LIPSUS 3 – Mereka Yang Menang Melawan Covid-19 – MENJADI SAKSI KRISTUS DI RUANG ISOLASI

0
452

Siapa yang percaya diri bakal menang melawan Covid-19 ketika sebelumnya sudah punya penyakit diabetes, darah tinggi, jantung dan paru-paru? Sementara banyak orang yang lebih sehat, akhirnya meninggal susah terpapar Covid-19.

Inilah yang terjadi ketika istri saya, Marliah Heryanto ternyata terkena virus mematikan itu. Ada 17 orang di gereja kami, Gereja Baptis Indonesia (GBI) Taman Wisma Asri Bekasi, Jawa Barat yang terkena Covid-19. Jemaat GBI TWA Bekasi ada sekitar 100, digembalakan Pdt. Agus Prihanto.

Kel pdt agus semua sdh sembuh total

Awal September 2020, seorang ibu harus mengisolasi diri setelah swab test di kantornya. Pada 8 September 2020, seorang bapak, anggota gereja meninggal dunia karena sesak napas. Tiga hari kemudian, istrinya yang di rawat di Rumah Sakit (RS) Anna Medika juga meninggal dunia. Karena keduanya meninggal akibat Covid-19, tim penanggulangan Covid-19 Bekasi melakukan swab test terhadap keluarga tersebut termasuk Pdt. Agus dan beberapa anggota jemaat. Hasilnya, Pdt. Agus, Bu Wulan (istri), anak dan ibu Pdt. Agus serta empat orang lainnya dinyatakan positif.

Senin 7 September 2020, istri saya masuk instalasi gawat darurat (IGD) setelah dua hari sakit pada kepala dan sekujur tubuhnya. Ia dinyatakan kena tifus dan paru-parunya bermasalah. Setelah rapid test negatif, istri saya dirawat inap. Besoknya, ia harus diisolasi karena mengarah ke penyakit covid.

Saya sendiri hilang penciuman. Selang beberapa hari, terjadi lagi beberapa anggota jemaat sakit dan ternyata positif Covid-19 termasuk penulis.

Dari 17 anggota gereja yang sakit, istri saya paling menderita di ruang isolasi karena mempunyai penyakit bawaan diabetes, darah tinggi, jantung dan paru-paru. Setelah diisolasi dua hari, ia tidak berdaya lagi, sulit berkomunikasi dengan saya dan anak-anak. Inilah awal kami berperang melawan Covid-19 di ruang isolasi RS Tiara Bekasi.

Dua hari setelah istri diisolasi, saya berkunjung dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang dipinjamkan Pdt. Agus. Semula para suster dan dokter tidak mengijinkan saya menjenguk istri. Tetapi saya katakan, kami sudah terikat dalam janji pernikahan, akan saling menemani dalam suka-duka sampai maut memisahkan…

Para suster terdiam mendengar keterangan saya. Mereka juga mengetahui beratnya riwayat sakit istri saya.

Saya langsung menerobos koridor yang menuju ruang isloasi dan mendapatkan istri sudah tidak berdaya sama sekali.

Karena kemurahan Tuhan Yesus, saya dapat menemani dia dalam pertarungannya melawan Covid-19. Virus ini membuatnya sakit kepala luar biasa dan nyeri dada sebelah kiri. Apalagi waktu batuk, sungguh penderitaan yang sangat menyesakkan dada. Napasnya tersengal-sengal dan sudah sering berkata, “Saya tidak kuat lagi.“

Lima hari dalam ruang isolasi, dokter paru-paru meminta saya mencari rumah sakit lain yang mempunyai peralatan lebih lengkap. Namun saya tetap ingin istri tetap dirawat di RS Tiara supaya bisa menjaganya. Walau istri harus mati, biarlah ia mati dipangkuan saya.

Setelah berunding, pihak rumah sakit mengizinkan permintaan kami dengan membuat surat pernyataan: tidak menuntut bila terjadi sesuatu yang fatal.

Saya setuju. Dan karena saya akan menjaga istri, saya juga dijadikan pasien dan harus mendaftar. Anak saya mendaftarkan saya menjadi pasien dan ini sangat menguntungkan kami. (Catatan redaksi: Paul Heryanto sudah dipastikan terinfeksi Covid-19 dengan salah satu gejala, hilang penciuman. Namun dengan kondisi badannya yang cukup kuat, sebelumnya, Paul Heryanto hanya perlu isolasi mandiri).

