Gerejaku GBI Sumbertirtayasa, Surakarta – DIBERKATI KETIKA MENGUTAMAKAN TUHAN

0
259

Dari sekumpulan orang percaya yang minder, sulit dipercaya Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sumbertirtayasa Surakarta kini tampil mengesankan.  Sekitar 20 tahun lalu, hampir semua dari mereka adalah buruh pabrik yang merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Kalau sedang apes karena tidak ada pekerjaan tersedia, mereka pun tidak bakal memegang uang.

Maka, ketika Prisetyadi Teguh Wibowo dari Suara Baptis berkunjung ke GBI Sumbertirtayasa 20-an tahun lalu, yang terlihat adalah bangunan gereja sederhana. Pdt. Jonathan Sibin yang menggembalakan ketika itu, tinggal bersama keluarga di pastori yang menjadi satu atap dengan gedung gereja. Pastori ini sebenarnya ruang tambahan di belakang ruang kebaktian, menempel gedung gereja.

Lokasi gereja ini pun di daerah pinggiran yang masih lekat dengan suasana pedesaan. Masih banyak sawah dan lahan terbuka di sekitar gereja.

Namun ketika berkunjung kembali pada Februari 2021 lalu, semua sudah jauh berubah. Lokasi sekitar gereja terlihat padat dengan rumah-rumah yang modern dan bersih. Sementara gedung gereja yang dulu kecil dan sederhana, telah berubah menjadi indah dan memiliki banyak ruangan.

Sulit dipercaya, jemaat yang semula adalah sekumpulan buruh dengan penghasilan tidak pasti, kini telah memiliki pastori besar persis di sebelah gedung gereja. Bahkan mereka juga berhasil membeli bangunan di belakang gereja, pula sebuah rumah tepat di seberang gedung gereja!

kunjungan ke STBI

Melihat kesan heran Suara Baptis, Gembala Sidang GBI Sumbertirtayasa Pdt. Paul Kabarianto tersenyum-senyum. Pria ramah bersuara rendah ini pun mengisahkan, bagaimana dirinya berjuang mengubah cara pandang jemaat dan menantang mereka untuk mengandalkan Tuhan, bukan kekuatan sendiri.

Awal menggembalakan GBI Sumbertirtayasa 21 tahun lalu, pendapatan gereja Rp 1,3 juta per bulan dan gaji Pdt. Paul Rp 400 ribu. Kebanyakan mereka berbakti Minggu sore, sesudah pulang kerja sejak pagi.

Melihat kebutuhan pengembangan gereja, Pdt. Paul mengajak jemaat merenovasi gedung. Namun mereka menanggapi dengan lesu.

“Kita nggak punya bos, Pak,” begitu tanggapan jemaat yang merasa mustahil mampu membangun gedung gerejanya.

Maka, mulailah Pdt. Paul mengajar tentang manusia sebagai gambar Allah yang berharga dan mampu melakukan hal-hal besar bersama Tuhan.

“Saya agak berhasil mengajar mereka itu dua tahun,” ungkap Pdt. Paul kepada wartawan Suara Baptis, Juniati. “Dua tahun (sesudah itu) baru memikirkan pastori kecil, karena waktu itu saya mau menikah.”

Berhasil membuat pastori, Pdt. Paul lalu memperlihatkan gambar gedung gereja yang hendak dibangun.

“Mereka sudah tidak ngomong lagi, ‘Nggak punya bos’, tetapi mereka mulai berdoa, berusaha. Akhirnya mereka sekarang punya harga diri, mereka mulai mikir, ternyata kita bisa (membiayai pembangunan gedung yang bagus).”

Sedikit demi sedikit, suami dr. Kusnita Ariesanti dan ayah dari Dorean Kharitianto serta Irene kharitianti tersebut mengajarkan jemaat untuk mengutamakan Tuhan. Hasilnya pun muncul. Kebaktian Minggu pagi yang dulu hanya diikuti lebih sedikit orang, berubah menjadi lebih banyak. Jemaat mengkhususkan hari Minggu untuk beribadah bersama, tidak lagi untuk bekerja.

Lalu, apa yang terjadi kemudian?

