Kehadiran Kebaktian Online, Anjlok KEROHANIAN JEMAAT IKUT MEROSOT?

0
415

Enam bulan sudah, gereja-gereja di Indonesia umumnya tak lagi dapat menggelar kebaktian langsung gara-gara pandemi Covid-19. Dengan mengadakan kebaktian yang direkam lebih dulu dan maupun langsung disiarkan dalam media sosial, bukanlah perkara sederhana. Selain perlu upaya keras untuk kebaktian online cukup berkualitas, kebaktian Minggu yang disiarkan melalui internet tidak dapat diikuti seluruh anggota jemaat.

Bukan cuma masalah kuota internet yang dibutuhkan, namun juga tidak semua kelompok usia dapat menggunakan telepon genggam (HP) untuk mengikuti kebaktian online. Selain itu tak dapat dijamin, kebaktian dalam jaringan (daring) seperti itu akan diikuti dengan seksama. Anggota jemaat bisa saja sekadar menonton kebaktian sembari mengerjakan kegiatan lain ketika kebaktian online berlangsung.

Meski demikian, Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kebayoran Jakarta, Pdt. Radik Irianto tetap memilih menaati seruan pemerintah untuk menggelar ibadah online. “Masa-masa covid-19 ini GBI Kebayoran sejak Maret Minggu kedua atau ketiga dan sampai sekarang, masih menjalani seluruh kegiatan secara online atau daring. Kita tidak sekadar taat (kepada pemerintah), tetapi kami mau waspada supaya di antara kami tidak ada yang terdampak Covid-19,” ujar Pdt. Radik kepada Kiki dari Suara Baptis, Kamis 18 Juni 2020.

Gembala Sidang GBI Palembang, Sumatra Selatan Pdt. Immanuel Radjiono mengatakan hal serupa. Gereja ini mengganti ibadah langsung dengan ibadah online sejak 29 Maret 2020 lalu. Pdt. Immanuel mensyukuri, kebaktian tersebut justru telah menjangkau lebih banyak orang, termasuk yang belum mengenal Tuhan Yesus.

Begitu pun GBI Demak Ijo Yogyakarta yang digembalakan Pdt. Teguh Santoso. Gereja ini menggelar kebaktian online dengan mengatur teknis mengikutinya dalam kelompok-kelompok pembinaan warga (KPW).

“Tiap KPW, kalau anggotanya banyak, ibadahnya dibagi dua kelompok, (dengan peserta) tidak lebih dari 10 orang. Namun diberikan kebebasan juga, misalnya, karena di sini (GBI Demak Ijo, red.) kan kebanyakan gereja keluarga dan tinggal berdekatan. Maka, bisa saja antar kerabat itu jadi satu (untuk mengikuti kebaktian online bersama). Pilihan ketiga, bisa saja (mengikuti kebaktian online) dari rumah sendiri. Pilihan keempat, yang benar-benar sehat bisa saja (ikut kebaktian langsung) di gereja, namun kami batasi dulu.”

Hampir semua gereja yang ditelusuri Suara Baptis (SB) di berbagai daerah, melakukan ibadah online demi menghindari penyebaran virus Covid-19. Namun meski pemerintah, pihak swasta dan banyak kalangan berusaha melawan virus ganas ini, penambahan jumlah orang yang positif mengidap Covid-19 terus bertambah.

Karena itu, awal Mei 2020 pemerintah menyiapkan pemberlakuan status new normal, yakni perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal dengan penerapan protokol kesehatan. Jawa Barat adalah provinsi pertama yang memberlakukan status new normal tersebut pada 1 Juni 2020, lalu diikuti oleh provinsi-provinsi lainnya.

Meski demikian, gereja-gereja Baptis tak serta-merta menggelar kebaktian langsung. Mereka menunggu beberapa Minggu bahkan hingga tiga bulan, seperti yang dilakukan GBI Baitlahim Bandung. Jumlah anggota jemaat yang boleh ikut kebaktian langsung pun dibatasi supaya tetap berjauhan.

“Gereja kami sudah membentuk panitia persiapan kebaktian. Panitia inilah yang mempersiapkan segala kebutuhan protokol kesehatan sebelum kebaktian diadakan,” ujar Gembala Sidang GBI Baitlahim Pdt. Tonny Senduk.

Kebaktian Minggu secara langsung di GBI Candi, Semarang pun ditetapkan dengan membatasi jumlah kehadiran anggota gereja. “Kami melakukan ibadah (langsung) serta mengikuti anjuran protokol-protokol kesehatan dengan pembatasan kehadiran. Kami sudah mengatur per KPW,” kata Gembala Sidanng GBI Candi Pdt. Eko Kurniadhi.

Membatasi jumlah kehadiran hanya setengah dari daya tampung gedung dan mematuhi protokol kesehatan juga dilakukan dalam kebaktian langsung di GBI Kebayoran. “Kami juga siapkan hand sanitizer, tempat cuci tangan dengan air mengalir di depan dan belakang gereja. Lalu kami wajibkan menggunakan masker ke mana-mana. Tetapi kalau ada yang ketinggalan (masker) atau apa, nanti gereja siapkan itu,” kata Pdt. Radik.

Pdt. Royo Haryono

Demikian juga yang dilakukan di GBI Peniel Surabaya yang dilayani Pdt. Daniel Royo Haryono. “Kehadiran ibadah di dalam gereja hanya dihadiri jemaat secara terbatas, hanya 40 orang setiap minggunya. Sedangkan yang lain beribadah dengan memanfaatkan siaran langsung,” tutur Pdt. Royo.

