Tunanetra Kristen “FRUSTRASI DAN RENDAH DIRI PENYANDANG TUNANETRA”

0
81

“Orang buta butuh keselamatan! Jangan sampai di bumi mereka tidak bisa melihat terang, mati pun dalam keadaan gelap.”

Dari jauh, suasana ibadah ini tampak biasa saja. Ada dua pemimpin pujian berdiri di atas panggung. Seorang pria dan wanita, empat orang penyanyi dan empat pemusik yang memainkan drum, keyboard, gitar melodi dan gitar bass. Ibadah yang dalam sebuah acara Perwakilan Gereja-gereja dan Perkumpulan Kristen (PGPK) Kota Bandung ini pun dimulai. Musik dimainkan, lagu pun dinyanyikan.

Namun yang menarik, gestur mereka terlihat sama, agak kaku dan menghadap miring beberapa derajat dari  penonton di depannya. Empat penyanyi memegang membawa kertas kecil di tangannya. Dan ketika mereka menyanyi, jarinya melakukan gerakan meraba-raba.

Wartawan Suara Baptis (SB) pun mendekati panggung. Ternyata, semua yang melayani ibadah malam itu penyandang tunanetra.

“Tahun ini, ulang tahun PGPK melibatkan saudara-saudara kita dari Persekutuan Tunanetra Kristen Indonesia (PETKI),” ujar Ketua PGPK Bidang Pendidikan Pdt. Helly Harianto.

“Ini baru pertama kali dalam sejarah PGPK, melibatkan saudara-saudara tunanetra. Yang berkotbah juga tunanetra,” ujar Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Blok Kupat Bandung ini.

Dan benar apa yang dikatakan Pdt. Helly. Pada saat memasuki khotbah, berdirilah seorang pria. Sambil dituntun, ia pun naik ke mimbar.

Pdt. Then Willing Hariyanto namanya. Ia mengalami kebutaan total sejak umur 16 tahun. Namun kekurangan itu tertutupi. Suaranya lantang penuh percaya diri. Pemahaman   teologinya pun mumpuni.

Dalam kotbahnya yang diambil dari Yohanes 9:1-41 tentang Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir, pendeta yang bergelar magister teologi itu mengatakan, “Yesus menjawab kebutuhan orang buta. Mencelikan mata orang buta. Pada akhirnya orang buta tidak hanya celik mata jasmaninya, tetapi juga celik rohaninya. Dia beroleh keselamatan!” ujarnya lantang.

“Bagaimana dengan gereja? Gereja berpikir, dengan memberi bantuan uang, makanan, pakaian, itu sudah cukup. Orang buta butuh keselamatan! Jangan sampai di bumi mereka tidak bisa melihat terang, mati pun dalam keadaan gelap! Berapa banyak gereja yang ramah terhadap orang buta? Berapa banyak gereja peduli tentang keselamatan orang-orang penyandang disabilitas? Mendampingi mereka saat ibadah?” tantangnya.

Pernyataan Pdt. Then benar! Dikutip dari www.kbr.id 25 Desember 2018, dari 4.300 rumah ibadah berbagai agama di Kota Bandung, hanya dua yang ramah terhadap penyandang disabilitas, yakni Mesjid Ibnu Ummi Maktum dan Gereja Caritas. Keduanya berlokasi di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, Jl. Pajajaran Bandung. Bayangkan, hanya dua!

Menurut Suhendar, juru bicara Ikatan Alumi Wyata Guna (IAWG) Bandung, minimnya sarana rumah ibadah yang ramah menyebabkan kebanyakan penyandang disabilitas menjalankan ibadahnya secara perorangan.

Apa yang dikatakan Suhendar, benar. Bagi penyandang tunanetra dan tunadaksa (cacat tubuh), menaiki tangga merupakan hal sulit. Dan tidak banyak juga orang yang mau membantu mereka. Sementara banyak rumah ibadah sekarang menggunakan tangga tanpa melengkapi dengan jalur khusus kursi roda atau lift.

Ketidakramahan pun dialami para penyandang tunarungu. Berapa banyak rumah ibadah menyediakan tenaga penerjemah atau setidaknya teks bagi mereka?

Menjawab kebutuhan rohani para disabilitas netra Kristen, dibentuklah PETKI.

“PETKI tidak hanya menguatkan iman rohani Kristen tetapi juga menyatukan para penyandang tunanetra Kristen dalam satu kasih, dan memperjuangkan kesejahteraan mereka,” kata Ketua II PETKI Nasional Lenny Marlina.

Ia melanjutkan,  PETKI dulu dikenal dengan nama Gabungan Kristen Tunanetra (GKT) Ebenhaezer dan berdiri 18 Februari 1964 di Bandung. Kini PETKI menjadi sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) tunanetra yang berbasis kristiani. Ketuanya, Yanto Pranoto adalah pengacara sekaligus penyandang tunanetra.

PETKI hadir di  13 provinsi dan beranggotakan 720 ribuan tunanetra kristiani di seluruh Indonesia. Ormas ini memiliki 13 dewan pengurus daerah (DPD) di tingkat provinsi serta dewan pengurus cabang (DPC) di tingkat kabupaten atau kota. Di Bandung sendiri anggota aktifnya sekitar 200 tunanetra.

