Youth Leadership Training: GENERASI MUDA SIAP MEMURIDKAN

0
188

Bandar Lampung – Departemen Pemuda Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia  (BPN) menggelar acara seminar nasional Youth Leadership Training (YLT) dengan mengusung tema “I-disciple”. Acara bertajuk kepemimpinan ini bertujuan untuk melengkapi dan melatih para pemimpin kaum muda, sekaligus kaderisasi kepemimpinan nasional gereja Baptis Indonesia. Secara berkesinambungan dan terarah, Departemen Pemuda sejak awal memang telah berkonsentrasi pada gerakan regenerasi kepemimpinan. Maka program-program yang dilakukan selama empat tahun ke belakang ini pun diarahkan ke sana (regenerasi kepemimpinan, red.).

Ketua Departemen Pemuda BPN GGBI, Pdm. Krisna Wahyu Surya melalui sambutannya, menyatakan bahwa tema “I-disciple” tersebut mengekspresikan tema besar BPN GGBI tahun 2018 -mengekspresikan acara tahun lalu. yakni “Multiplikasi Pertumbuhan dan Kedewasaan Melalui Pemuridan” berdasarkan 2 Timotius 2:1-2, “Departemen Pemuda sejak awal, menyiapkan dan memberikan kesempatan kaum muda Baptis Indonesia terlibat dalam kepemimpinan di pelayanan Gereja Baptis Indonesia baik di lingkup lokal, regional, nasional dan bahkan internasional, yakni Asia Pasifik,” sebutnya.

Program Departemen Pemuda BPN GGBI yang disiapkan berdasarkan input dari sejumlah pemimpin kaum muda Gereja Baptis Indonesia dan survei Departemen Pemuda GGBI tentang keperluan untuk secara berkesinambungan bersekutu, saling berbagi dan memperlengkapi kaum muda gereja Baptis Indonesia. Tujuan utamanya ialah memperlengkapi dan melatih para pemimpin kaum muda serta kaderisasi kepemimpinan nasional Gereja Baptis Indonesia.”

Acara yang digelar selama empat hari, 10 -13 Januari 2019 ini dihelat di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Bandar Lampung. Melibatkan 80 peserta dari berbagai gereja Baptis, 19 panitia pelaksana, tiga panitia pengarah, 11 Pembicara, dua direktur lembaga, serta lima gembala sidang setempat. Pun diramaikan oleh grup band Aboda dan para pemusik dari GBI Karunia Tuhan.

Dalam acara pembukaan di hari pertama, seluruh peserta berkenalan dan langsung menyanyikan lagu tema “Aku Murid, I Disciple” bersama-sama. Lagu yang liriknya ditulis oleh Rita Manik, Ketua Pelaksana YLT ini digarap bersama Jimmi W. Adit.

Memasuki acara inti, khotbah Ketua BPN GGBI, Pdt. Yosia Wartono yang memberikan gambaran umum tentang makna murid dan pemuridan mengantarkan peserta ke materi yang lebih dalam.

Selanjutnya, peserta dibekali dengan materi mengenai BPN GGBI dan YRSBI (Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia). Materi terkait BPN dipaparkan Pdt. Royo Haryono selaku Wakil ketua BPN GGBI, sedangkan YRSBI disampaikan oleh dr. Dolly Irbantoro, Direktur RS Baptis Batu. Dengan gayanya yang khas dan humoris Pdt. Royo menjelaskan tentang sejarah, visi, misi, tujuan, cita-cita, serta serangkaian program BPN GGBI, termasuk tata organisasi GGBI juga lembaga-lembaga dalam naungan GGBI.

Sedangkan presentasi dari YRSBI, dr. Dolly yang akrab disapa Dokter “Oi” ini tak hanya memperkenalkan RS Baptis Batu, ia juga memperkenalkan beberapa RS Baptis lain di bawah naungan YRSBI. Ia menegaskan, meski bergerak di bidang kesehatan, YRSBI tetap merupakan lembaga yang memegang teguh prinsip umat Baptis untuk menjadi berkat dan mewartakan Kabar Baik.

Acara berlanjut ke materi MD2 Rally (Making Disciples Multiplying Disciples) bagian pertama. Dibawakan oleh Pdm. Febbi Timotius, Gembala Sidang GBI Kartasura, dalam sesi ini peserta banyak belajar mengenai pengertian murid, perintah untuk memuridkan, dan hati yang tepat untuk menjadi seorang pembuat murid.

“Seseorang yang belajar Injil, berhubungan dengan Injil, dan mengkomunikasikan Injil”, demikian salah satu definisi murid, disebutkan Pdm. Febbi.

Turut menyinggung SAIN (Sayang Anak Indonesia), salah satu program BPN GGBI yang sempat di-launching dalam MUNAS 2018 Maret lalu. Pdm. Febbi yang juga bagian dalam tim SAIN memperkenalkan cara berbeda dalam metode pemuridan. Menurutnya –dalam program SAIN- target pemuridan adalah anak-anak, dengan metode bermain yang akan lebih mudah diterima dan lebih melekat dalam pemikiran anak, sebab anak akan memahami dengan baik Injil itu. Ia menegaskan tentang bagaimana memanfaatkan IPTEK di era sekarang untuk dapat mengkomunikasikan Firman Tuhan kepada siapa saja. Dalam hal ini, imbuhnya, seseorang dituntut untuk kreatif dan inovatif menggunakan hikmat dari Tuhan dalam menjalankan Amanat Agung.

