Di Balik Kebaktian Online – RELA, KERJA KERASNYA KURANG DIHARGAI

0
238

“Sudah ngerjain semuanya, sudah ngerjain dari apa yang dipunya (uang sendiri, kamera sendiri), usaha sendiri juga, tapi masih ada aja yang komplain, ‘Kok, gambarnya jelek, suaranya kok nggak jelas, kok nggak lancar videonya?’,” begitulah pengakuan beberapa anggota tim media sejumlah gereja yang berhasil diwawancarai Yohanes Aris dari Suara Baptis (SB) Januari 2021.

Memang sejak pandemi Covid-19 melanda, banyak hal dilakukan secara daring (dalam jaringan) termasuk kebaktian Minggu di gereja-gereja Baptis. Gereja pun menggunakan media sosial seperti Youtube, FaceBook atau Instagram.

Membuat acara daring bukan perkara mudah. Ini melibatkan orang-orang yang memiliki ide kreatif dan mengerti media elektronik. Mereka juga harus meluangkan waktu cukup banyak untuk mengerjakannya hingga menghasilkan konten ibadah yang berkualitas.

Beberapa narasumber mengaku mengalami banyak kesulitan di awal melakukan ibadah online. Kesulitan ini berkaitan dengan peralatan yang seadanya, pengetahuan yang sangat minim dan tenaga pelayan yang tersedia.

Pricilia Johani Sakti Cilandak

Pricilia Johani Sakti dari Gereja Baptis Indonesia (GBI) Cilandak, Jakarta Selatan mengatakan, “Di Cilandak, yang mengerti bidang online ini hanya satu-dua orang. Maka, aku ditunjuk Pdm. Sugi Purnomo itu untuk jadi anggota tim ibadah online”.

Joshua Pengharapan Surabaya

Sementara Joshua Christian Sulistio, anggota GBIPengharapan Surabaya, melayani di tim media karena berkomitmen untuk memberikan ilmunya di bidang multimedia. “Saya bener-bener mantep pelayanan di (bidang) multimedia. Saya kan jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual). Saya berkomitmen memberikan ilmu DKV saya untuk pelayanan itu.”

Yesaya dari Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang mengungkapkan, ia diminta Ketua STBI Pdt. Robinson Rimun untuk menjadi anggota tim media. “Mengapa saya mengiyakan? Basically (pada dasarnya) karena dulu saya senang main game, main komputer. Jadi, saya biasa dengan komputer. Dan saya melihat ada peluang untuk melayani di bidang itu, makanya saya mau.”

Kesal karena Terus Dikomplain

Tidak dipungkiri lagi, tim media yang dikomplain ketika terjadi kesalahan saat ibadah online. Seperti, suara yang hilang, kekecilan atau kebesaran, gambar hilang bahkan masalah internet.

Ezekiel Nathanael GB Efrata Bandung

Ezekiel Nathanael anggota GBI Efrata Bandung menanggapi keluhan jemaat saat ibadah online. “Selama saya pelayanan, mau pelayanan di atas mimbar, baik singer, musik dan lain-lain, pasti ada saja yang komplain. Apalagi ini masalahnya ibadah online, orang melihatnya video, kan? Misalnya di tim multimedianya bermasalah, yang pertama dikomplain pasti ya hasil editingnya.”

Febry Lukas Widyanto Batuzaman

Keluhan juga biasa ditujukan kepada Febry Lukas Widyanto dari GBI Batu Zaman Bandung. “Paling kalau komplain jemaat, ya internetlah. Kita tahu, (sambungan) internet di Indonesia jelek banget, lah. Patah-patah, kadang-kadang putus tiba-tiba, suaranya hilang, kayak gitulah. Mereka langsung kontek saya, ‘Kas, itu suaranya kurang keras. Kas, itu gambarnya hilang,’ atau apa gitu,” ujar pemuda yang kerap dipanggil “Lukas” ini.

Sementar Oscar Daniel, anggota GBI Cengkareng Indah Jakarta Barat, mengaku jika tim media gerejanya tidak punya pengetahuan dasar sama sekali. Maka, ketika datang keluhan dari jemaat karena kamera mati, suara kecil atau lainnya, Oscar hilang akal.

“Terus yang kita pusingin itu, kita harus ngapain? Karena waktu itu kita nggak ngerti apa-apa. Kan, bingung juga?” ujar Oscar.

