Gereja Baptis Anugerah Indonesia – TERPAPAR GERAKAN SION KIDS

0
788

Tiga tantangan besar dihadapi Gereja Baptis Anugerah Indonesia (GBAI), salah satu kelompok gereja Baptis anggota Persekutuan Baptis Indonesia (PBI) termasuk Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) dan sejumlah kelompok Baptis lainnya. Tantangan tersebut berupa kekurangan jumlah gembala sidang, penyusupan ajaran Sion Kids dan kosongnya dua jabatan penting dalam Badan Pengurus Pusat (BPP) GBAI.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan hamba-hamba Tuhan GBAI Wilayah V Manokwari, Papua Barat, Minggu 4 Oktober 2020. Pertemuan digagas untuk menyambut acara Pemantapan Hamba-hamba Tuhan (Pemhatu) III di Sorong, Papua Barat. Acara ini dihadiri para pendeta dan profesional seperti Kepala Bappeda Provinsi Papua Barat Dance Sangkek, Kepala Biro Umum Provinsi Papua Barat Origenes Ijie, dan akademisi Papua Erick Kambuaya.

Gubernur Memukul Tifa tanda pembukaan Pemhatu III

Berkaitan dengan kekurangan hamba Tuhan, terjadi ironi di sini. Menurut catatan, GBAI memiliki 59 gereja dan 96 pendeta plus evangelis. Namun dari 59 gereja, beberapa di antaranya tidak memiliki gembala sidang.

Dalam pertemuan tersebut Origenes Ijie yang juga pendiri GBAI, berkomentar dalam nada bertanya, “Denominasi yang mengalami krisis pendeta, bagaimana dapat berekspansi dalam pelayanannya?”

Tantangan kedua adalah menyusupnya ajaran Sion Kids. Kabarnya ada pendeta GBAI yang berdiri di dua kaki, hari Minggu melayani jemaat dan di hari lain melayani atau beribadah bersama pengikut gerakan ini. Menurut Wakil Ketua Wilayah V Pdt. Jomes Istia, otoritas doktrin, ajaran atau mimbar GBAI sedang dipertaruhkan oleh muculnya ajaran Sion Kids.

Seminar Pdt Yacob Nauw dengan moderator Pdt Sil Bidanto

Sekadar info, Sion Kids adalah kelompok yang meyakini bahwa Papua adalah ujung bumi dalam soal pemberitaan Injil yang diamanatkan Tuhan Yesus. Karena itu, kelompok ini merasa, saat ini adalah masa akhir zaman.

Sion Kids pernah menggemparkan banyak orang. Senin 14 Mei 2018 lalu, mereka mengadakan pawai bermobil maupun berjalan kaki sambil mengibarkan bendera negara Israel. Memang, Sion Kids merasa, gereja-gereja perlu berkiblat ke bangsa Yahudi.

Soal ini, blog Sion Kids Center Movement menjelaskan, “Mengapa pergerakan ini muncul di Papua? Kami kira jawabannya singkat saja, karena Papua adalah ujung bumi, atau yang sudah kita semua ketahui bahwa Papua (Penuaian Akhir Penuh Urapan Adonai/Tuhan), sehingga Firman Tuhan yang sudah sampai ke ujung bumi ini ‘dikembalikan’ kepada tempat dari mana Firman itu pertama diberitakan.”

Rupanya, gerakan ini sempat menyusup ke GBAI. Dua pendeta gereja ini didapati terlibat di dalam acara-acara mereka.

Menurut Ketua Bidang Kependetaan GBAI Pdt. Jon Damanik, dangkalnya pengetahuan teologi membuat ajaran sesat cepat masuk. Karena itu ia menyiapkan materi bimbingan bagi pendeta-pendeta nonteologi, khususnya dari non-Baptis.

Juga menurut Pdt. Istia, pengkhotbah GBAI yang mengikuti gerakan Sion Kids melanggar doktrin gereja. Karena itu, mereka harus dikeluarkan atau dilarang naik mimbar.

Pdt. Recky Rembangan yang membantu pelayanan GBAI Jemaat Jehova Jireh mengeluarkan suara senada. Ia mendesak supaya organisasi bersikap tegas dalam masalah ini.

Soal kekosongan dua jabatan penting dalam organisasi, Pdt. Istia mengatakan, “Mundurnya Sekjen mengganggu secara struktural organisasi. Dalam keadaan demikian, banyak permasalahan tidak dapat diselesaikan.”

Salah satu pendiri GBAI, Dance Sengkek juga berujar, “Kita harus menyelamatkan eksistensi gereja. Manokwari harus bangkit menolong BPP (Badan Pengurus Pusat).”

Pendeta-pendeta GBAI harus datang, bukan hanya untuk mendengarkan ceramah, tetapi untuk berkontribusi dalam menyelesaikan masalah organisasi, demikian pernyataan yang disetujui semua peserta.

“Tugas kita bukan hanya di mimbar, tetapi juga di organisasi,” Pdt. Istia menegaskan.

Bahkan Ketua Wilayah V, Timotius Kambu, yang tidak hadir dalam pertemuan, melalui pesannya juga mendorong para pendeta untuk hadir di Sorong.

Akhirnya, setelah sempat tertunda karena Pandemi Covid-19, Pemhatu pun terselenggara pada 16-18 November 2020 dan dibuka Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan.

Sejumlah pembicara datang mengisi kegiatan tersebut. berkaitan dengan tantangan-tantangan yang tengah dihadapi, Pdt. Jon R. Damanik menyampaikan paparan tentang Kristologi dan Pdt. Yacob Nauw berbicara mengenai gerakan Sion Kids.

Pada puncak acara, disepakati pernyataan sikap yang terdiri dari empat poin yang ditandatangani seluruh peserta. Berikut pernyataan sikap para pendeta GBAI tersebut:

‘Berdasarkan tema HUT GBAI ke-25 “KEMBALI KEPADA ALKITAB” serta mencermati fenomena kontestasi baru berupa ajaran-ajaran yang telah dan akan muncul dalam jemaat-jemaat GBAI antara lain SION KIDS/ISKM (International Sion Kids Movement) yang ikut mempengaruhi iman dan kepercayaan umat GBAI sesuai dengan asas kepercayaannya, maka dengan ini kami tegaskan bahwa:

  1. Gereja Baptis Anugerah Indonesia tidak memiliki kemitraan atau kerja sama dalam bentuk apa pun dengan gerakan yang dianggap tidak sesuai dengan asas kepercayaan umat GBAI.
  2. Tidak mengizinkan meletakkan atribut-atribut dan simbol-simbol lain dalam gedung Gereja Baptis Anugerah Indonesia berupa bendera, mezbah dan lain-lain.
  3. Semua aset baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik tanah, manusia dan gedung-gedung tidak diizinkan digunakan atau dibawa keluar dari GBAI karena semua aset yang ada dalam lingkungan GBAI adalah milik GBAI.
  4. Setiap pemimpin gereja yang terlibat di dalam ajaran yang bertentangan dengan Alkitab tidak diizinkan untuk melayani.

Penulis: Budi Kasmanto

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here