“Dengan pemahaman-pemahaman seperti itu, sekarang mereka semakin diberkati. Maka dengan 200 orang itu kalau semua datang, (lahan) parkir kami sudah nggak muat. Mobil sudah 14-15 buah, ada  sepeda) motor… Jadi, kami sudah beli tanah ke depan dan ke samping, itu masih nggak cukup. Dari pengalaman itu, mereka merasa bahwa benar, kalau kita ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, pasti diberkati,” tutur Pdt. Paul.

Menyewa Rumah di Pinggir Sungai

GBI Sumbertirtayasa bermula dari persekutuan rumah tangga anggota GBI Penumping, Surakarta. Mereka antara lain Slamet, Sisdadi, Tanto, Harto, Sukino, Tukiyo, Kasno, dan Kasrin.

Ibadah perdana dilaksanakan di rumah Slamet pada tahun 1969 di Kampung Tirtayasa Kecamatan Banjarsari. Pelayanan persekutuan dijalankan Djumirin dan Gideon Suprapto, mahasiswa Seminari Teologia Baptis Indonesia Semarang (kini Sekolah tinggi Teologia Baptis Indonesia/STBI) yang tengah menjalani kuliah praktik pelayanan mahasiswa.

Banyak tetangga tertarik bergabung sehingga rumah Slamet tidak lagi dapat menampung mereka. Apalagi mulai diadakan kelas-kelas Sekolah Minggu untuk anak-anak. Saat itu, pelayanan kemudian dijalankan Stefanus Sugito.

Pertengahan tahun 1976, tempat persekutuan dipindah ke Jl. Pajajaran Timur I Kelurahan Sumber. Mereka menyewa rumah yang lebih besar di pinggir sungai sehingga dapat menampung lebih banyak orang. Ketika itu pelayanan dipimpin Bapak Kamdi.

Kegiatan lansia

Waktu berjalan, anggota jemaat pun semakin banyak sehingga perlu ruangan lebih luas. Tahun 1979 dengan berjuang dan berdoa, jemaat mencari sebidang tanah di Kelurahan Sumber. Mereka berharap, kelak daerah yang masih berupa lahan persawahan tersebut akan menjadi daerah yang ramai. Dengan begitu, gereja dapat berkembang lebih besar lagi.

Dengan dana pinjaman dari anggota jemaat serta Dana Pinjam Meminjam Baptis, dibelilah tanah 10 x 15 meter. Di atasnya hendak dibangun gedung gereja sekaligus pastori.

Namun pembangunan gedung tidak lantas berjalan lancar. Dana yang seharusnya sepenuhnya digunakan untuk membangun gedung, harus terbagi. Sebabnya, kondisi jalan masih berlumpur. Maka, tiap kali membeli batu kali maupun pasir, sebagian harus diturunkan untuk menimbun jalan supaya truk pengantar material dapat tiba di lokasi pembangunan.

Tahun 1980, sebuah gedung sederhana dilengkapi pastori mungil sudah berdiri. Gereja pun mengundang Pdt. Sentot Sadono sebagai gembala sidang.

Semasa pelayanan Pdt. Sentot, gereja terus berkembang. Lingkungan yang tadinya sepi, mulai ramai dengan pembangunan rumah warga. Jumlah anggota jemaat pun meningkat.

Gereja lalu membeli tanah di belakangnya untuk pembangunan pastori. Bekas pastori sebelumnya dijadikan kolam baptisan serta kantor gereja.

Dua tahun dalam penggembalaan Pdt. Sentot, jemaat makin berkembang. Pada 24 Agustus 1982, mereka menjadi gereja mandiri, terlepas dari GBI Penumping.

Nama “Sumbertirtayasa” sendiri adalah penggabungan nama dua kelurahan yakni Sumber dan Tirtayasa.

“Gereja ini diawali di Kampung Tirtayasa, sementara kita beli tanah di daerah Sumber. Supaya tidak menghilangkan sejarah gereja, digabungkanlah menjadi Sumbertirtayasa,” ungkap Pdt. Paul.