Pricilia dari GBI Cilandak turut menanggapi, “Sebagai manusia, gue juga pasti ada rasa kesal atau apa. Istilahnya, lu udah ngerjain semuanya, ngerjain dari duit-duit lu juga, usaha-usaha lu juga, tapi masih aja dapat komplain.”

Meski begitu, gadis kelahiran Jakarta ini tak mau suasana hatinya lantas rusak karena keluhan jemaat. “Gue menerima inputan, gue tidak menganggap itu sebagai komplain yang akhirnya merusak mood gue untuk melayani Tuhan di ibadah online.”

Lantas, bagaimana tim media mengatasi keluhan?

Yesaya Bangun Ekoliesanto STBI

“Kami menambah SDM (sumber daya manusia). SDM dari sema (senat mahasiswa STBI) kami perbantukan untuk menjadi tim monitor kontrol. Jadi, di tempat kami live (melakukan siaran langsung), ada kontrolnya. Terus di YouTube ada beberapa orang yang mengontrol di beberapa device biar aman,” ungkap Yesaya.

Dengan kebutuhan media yang semakin banyak, gereja perlu melakukan regenerasi tenaga pelayanan media. Setia Adi Darmo dari GBI Kebayoran Jakarta mengatakan, “Memang, kita butuh itu (regenerasi). Kalau kita tujuh orang menangani itu sendiri, nggak bakal kuat, lah. Apalagi ada peraturan pulang dari luar kota kan harus isolasi dulu? Jadi, berkurang nih, (tinggal) enam orang.”

Sedangkan GBI Pengharapan Surabaya membiasakan jemaat agar langsung menghubungi tim media bila menemui masalah. “Di awal-awal (mengadakan kebaktian online) itu kan ada semacam simulasi live streaming (siaran langsung). Kita di bumper (pengumuman singkat) awal itu pasti kita kasih tulisan, ‘Kalau ada masalah, tolong hubungi tim multimedia.’ Sudah diworo-woro (diumumkan) dari awal,” kata Joshua.

Oscar Daniel Cengkareng

Sedangkan Oscar dari Cengkareng Indah, menyisihkan waktu dari pagi hingga malam untuk mempelajari teknik menggunakan media elektronik. “(Jerih payahnya) Terbayarkan sih, karena semakin lama semakin ada kemajuan. Akhirnya jemaat juga (tahu kalau) kita juga sambil belajar, kesalahan-kesalahan sedikit masih bisa dimaklumi.”

Namun kerapkali tim media yang bekerja keras di balik layar, jarang mendapatkan perhatian jemaat, kecuali ketika terjadi kekurangan konten.

Setia Adi Darmo Kebayoran

“Kadang-kadang beberapa orang atau pendeta bilang, ‘Terima kasih untuk pelayanan tim media.’ Nah, kalau ada pujian seperti itu, kita teruskan ke teman-teman. Biar teman-teman itu tahu, ‘Oh, pelayanan kita itu dihargai, kerja keras kita dihargai,’ begitu,” ujar Tio.

Joshua juga mendorong anggota tim multimedia saling menghargai jerih payah rekan pelayanannya.

Sedangkan Lukas mengajak semua pelayan multimedia gereja-gereja Baptis untuk saling bantu mengatasi masalah teknis. Mungkin saja, kata Lukas, ada gereja yang sampai sekarang sulit mengadakan ibadah online.

Pricilia menambahkan, “Jangan ngebandingin gereja lu dengan gereja lainnya. Karena menurut gue, kemampuan gereja satu dengan gereja lainnya pasti berbeda. Berkaca dengan gereja yang besar itu boleh, tapi balik lagi kita harus sadar dengan kemampuan gereja kita, dan personal kita itu seperti apa.”

Yesaya pun memberikan dorongan. “Yang penting melangkah. Kami melangkah dengan langkah seadanya, dengan kemampuan seadanya, begitu. Jangan takut dengan yang besar, dengan gereja-gereja besar yang nggak ada noise-nya, gambarnya bagus, pakai kamera bagus. Jangan lihat itunya, yang penting kita mulai dulu dengan langkah-langkah kecil. Kalau sudah (dilakukan), mulai dionlinekan, mulai masuk media. Pelan-pelan kan orang akan melihat. Ya, ada caranya lah untuk upgrade, yang penting (kita) mau melangkah dulu,” tutupnya.

Penulis: Yohanes Aris Santoso
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here