Utuslah Aku : SUKACITA MENGHASILKAN SUKACITA

0
119

“Tuhan menginginkan dan memanggil saya untuk menjadi penginjil, bukan menjadi gembala sidang” ungkap Sutadji, pensiunan Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Bengkulu kepada Aris Santoso dari Suara Baptis, Sabtu  28 November 2019.

Pria kelahiran Tulungagung Jawa Timur, 13 Maret 1959 itu kini tinggal di kompleks LPPB bersama istrinya, Dewi Kristyani serta kedua anaknya, Tiara Gustiani Ajeng Sutadji dan Yudistira Dwiyana Nugraha Sutadji.

Sutadji adalah sosok yang pendiam, tegas, namun menyayangi keluarganya. Setiap hari ia mengajarkan arti taat pada Tuhan Yesus kepada anak-anaknya, demikianlah kesan sang ayah bagi Tiara.

Tak hanya mengajarkan ketaatan kepada anak-anaknya, Oom Ji sapaan akrabnya, juga selalu menyiapkan waktu setiap hari untuk membaca Alkitab bahkan buku-buku rohani. Meski sudah pensiun, Oom Ji tidak serta merta berdiam diri dan tak mengerjakan apa pun. Ia tetap setia bekerja tanpa mengeluh. Perjalanan hidupnya yang penuh sukacita sepanjang pelayanan di LPPB.

Ayah dari dua anak ini merupakan lulusan Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang. Ketika itu, salah satu dosennya memberikan informasi bahwa ia mempunyai teman yang sedang mencari tenaga kerja untuk membuka lahan percontohan pertanian di Bengkulu.

Menanggapi tawaran ini, Sutadji mengatakan siap untuk menerima pekerjaan itu. Ia kemudian bertemu dengan Ron Backer yang bertanggung jawab mencari tenaga kerja. Ron Backer kemudian menjelaskan tujuan dari pertanian ini dibentuk adalah sebagai sarana orang-orang bisa mendengar Injil. Ia berharap melalui pertanian ini, tiap orang yang terpanggil menjadi seperti Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan orang bisa mendengar Injil dan diselamatkan.

Memiliki hobi bertani, menjadi motivasi sendiri bagi Sutadji menanggapi tawaran Ron Backer. Tak hanya itu, ia juga rindu membagikan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus.

Ketika mendengar tujuan dari pembentukan LPPB ini, Sutadji yakin bahwa Tuhan memanggilnya ke LPPB untuk menjadi penginjil melalui apa yang dapat dilakukannnya sebagai sarana penjangkauan.

Pria yang sudah berusia 60 tahun ini, memiliki perjalanan pelayanan di LPPB begitu luar biasa. Ada keseimbangan antara jasmani dan rohaninya.

Tak hanya dibekali dalam hal pertanian, Sutadji bersama dengan teman-temannya yang lain pun dibekali melalui pelajaran Alkitab ekstensi. Melalui pelajaran inilah Sutadji bertumbuh bersama teman-temannya hingga akhirnya terbentuklah suatu perkumpulan pembinaan rohani. Kelompok ini kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sinar Kasih Bengkulu.

“Sukacita menghasilkan sukacita,” tutur pria yang gemar menanam berbagai pohon buah-buahan itu. Pengalamannya bersama Tuhan Yesus dalam perjalanan pelayanan membawa sukacita baginya. Ia melihat bagaimana Tuhan berkarya dalam kehidupan orang-orang yang ia jumpai.

Rintangan tentuk tak bisa dielakkan dalam pelayanan. Namun Sutadji selalu mengajak teman-temannya dan mengingatkan bahwa mereka sudah menerima sukacita dari Kristus. Ia juga sering mengingatkan bagaimana Tuhan menolong mereka ketika menghadapi tiap rintangan pelayanan.

Kesatuan hati mereka mengandalkan Tuhan yang pada akhirnya membuat Sutadji bersama teman-temannya semakin siap menghadapi tantangan dan tentunya sukacita di dalam Tuhan.  Tak hanya itu, mereka menyaksikan orang-orang baru yang menerima serta mengaku percaya kepada Kristus.

Sudah 27 tahun Sutadji mengabdi di LPPB sebagai staf hubungan masyarakat (humas) dan personalia. Ia membentuk program-program pertanian dengan mengemas menjadi materi-materi yang menarik sambil menyelipkan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan.

Salah satu program yang dibentuk adalah program magang yang umumnya dilaksanakan selama satu bulan. Melalui program ini, banyak dari teman-teman sekerja Sutadji yang dipersiapkan, dibekali serta bertumbuh yang pada akhirnya menghasilkan orang-orang militan dalam melakukan penginjilan (PI).

Sutadji yang notabene bukan lulusan pertanian pun menerima tawaran dari pimpinan LPPB untuk mengambil kuliah pertanian di Universitas Hazairin (Unihaz) Bengkulu. Sambil bekerja, ia belajar seluk-beluk pertanian di universitas swasta tersebut. Maklum, melayani di LLPB tak mungkin hanya mengandalkan pengetahuan teologi. Sutadji pun dituntut untuk memiliki pengetahuan akan pertanian yang dapat menunjang pelayanannya.

Setiap kali ditanya motivasi dalam melayani, suami Dewi Kristyani ini selalu menjawab bahwa ini adalah panggilan. “Kita berasal dari Tuhan, hidup kita adalah milik Tuhan, bukan milik kita, dan itu hanya sementara. Sekarang saya berusia 60 tahun. Kalau saya melihat kembali ke belakang, perjalanan hidup saya sampai sekarang rasanya itu baru kejadian kemarin. Begitu cepat dan singkatnya hidup kita.”

Ia melanjutkan, “Tuhan memberikan kesempatan hidup di dunia ini, untuk apa? Itu yang harus ditemukan. Sebab kalau kita tidak menemukan itu berbahaya, kita akan hilang akan terpisah selamanya dengan Tuhan yang memberikan kita kesempatan hidup. Jadi, yang saya tangkap setelah berusia lanjut, tujuan hidup yang sebentar ini, kita harus kenal dengan Tuhan yang memberi kita kesempatan hidup.”

Suasana hangat di lingkungan LPPB membuat Sutadji merasa nyaman tinggal di sana. Semua orang ada LPPB ikut ambil bagian untuk membangun agar suasana damai begitu dinikmati. Mereka saling mengasihi, melengkapi serta mengingatkan satu sama lain.

“Tuhan menginginkan kita mengasihi dan hukum yang pertama itu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal dan kekuatan. Dan juga mengasihi sesama. Kita belum benar-benar mengasihi sesama kita kalau kita belum menceritakan Tuhan Yesus,” ungkap Sutadji saat ditanya momen spesial dalam pelayanannya.

Ia melanjutkan, kasih itu harus diterjemahkan sampai kita menceritakan Yesus kepada sesama. Kalau kita mengatakan mengasihi mereka, mengasihi sesama tetapi tidak menceritakan Yesus, berarti kita belum mengasihi. Ini yang selalu diingat Sutadji dalam perjalanan pelayanan di LPPB.

Firman Tuhan dalam 1 Petrus 1:24, “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur,” menjadi pegangan Sutadji. Firman Tuhan tersebut terus menginspirasi hidupnya dalam melayani sekalipun usianya telah memasuki usia indah.

“Manusia hidup itu seperti rumput. Rumput itu layu dan bunga itu gugur, tetapi Firman Tuhan itu kekal, karena Firman Tuhan itu sesuatu perwujudan dari Tuhan,” tutup Sutadji.

Penulis: Yohanes Aris Santoso

Editor: Juniati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here