ANAK MUDA TUH BEGINI – Hendra Marsetyoko, Tour Guide di Bali TURIS BULE LEBIH DISIPLIN

0
157
Hendra Marsetyoko, Tour Guide di Bali

Ingin liburan di Bali menjadi lebih maksimal?

Kalian perlu seorang tour guide (pemandu wisata) yang tepat. Hendra Marsetyoko alias Yoko adalah salah satu pilihan yang pas. Selain sudah berpengalaman 14 tahun, anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Gubeng Surabaya itu juga humoris.

Menjadi tour guide sesungguhnya bukan tujuan utama Yoko. Namun pekerjaan sampingan ini ternyata awet dilakoninya. Gimana ceritanya?

Tahun 2006, karyawan sebuah perusahaan farmasi ini dipindahkan ke Bali. Karena Yoko bertugas di lapangan menggunakan sepeda motor, ia pun jadi kenal banyak tempat di Pulau Dewata itu. Bahkan ia lalu hafal tempat-tempat menarik di sana.

“Saya senang pelajari semua budaya yang ada di Bali ini. Di sini tanpa kita belajar (khusus), kita bisa melihat budaya Bali itu secara langsung. Dan tugas saya untuk menjelaskan semua itu,” ucap Yoko soal dunia wisata kepada Tiara Gustiani dari Suara Baptis.

Awalnya, seorang teman meminta Yoko membantu turis Rusia berwisata. Masalah pun muncul lantaran sang turis tidak dapat berbahasa Inggris.

“Nah, saya pun jadi bingung. Jadi, kita ya kayak monyet, bahasanya tidak dipahami, hahaha…” ungkap Yoko. “Tapi ya, saya tetap berusaha. Akhirnya, dia hanya menggunakan isyarat dengan menunjuk peta.”

Karena hanya berniat menolong, Yoko menolak tip turis Rusia itu. Teman Yoko lalu bercerita, si turis jadi bingung dan menyebut Yoko terlalu baik.

Dari kejadian itu, Yoko berniat menjajal pekerjaan sampingan sebagai tour guide. Ia melihat, profesi ini dapat membantunya meningkatkan bahasa Inggris dan memperbanyak relasi. Maklum, ia bakal membawa turis ke restoran, pengrajin benda seni, juga bertemu sesama tour guide.

“Pengrajin atau pedagang sangat senang karena saya bisa membantu mencari pelanggan,” cerita Yoko dengan nada bahagia.

Mulailah ia memandu turis berwisata menggunakan sepeda motor. Sejak Agustus 2007 terjun di dunia wisata ini, Yoko tak terhitung mengantar turis dalam negeri maupun luar negeri.

Selain turis bule dikenai tarif jasa wisata lebih mahal, mereka juga lebih disiplin mengejar target tempat-tempat wisata yang ingin dikunjungi. Dari pengalaman ini, Yoko belajar untuk konsisten dengan rencana awal meskipun ada banyak hambatan di tengah jalan.

“Jadi tour guide turis bule itu susah. Saya ingat, waktu itu pernah mengantar bule, sudah gelap padahal. Destinasi terakhir di pantai. Meski begitu (hari sudah hampir malam), orang ini tetap ingat (rencana mengunjungi tempat itu) dan mau ke sana. Meski nggak bisa lihat sunset (matahari terbenam senja hari), dia merasa senang (karena) tetap bisa mencapai tujuannya,” ujar Yoko.

Selain pelajaran hidup yang berguna, banyak pengalaman unik dialaminya.

Sering nggak, mengantar turis cewek bule?

“Woaaa….  banyak,” sahut Yoko seraya tertawa.

“Justru teman saya banyak cewek bule. Kendalanya adalah kalau (mereka) ngantuk. Selama saya jadi tour guide, sudah tujuh penumpang yang jatuh dari motor (karena mereka tertidur). Di Tampaksiring, Ubud, Bangli… Mereka kan ringan, (sedangkan badan) saya berat, ya nggak terasa pas mereka jatuh. Ya, saya pun balik (ke tempat mereka terjatuh).  Untungnya mereka baik, nggak marah, karena tahu kalau mereka yang salah,” tutur Yoko.

