Gerejaku – Gereja Baptis Indonesia Cisauk – SEKOLAH MINGGU SEMPAT DIBUBARKAN MASSA

1
484

”Jemaat Cisauk ini rata-rata teachable (dapat diajar) orangnya. Kalau untuk pekerjaan Tuhan, banyak yang siap ikut terlibat dan memberikan yang terbaik,” cerita Pdt. Noto Sumarto mengenai kesannya sebagai Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Cisauk, Tangerang, Banten hampir setahun terakhir ini. ”Saya melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan dari jemaat ini karena memang masih berada dalam fase pertumbuhannya. Gereja harus membuka dirinya supaya bisa menjadi rumah bagi segala bangsa.”

Gereja ini bermula dari pelayanan beberapa anggota jemaat GBI Kebayoran, GBI Cilandak, dan GBI Grogol yang tinggal di wilayah Bintaro, Jakarta Selatan pada 1992. Mereka, di antaranya Andreas Wangsa dan Elizabeth Wonomukti, membentuk persekutuan rutin sebulan sekali dalam Kelompok Pembinaan Warga (KPW). Digembalakan Pdt. Johni Mardisantosa, KPW diadakan berpindah-pindah menggunakan rumah anggota jemaat.

Pada 1998, anggota jemaat GBI Cilandak yang tinggal di Cisauk, Lucyawati, memperkenalkan Yesus Kristus pada Lim Lian Nio (akrab dipanggil Iyan) yang berlatar belakang agama Budha. Ia dilayani Pos Pengabaran Injil (PI) Bintaro dan kemudian menjadi orang percaya mula-mula dari Cisauk yang dimenangkan.

Pelayanan yang semula dipusatkan di wilayah Bintaro dan sekitarnya, berubah arah ke wilayah Tangerang, tepatnya di Cisauk. Pos PI yang mula-mula hanya beranggotakan anggota jemaat Baptis di wilayah Bintaro, kini bertambah dengan kehadiran orang Kristen baru dari Cisauk. Pada 25 April 1999, pembaptisan pertama diadakan di Cisauk sebanyak 10 jiwa.

Semakin hari semakin banyak orang Budha di wilayah Suradita Cisauk yang menyambut pemberitaan Injil. Salah satunya adalah Yanih.

”Saya awalnya ikut-ikutan karena diajak mertua. Sama sekali enggak ada bayangan gereja itu seperti apa,” kenang Yanih.

Setiap kebaktian Minggu, jemaat asal Cisauk disediakan antar jemput untuk berbakti di Bintaro. Kalau ada yang sakit, biasanya mereka akan segera dikunjungi dan dibantu untuk menerima perawatan yang semestinya.

”Orangnya baik-baik dan care (peduli). Mereka selalu membantu, terutama di bidang sosial. Ada pelayan-pelayan Tuhan yang luar biasa,” cerita Yanih.

Sebagai Pos PI Bintaro selama kurang lebih 12 tahun, tempat kebaktiannya berpindah tempat beberapa kali. Dari rumah Kornelius Juni Turarso (Junet), jemaat kemudian pindah ke Ruko Sektor 9 Bintaro. Karena semakin banyak anggota jemaat yang tinggal di Cisauk, tempat kebaktian kemudian pindah ke ruko di Jalan Griya Loka Raya, dekat Pasar Modern BSD.

Sekelompok anggota jemaat lalu mempersembahkan tanah seluas 2.000 m2 di daerah Suradita Cisauk untuk dijadikan gereja. Di lokasi tersebut GBI Cisauk menetap hingga hari ini.

Selain Pdt. Johni Mardisantosa yang terlibat dalam perintisan gereja, jemaat ini juga pernah ”disirami” Anggiat Rio Murbowo, Murjilah (dari GBI Kebayoran), Pdt. Lim Yu Fuk, dan Pdt. Nelsen Ramtung. Pada 7 Maret 2010, GBI Kebayoran meningkatkan status jemaat ini menjadi GBI Kebayoran Cabang Bintaro Cisauk.

Digembalakan Pdt. Tonny Matius Senduk (November 2009 – Juni 2019),  jemaat menghadapi tantangan yang berat dari warga sekitar. Keberadaan gereja menjadi hal yang sensitif. Sekolah Minggu pada waktu pertama-tama bahkan sempat dibubarkan massa.

