Ironi Pertumbuhan Gereja di Magelang – GEREJA BERTAMBAH, JEMAAT BERKURANG

0
545

Berdirinya sebuah gereja baru di suatu daerah tidaklah selalu menjadi pertanda, ada jiwa-jiwa baru yang dimenangkan bagi Kristus. Hal ini diungkapkan Ketua Badan Musyawarah antar-Gereja (BAMAG) Magelang, Jawa Tengah Pdt. Trio Santosa kepada Prisetyadi Teguh Wibowo dari Suara Baptis, November 2020 lalu.

Pdt. Trio yang juga Ketua Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) Kedu sudah bertahun-tahun mengamati pertumbuhan gereja-gereja di wilayahnya, baik gereja Baptis maupun non-Baptis. BPD GGBI Kedu meliputi daerah Magelang, Temanggung, Purworejo, dan Wonosobo.

Dalam setiap perintisan gereja baru di Magelang dan sekitarnya, jumlah anggota jemaat lain akan berkurang. Ini karena anggota gereja perintisan adalah pindahan dari gereja lain, bukan orang-orang yang baru percaya.

Pdt. Trio Santoso

Pdt. Trio menjadi Ketua BAMAG Magelang tahun 2019. Sebelumnya, pria kalem ini bertahun-tahun menjadi sekretaris di organisasi lintasdenominasi tersebut. Tak heran, Pdt. Trio mengetahui benar pergumulan gereja-gereja di wilayahnya.

“Kalau melihat statistik, (dari) teman-teman yang menghitung dan melalui rapat dewan, (sebenarnya) orang Kristen di Magelang ini nggak bertambah, cuma gerejanya yang bertambah. Karena ketika ada gereja baru, perintisan baru, jemaatnya dari sana (gereja sebelumnya), pindah (ke gereja yang baru berdiri),” ujar Pdt. Trio.

Gencarnya persaingan antargereja menyebabkan mereka berlomba memunculkan daya pikat masing-masing. Salah satunya dengan membuat kebaktian-kebaktian yang menarik kaum muda. Akibatnya, sejumlah gereja kesulitan menjangkau kaum muda, termasuk Gereja Baptis Indonesia (GBI) Cemara Tujuh yanng digembalakan Pdt. Trio.

“Kalau bahasa saya, gereja kita yang laku ‘dijual’ itu apanya? Kalau melihat gereja-gereja baru, orang-orang mengatakan, ‘Gerejanya bagus, musiknya bagus, sound-nya bagus’, bahkan beberapa gereja mampu memberikan subsidi kepada jemaatnya,” ungkap lulusan Sekolah Tinggi Teologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang tahun 2002 tersebut.

Magelang adalah kota kecil seluas 18,12 kilometer persegi dengan 122.375 penduduk. Pada semester pertama 2020, diketahui jumlah warga Kristen 11.833 (pria 5.645, wanita 6.187) dan Katolik 6.648 (pria 3.155, wanita 3.493, www.magelangkota.go.id).

Namun Magelang sangatlah populer. Kota ini memiliki banyak sekolah terkenal, mulai dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Popularitas Magelang sampai ke tingkat nasional karena ia memiliki Akademi Militer yang menghasilkan perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Magelang berada di tengah jalur utama Semarang (di sebelah utara) dengan Yogyakarta (di sebelah selatan). Berudara nyaman, kota ini memiliki hutan kota yang sejak Januari 2020 lalu statusnya menjadi Kebun Raya Gunung Tidar seluas 70 hektare. Kebun raya ini berfungsi sebagai area penghijauan dan wisata budaya.

Kota ini memiliki sejumlah makanan khas. Misalnya, sup senerek (sup dengan irisan wortel, daging ayam atau sapi, ditambah bayam dan kacang merah), nasi goreng magelangan (nasi goreng campur mie basah), opor enthog (entok, itik manila), mangut ikan beong (sejenis lele), sego megono (nasi dengan berbagai sayuran kukus, ikan teri bakar dan bumbu cabe, kencur serta jeruk purut), soto kluwih, hingga sego godhog (nasi rebus dengan tambahan tomat, kubis, telur, daging ayam dan mie).

Sejumlah tempat wisata juga ada di sini, seperti Taman Kyai Langgeng yang memiliki ratusan koleksi tanaman langka, fasilitas permainan dan prototipe pesawat terbang, fasilitas Arung Jeram Progo Asri, pecinan yang merupakan pusat belanja, Taman Badak’an untuk rekreasi anak-anak, alun-alun yang menjadi tempat bersantai warga, dan sejumlah museum.

Di Kota Magelang, terdapat dua buah gereja Baptis, yakni GBI Cemara Tujuh dan GBI Kebonpolo yang berdiri tahun 1964. Di tahun-tahun awal pendiriannya, anggota GBI Kebonpolo mencapai ratusan orang.

“Kalau melihat sejarahnya, di tahun 1960-an, (GBI) Kebonpolo itu luar biasa, jemaatnya ratusan. Waktu itu gereja-gereja Karismatik belum bertumbuh di sini. Hingga tahun 1995-an, mulai ada gereja baru yang kultur ibadahnya lebih menarik,” ungkap Pdt. Trio.

Karena persoalan internal, pada tahun 2012 banyak anggota GBI Kebonpolo lantas pindah dan bergabung ke GBI Cemara Tujuh. Kini, GBI Kebonpolo yang terletak di tepi Jl. Ahmad Yani, sudah mati. Gedung gerejanya kosong, tak lagi digunakan untuk beribadah. Kegiatan yang dilakukan di sana hanyalah Jam Doa Rabu sore. Sekadar supaya gedung tidak kosong melompong. Itu juga dilakukan sampai sebelum mengganasnya pandemi Covid-19.

