Liputan – Gereja Baptis Indonesia Eklesia Jakarta “SERING DISALAHPAHAMI MENGEKSKLUSIFKAN DIRI”

0
227

Berdirinya sebuah gereja baru kadangkala memunculkan berbagai tanggapan, apalagi jika mengangkat suku atau budaya tertentu. Selain tanggapan positif, dapat saja muncul prasangka negatif akibat salah paham yang terjadi. Itulah yang dialami Gereja Baptis Indonesia (GBI) Eklesia Jakarta, yang resmi berdiri pada 25 April 2021 lalu.

“(Kami) Sering disalahpahami, dikira mengeksklusifkan diri,” ungkap Gembala Sidang GBI Eklesia Pdt. Teddy Suwanto ketika diwawancarai Juniati dari Suara Baptis.

GBI Eklesia bermula dari gerakan pelayanan penjangkauan kepada etnis Tionghoa bernama Tionghoa Ministry. Gerakan pelayanan ini dibentuk Departemen Pengabaran Injil (PI) Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) pada tahun 2017 lalu. BPN GGBI juga mengutus Pdt. Teddy menghadiri Konferensi Misi Baptis Tionghoa (Chinese Baptist Mission Conference) di Bangkok, Thailand pada tahun 2017.

“Setelah dari sana, saya punya misi baru yaitu menjangkau etnis Tionghoa di Indonesia. karena itu kami mengadakan PI ke berbagai daerah di Indonesia,” ujar Pdt. Teddy.

Lahan pengabaran Injil etnis Tionghoa di Indonesia demikian luas. Ada sejumlah daerah yang memiliki warga etnis Tionghoa cukup banyak. Salah satunya Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kota ini menjadi tempat pertama pelayanan Tionghoa Ministry. Sejumlah orang dari berbagai gereja Baptis Indonesia di Jakarta, terlibat dalam pelayanan ini, misalnya dari dari GBI Kalvari, GBI Jatinegara, GBI JBC Pulomas, GBI TLCC Cabang Pulomas di Bintaro dan GBI Safari Park Baptist Fellowship (SPBF) di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Bahkan keluarga Tony Sumampau dan Yanni Widyastuti, salah satu pemilik Taman Safari Indonesia dan anggota GBI SPBF mengambil langkah penting. Keluarga ini menjadikan rumah toko (ruko) miliknya di Pangkalpinang sebagai tempat beribadah.

Dari pelayanan tersebut, terbentuklah sebuah jemaat perintisan. Jemaat ini lalu menjadi pos pengabaran Injil (Pos PI) GBI JBC Pulomas Jakarta.

Tionghoa Ministry juga beberapa kali mengadakan pelayanan penjangkauan di Singkawang, Kalimantan Barat.

Di kota ini, orang tua Nining, anggota GBI Jatinegara, menyerahkan rumahnya untuk digunakan sebagai tempat ibadah jemaat perintisan yang berhasil dibentuk. Jemaat ini lalu diadopsi GBI Kalvari Jakarta sebagai Pos PI.

Dengan perkembangan pelayanan tersebut, Tionghoa Ministry merasa perlu mendirikan pusat pelayanan di Jakarta. Maka diputuskanlah mendirikan GBI Eklesia sebagai pusat pelayanan Tionghoa Ministry. Meski namanya mengesankan pelayanan untuk etnis Tionghoa, bukan berarti GBI Eklesia mengeksklusifkan diri. Menurut Pdt. Teddy, penginjilan dan pelayanan kepada suku-suku lain di Indonesia tetap dilakukan Tionghoa Ministry.

Sadar bahwa GBI Eklesia tak dapat langsung menjadi gereja mandiri, jemaat lalu mengajukan permintaan untuk menginduk kepada Gereja Baptis (GB) Pertama Bandung. Pemilihan gereja ini bukan tanpa alasan. Menurut Pdt. Teddy, visi dan misi GB Pertama sejalan dengan visi dan misi GBI Eklesia sehingga dapat berjalan bersama dalam memenuhi Amanat Agung Tuhan Yesus.

Baca juga : Profil Muda, seorang Tour Guide di Bali.

ANAK MUDA TUH BEGINI – Hendra Marsetyoko, Tour Guide di Bali TURIS BULE LEBIH DISIPLIN

Perlu Dukungan BPN GGBI & YBI

Melihat sekilas ke belakang, awal dekade 1950-an pelayanan para utusan Injil Konvensi Baptis Selatan (SBC) dari Amerika Serikat di Cina, dihentikan pemerintah komunis. Para utusan Injil tersebut juga harus meninggalkan Tiongkok.

