Klinik Keluarga : SUAMI MERASA TIDAK BERGUNA KARENA STROKE

0
410

Ibu Ika yang terhormat,
Saya Ibu T tinggal di JT, berumur 55 tahun, seorang pegawai negeri sipil (PNS). Suami saya sudah pensiun dan sekarang tidak bekerja karena baru sembuh dari sakit. Kami sudah menikah selama 26 tahun, tidak dikaruniai anak. Dulu ada keponakan yang sudah kami anggap sebagai anak sendiri tinggal bersama kami semenjak kecil. Sekarang ia sudah tamat kuliah, bekerja dan kembali tinggal bersama orang tuanya di kota kelahirannya. Jadi, di rumah hanya tinggal bertiga: saya, suami dan seorang pembantu laki-laki. Yang punya masalah sebenarnya suami saya.

Oktober tahun lalu suami terkena stroke. Ada pendarahan di otak sebanyak 15 cc. Dokter memutuskan tidak melakukan operasi, hanya memberi obat.

Setelah dirawat di rumah sakit hampir dua minggu, puji Tuhan, suami dinyatakan sembuh  dari pendarahan otaknya, lalu dilakukan perawatan lanjutan di rumah. Sekarang secara  fisik dinyatakan 90 persen sembuh. Suami bisa berjalan sendiri pelan-pelan dengan  menyeret kaki kanan, dan menggunakan tongkat satu tangan.

Kami sangat bersyukur atas kesembuhan ini. Luar biasa pertolongan Tuhan. Jika  dibandingkan dengan penderita stroke lainnya, pengalaman suami saya ini termasuk sebuah keajaiban. Mukjizat Tuhan benar-benar nyata.

Namun semenjak awal bulan ini ada gejala yang aneh pada suami saya. Karena sudah selesai masa Bekerja Dari Rumah (Work From Home/WFH), saya mulai masuk kantor lagi tiap hari. Suami menjadi sangat sensitif, sering menangis dan bicara sendiri. Ia senang sekali mengucapkan kalimat ”lebih baik aku mati saja,” dan “aku ini celaka, manusia tak berguna.”

Kalau diajak ngobrol mulai tidak mau menanggapi, tidak mau minta tolong untuk mengurus dirinya. Misalnya tengah malam dia haus dan air minum yang saya sediakan sudah habis, tiba-tiba ia bangun keluar kamar ambil air minum sendiri, tidak mau membangunkan dan menyuruh saya. Karena kesulitan naik ke tempat tidur sendiri, ia hanya duduk sampai pagi. Waktu bangun, baru saya tahu kalau ia tidak tidur lagi sehabis ambil minum.

Besar keinginan saya untuk pensiun dini supaya fokus merawatnya, tetapi suami melarang. Alasannya sayang, tinggal sebentar lagi saya memasuki usia pensiun.

Sebelum stroke, ia punya kegiatan rutin dengan mantan sejawatnya, bersepeda bersama di daerah pegunungan bebas dari polusi dan kebisingan. Tentu saja kegiatan ini tidak bisa  diikuti. Dan juga temantemannya ini sudah tidak melakukan kegiatan tersebut mengingat masa pandemi Covid-19.

Yang menjengkelkan, tiap kali saya pamit berangkat bekerja, ia menangis seperti anak kecil. Ia mesti dibujuk, dijanjikan saya pulang tepat waktu, tidak ada rapat atau kegiatan lain di luar kantor.

Pernah sekali waktu saya pulang telat, karena ada acara mendadak di luar jadwal, yang membuat saya pulang larut. Yang terjadi kemudian adalah ia tidak mau makan, tidak mau minum dan mandi, hanya duduk diam. Sampai saya harus cuti di hari berikutnya untuk mengurus dan merawat dia sepanjang hari.

Kami sengaja memakai jasa pembantu laki-laki agar bisa merawat suami saya secara pribadi. Namun tampaknya maksud tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Saya sangat takut suami menjadi depresi dan keadaan fisiknya menjadi parah. Pernah  kami datang ke seorang psikiater untuk masalah depresi ini, kemudian diberi obat  antidepresan. Tetapi suami tidak menjadi berkurang gejala sakitnya, justru makin  bertambah. Ia juga menjadi selalu curiga dan gelisah. Maka kami putuskan menghentikan minum obat.

Mohon nasihatnya Bu Ika, apa yang harus saya lakukan?

Jawaban

Ibu T yang dikasihi Tuhan, terima kasih untuk kesabaran Ibu merawat suami dengan luar biasa. Hal ini tidak mudah tentunya. Kalau menurut cerita Ibu, saya boleh menyimpulkan bahwa suami Ibu belum pada taraf yang mengkhawatirkan, masih dalam batas kewajaran. Ia berada dalam situasi konflik antara ingin segera sembuh dan mandiri, dibuktikan dengan
keinginan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Sementara di satu sisi ia memiliki rasa takut yang besar kalau ditinggal sendirian dalam waktu yang lama, ada kemungkinan mengalami sesuatu yang buruk, jatuh misalnya. Ia takut, kondisinya kembali sakit dan dirawat lagi.

Seperti kita ketahui, kalau terjadi stroke lanjutan, kemungkinannya untuk sembuh kecil sekali. Makanya ia menjadi sangat sedih kalau Ibu tinggalkan sendirian di rumah. Atau ketika Ibu terlambat pulang, ia menjadi marah karena kecewa.

