Ester Triyamti Sukamto – HATINYA UNTUK JEMAAT DI PEDALAMAN SUMATRA

0
188

Model rambut yang selalu dipotong pendek dengan sebagiannya memutih, menjadi ciri khas Ester Triyamti. Meski sudah ada banyak kerutan di wajah, senyuman yang sering dilepaskan begitu ringan. Seakan-akan tidak ada beban dalam hidupnya.

Wanita yang memiliki panggilan akrab “Bu David” ini menempati sebuah rumah permanen 9 x 9 meter di Kampung Argomulyo Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Rumah bercat krem dengan kombinasi pintu serta jendela warna coklat itu semakin asri dengan halaman yang penuh aneka tanaman hias. Di antaranya bunga kamboja, palem merah, kamboja bali, kemuning, andong puring, cempaka, mawar dan anggrek bulan. Ada juga pohon srikaya.

Di rumah sisi jalan kampung dan berseberangan dengan Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kalvari Banjit ini, Ester Triyamti tinggal sendiri. Suaminya, Pdt. David Sukamto yang hingga akhir hayatnya menggembalakan gereja tersebut, sudah dipanggil Tuhan 2 Mei 2017 lalu.

Namun Ester tidak meratapi kesendiriannya. Wanita usia 76 tahun ini menikmati hari-harinya dengan memelihara beberapa ekor ayam kampung dan sejumlah burung seperti kacer dan jalak kebo. Ia juga dikenal sebagai perias pengantin yang lihai. Ia juga tetap setia bergereja di GBI Kalvari yang sekarang digembalakan Pdm. Matris Wiraprasmana ini.

Ester yang pernah mengenyam bangku Sekolah Pendidikan Kesehatan ini pertama kali menginjakkan kaki di Lampung Januari 1979 bersama suami dan anak sulung yang baru usia Sekolah Dasar. Wanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah tersebut mendampingi Pdt. David Sukamto menggembalakan jemaat di Baradatu, sebuah Kecamatan di Kabupaten Lampung Utara sebelum menjadi Kabupaten Way Kanan.

Sepuluh tahun kemudian, keluarga ini melanjutkan pelayanan ke daerah Madang Jaya (sekarang menjadi GBI Depok Cabang Setia Negara TPW Madang Jaya) dan Talang Mangga (sekarang menjadi GBI Depok Cabang Talang Mangga). Kedua tempat ini berjarak puluhan kilometer dari Baradatu dengan medan yang terjal. Semangat penginjilan bersama suami terus berkobar sampai akhirnya tahun 1982 Pdt. David terpanggil menggembalakan GBI Kalvari Cabang Banjit. Induk gereja ini adalah GBI Kalvari Jakarta.

Waktu terus berputar, demikian juga pelayanan terus berjalan. Seakan tanpa lelah, pasangan hamba Tuhan ini tekun melayani GBI Kalvari Banjit serta dua tempat yang lain di Kampung Madang Jaya Kecamatan Kasui dan Kampung Talang Mangga Kecamatan Rebang Tangkas. Bahkan pelayanan pengabaran Injil mereka lakukan sampai  ke daerah Liwa, Lampung Barat.

Segera sesudah mandiri, GBI Kalvari Banjit pun menjadi anggota Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) sejak tahun 1995. Pelayanan Ester dan suaminya sudah banyak memenangkan jiwa serta memajukan pekabaran Injil di Way Kanan. Mereka juga mendewasakan jemaat dan menginjil sampai Pematang Rindu, sebuah kampung yang jalannya terjal dan sulit dilalui kendaraan apalagi ketika turun hujan. Saking licinnya jalan di sana, kendaraan harus dibantu dengan dipasang rantai di rodanya.

Dibegal Sepulang Pelayanan

Masa-masa awal pelayanan di Lampung tidaklah mudah. Ester harus pintar-pintar mengatur keuangan rumah tangga lantaran gaji dari gereja dibayarkan dengan diangsur. Maklum, situasi gereja sendiri sangat terbatas ketika itu.

Tantangan pelayanan semakin berat. Di tengah perjalanan pulang pelayanan dari Madang Jaya, Ester dan Pdt. David yang berboncengan sepeda motor, dihadang begal. Pasangan hamba Tuhan ini harus menyerahkan sepeda motor yang dirampas begal tersebut. Akibatnya, Ester dan Pdt. David terpaksa meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki dan mencari pertolongan supaya bisa sampai ke rumah di Argomulyo, Banjit.

Namun perampasan sepeda motor ini tidak menyurutkan semangat pelayanan pasangan hamba Tuhan itu. Padahal, satu-satunya alat transportasi milik mereka sudah raib. Sampai beberapa waktu kemudian, Tuhan memberikan penghiburan. Tanpa disangka-sangka, Tuhan memberikan dua sepeda motor dengan cara yang unik dan tak terpikirkan.