Beberapa pendeta menyarankan supaya Pdt. Trio mendirikan sekolah dengan memanfaatkan gedung GBI Kebonpolo. Namun mendirikan lembaga pendidikan formal bukanlah perkara mudah. Menurut Pdt. Trio, jumlah sekolah di Magelang sudah melebihi kebutuhan. Maklum, Magelang bukanlah kota besar dengan penduduk yang padat.

Nunuk Endang Purwani, istri Pdt. Trio membenarkan keterangan tersebut. Diceritakannya, persaingan sekolah-sekolah di kota ini begitu sengit. Karena itu, berbagai sekolah yang memiliki cukup dana, berusaha melakukan program-program berbiaya mahal demi menarik minat calon siswa dan orang tuanya.

Meski demikian, ujar Pdt. Trio, persaingan akan selalu menghasilkan pihak pemenang dan pecundang. Persaingan ini sudah dimulai dari tingkat terbawah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

“Sudah banyak, bahkan beberapa sekolah yang dulu terbilang besar, perlahan-lahan tutup karena kekurangan murid. Dulu ada beberapa sekolah Kristen dan Katolik yang gedungnya bagus, fasilitasnya bagus, akhirnya tutup juga karena tidak ada murid. Kalau kita hanya punya gedung, ya tidak ada nilai jualnya,” kata Pdt. Trio.

Meski demikian, GBI Cemara Tujuh sebenarnya ingin dapat merenovasi gedung dan pastori GBI Kebonpolo menjadi balai mahasiswa dan kos-kosan. Namun untuk mewujudkan keinginan ini tetap tidaklah mudah. Selain perlu modal yang cukup besar, harus ada sumber daya manusia yang terampil untuk mengelolanya. Dan repotnya, kedua masalah pokok ini menjadi kelemahan umum gereja-gereja Baptis.

Pergumulan keanggotaan jemaat juga dialami gereja-gereja non-Baptis di Magelang. Jika banyak gereja di kota besar kesulitan memiliki gedung untuk beribadah, berbeda dengan yang terjadi di Magelang. Menurut Pdt. Trio, sejumlah gereja memiliki gedung namun kehilangan jemaat hingga akhirnya ditutup.

Salah satu tantangan yang dialami GBI Cemara Tujuh adalah kehilangan anggota jemaat usia produktif. Magelang yang terkenal dengan bisnis kuliner, nyatanya tak mampu menarik minat orang-orang usia produktif untuk membuka usaha.

“Kalau di (gereja) kita, pergumulannya tuh, kalau sudah usia produktif, (mereka) bekerja ke kota besar. Hampir semua gereja pergumulannya itu, karena lapangan kerja di Kedu sendiri sedikit,” tutur ayah tiga anak ini.

Diakui Pdt. Trio, ketika anak-anak muda selesai kuliah, mereka biasanya mendapatkan tawaran bekerja dari luar kota. Ini menjadi pergumulan GBI Cemara Tujuh sejak awal. Bahkan menurut Pdt. Trio, ketika ia masuk di gereja ini tahun 1999, tak ada satu pun anggota jemaat yang seusia dengannya. Yang ada adalah orang-orang yang lebih tua darinya.

Barulah 11 tahun kemudian, situasi mulai berubah. Pada tahun 2010-an, beberapa orang muda tidak harus keluar kota karena diterima sebagai pegawai negeri sipil di Magelang.

Masalah urbanisasi masih menjadi pergumulan gereja-gereja Protestan dan Katolik di Magelang, tak hanya GBI Cemara Tujuh. Kepergian orang-orang muda untuk berkarier di kota besar terus terjadi, meski tak lagi segencar dulu. Apalagi GBI Cemara Tujuh terletak di pinggiran, bukan tengah kota. Juga jarak gereja satu dengan yang lainnya terbilang cukup dekat.

Di GBI Cemara Tujuh saat ini sudah ada anak-anak, remaja bahkan pemuda. Tak hanya itu, beberapa keluarga muda juga datang bergabung. Pdt. Trio pun mensyukuri situasi tersebut.

“Kita berdoa supaya ada orang-orang baru yang Tuhan kirimkan ke sini. Dan Puji Tuhan, ada pasangan-pasangan muda yang datang karena ada satu-dua yang dapat pekerjaan di Magelang. Akhirnya ada yang menikah, mulai ada generasi baru di sini,” ungkap pria kelahiran Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta 1969 ini.

Dalam berbagai pergumulan tersebut, para hamba Tuhan di Kedu harus memiliki mental yang kuat, lanjutnya. Sebab acapkali mereka sudah melayani dan membimbing anggota jemaat sedari kecil, namun akhirnya anak-anak muda meninggalkan gereja untuk bekerja ke kota besar.

Menghadapi tantangan zaman, Pdt. Trio mendorong gereja-gereja Baptis mulai memikirkan tata ibadah yang cocok untuk menjangkau kaum muda. Gereja-gereja Baptis tidak bisa menutup mata dengan gaya-gaya kekinian mereka. “Jika demikian (menutup mata terhadap kebutuhan jiwa kaum muda, red.), maka gereja Baptis akan kehilangan generasi mudanya,” tandas Pdt. Trio.

Meski GBI Cemara tujuh terbilang kecil dibandingkan gereja-gereja lain di Magelang yang memiliki anggota jauh lebih besar, gereja ini mampu bertahan di tengah persaingan. Namun untuk dapat berkembang dengan mengelola sebuah lembaga pelayanan memanfaatkan gedung GBI Kebonpolo, perlu bantuan nyata.

 

Penulis: Juniati Tasik Lola

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here