Mengapa saya berkesimpulan demikian? Karena ia masih bisa membuat pertimbangan logis ketika melarang Ibu berhenti bekerja dan memutuskan berhenti mengonsumsi obat yang diberikan dokter.

Kalau dia tampak bicara sendiri, ada kemungkinan ia sedang bergumul dengan pikirannya sendiri dan menimbang untuk mencari solusi atas sesuatu yang dirisaukannya. Sayangnya Ibu tidak menjelaskan, kapan ia didapati berbicara sendiri, ketika bersama Ibu ataukah berdasarkan laporan pembantu?

Ia menunggu Ibu pulang untuk mengurus keperluannya. Bisa jadi, ia belum menaruh rasa percaya penuh kepada pembantu yang baru dikenalnya. Masih ada rasa sungkan atau malu kalau harus dimandikan orang lain, ini salah satu contohnya.

Besar keinginannya untuk sembuh karena suami Ibu adalah orang yang suka mempunyai aktivitas di luar rumah bersama teman-teman mantan sejawatnya, menikmati udara segar, melepaskan diri dari rutinitas yang membosankan. Kondisi cepat pulihnya dari serangan stroke yang lalu juga karena ada semangat yang besar dari dalam dirinya.

Rasa cemas dan takut yang tidak segera teratasi memang bisa mengarah kepada kondisi depresi dan masalah kejiwaan lainnya. Namun perlu saya sampaikan, kondisi saat ini masih dalam batas kewajaran, yaitu beliau takut menjadi lebih parah sakit strokenya dan kehilangan kesenangan-kesenangan yang pernah dinikmati tatkala sehat. Karena itu, yang bisa diupayakan kali ini adalah mengembalikan suasana kegembiraan yang pernah dialaminya ketika sehat.

Memang agak sulit untuk mengundang banyak orang ke rumah di masa pandemi ini. Namun ada baiknya diupayakan seorang atau dua orang diajak bergiliran datang seminggu sekali, sekadar untuk ngobrol sambil minum teh barang satu jam lamanya. Kalau  dijadwalkan dan dia diberi kepercayaan oleh Ibu untuk menghubungi, mengundang teman tersebut untuk datang, sepertinya hal ini menjadi suatu kegembiraan tersendiri. Namun harus dipastikan semua dalam kondisi kesehatan yang prima, protokol kesehatan Covid-19 tetap diprioritaskan.

Bangunlah suasana suka cita di rumah yang dinikmati secara bersama. Misalnya, Ibu memberi kesempatan ia membantu melakukan pekerjaan rumah yang ringan, seperti membantu memotong sayuran yang hendak dimasak sambil ngobrol nostalgia. Pembicaraan diupayakan tidak melulu tentang penyakit atau kemuraman yang sedang dialami. Bukalah aplikasi karaoke secara online. Mungkin Bapak bisa ikut mendendangkan lagu-lagu kegemarannya.

Komunikasi suami-istri yang terbuka juga perlu diupayakan. Mungkin ini belum biasa dilakukan. Misalnya, Ibu jadwalkan menelepon ke rumah lebih sering manakala Ibu sedang bekerja di kantor. Dengan begitu, ia bisa membayangkan kesibukan yang sedang terjadi dan lebih siap menghadapi perubahan jadwal Ibu yang mendadak.

Meskipun mungkin tetap kecewa karena Ibu pulang terlambat, ia dapat mengetahuinya dari awal sehingga tidak menjadi marah. Rasa sedihnya ketika ditinggal bekerja pun  semoga menjadi berkurang karena ia sudah paham apa saja yang akan Ibu kerjakan. Ini karena sudah disampaikan secara terbuka dan tahu pasti, Ibu akan menghubungi beliau.

Ia tidak mau menelepon Ibu karena dianggapnya mengganggu atau merepotkan. Inisiatif sebaiknya datang dari Ibu.

Ibadah online pun tidak mau dilakukan sendirian. Ia perlu ada orang yang menemani menikmati ibadah tersebut, dan ini tidak dapat digantikan oleh pembantu. Ia memerlukan orang-orang dekatnya. Ada interaksi antara dirinya dengan orang lain ketika menikmati suatu aktivitas.

Ibu jelaskan bahwa ia bisa berjalan dengan satu tongkat. Bila ia berinisiatif mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan, misalnya menyapu atau mencuci piring, sebatas pekerjaan yang ringan, sebisanya jangan dilarang, supaya ia merasa bahwa kita sudah menganggap ia sehat, ia oke dan normal. Tentu saja tetap dalam pengawasan.

Dalam hal ini Ibu memerlukan upaya lebih, mengubah persepsi bahwa Ibu sudah mengatur kebutuhan Bapak sebaik mungkin, menjaga dan melindunginya. Padahal beliau memerlukan hal lain, yaitu mengembalikan suasana rumah sama seperti ketika ia belum sakit. Rumah berantakan sedikit tak apalah, yang penting Ibu dan Bapak rileks dan happy. Demikian Ibu T, semoga berkenan.

Tuhan Yesus memberkati.

Dra. Ika S. Sembiring, Psi.
Psikolog.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here