untuk tetap menyapa murid mereka melalui telepon. Dengan begitu, para murid akan merasa diperhatikan.

Sementara GBI Palembang mengalami kesulitan untuk kelas Indria karena guru tidak memiliki kontak anak-anak. Akibatnya, gereja tidak mendapatkan laporan kehadiran, ungkap Maryati.

Tak hanya GBI Candi, GBI Karunia Tuhan dan GBI Palembang, hampir semua gereja dituntut melangsungkan Sekolah Minggu secara online. Biasanya, mulai dari kelas Tunas Muda sampai Dewasa, Sekolah Minggu dapat dilakukan secara interaktif melalui berbagai aplikasi di telepon genggam. Sementara untuk kelas Asuhan hingga Madya, guru merekam pengajarannya dan ditayangkan melalui YouTube.

Tak mudah untuk melakukannya. Lia, Ketua Sekolah Minggu Candi mengaku, situasi ini membatasi kreativitas guru.

“Kendalanya pasti keterbatasan kreativitas. (Biasanya) kalau kumpul kan guru-guru sudah siap dengan kreativitasnya yang akan di bagikan. Tetapi kalau ini kan jadi minim sekali,” ungkapnya.

Tak hanya kreativitas guru yang terkendala, kegiatan yang terus-menerus dilakukan di rumah membuat anak-anak bosan sehingga sulit dikontrol. Sementara  kelas Tunas Muda hingga Senior berjalan dengan cukup baik melalui media yang disiapkan guru masing-masing, tutur Lia.

Menurutnya, jumlah murid kelas Dewasa bahkah bertambah. “Kelas Dewasa malah ada poin plusnya. Orang-orang yang tadinya nggak bisa bersekolah Minggu langsung di gereja karena bentrok dengan jadwal lain, kini bisa ikut dengan cara online.”

Karena tidak dapat membuka kelas langsung, sebagian gereja meminta murid dan guru mengambil buku Sekolah Minggu di kantor sekretaris. Namun GBI Candi memilih mengirimkan buku-buku tersebut ke rumah-rumah murid dan guru Sekolah Minggu.

Pdt. Eko
Pdt. Eko

“(Dalam situasi ini) gereja harus proaktif. Kalau menunggu (murid) yang datang mengambil (buku Sekolah Minggu di gereja), ya nggak (akan) jalan,” ujar Gembala Sidang GBI Candi Pdt. Eko Kurniadi.

Dampak lain yang dialami adalah penurunan jumlah kehadiran sekolah Minggu. Sebagian gereja menghitung jumlah kehadiran melalui laporan dari guru kelas masing-masing. Ada juga yang menghitung dengan melihat jumlah penonton (viewers) di YouTube meski.

Namun menghitung viewer YouTube tidak menjamin ketepatan jumlahnya. “Kalau (menonton) di YouTube, kami juga nggak tahu siapa-siapa saja (yang ikut). Jadi, kami akan pikirkan lagi cara menghitung jumlah kehadiran. Kemarin kami hanya berpikir, bagaimana Sekolah Minggu dapat tetap berjalan,” ujar Maryati.

Sekolah Injil Liburan Ditiadakan?

Selain pelaksanaan Sekolah Minggu, pandemi Covid-19 ini juga memaksa gereja-gereja Baptis mengatur ulang program Sekolah Injil Liburan (SIL). Maklum, pelaksanaan SIL tidak dapat lagi dilakukan seperti biasa dengan mengumpulkan anak-anak.

Sebagian gereja tetap melakukan SIL secara online. Lembaga Literatur Baptis bersama GBI The Light Communities Church (TLCC) dan sejumlah orang muda dari beberapa gereja Baptis lain di Jakarta pun mengadakan SIL online berjudul SIL Asik 2020. Lebih dari seribu anak mengikuti SIL ini.

Namun tidak semua gereja mampu menggelar SIL online. Keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan menjadi penyebabnya. Padahal, selama puluhan tahun, SIL menjadi program penting dalam gereja-gereja Baptis Indonesia. Kegiatan ini terbukti mampu menjangkau banyak anak dan menolong mereka menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamatnya.

Maka, dengan banyaknya gereja tidak mampu menggelar SIL, kesempatan untuk menjangkau banyak jiwa pastilah terlewatkan.

Menanggapi hal ini, Pdt. Eko Kurniadhi mengatakan, gerejanya tetap dapat melakukan penginjilan meski tanpa melalui SIL. “Kami di Candi kan ada PPA (Pusat Pengembangan Anak). Sejak Mei lalu kami mengkoordinasi mentor PPA untuk merancang (PI) pengabaran Injil kepada anak-anak. Jadi kami menggunakan dua aplikasi yaitu Jesus Film dan GodTools dari Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), yang menjadi panduan mentor PPA ber-PI kepada anak-anak yang belum kenal Tuhan.”

Menurut Pdt. Eko, tanggapan anak-anak membesarkan hati. “Responsnya cukup bagus. Dan kami menerima laporan dari mentor PPA, ketika (mengadakan) Paskah dengan film ‘Jesus’ melalui live streaming , ada yang merespons dengan menerima Tuhan Yesus. Kalau kita tidak mau susah, ya semua berhenti.”

Pandemi ini dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat. Namun begitu, Pdt. Eko mengajak gereja untuk terus berpikir kreatif, inovatif dan produktif meski tidak semaksimal pada saat kondisi normal.

Sementara Gembala Sidang GBI Karnunia Tuhan  Pdt. Krisna Wahyu Surya mengatakan, SIL adalah suatu kegiatan penjangkauan yang efektif di gerejanya. Namun karena pandemi, kegiatan ini dimundurkan sambil melihat situasi membaik.

“Nanti akan tetap ada, rencananya seharian penuh tapi akan diundur ke bulan berikutnya sambil melihat situasinya. Karena kami merasa SIL itu di tempat kami sangat efektif untuk menjangkau jiwa dan memenangkan jiwa. Setiap tahun selalu, baptisan banyak yang berasal dari sana,” ungkapnya.

Agnes mendukung pernyataan gembala sidangnya, “Saya yakin, waktu Tuhan nggak pernah salah. Kalau pun kami harus menunda, pasti Tuhan akan sediakan waktu yang terbaik,” ungkapnya.

Situasi covid-19 membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan bergereja. Namun menurut Agnes, situasi ini membuat hubungan guru-guru sekolah Minggu semakin erat. Selain itu, kreativitas guru pun meningkat supaya pengajaran Sekolah Minggu sehingga tidak membosankan bagi anak-anak.

Tidak ada yang tahu kapan situasi ini akan berakhir. Hidup kembali seperti biasa ataukah dengan menjalani kehidupan dengan adaptasi kebiasan baru. Namun panggilan gereja dalam melakukan amanat agung Tuhan Yesus tetap dapat berjalan.

 

Penulis: Juniati Tasik Lola

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here