Ester yang pernah bekerja di Dinas Kesehatan Kota Semarang, Jawa Tengah ini terus bersemangat dan aktif mengikuti kegiatan Baptis daerah. Misalnya, persekutuan hamba Tuhan dan keluarga daerah Lampung, kegiatan di Rayon Way Kanan, bahkan dalam hajatan nasional seperti persekutuan janda pendeta lanjut usia Januari 2020 lalu di Semarang. Apesnya, Ester sempat kehilangan telepon genggam di tengah perjalananan…

Hati nenek sejumlah cucu ini memang sudah mengakar di Lampung. Ia dan sang suami tidak tergiur menerima tawaran pelayanan di tempat lain yang lebih nyaman. Yang terus menjadi kekuatan dalam hidupnya adalah begitu mencintai jemaat yang Tuhan percayakan. Apa pun yang terjadi, ia hanya berserah kepada Tuhan.

Ester juga mengajarkan jemaat untuk memperhatikan hamba-hamba Tuhan melalui beras jimpitan. Setiap anggota jemaat didorongnya menyisihkan satu sendok beras setiap kali menanak nasi. Ketika dikumpulkan, biasanya didapatkan 6 hingga 8 kilogram beras untuk para hamba Tuhan.

Ketika ditanya Pdt. Yehezkiel Rajimun dari Suara Baptis, kejadian apa yang pernah dirasakan begitu berat, Ester menuturkan, “Waktu itu perjalanan tidak ada jembatan, belum ada motor yang bisa dikredit untuk alat transportasi. Jemaat banyak. Mereka berjalan dari rumah, belum ada motor. Di tengah sawah kadang-kadang mereka kehujanan. Anak-anak Sekolah Minggu sampai membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh.”

Suatu saat ketika berkunjung ke rumah anggota jemaat, keduanya berboncengan sepeda motor menyeberangi sungai tanpa jembatan yang airnya dangkal. Namun waktu pulang kunjungan, air sungai sudah meluap dan tidak bisa dilalui lagi. Terlalu berbahaya jika nekat menyeberang. Maka, mereka bermalam di rumah anggota jemaat.

Dengan begitu banyak tantangan yang dihadapi, pernahkah merasa jemu atau putus asa?

“Nggak, karena prinsip saya, saya datang ke sini kan untuk melayani. Yang saya pandang hanya Tuhan, melayani Tuhan. Masalah ini-itu, kan ya seperti versi bunga tadi (Ester mencontohkan ragam bunga yang ditanamnya). Ada yang begini, ada yang begitu.’’

Meski ada begitu banyak perjuangan yang dituntut dalam pelayanan, Ester dan Pdt. David tak terpikir untuk meninggalkan Lampung. Padahal beberapa kali mereka ditawari melayani di tempat-tempat lain yang lebih nyaman. Tempat-tempat itu juga menawarkan kesejahteraan materi yang memadai untuk mendukung penghidupan keluarga.

“Bapak (Pdt. David Sukamto, red.) mau dipanggil (untuk melayani di) Semarang, Surabaya, Kediri, Palembang, (tetapi menolak meninggalkan jemaat di Lampung). Melayani di mana saja, sama saja, ada masalah. Sebenarnya kalau ditinggalkan, kita bisa saja bahagia. Tetapi yang ditinggalkan nanti bagaimana? Jalan pikiran saya dengan Bapak, ‘Kasihanlah jemaat…’ Saya masih memikirkan jemaat di sini,” ungkapnya.

Sebaliknya, kasih sayang keluarga ini kepada jemaat di Lampung kian besar. Ester juga mengajar warga sekitar supaya bisa membaca dan menulis. Ia juga membantu merias pengantin dan memberikan les salon kecantikan. Ester kadang-kadang tidak dibayar untuk jasanya. Kadang-kadang ia diberi barang hasil bumi untuk imbalan jasa tersebut. Dengan begitu, keluarga hamba Tuhan ini menjadi dekat dengan lingkungan sekitarnya.

Lantas, bagaimana Ester dan suaminya mencukupi kebutuhan keluarga sampai pendidikan anak-anak mereka?

“Ada usaha yang dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan, ada juga berkat-berkat yang tidak disangka-sangka untuk memenuhi kebutuhan anak-anak sampai kuliah dan bekerja,” ucapnya.

Wanita yang tetap tampil sederhana ini selalu mensyukuri pemeliharaan Tuhan. Ia bisa menyaksikan jemaat yang terus bertumbuh sebagi buah-buah pelayanannya bersama mendiang Pdt. David Sukamto.

Sebaliknya, jemaat pun mengerti bagaimana menghargai hamba Tuhan yang mengasihinya. Setiap kali panen, mereka memberikan sebagian hasilnya kepada Ester.

Sebagai istri gembala sidang yang selama 39 tahun terjun langsung dalam pelayanan jemaat bersama suami, Ester memahami tantangan para pemimpin gereja.

“Kalau ada (anggota) jemaat yang menyakiti, tetaplah mengasihi. Ketika berbicara di mimbar, harus dibuktikan dan sabar. Jangan hanya berbicara tetapi harus dibuktikan,” sarannya.

Ester datang di Lampung ketika berusia 34 tahun. Kini di masa senja, ia merasa damai menetap di Argomulyo, Banjit. Ketika anak-anaknya yang bermukim di Klaten, Solo (keduanya di Jawa Tengah) juga Tanjung Karang (Bandar Lampung) memintanya tinggal bersama mereka, Ester bergeming.

Hatinya memang sudah diserahkan untuk jemaat-jemaat kecil di pedalaman Sumatra.

 

Penulis: Yehezkiel Rajimun

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here