YRSBI – Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Baptis Indonesia, MERAYAKAN EMPATI DI TENGAH #INDONESIATERSERAH

0
98

“Kami tetap bekerja untuk kalian, kalian tetap di rumah untuk kami #tetapdirumah”

Kutipan ini mewakili perasaan dan perjuangan tim medis yang menjadi garda terdepan dalam penyelamatan penderita virus corona (covid-19). Berbagai dukungan meramaikan media sosial baik berupa sumbangan alat pelindung diri (APD) dan berbagai tagar dari warganet bagi tim medis.

Mei 2020 lalu, muncul tagar #indonesiaterserah dan #sukasukakalianaja yang ramai dibicarakan di media sosial hingga media massa nasional. Kedua tagar tersebut mengungkapkan keprihatinan dan kekecewaan kalangan medis yang melihat kerumunan orang di berbagai tempat dalam situasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tanpa
mengindahkan protokol kesehatan.

Persoalan tersebut juga dibahas dalam kapel virtual Yayasan Rumah sakit Baptis Indonesia (YRSBI) berjudul “Merayakan Empati”, Sabtu 30 Mei 2020 lalu. Ketua Pengurus YRSBI Pdt. Victor Rembeth dalam kapel virtual tersebut menyampaikan, “(Situasi saat ini) sangat-sangat mengkhawatirkan. Namun kita harus memahami perasaan para tenaga kesehatan. Betapa sulitnya dan betapa ndableg (bandel)-nya orangorang untuk tetap melakukan kegiatan di luar. (Ini) membuat tenaga kesehatan yang mungkin seperti saat Tuhan Yesus
di Taman Getsemani berkata, ‘Kalau boleh cawan ini lalu daripada-Ku’. Mau menyerah saja. Tetapi ada kekuatan lain di tengah bangsa ini yaitu empati.”

Kegeraman para tenaga kesehatan dan masyarakat yang memahami betapa mematikannya Covid-19 ini bisa dimengerti. Di saat orang lain dapat menikmati waktu lebih banyak bersama keluarga di rumah, para tenaga kesehatan harus berpisah dari orang-orang yang dikasihinya. Di saat orang lain dapat berkreasi dan menikmati berbagai jenis makanan, mereka harus berjuang dengan semua perlengkapan APD yang tidak bisa dilepas semaunya, bahkan untuk sekadar buang air kecil sekalipun.

Di saat orang lain bisa bebas mengatur jam kerjanya dari rumah, mereka harus berjuang merawat semua pasien yang datang di rumah sakit. Di saat orang lain dapat menikmati waktu dengan berbagai kegiatan di rumah, mereka harus berusaha keras menyelamatkan nyawa orang lain dengan mempertaruhkan keselamatan diri. Mereka tidak menyerah bahkan di saat orang lain mulai tidak mengikuti anjuran pemerintah.

Tak hanya memakan ribuan korban jiwa, covid-19 juga mengubah tata cara bergaul antar sesama bahkan dalam beribadah rutin di seluruh dunia. Dalam kapel virtual YRSBI tersebut, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta, Pdt. Septemmy E.
Lakawa mengatakan, merayakan empati adalah apakah kita siap menderita bersama orang lain, dan memiliki hati yang terbuka bagi orang lain yang menderita, meski kita harus menanggung risikonya. “Mungkin hati kita dilukai mereka yang hendak kita tolong, bahkan kesehatan kita yang turut terancam.

Dalam situasi inilah, mengorientasikan hidup kita tidaklah mudah, kita harus menempatkan orang yang menderita di atas kepentingan kita.” Ia melanjutkan, “Dalam situasi saat ini, kita semakin disadarkan bahwa hidup dan mati kita ternyata saling bergantung dengan hidup dan mati orang lain. Sehingga merayakan empati adalah ketika hati kita, sumber terdalam kemanusiaan kita, siapa pun kita, apa pun agama kita, digerakkan oleh Yang Mahakuasa dan kita tidak menolaknya untuk menolong orang yang menderita, pada waktu dan tempat yang tepat.”

Kapel virtual ini menayangkan bagaimana dokter dan paramedis rumah-rumah sakit Baptis tetap berjuang meski rentan tertular Covid-19 ketika menolong pasien. Rani Theorupun, ibunda dr. Cynthia Theorupun yang melayani di Klinik Baptis Kupang, Nusa Tenggara Timur, sempat mengkhawatirkan keselamatan anaknya. “Saya turut senang, Cynthia melayani di bidang kesehatan. Namun saya juga khawatir, (di tengah pandemi Covid-19 ini) Cynthia harus melayani semua orang tanpa memandang siapa mereka, baik yang sakit biasa ataupun yang terpapar Covid-19,” ujarnya Kekhawatiran istri Pdt. Stephen Theorupun, Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Elim, Ambon ini sangat beralasan. Bukan hanya harus melepas putrinya bertugas jauh dari rumah, namun juga karena APD sangatlah langka pada awal pandemi Covid-19.