Memandu rombongan wisatawan bukanlah perkara gampang. Maklum, tiap orang punya keinginan masing-masing sehingga sukar diatur. Apalagi bila sudah belanja di tempat wisata, biasanya meraka berpencaran. Akibatnya tidak dapat tepat waktu.

 

Namu sudah setahun lebih industri wisata lumpuh akibat pandemi Covid-19. Untuk mengakalinya, Yoko melayani jasa pengiriman barang-barang produk Bali ke kota-kota di Indonesia bahkan luar negeri.

“Dengan begini, saya tetap bisa bantu para pedagang di Bali. Dan daripada jauh-jauh ke Bali, ya mending saya bantu kirimkan semua untuk tamu-tamu. Saya kirimkan hingga ke luar negeri karena mereka kangen Bali,” terang Yoko.

Bagi dia, tidak adanya turis yang perlu dipandu sebagai tantangan untuk kreatif berkarya dan membantu orang lain.

Pulang ke Surabaya Demi Mengajar Sekolah Minggu

Sebelum terjadi pandemi, sebulan sekali Yoko selalu pulang ke Surabaya untuk memimpin acara kebaktian Minggu, memimpin pujian, atau mengajar Sekolah Minggu di GBI Gubeng. Ia pun akan pulang untuk merayakan Natal serta tahun baru bersama jemaat.

Juga setiap berlangsung Sekolah Injil Liburan (SIL) ia pulang untuk mengajar. Selain itu, Yoko senang membimbing murid-muridnya membuat prakarya.

“Saya senang bikin prakarya, saya bawain (benda-benda) etnik dari Bali.”

Bagi Yoko, mengajarkan budaya Bali akan membantu anak-anak mampu menghargai budaya dari daerah lain. Dan setiap kali pulang ke Surabaya, ia membawa suvenir.

“Bahkan anak-anak kadang-kadang nggak mau naik kelas karena takut nggak dapet suvenir,” ucapnya seraya tertawa.

Mengapa ia memberi perhatian besar pada Sekolah Minggu?

“Aku kan dulu juga produk Sekolah Minggu, dan sering mendapat didikan soal pelajaran dan soal Alkitab,” jawabnya.

Yoko termasuk sedikit orang yang menolak melayani hanya dalam teori. Tanpa banyak gembar-gembor, ia rutin menyisihkan uangnya untuk membeli bahan-bahan keperluan pokok (sembako) dan membagikannya kepada para pemulung di Bali.

Ia juga gelisah karena dalam situasi krisis, baik sebelum apalagi sesudah pandemi, banyak orang muda enggan terjun dalam pelayanan nyata. Beberapa kali ia mengajak sejumlah pihak untuk melakukan aksi pelayanan tetapi seringkali Yoko bertepuk sebelah tangan.

“Aku lebih senang (kalau) pemuda lebih melihat keluar (tembok gereja). Pelayanan tidak hanya di gereja. Dari dulu aku suka berbagi, apa pun rejekiku, untuk memberi semangat kepada mereka (yang kekurangan). Okelah, melayani Tuhan di gereja itu perlu. Tapi memperhatikan sesama di luar (gereja) itu juga penting. Aku pengen, anak muda (melayani) lebih lah, untuk memperhatikan bangsa ini, melakukan langkah nyata,” harap Yoko.

Lajang yang tampil penuh energi ini bersyukur bila bisa menjadi berkat bagi orang lain.

“Melayani bagi saya adalah (soal) hati. Melayani bukanlah kewajiban tapi lebih ke bakti kita kepada Tuhan. Saya memang lahir dari keluarga Kristen, tapi saya Kristen karena Tuhan yang memanggil,” tegas.

 

Penulis: Tiara Gustiani

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here