“Memperjuangkan hak dan kesetaraan hidup kaum tunanetra sebagai warga negara Indonesia termasuk perlindungan hukum, merupakan visi dan misi PETKI,” tutur Lenny.

Program PETKI secara umum antara lain melakukan bimbingan konseling, pendidikan, advokasi, kesempatan kerja, usaha-usaha produktif secara perorangan maupun kelompok. PETKI juga mendorong peningkatan kesejahteraan, seni dan budaya, organisasi dan sarana, hubungan masyarakat, publikasi juga penelitian dan pengembangan.

PETKI juga memusatkan perhatian pada program pendampingan, pembelaan, bimbingan konsultasi baik kepada disabilitas umum, tunanetra dan keluarga yang memerlukan konsultasi atau penanganan khusus.

Ketika ditanya program tahun ini, Lenny yang merangkap Ketua DPD Jawa Barat menjelaskan, “Banyak yang kami lakukan. Selain persekutuan rutin anggota, kami melakukan pelayanan di berbagai gereja melalui paduan suara, vocal group, kesaksian dan lainnya. Kami juga mencetak Alkitab dalam huruf braille dan audio, memberikan beasiswa dengan nilai yang berbeda. Tingkat SD (sekolah dasar) Rp 60 ribu, SMP (sekolah menengah pertama) Rp 80 ribu, SMA (sekolah menengah atas) dan setaranya Rp 100 ribu. Nilai yang kami beri hanya untuk membantu. Baru-baru ini kami juga melakukan pelatihan komputer bicara untuk tunanetra,” lanjutnya.

Ketika disinggung mengenai keuangan PETKI, Lenny bertutur, “PETKI itu ajaib, tanpa ada sponsor tetapi operasional tetap bisa berjalan. Puji Tuhan, ini semua karena kasih karunia Tuhan. Seperti malam ini, persembahan yang terkumpul diserahkan buat PETKI. Ya, begitu saja kami mendapatkan dananya.”

Dari tempat berbeda, Bendahara PETKI Bandung Sucipto menjelaskan, “Selain uang persembahan setiap persekutuan, keuangan PETKI (berasal) dari iuran anggota. Uang pendaftaran awal sebagai anggota baru Rp 10 ribu dan iuran wajib minimal per tahun Rp 20 ribu.”

Sampai saat ini, PETKI masih menghadapi beberapa kendala seperti sulitnya mendapatkan fasilitas, perizinan-perizinan dan bantuan dana.

Yohanes Teguh, salah satu anggota PETKI yang buta sejak lahir berujar, “Saya secara resmi menggabungkan diri dengan PETKI dari tahun 2010. Yang membuat saya tertarik bergabung adalah upaya PETKI mempersatukan para tunanetra Kristen dalam suatu persekutuan. Kami mengadakan persekutuan bersama, berdoa, sharing dan belajar Firman Tuhan. Secara rohani, saya dikuatkan.”

Dengan bergabung dalam PETKI, Teguh tidak meresa sendirian lagi. “PETKI menciptakan suasana yang penuh cinta kasih dan kekeluargaan. Saya banyak belajar di sini, antara lain bagaimana saya bersikap dan memiliki percaya diri,” lanjutnya.

PETKI pun mendampingi para disabilitas netra secara psikologis.

“Minder dan sulit bergaul itu pasti. Frustrasi, iya. Itu yang dialami teman-teman, khususnya yang baru menjadi tunanetra. Di antara mereka ada pendeta, karyawan sebuah bank, guru gambar, intinya mereka orang-orang yang mapan dalam pekerjaan. Nah, ini adalah salah satu tugas PETKI, bagaimana menolong mereka menemukan kehidupan yang baru dan menikmatinya,” kata Lenny menyandang gangguan penglihatannya (low vision).

“Waktu yang diperlukan masing-masing berbeda untuk teman-teman ini bisa menerima kondisi tunanetra. Ada yang bertahun-tahun, ada pula yang cepat,” lanjutnya.

Lenny selalu mengingatkan mereka supaya menemukan hidup yang baru. Ia selalu berusaha meyakinkan bahwa para penyandang tunanetra mempu melakukannya dan mengembangkan talenta-talenta milik mereka.

“Saya senang, teman-teman mau tampil dan melayani Tuhan seperti malam ini. Sebuah sukacita tersendiri buat saya. Diperlukan kesabaran dalam mendampingin teman-teman. Kagum dan senang sih, kalau dalam waktu singkat mereka bisa menyadari kondisinya dan bangkit untuk hidup yang baru,” tutur Lenny.

Satu bulan sekali, setiap Selasa PETKI mengadakan persekutuan rutin di Gereja Caritas Wyata Guna.

Sejauh mana kepekaan gereja-gereja di Indonesia, khususnya gereja-gereja Baptis Indonesia untuk memperhatikan dan melayani para penyandang disabilitas ini?

 

Penulis: Kiki & Masdharma

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here