Di hari kedua, para peserta dan seluruh panitia mengikuti kebaktian di RS Imanuel Way Halim, Bandar Lampung bersama para karyawan Kristen. Saat kunjungan di RS Imanuel, peserta banyak belajar mengenai mekanisme, visi, misi, tujuan, serta berkenalan dengan banyak karyawan yang ada di RS tersebut. Para peserta yang sudah dibagi dalam 7 kelompok ini diajak berkunjung ke bangsal-bangsal RS Imanuel dan diajarkan bagaimana melakukan pelayanan pastoral rumah sakit. 

Kunjungan selanjutnya berpindah ke sebuah sekolah Baptis, yakni TK dan SD Karunia Imanuel, atau yang umum disebut TK dan SD Karim. Sekali lagi peserta belajar mengenai pengelolaan lembaga pelayanan yang tidak meninggalkan prinsip profesionalitas.

Sesi berikutnya melanjutkan materi MD2 Rally (Making Disciples Multiplying Disciples. MD2 Rally bagian II ini disampaikan oleh Pdm. Mesakh Eka Timesa.

“Elemen yang paling penting dari sebuah pemuridan ialah kehidupan murid itu sendiri,” tandas hamba Tuhan muda yang kini menggembalakan di GBI Waru Madyopuro, Malang. Ditambahkannya, bahwa dalam suatu pemuridan, seorang pemimpin –khususnya yang memimpin para pemimpin lainnya- harus mengetahui apa yang menjadi fokus dan yang perlu dikembangkan kemudian.

“Menjadi pemurid harus memahami roda pemuridan, yakni harus rajin berdoa, membaca Firman Tuhan, memiliki persekutuan yang baik dengan Tuhan, dan mampu menjalin hubungan dengan orang yang belum percaya,” paparnya.

 Pun Pdm. Mesakh mengingatkan para generasi muda Baptis agar dapat menjadi pemimpin yang secara intensional meneladani Kristus, berpola pikir Alkitabiah, cerdas dan berhikmat, mampu memanfaatkan waktu dengan produktif, dan bertanggung jawab atas yang dipimpin.

Berganti sesi, kini giliran Tim Rebana (Relawan Baptis Nasional). Dalam kesempatan itu, Ketua Rebana yang sekaligus Ketua Departemen Sosial BPN GGBI, Doni Wijaya menjelaskan tentang identitas Rebana, yakni organisasi sosial kemanusiaan yang kerap melakukan sosialisasi tanggap bencana, hingga terjun langsung menolong para korban bencana alam. Selain mempresentasikan pelayanan ini, Doni juga menantang para pemuda Baptis untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan Rebana. Pasalnya saat ini Rebana sedang banyak membutuhkan tenaga ahli di berbagai bidang.

Berikutnya, di hari ketiga, setelah sesi Pendalaman Alkitab yang dipimpin Ps. Tim Hyunmo Lee, dari Korean First Baptist Church of Dallas, peserta diajak membuat laporan kunjungan lembaga menggunakan metode analisa SWOT. Dipandu salah seorang peserta yang cakap dibidang ini, Immanuel Wanda Nugraha menolong setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kelompoknya. Hasilnya disimpulkan bahwa semua lembaga berada dalam tahap progresif yang artinya sudah sesuai dengan apa yang diprogramkan. Hanya saja masih perlu masukan dan inovasi program untuk terus bertumbuh ke arah yang lebih baik. 

Sampai di puncak acara, peserta merayakan Youth Revival dan Talent Show yang dipandu oleh Aboda Band. Dalam Youth Revival ini, empat pemuda mengambil keputusan sebagai hamba Tuhan penuh waktu ketika khotbah tantangan disampaikan oleh Pdt. Budiyadi (Ketua BPD GGBI Lampung).

Para personel band Aboda sendiri mengakui bahwa kaum muda Baptis merupakan kaum muda yang selalu bersemangat tanpa menghilangkan identitas Baptisnya. Mengenai pemuridan, bagi mereka, murid dalam proses pemuridan itu tidak melulu harus yang lebih muda, “Dibutuhkan kerendahan hati untuk belajar kepada mereka yang muda namun berhikmat,” imbuhnya.

Band yang para personelnya merupakan saudara kandung ini ingin agar ke depannya mereka dapat semakin sering memberikan edukasi musik secara teknis. Menurut mereka banyak para kaum muda Baptis berbakat dan memiliki potensi besar, yang membutuhkan pembekalan.

Di hari terakhir,para peserta disebar ke empat gereja untuk mengikuti kebaktian. Keempat gereja itu antara lain, GBI Isa Alamasih, GBI Karunia Tuhan, GBI Kalvari, dan GBI Pertama Lampung. Peserta dianjurkan untuk dapat melibatkan diri dalam pelayanan di gereja-gereja tersebut sesuai jadwal kelompok masing-masing.

Usai kebaktian, para peserta serempak kembali ke aula utama untuk menutup serangkaian acara YLT dalam ibadah penutup. Menggenggam selembar sertifikat, puluhan pemuda Baptis yang telah katam dibina selama empat hari tiga malam ini, harus segera membuktikan komitmen dan tekatnya sebagai para pemimpin di dunia yang lebih luas.

Penulis: Tiara

Editor: Febbi & Andry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here