Lembar Kenangan – Ester Ida Wahyuni (11 Agustus 1953 – 6 Desember 2020) MAMI BAGI SEMUA

0
252

Patah hati, itu yang dirasakan Penulis ketika mendapat kabar bahwa Mami, panggilan akrab Penulis kepada Ibu Wardono, istri mantan Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Penumping Surakarta Pdt. Em. Wardono, dipanggil Tuhan pada Minggu 6 Desember 2020 sekitar pukul 17.30. Rasanya tidak percaya dan kehilangan yang amat sangat ketika mendengar kabar tersebut. Rasanya tidak rela untuk kehilangan sosok ibu rohani yang Penulis kenal selama hampir 40 tahun.

Tidak sulit untuk menggambarkan bagaimana sosok Ibu Wardono dikenang, baik oleh keluarga, rekan sepelayanan maupun jemaat yang pernah dilayani. Kesaksian yang ditulis putra keduanya, Pdt. Elisa Wardono, sudah dengan sangat gamblang menjelaskan sosok Mami seperti yang dikenal selama ini.

Ester Ida Wahyuni atau biasa dipanggil Ibu Wardono atau Ibu Wiwik, adalah sosok pribadi yang hangat, sederhana, ramah, namun juga bersih, rapi dan disiplin. Ia menikah dengan Pdt. Wardono pada 20 Mei 1971 dan mendampingi dalam menggembalakan jemaat di GBI Baitlahim, Nganjuk, Jawa Timur tahun 1968-1979. Kemudian pelayanan keluarga hamba Tuhan ini berlanjut di GBI Penumping, Surakarta tahun 1979 sampai Pdt. Wardono pensiun tahun 2007.

Mami tidak pernah mendapatkan pendidikan atau bekal formal bagaimana menjadi istri hamba Tuhan. Namun Mami telah menunjukkan ia layak disebut Ibu Gembala. Nyatanya, hampir semua yang mengenal Ibu Wardono memanggil dengan sebutan “Mami”. Serasa Mami bukan hanya milik keluarga besar Pdt. Wardono tetapi juga dimiliki setiap orang yang mengenal almarhumah.

Tentu saja, itu semua berkat kasih karunia Tuhan Yesus yang dilimpahkan dalam hidup Mami. Maka, Mami pun tumbuh menjadi pribadi yang mengayomi semua orang. Ia juga menjadi teman sharing yang menyenangkan dengan tawanya yang lepas dan renyah.

Ibu Iswari, istri Gembala Sidang GBI Getsemani Kediri Pdt. Timotius Kabul, mengenang Mami sebagai sosok yang hangat dan menyenangkan. Ia mengaku, Mami memperlakukan dirinya seperti kepada anak sendiri. Mami juga selalu menyambut tiap orang dengan sukacita bahkan ketika Mami sedang lelah atau sakit. Satu nasihat Mami yang selalu diingat Bu Iswari, melayani itu harus sabar.

Salah satu anggota jemaat GBI Penumping, Ibu Aning Dananjoyo yang memiliki hubungan dekat dengan Ibu Wardono menyampaikan, Mami selayaknya ibu bagi semua yang mengenalnya. Mami selalu membuka pintu bagi semua yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan, bahkan tanpa pernah berhitung untung dan rugi.

Mami menyediakan diri untuk menjadi teman, sahabat bagi semua orang. Ada banyak ruang di hati Mami untuk setiap orang, siapa pun mereka. Entah berapa banyak pribadi yang ada di ruang-ruang hati Mami, sebanyak itulah jumlah ruang di hatinya. Ada ruang untuk Papi, ruang untuk anak-anaknya, ruang untuk menantunya, ruang untuk cucunya, ruang untuk siapa saja.

Jika melihat lilin yang meleleh perlahan-lahan namun tetap memancarkan sinarnya, seperti itulah Mami. Mami berusaha mengabdikan diri yang terbaik bagi Yesus Tuhannya, bagi keluarganya dan bagi semua orang. Mami telah menghadirkan kisah kasih Yesus kepada setiap orang, agar terang Kristus menerangi setiap orang. Dengan begitu ia berharap, kisah kasih Yesus bisa terus bercerita dan terang sinar-Nya bercahaya kepada semakin banyak orang.

Sekarang, Mami telah menikmati kebahagiaan yang kekal selamanya di Kerajaan Surga. Terima kasih Mami, untuk semua yang telah Mami perjuangkan dan korbankan, karena Mami bukan sekadar seorang ibu gembala. Mami adalah teladan bagaimana menjadi seorang istri pendeta, ibu rumah tangga, juga ibu rohani bagi jemaatnya.

 

 

ESTER IDA WAHYUNI

Lahir                       : 11 Agustus 1953

Menikah                  : 20 Mei 1971

Pelayanan               :

GBI Baitlahim, Nganjuk (1968-1979)

GBI Penumping, Surakarta (1979-2007)

 

Anak, Menantu, Cucu         :

  1. Daniel + Sari Agustina – Helena Onezia Lewi
  2. Elisa + Yulia Emiliana – Samuel Ardhy Elim, Nathan Hardi Elim
  3. Devina + Rudy Mulyono – Jesaya Revel Mulyono, Nathania Raissa Mulyono
  4. Yeremia

 

 

Penulis: Sandra Maharani

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here