SBC lalu mempertimbangkan sejumlah negara di Asia Tenggara memulai pelayanan mereka dalam mengabarkan Injil Yesus Kristus. Dari berbagai pertimbangan termasuk banyaknya penduduk yang berasal dari etnis Tiongjoa di Nusantara, SBC akhirnya memilih Indonesia. Pelayanan SBC inilah yang akhirnya berkembang dan melahirkan gereja-gereja Baptis Indonesia.

Namun dalam perkembangannya, jumlah kaum Tionghoa yang dimenangkan dinilai tidak sebanyak yang seharusnya. Juga pendeta Baptis yang datang dari etnis ini pun jumlahnya minoritas. Program-program pelayanan yang dianggap cocok untuk menjembatani pengabaran Injil kepada kaum Tionghoa pun dinilai sangat kurang. Padahal jumlah warga dari etnis ini terus membesar.

Catatan Badan Pusat Statristik berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, warga negara Indonesia berdarah Tionghoa sebesar 2.832.510 orang atau 1,20 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara data dari Perpustakaan Universitas Ohio tahun 2000 menyebutkan, terdapat 7,31 juta warga negara keturunan Tionghoa di Indonesia.

“Karena itu (kami) rindu menyalakan kembali api penginjilan yang dipercayakan orang-orang etnis Tionghoa pada awal-awal, yang sekarang sudah memudar. Sedikit hamba Tuhan etnis Tionghoa, (juga) gereja-gereja berlatar belakang etnis Tionghoa, (sehingga api penginjilan kepada mereka) harus dikobarkan kembali,” ujar Pdt. Teddy yang juga Ketua Tionghoa Ministry.

Pendirian GBI Eklesia sebagai pusat pelayanan Tionghoa Ministry diharapkan dapat menolong pengembangan pelayanan penjangkauan ke daerah-daerah lain. Sejak sebelum pandemi Covid-19 muncul, gereja ini sudah melakukan kebaktian rutin menggunakan Gedung Baptis di Jl. R.P. Soeroso No. 5 Gondangdia, Jakarta Pusat. Pdt. Teddy berharap, pada Musyawarah Besar Gabungan Gereja Baptis Indonesia yang sediannya digelar Agustus 2021 nanti, GBI Eklesia dapat diresmikan sebagai gereja mandiri.

Saat ini, anggota GBI Eklesia mencapai sekitar 40 orang, dan bukan hanya berdarah Tionghoa. Ibadah mingguan yang dilakukan menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan ibadah online melalui YouTube menggunakan bahasa bilingual (Indonesia-Mandarin).

Soal pemilihan nama “Ekelsia”, Pdt. Teddy menjelaskan, “Eklesia kan artinya gereja, tetapi secara bahasa asli, artinya sekumpulan orang yang dipanggil keluar dan mau diutus. Jadi, harapannya, gereja ini bisa sesuai dengan visi-misi (yaitu) menjadi gereja yang visioner, bukan mengutamakan gedung tetapi semua tentang bagaimana menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus.”

Meski sering disalahpahami keberadaannya sebagai mengeksklusifkan diri, Pdt. Teddy mengatakan, buah pelayanan Tionghoa Ministry di berbagai daerah-daerah membuktikan, organisasi ini tidaklah eksklusif. Menurutnya, pengabaran Injil yang dilakukan tidak terbatas pada etnis Tionghoa namun juga suku Jawa dan suku lainnya.

Pdt. Teddy pun berharap mendapatkan dukungan yang lebih besar dari BPN GGBI dan Yayasan Baptis Indonesia sebagai pengelola gedung.

“Kita mau ibadah offline dari awal tahun, tetapi bulan ini (Mei) baru bisa masuk. Jadi, mohon dukungannya. Kadang-kadang kami mengalami kendala. Sudah (itu) kesulitan di masa pandemi, kesulitan kadang disalahpahami, dan kadang-kadang kita kurang dukungan,” ungkapnya.

 Baca Rubrik lainnya :

Gerejaku GBI Sumbertirtayasa, Surakarta – DIBERKATI KETIKA MENGUTAMAKAN TUHAN

 

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here