Jendela – HARI GINI MASIH BACA SUARA BAPTIS?

0
276

“Hari gini masih membeli Suara Baptis? Di internet banyak berita tuh, tinggal comot. Gratis pula.”

Mungkin begitu yang terpikir jika gereja ditawari berlangganan majalah ini.

Atau, mungkin juga terpikir jawaban yang lain, “Buat apa keluar biaya lagi? Sekarang lagi pandemi, banyak kebutuhan lain yang lebih perlu. Toh, nggak baca Suara Baptis, gereja nggak lantas mati?”

Lantas, masih perlukah kita punya media massa bernama Suara Baptis ini di tengah banjir informasi dari internet?

Perlu. Bahkan semakin diperlukan!

Era digital menyediakan informasi melimpah dan sangat cepat. Bahkan setiap orang bisa saja menjadi produsen informasi melalui media-media sosial populer. Maka, kita bisa memilih, mana jenis informasi yang menyenangkan.

Masalahnya, dalam gelontoran informasi di era digital ini, seringkali sukar dibedakan, mana berita bohong dan mana yang beneran. Dan ironisnya, dalam limpahan informasi tersebut, justru sulit mendapatkan kabar-kabar yang mendalam dan diperlukan bagi sebuah komunitas yang ingin bertumbuh.

Itu sebabnya, Suara Baptis mengabdikan diri untuk memenuhi kebutuhan komunitas Baptis. Dalam edisi pertama tahun ini, berbagai pendapat yang terpampang pada rubrik “Suara Pembaca” menunjukkan, betapa hausnya kita untuk mengetahui “nasib” gereja-gereja Baptis lain ketika harus mengadakan kebaktian online.  Atau bagaimana kita ternyata dengan hangat menanggapi liputan ironi pertumbuhan gereja di Magelang, Jawa Tengah. Di sana, setiap kali muncul gereja baru, ternyata diikuti merosotnya jumlah anggota jemaat di gereja yang lain.

Kita juga ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi ketika Covid-19 menyeret orang-orang yang kita kenal, masuk dalam ruang-ruang isolasi rumah sakit. Kita ingin tahu, mengapa yang sudah berumur hampir 80 tahun dengan kelainan jantung dan ginjal bisa sembuh, tetapi yang berumur  50-an tanpa penyakit penyerta, justru meninggal akibat virus ganas ini?

Namun lebih dari misteri kehidupan dan kematian itu, seharusnya kita merenungkan bagaimana seorang suami, gigih berjuang supaya diizinkan merawat istrinya yang sedang diisolasi di rumah sakit dalam kesakitan dan kesepian yang menyengat. Ini bukan hanya tentang nilai-nilai kesetiaan dalam pernikahan, ini juga tentang panggilan yang jauh lebih besar dan bernilai kekekalan. Paul Heryanto, sang suami  itu, bukan hanya berhasil membesarkan hati istrinya di tengah penderitaan. Ia bahkan mendokan seorang ibu dan seorang mahasiswa yang turut dirawat dalam ruang isolasi tersebut, tanpa boleh didampingi orang-orang terkasihnya.

Bukankah seharusnya kita belajar, bagaimana membuat program-program pelayanan yang benar-benar menyentuh kebutuhan paling dasar di masa ketakutan, keputusasaan, juga kepahitan menjadi semakin pekat sekarang ini?

Tentu kita tidak bisa meniru Paul Heryanto yang berhasil melakukan pelayanan dramatis dan penuh risiko tersebut. Tetapi pelayanan heroiknya seharusnya mampu menggugah kesadaran kita, bagaimana mengembangkan pelayanan yang sungguh-sungguh cocok dengan panggilan Kristus kepada gereja-Nya. Panggilan untuk memberikan harapan kepada yang menderita. Panggilan bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk memberi dampak yang mengubah kehidupan, dari tidak mengenal Kristus, menjadi mengenal dan mengalami belas kasihan-Nya.

Suara Baptis kali ini juga menulis Maydeline, remaja yang jatuh-bangun karena rumah tangga orang tuanya kacau-balau. Namun Tuhan melindunginya dari kerusakan. Dengan banyak luka yang diterimanya, Maydeline terus berjalan. Komunitas gereja dan pelayanan yang dilakukannya, ternyata telah dengan ampuh memperkuat gadis tangguh itu.

Masih banyak informasi penting dan inspiratif pada penerbitan kali ini.

Jadi, yakin, tidak merasa rugi menolak baca Suara Baptis?

Salam.

Redaksi

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here