Namun Rani juga mengakui, keputusan Cynthia menjadi dokter adalah keputusan yang baik meski menanggung risiko. Rani percaya, Tuhan akan menjaga, menolong dan melindungi Cynthia dalam pelayanannya. Ia berharap, bagaimana pun situasinya, dr. Cynthia tetap melakukan tugasnya sebagai dokter dengan sepenuh hati, penuh kasih, tetap bersemangat dan tidak pernah menyerah.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan dr. Kurnia Hezkia Yonatan anak Direktur Rumah Sakit (RS) Baptis Kediri Jawa Timur, dr. Grace Lomboan. Sebagai dokter, dr. Kurnia mengerti benar bagaimana ibunya harus bertugas di tempat yang berisiko tinggi dan menguras tenaga fisik maupun mental. “Saya berharap, Mama (dr. Grace), tim medis bahkan masyarakat tetap mengikuti protokol pemerintah. Saya juga berharap Mama tetap melakukan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya di tengah wabah Covid-19 ini.

Tidak hanya melayani manusia tetapi melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa,” tuturnya. Sementara mertua dr. Arnold Kabaria Serworwora, Wakil Direktur Penunjang Medis, Pendidikan dan Pengembangan RS Baptis Kediri mengaku, setiap hari ia dengan tekun mendoakan menantunya yang tengah bertugas di rumah sakit. Ia juga bersyukur banyak orang menyumbangkan APD kepada para dokter di RS Baptis. Ia berharap, menantunya yang menjadi dokter kandungan maupun para dokter lainnya tetap melibatkan Tuhan. Dengan begitu, pasien merasa bersukacita ketika para dokter melayani dengan kasih.

“Setiap hari saya berdoa untuk Arnold supaya tetap sehat, semangat dalam menjalani tanggung jawabnya sebagai dokter dan saya juga berdoa bagi mereka yang mendukung (tenaga kesehatan) dengan menyumbangkan APD supaya selalu diberkati Tuhan,” ungkapnya. Martha Hapsari yang membawakan acara bersama Pdt. Victor dalam kapel
virtual ini menyampaikan, empati tidak hanya tentang perasaan tetapi dikerjakan dan menjadi berkat. Seperti halnya yang dilakukan Puji Lestari di GBI Ngesrep Balai Pembinaan Warga (BPW) Sonorejo, Kradenan, Grobogan Jawa Tengah. Puji mengajak ibu-ibu di sekitarnya memproduksi masker kain untuk dibagikan warga sekitar atau orang-orang yang dijumpai di jalan. Masker tersebut juga dikirimkan ke RS Baptis Kediri dan para hamba Tuhan yang membutuhkan.

Beberapa orang menyumbangkan kain untuk bahan masker tersebut, sedangkan Lurah Rejosari menanggung biaya pembuatannya. Hingga kini, Puji dan para ibu di Kelurahan Rejosari berhasil memproduksi dan mengirimkan ribuan masker kain. Bermula dari empati terhadap orang-orang yang berisiko terinfeksi Covid- 19, Puji juga turut membantu putaran roda ekonomi masyarakat sekitarnya dengan menjahit masker.

Bukan hanya masyarakat awam, Direktur RS Imanuel Bandar Lampung dr. Daniel Novian pun sempat khawatir menyaksikan situasi awal pandemi covid-19. “Ketika awal pandemi Covid-19, semua orang termasuk kami, tim medis sempat khawatir. Apalagi pada saat itu APD sangat terbatas dan mahal. (Kalau sekadar) mahal, nggak apa-apa. Tetapi (juga) mencarinya sulit. Namun Tuhan menggerakkan semua unsur masyarakat dan dukungan itu datang tepat pada waktunya,” ungkapnya.

Mengalami masa sulit pada saat pandemi Covid-19, tak serta-merta menjadikan RS Imanuel melulu memikirkan diri sendiri. Pada saat Idul Fitri Mei 2020 lalu, rumah sakit ini membagikan bahan-bahan kebutuhan pokok (sembako) bagi warga
sekitar. Menurut dr. Daniel, saat seperti inilah kita perlu saling tolong.

Ia juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua masyarakat yang sudah mendukung rumah-rumah sakit Baptis. Menutup kapel virtual yrbi tersebut, Pdt. Septemmy mengajak setiap orang merayakan empati di tengah situasi sulit supaya dapat menguatkan motivasi dalam melayani Tuhan, bahkan di tengah situasi yang berbahaya.

“Dari kisah empati ini kita diingatkan bahwa apa pun yang kita lakukan, sesederhana apa pun, menjadi tanda bahwa hati kita terbuka kepada Tuhan. Dan hati yang terbuka kepada Tuhan adalah hati yang mendoakan orang-orang yang dekat dengan kita, maupun orang-orang yang tidak kita kenal, sehingga doa menjadi salah satu tanda empati. Wabah Covid-19 menjadikan kita sungguh-sungguh menjadi sesama bagi orang lain,” tutupnya.

 

Penulis: Juniati Tasik Lola
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here