Keuangan Gereja Merosot

Berbagai hambatan yang muncul menyebabkan kehadiran anggota jemaat dalam kebaktian online GBI Kebayoran, menurun.

“Sejak awal kebaktian secara online sampai  sekarang (18 Juni 2020, red.), memang  terjadi  penurunan, diukur dari jumlah yang menonton atau yang mengikuti saat kebaktian sedang berlangsung,” ungkap Pdt. Radik.

Untuk mengetahui jumlah kehadiran dalam kebaktian online, Gembala Sidang GBI Jatinegara Jakarta Pdm. Sophian Hutagalung mendapatkan data dari ketua-ketua KPW. “Kalau mengukur kehadiran anggota jemaat, puji Tuhan, jemaat (GBI Jatinegara) setia hadir. Mengukurnya dari mana? (Dari) KPW. Jadi, ketua-ketua KPW ibaratnya ketua RT (rukun tetangga) di klaster masing-masing.”

Setiap Minggu setelah kebaktian, sekretaris gereja mengumpulkan data dari para ketua KPW. Sebagian anggota jemaat juga mengisi langsung data kehadiran tersebut.

Namun kehadiran dalam kebaktian online tidak dapat diukur secara pasti, kata Gembala Sidang GBI Karunia Tuhan, Bandar Lampung Pdt. Krisna Wahyu Surya. “Berkaitan dengan kehadiran, kita tidak bisa melihat secara rinci seperti waktu ibadah langsung. Ketika mereka mengikuti ibadah streaming di YouTube, kita melihat viewers-nya berapa. Kemudian juga dari konfirmasi mereka, misalnya mereka merespons (kebaktian online tersebut). Hitungan kita, satu viewer (adalah) satu keluarga.”

Beberapa narasumber mengungkapkan, persembahan dan persepuluhan gereja pun menurun. Bahkan ada gereja yang keuangannya anjlok hingga 50 persen.

“Rata-rata pemasukan gereja selama tiga bulan itu, dirata-rata ada penurunan sekitar 26 persen. Jadi, memang berbeda (dengan masa-masa normal),” ungkap Pdt. Krisna.

Ia sudah menduga, hal ini akan terjadi sejak memulai kebaktian online. “Pasti persembahan dan perpuluhan akan terganggu karena cara pemberiannya sangat berbeda.”

Gembala Sidang GBI Grogol Jakarta Pdt. Maurits Takaendengan mengatakan, pada awal bulan pertama, penurunan keuangan gereja cukup besar, berkisar 40-50 persen. “Ini terjadi karena ada masalah mekanisme orang memberi persembahan. Setelah dibenahi mekanismenya, penerimaan persembahan dan perpuluhan jemaat itu meningkat.”

Namun diakuinya, keuangan gereja tetap berkurang 20-30 persen dibandingkan masa sebelum pandemi.

Sementara Rina Endah Kristini, istri Gembala Sidang GBI Setia Bakti Kediri, Jawa Timur Pdt. Yosia Wartono menukas, keuangan gerejanya stabil. “Puji Tuhan, luar biasa, (keuangan gereja kami) stabil, tidak menurun. Semua rata-rata memberikan persembahan. Jadi, persembahan kami itu kan dibuat hari Minggu, dibuka dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Jadi, orang itu datang (di gereja) memberi (persembahan dan persepuluhan).”

Sedangkan GBI Palembang justru mengalami kejadian mengejutkan. Menurut Pdt. Immanuel Radjiono, pada masa normal, kehadiran anggota gereja dalam kebaktian Minggu mencapai 200-an orang. Namun dengan kebaktian yang langsung disiarkan melalui internet, kehadiran justru melesat hingga 300-an orang.

“Dan yang membanggakan saya sebagai gembala adalah justru melalui ibadah live streaming ini, banyak orang non-Kristen mengikuti ibadah kami,” ujar Pdt. Immanuel.

Pria energik ini melanjutkan, “Misalnya, (petugas) satpam-satpam ini kan 75 persen non-Kristen. Terus, mereka laporan, ‘Saya hadir, Pak Pendeta, saya ikut Pak Pendeta, saya menyimak dan juga ada rekan-rekan saya.’ Rekan-rekan jemaat yang (tinggal) di luar kota, yang non-Kristen itu juga menyaksikan, mereka memberikan komentar di situ. Jadi justru di situlah kami menindaklanjuti. Sekarang ini kami sedang menindaklanjuti orang-orang ini.”

Lantas, apakah kebaktian online yang dapat diikuti dengan cara apa pun, bakal menurunkan mutu kerohanian jemaat?

“Secara parameter, tidak ada yang dapat mengukur dengan pasti, (kebaktian online) meningkatkan atau menurunkan kerohanian jemaat. Jika diukur dengan melihat hubungan pribadi dengan Tuhan secara langsung melalui doa, ya barangkali mereka semakin kuat berdoa. Jika diukur melalui berbagi kasih kepada yang lain, ternyata semakin rela berbagi. Jika diukur melalui persembahannya secara global, memang yang diterima gereja mengalami kemerosotan. Tetapi mereka masih menyerahkan persepuluhannya, kan? Mungkin saja kemerosotan (tersebut terjadi) sebab usahanya sepi, pekerjaan di sektor nonformal diliburkan,” kata Pdt. Royo menutup percakapan.

 

Penulis: Yohanes Aris Santoso

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here