Ugari Anthony Tobing yang dibaptis pada 2004 silam, menjadi saksi mata perjuangan Pdt. Tonny waktu itu. ”Ia sangat aktif blusukan hingga membuat warga sekitar pelan-pelan bisa mulai menerima kehadiran gereja. Selain Senin dipakai untuk istirahat, hampir setiap hari dipakai untuk mendekatkan diri pada warga sekitar. Jadi, bukan hanya anggota jemaat yang dikunjungi, tetapi juga orang-orang non-Kristen,” cerita Tobing.

Strategi ini berhasil mengurangi penolakan warga sekitar terhadap keberadaan gereja.

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan jemaat, pada 2013, rapat panitia perancang memutuskan pemandirian jemaat. Pada tahun yang sama, rapat urusan gereja dilangsungkan untuk melanjutkan proses pemandirian. Pada 5 Oktober 2014, GBI Cisauk secara resmi berada di bawah naungan Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI).

Dalam proses pemandirian gereja, sangat disayangkan sempat terjadi pergesekan yang tajam hingga menimbulkan perpecahan antarjemaat. Adanya perbedaan visi dan misi antara jemaat perintis dengan gembala sidang menyebabkan sejumlah orang pindah gereja.

Junet, sebagai bagian dari anggota jemaat perintis, memutuskan tetap berjemaat di GBI Cisauk. ”Entah gimana, hati saya sudah lengket dengan gereja ini. Saya sudah terlibat di sini bahkan sejak dalam bentuk cikal bakalnya ketika masih sebagai KPW dahulu,” tuturnya.

Perpecahan ini sempat membuat kondisi keuangan gereja memprihatinkan.

”Tanda kasih untuk pendeta saja sampai harus dicicil. Namun, dalam situasi seperti ini, kami malah semakin belajar mengandalkan pertolongan dari Tuhan semata,” kenang Tobing.

Ada berkat yang tersembunyi di balik perpecahan tersebut. Berbagai kejadian yang dialami, malah mempercepat pendewasaan rohani jemaat.

Ujian berikut datang ketika terjadi kekosongan gembala sidang dari Juni 2019 hingga Maret 2020. Pdt. Tonny pindah pelayanan ke GBI Baitlahim Bandung. Berkat kekukuhan yang sudah terbentuk, jemaat tetap bersatu hati dalam persekutuan hingga datangnya Pdt. Noto Sumarto sebagai gembala sidang yang baru.

Dalam masa kekosongan ini, pelayanan mimbar banyak dibantu para pendeta dan hamba Tuhan Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) DKI Jaya-Banten. Masa kurang lebih delapan bulan tanpa gembala sidang justru membuat jemaat semakin teguh, dewasa, dan bersatu hati.

”Ketika dijemput jemaat Cisauk dari GBI Sahabat Kediri pada akhir Februari 2020, saya malah sama sekali belum mendengar soal Covid-19. Beberapa hari tiba di Cisauk, langsung muncul berita nasional mengenai pasien pertama Covid-19 di Indonesia. Tidak berapa lama kemudian, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diberlakukan. Tentu ada banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan bergereja. Oleh penyertaan dan  kasih karunia-Nya, jemaat solid dan bersatu hati merespon situasi ini,” cerita Pdt. Noto.

Ternyata, melalui berbagai peristiwa yang ada, Tuhan jauh-jauh hari sudah menyiapkan GBI Cisauk untuk menghadapi pandemi ini. Kekukuhan jemaat dan kepemimpinan Pdt. Noto menyebabkan gereja setia bersekutu.

Jemaat sempat beberapa bulan melakukan kebaktian Minggu online dan tatap muka secara terbatas. Saat ini, mereka sudah kembali berbakti seperti halnya sebelum pandemi berlangsung (dengan mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah). Dengan cara ini, kehadiran jemaat dalam Kebaktian Doa Rabu bahkan meningkat hingga tiga kali lipat.

Ketua tim perancang 2019-2020 Eko Kusnadi, memandang kekukuhan dan kekeluargaan menjadi ciri khas jemaat. ”Meskipun ada beberapa (anggota) jemaat yang masih mudah baperan (terbawa perasaan), namun baikannya juga cepat. Kayak antarsaudara saja kalau lagi berantem dalam keluarga,” ceritanya.

Sesuai moto “Gerejaku, rumahku, tanggung jawabku!”, Pdt. Noto terus mengingatkan jemaat, ”Kita akan terus melayani Tuhan sampai Dia menghentikan langkah kita. Amin!”

Penulis: Yonghan

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

1 COMMENT

  1. Luar biasa… Ternyata begitu ya historisnya GBI Cissauk, penuh perjuangan dan pengorbanan para pioner… Smoga Tuhan Yesus memberkati setiap orang yg telah membuka pelayanan di Cisauk..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here