Gereja terus menguat. Dua tahun kemudian, GBI Sumbertirtayasa mengangkat gereja cabang di Desa Bangsalan Kecamatan Teras dan di Desa Cokeran Kecamatan Klego, keduanya di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Tahun 1984, Pdt. Sentot menerima panggilan pelayanan di GBI Cengkareng Indah, Jakarta. Sambil menunggu gembala sidang baru, gereja mengangkat David Djumirin untuk memimpin gereja.

Pada 2 Februari 1985, Jonathan Sibin menjadi gembala sidang menggantikan Pdt. Sentot. Namun karena masih aktif sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, ia meminta disebut sebagai pengkhotbah, bukan gembala sidang.

Pada masa penggembalaan Pdt. Jonathan Sibin, mulailah diaktifkan kegiatan organisasi seperti Sekolah Minggu, Wanita Baptis Indonesia (WBI), Persekutuan Kaum Muda Baptis (PKMB) serta Pria Baptis Indonesia (PBI).

Pada tahun 1988, bekerja sama dengan Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), gereja membuka pos pengabaran Injil (PI) di daerah Sawahan, Boyolali. Renovasi gedung gereja juga dilakukan. Dana pinjaman sedikit demi sedikit mulai dilunasi dengan bantuan Pdt. Charles Bukcner, misionaris Baptis.

Tahun 1999 Pdt. Sibin masuk masa pensiun. Tahun 2000, jemaat memanggil Paul Kabarianto, putra sulung Pdt. Sibin, untuk menjadi gembala sidang. Ketika itu Paul sedang melayani di daerah Boyolali namun belum ditahbiskan sebagai pendeta.

Hamba Tuhan yang masih lajang ini mendorong jemaat melakukan gebrakan-gebrakan baru. Jemaat membongkar kolam baptisan dan kantor gereja. Ruang ibadah pun diperpanjang. Sementara pastori menjadi dua tingkat dengan kantor gereja di lantai satu.

Desember 2000, gereja menyetujui pemandirian gereja cabang Bangsalan serta menahbiskan Yeremia Yuniadi menjadi pendeta pengantar Injil. Sementara gereja cabang di Klego, Boyolali diadopsi GBI Cengkareng Indah, Jakarta.

Gereja pun semakin berkembang. Di ruang ibadah pun dibangun balkon. Jumlah anggota jemaat bertambah dengan adanya keluarga-keluarga muda. Pertumbuhan ekonomi juga meningkat.

Juni 2008, gereja membeli tanah seluas 185 meter persegi di samping gereja untuk lahan parkir sepeda motor serta ruang kelas-kelas Sekolah Minggu. Kemudian pastori dibangun terpisah dari gedung gereja. Lokasi pastori lama, berubah menjadi ruang kelas Sekolah Minggu serta wisma tamu.

Tahun 2012, jemaat membeli tanah di seberang gereja seluas 182 meter persegi. Terakhir, tahun 2017 mereka membeli juga tanah di belakang gereja seluas 75 persegi.

Kini, jumlah anggota gereja yang berlokasi di sebelah barat laut Kota Surakarta tersebut mencapai 200-an orang. Tahun 2017 lalu, GBI Sumbertirtayasa mengadopsi Pos PI Pacitan, Jawa Timur dengan dukungan GBI Ngesrep Semarang. Jemaat perintisan yang sebelumnya kembang-kempis, kini kembali bangkit.

Tumbuh bersama warga sekitarnya, gereja ini menjadi bagian yang penting di Kelurahan Sumber. Apalagi Pdt. Paul sendiri terjun sebagai pengurus rukun warga (RW) seksi kerohanian. Jabatan ketua rukun tetangga (RT) juga pernah dipegang dua anggota jemaat.

Jika dulu pendidikan paling tinggi anggota jemaat adalah Sekolah Menengah Atas, kini anak-anak mereka menikmati bangku perguruan tinggi. Sebagian di antaranya juga menjadi pengawai negeri.

Jadi, saya pesankan kepada teman-teman muda yang (menggembalakan) di gereja kecil, yang berpikir kapan (gereja dapat) berkembang, itu harus (melayani) dengan setia. Ditekuni saja,” dorong Pdt. Paul.

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here