Dalam ruang isolasi itu, Tuhan justru memberi saya kesempatan untuk mendoakan dua orang pasien di kamar sebelah. Mereka tahu, saya orang Kristen yang akan mendoakan mereka dalam nama Isa Almasih.

Pasien pertama bernama Hendro, mahasiswa. Ia cukup bersemangat mendengar bahwa Isa Almasih adalah Jalan Kebenaran dan Hidup.

“Carilah jalan lurus itu,” dorong saya.

Kemudian saya mendoakan dia dalam nama Isa Almasih

Pasien kedua seorang ibu, juga bersedia didoakan walau tadinya ragu-ragu karena saya orang Kristen. Puji Tuhan atas rencana-Nya mengizinkan saya mendampingi istri di ruang isolasi sambil mendoakan dua pasien lain yang beum percaya Tuhan Yesus. Oh ya, tentu saja saya mengunjungi mereka dengan memakai baju APD lengkap.

Sementara anggota GBI TWA lainnya diisolasi di apartemen, saya sibuk merawat istri sambil terus menaikkan lagu pujian yang bisa didengar pasien kamar sebelah. Karena kemurahan Tuhan, kami lalu diberi kamar very important person (VIP) walaupun kami peserta BPJS Kesehatan kelas 3. Tuhan Yesus yang mengatur itu secara luar biasa!

Setelah 10 hari sejak hilangnya indra penciuman, saya kembali bisa merasakan bau masker! Puji Tuhan, teriak saya! ini pertanda virusnya melemah.

Dan setelah dilakukan swab test, hasilnya negatif!

Semangat saya bertambah menyala untuk merawat istri, dibantu konsumsi obat-obatan dari kakak dan keponakan yang mengasihi kami. Segala jenis vitamin, makanan sehat, dan jamu dari adik saya di Pondok Ungu, Bekasi.

Yang lebih dahsyat adalah bantuan doa dari pasukan doa Jabattara Baptist Woman Union (Persekutuan Wanita Baptis BPD GGBI Jabattara) yang dipimpin Ibu Riana Ramayanti. Juga pasukan doa GBI TWA yang dipimpin Ibu Wulan, istri Pdt. Agus. Walaupun masih diisolasi mandiri bersama keluarga di pastori, keluarga gembala sidang sering mendoakan kami supaya dapat memenangkan peperangan melawan virus corona.

Setiap hari kami didoakan Pdt. Edwin Halim, Gembala Sidang GBI JBC Pulomas Jakarta dan Pdt. Agus melalui video call. Puji Tuhan, lambat laun istri saya bertambah sehat karena kemurahan Tuhan Yesus semata. Sebelumnya, istri harus melewati beberapa kali masa kritis, napas terputus-putus dan nyeri dada yang amat dahsyat.

Tak kami lupakan doa dan air mata kakak kami di Maryland, Amerika Serikat yang dinaikkan pada masa kritis, dan Tuhan mendengar semua doa itu.

Setelah 16 hari di ruang isolasi, kami diizinkan pulang. Saya sudah negatif Covid-19 sementara istri masih positif. Namun badannya sudah membaik. Menurut dokter paru-paru, virus sudah lemah. Cukup isolasi mandiri di rumah selama dua minggu.

Puji Tuhan, istri sudah sehat kembali meski masih dalam perawatan paru-paru dan jantung. Juga anggota jemaat yang berstatus OTG (orang tanpa gejala Covid-19) sebagian sudah sembuh. Keluarga Pdt. Agus sudah beraktivitas kembali walau masih dalam masa pemulihan. Beberapa teman OTG yang lain walau masih bersatus positif, tetapi sudah bisa beraktivitas.

Puji Tuhan, nama-Nya dimuliakan.

Kami, jemaat GBI TWA juga mengucapkan banyak terima kasih atas inisiatif ibu-ibu BPD GGBI Jabattara melalui Ibu Lusiana dan Ibu Riana yang memberi bantuan vitamin dan obat untuk 20 OTG di gereja kami.

 

*) Penulis adalah Ketua Panitia Pengabaran Injil GBI TWA Bekasi.

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here