Dampak Pandemi Covid-19 TERPAKSA JUAL KULKAS DAN TV

0
464

Sejumlah guru Sekolah Minggu (SM) Gereja Baptis Indonesia (GBI) Setia Bakti, Kediri, Jawa Timur terkesima. Tak disangka, ketika mengantar buku-buku SM ke rumah-rumah murid, mereka mendapati dampak pandemi Covid-19 begitu nyata. Merosotnya perekonomian menyebabkan 60 murid SM gereja ini terkena dampaknya. Karena itu, orang tua mereka terpaksa menjual kulkas, televisi dan barang-barang lain demi bertahan hidup…

“Ya, kami sangat sedih (melihat kenyataan tersebut). Saya dan seorang ibu guru SM terus membicarakan (masalah ini) dan prihatin, bagaimana ya, kita bisa menolong? Kemudian saya berinisiatif, bagaimana kalau kita menolong dengan membagi sembako (bahan-bahan kebutuhan pokok). Saya minta dukungan suami. Dia sangat setuju,” ungkap istri Gembala Sidang GBI Setia Bakti, Rina Endah Kristini.

Rina Endah Kristini

Sesudah berembuk dengan sang suami, Pdt. Yosia Wartono, Rina berusaha meyakinkan ketua SM-nya. Sesudah itu, pengurus SM mengadakan rapat untuk memberikan bantuan sembako dan kesepakatan pun dicapai.

“Kemudian ide membagi sembako diunggah di grup WA (WhatsApp)  guru SM. Wah, puji Tuhan, semua mendukung dan setuju. Ada yang membantu berupa sembako yang sudah ditentukan, bahkan untuk murid SM (yang adalah) mahasiswa dari luar Jawa, (sembako bagi dia) ditambah dengan telur satu kilogram dan biskuit,” tutur Rina.

Pada sebagian gereja, pandemi Covid-19 menghentikan mereka menggunakan buku-buku SM Baptis terbitan Lembaga Literatur Baptis (LLB). Sebagai gantinya, guru mencari bahan ajar praktis dan membagikannya melalui rekaman video. Sementara sebagian gereja lainnya menyimpan buku-buku SM di kantor gereja dan mempersilakan murid mengambil sendiri. Ada juga yang memotret buku-buku tersebut lantas membagikannya melalui grup WA atau aplikasi lainnya.

Padahal, ada banyak kesempatan pelayanan penting yang dapat dilakukan bila guru mau mengunjungi murid-muridnya untuk membagikan langsung buku-buku SM. Tentu saja, semua dilakukan dengan hati-hati dan mematuhi protokol kesehatan.

“Sebelum triwulan baru, ada beberapa guru SM yang berkelilin

Ribka Giyati

g dari rumah ke rumah untuk mengantar buku SM. Hari Minggunya, setiap guru membimbing dengan kreativitias masing-masing melalui grup WA. Untuk kelas anak, guru meminta orang tua memberikan bimbingan sesuai arahan guru,” ungkap istri Gembala Sidang GBI Efrata Bandung, Jawa Barat, Ribka Giyati Wijaya dalam grup media sosial redaktur dan penulis SM.

Para guru di GBI Karangpucung, Cilacap, Jawa Tengah pun melakukan hal yang sama. Menurut istri Gembala Sidang GBI Karangpucung, Ana Yandayu, para guru mengunjungi rumah-rumah murid untuk membagikan buku pengajaran SM.

“Maju Sekolah Minggu, pasti gereja bertumbuh,” tandasnya.

Sedangkan GBI Baitlahim Cirebon mengirimkan buku-buku SM kepada sebagian murid dengan menggunakan ojek online, sebagian yang lain diantar langsung oleh guru ke rumah-rumah murid.

“Ayat hafalan anak-anak kirim lewat video. Lucu-lucu, apalagi Kelas Asuhan,” ujar istri Gembala Sidang GBI Baitlahim Cirebon, Juliati.

Di GBI Candi Semarang, Jawa Tengah, guru juga mengantar buku kepada murid-muridnya, meski pengajaran tetap disampaikan secara online. “Buku di antar ke rumah murid oleh guru masing-masing kelas. Tetapi untuk hari dan jamnya (pengajaran online, red.) dilakukan sesuai kesepakatan masing-masing guru dan murid. Laporan kehadiran tetap dilaporkan di grup guru-guru SM. Terima kasih LLB, sangat menolong kami untuk tetap belajar Firman Tuhan di masa pandemi ini,” kata istri Gembala Sidang GBI Candi, Hendhi Kurniadhi.

Rina Endah Kristini merasa tertolong dengan adanya buku-buku SM tersebut. “Kalau mencari atau membuat pelajaran sendiri, mereka (para guru) jelas nggak sanggup karena (kesibukan) pekerjaan masing-masing,” ujarnya.

Hal ini dikuatkan istri Gembala Sidang GBI Anugerah Tuhan Yogyakarta, Nanik Sutarni, “Ini dia…. kalau tidak disiapkan, bisa jadi akan cari dan ambil bahan-bahan dari sana (sembarang tempat, red.). Jika ketemu yang biblikal (pengajaran yang sesuai dengan kebenaran Alkitab, red.), Puji Tuhan. Jika tidak? Akan kerja sangat keras untuk meluruskan.”

Nanik yang juga penulis buku SM kelas remaja ini mengaku, adalah tantangan yang menarik untuk mengajar secara online di masa pandemi ini.

“Kadang-kadang saya ‘mendidih’ jika di media-media, viral orang-orang mualaf, pendeta murtad dan sebagainya,” tukasnya.

Tanam Kangkung & Ternak Lele

Banyaknya keluarga yang terdampak pandemi Covid-19 telah menggerakkan gereja-gereja memberikan bantuan sembako. Salah satunya GBI Grogol, Jakarta yang beberapa kali memberikan bantuan tersebut.

PDT MAURITS

“Kami berikan sembako yang sedikit bisa menolong mereka,” tutur Gembala Sidang GBI Grogol Pdt. Maurits J. Takaendengan.

Ditambahkannya, sampai akhir tahun ini gereja akan fokus kepada pelayanan sosial, membantu jemaat dan lingkungan yang perlu pertolongan sekaligus tetap memberitakan Injil.

Gembala Sidang GBI Jatinegara Jakarta Pdm. Sophian Immanuel berpendapat, masa pandemi ini sesungguhnya sebuah kesempatan untuk melayani. Karena itu, gereja merombak program dan anggaran supaya dapat dialihkan lebih banyak untuk pengabaran Injil, sosial dan ibadah. Salah satunya untuk memberikan bantuan sembako kepada anggota jemaat dan warga sekitar gereja yang terdampak Covid-19. Juga ada aksi pembagian nasi siap saji untuk masyarakat umum.

“Gereja bekerja sama dengan IBI (Internasional Bakti Indonesia) memberikan 50 paket sembako yang dibagikan kepada tetangga sekitar jemaat. Jadi, pesannya adalah melalui jemaat, bisa menjadi berkat bagi sesama. Menjadi berkat bagi yang lain,” tutur Pdm. Sophian.

Bantuan sembako bahkan dana tunai bagi anggota jemaat yang terdampak sudah dilakukan beberapa kali oleh sejumlah gereja. Namun bagaimana gereja dapat menolong jemaat untuk jangka panjang?

Gembala Sidang GBI Karunia Tuhan Bandar Lampung Pdm. Krisna Wahyu Surya mencoba melakukannya. Dikatakannya, sesuai imbauan Ketua Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) mengenai ketahanan pangan, Pdm. Krisna bersama para diakon mengajak jemaat bercocok tanam. Seorang anggota jemaat mengizinkan lahan kosong miliknya untuk ditanami tanaman pangan.

“Teman-teman yang ahli bercocok tanam sudah mulai menanam. Saya sendiri juga mulai bercocok tanam di sekitar rumah, ternak lele sudah beberapa minggu berjalan. Ya, untuk menolong kapan saja diperlukan oleh anggota jemaat. Kalau memang memerlukan, silakan kalau mau ambil. Kangkung, bayam, itu yang kami tanam. Ini sekadar untuk ketahanan pangan. Kita tidak pernah tahu (kapan pandemi berakhir). Jadi, siap-siap saja,” tukas Pdm. Krisna.

Gembala Sidang GBI Candi Semarang, Jawa Tengah Pdt. Eko Kurniadhi berpendapat, pandemi yang berkepanjangan ini telah mendorong tumbuhnya belas kasih. “Kalau secara keseluruhan, ada gotong royong, kemudian lebih perhatian akan keadaan orang lain. Jadi, ada peningkatan kepedulian, empati,” ujarnya.

Ketua PI GBI Palembang, Sumatra Selatan Pdm. Artinus menyampaikan, ada banyak peluang untuk melakukan pewartaan Injil. Misalnya, berkunjung ke anggota jemaat, berbagi berkat, dan berdoa bagi mereka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Ibadah yang dilakukan secara online melalui media sosial itu juga salah satu bentuk pewartaan Injil.

Pdt. Refli

GBI Kalvari Jakarta juga melakukan pelayanan sosial serupa. “Dalam situasi Covid-19, ini adalah kesempatan gereja untuk berbagi kasih Kristus. Penginjilan tetap dilakukan melalui kegiatan-kegiatan sosial. Menolong dan mendoakan baik anggota jemaat, simpatisan, keluarga atau kenalan anggota jemaat. Juga kepada driver ojol (ojek online), tukang parkir, penjual koran, penjual bakso, satpam,” ungkap Asisten Gembala Sidang GBI Kalvari Pdt. Refli Sumanti.

Menanggapi situasi sulit akibat pandemi ini, Gembala Sidang GBI Kebayoran Jakarta Pdt. Radik Irianto mengingatkan, kesempatan mengabarkan Injil selalu tersedia. “Kita perlu lebih peka melihat kesempatan itu untuk lebih menjangkau banyak orang, memperhatikan banyak orang, sehingga terang Yesus itu sungguh bercahaya dan dilihat banyak orang.”

Pdm. Krisna pun tetap melihat hal-hal baik di balik keterpurukan akibat pandemi ini. “Karena semua dilakukan dari rumah, peran orang tua akan maksimal. Lalu, (kita) mau tidak mau belajar banyak hal baru, seperti rekam video, editing dan sebagainya, karena pelayanan dilakukan secara online. Ini kesempatan berdoa lebih banyak. Kesempatan meraih pembangunan rohani jemaat,” tandas ayah dua anak asal Kediri, Jawa Timur itu.

Wakil Ketua BPN GGBI Pdt. Daniel Royo Haryono berpendapat, pelayanan gereja menjadi menyeluruh di masa pandemi. “Pelayanan gereja semakin holistik, ada kesatuan jemaat yang semakin kuat. Semakin lebarnya dan terbukanya hubungan gereja dengan masyarakat luar. Komitmen jemaat semakin meningkat untuk memberi bagi yang kekurangan, gerakan doa meningkat, dan gereja semakin kreatif dalam melayani.”

Penulis: Kikie

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here