Sunday School Done Right: “MEMBACA FIRMAN TUHAN SAJA TIDAK CUKUP” by: Alex S.

0
15

Salah satu 5P dalam Sunday School Done Right (SSDR) adalah “Pemuridan” (artikel “Sekolah Minggu Sebagai Mesin Pertumbuhan Gereja, (bagian II )Suara Baptis /SB Edisi I Februari 2017). Landasan dari pemuridan adalah Alkitab atau Firman Tuhan (FT). Sementara pemuridan adalah landasan dari “P” yang lainnya, yaitu penjangkauan, penginjilan, pengajaran, dan pelayanan. Dengan kata lain, tanpa pengetahuan dan pengertian yang benar tentang FT, agaknya tidak mungkin seorang anak Tuhan yang sudah lahir baru dapat melakukan ke-4 P yang lain dengan maksimal.

Setiap anak Tuhan yang sudah lahir baru pasti melibatkan FT dalam kehidupannya. Kalau ada seorang Kristen yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak membaca FT setiap hari, sebenarnya ia sedang mengingkari definisi “anak Tuhan” yang benar dalam Alkitab. Sebab tanpa membaca Alkitab, bagaimana seseorang mengenal Tuhan dan perintah-perintah-Nya?

Sebagai seorang pemimpin atau guru Sekolah Minggu (SM) Anda harus menyadari bahwa setiap anggota atau murid SM Anda adalah jiwa-jiwa yang dipercayakan Tuhan Yesus untuk Anda muridkan. Dalam Amanat Agung, perintah untuk “memuridkan” tertulis dengan jelas. Jadi pemuridan -mau tidak mau, suka tidak suka- harus terjadi dalam kelas SM yang Anda ajar dan juga dalam kelompok-kelompok kecil lain yang Anda pimpin.
Membaca Saja Tidak Cukup !

Alat utama dalam pemuridan adalah Alkitab. Maka, apakah ini berarti seorang Kristen yang rajin membaca atau mendengar FT adalah seorang pengikut Yesus yang baik dan secara otomatis setia melakukan perintah-perintah Tuhan dan berbuah-buah? Sama sekali tidak! Dari nas-nas berikut kita akan mengetahui bahwa membaca atau mendengar Firman saja tidak cukup untuk membuat seseorang menjadi anak Tuhan yang berbuah-buah.

Matius pasal 13 ayat 19, menyatakan bahwa setiap orang yang mendengar Firman tetapi tidak mengerti, maka si jahat akan merampas Firman itu darinya. Dengan kata lain, bagaimana orang itu bisa berbuah jika Firman itu dirampas?

Dalam ayat 20 dan 21, ditunjukkan bahwa orang yang mendengar Firman dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi apabila datang penindasan atau penganiayaan karena Firman itu, maka orang itu segera murtad. Itu pun menegaskan bahwa orang ini tidak berbuah.

Pun dalam ayat 22, disampaikan, orang yang mendengar Firman, lalu kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit Firman itu, maka Firman itu tidak berbuah. Adapun dalam ayat 23 ditegaskan bahwa hanya orang yang mendengar dan mengerti Firman, itulah yang berbuah.

Matius 13: 19 – 23 ini dengan jelas menunjukkan kepada kita semua bahwa mendengar Firman saja tidak akan membuat kita berbuah-buah. Supaya berbuah, selain mendengarnya, kita juga harus memahaminya. Pertanyaannya, apa tandanya seseorang benar-benar memahami Firman? Tandanya, orang itu tidak hanya mendengar tetapi melakukan Firman. Jadi kalau ada seorang Kristen yang berkata: “Aku mengerti apa yang dimaksud Firman Tuhan dalam Matius 22: 39 (‘Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’), namun dia membenci teman sekantornya sendiri, maka ia berbohong. Alkitab mengatakan bahwa orang yang seperti ini adalah orang yang bebal.

Kelas SM Sebagai Ajang Pembacaan Dan Pemahaman FT
Pemuridan harus ada di setiap kelas SM SSDR. Berikut adalah metode yang saya terapkan di kelas-kelas SSDR yang saya fasilitasi:

1) Buat Kelompok Whatsapp (WA).
Dari Gambar 1 kita melihat bahwa nama dari Kelompok WA adalah Woman Bible Reading. Anggota yang terlihat dari KWA ini adalah: Ibu C, Ibu D, Ibu L, dan Ibu T; dan anggota yang tidak terlihat dari KWA adalah saya (Ps. Alex). Saya selalu menyarankan agar satu KWA ini beranggotakan lima orang saja yaitu: empat orang anggota yang terlihat dan satu orang anggota yang tidak terlihat. Anggota yang tidak terlihat ini berfungsi sebagai pembimbing/mentor. Anggota yang tidak terlihat ini biasanya adalah pendeta, guru SM, pemimpin KPW (Kelompok Pembinaan Warga), pemimpin PKMB atau PKRB.

2) Tentukan Firman Tuhan yang akan dibaca
Satu periode pembacaan FT ini adalah tujuh hari (satu minggu). Adapun pembacaan Alkitab ini dilakukan setiap hari selama tujuh hari juga. Dari Gambar 1 kita melihat bahwa ayat Alkitab yang dipilih untuk dibaca dalam satu periode itu adalah 1 Petrus 4 – 1 Yohanes 2 .

3)Tentukan tanggal dan bulan dari periode pembacaan
Dari Gambar 1 terlihat bahwa tanggal dan bulan dari periode pembacaan Alkitab adalah 25 Maret – 31 Maret 2019. Dan praktik dari pembacaan itu satu pasal per hari.
Jadi dalam satu periode, pembacaan Alkitab tanggal 25 Maret (Senin) adalah 1 Petrus 4; 26 Maret (Selasa) baca 1 Petrus 5; 27 Maret (Rabu) baca 2 Petrus 1; 28 Maret (Kamis) baca 2 Petrus 2; 29 Maret (Jumat) baca 2 Petrus 3; 30 Maret (Sabtu) baca 1 Yohanes 1; dan 31 Maret (Minggu) baca 1 Yohanes 2.

4) Tentukan koordinator untuk setiap periode
Setiap periode pembacaan Alkitab ini dikoordinasi oleh satu anggota kelompok secara bergantian. Demikianlah hal tersebut dilakukan bergillir berdasakan urutan nama yang bersangkutan. Pergantian koordinator dilakukan setiap hari Minggu malam.

5) Koordinator bertugas memperbaharui informasi pembacaan FT setiap hari selama satu periode
Seorang koordinator juga bertugas menyapa anggota-anggota Kelompok WA setiap pagi dan memberi teladan dalam pembacaan Alkitab yang sudah dipilih setiap hari. Dari ‘gambar 1’ kita melihat bahwa Ibu T sebagai koordinator periode tanggal 25-31 Maret, pada tanggal 29 Maret memperbarui informasi untuk Ibu T (dirinya sendiri), Ibu C, dan Ibu L.

Namun dari Gambar 1 terlihat pula bahwa Ibu D sudah 5 hari tidak membaca Alkitab. Dalam kasus Ibu D, tugas Ibu T (koordinator periode) adalah menanyakan, memberi semangat serta mendoakan Ibu D atas keterlambatannya membaca Alkitab dalam periode ini.

(Catatan dari penulis: setelah ditanya, ternyata dalam periode ini, Ibu D ini tengah sibuk dengan urusan kantor dan juga urusan gerejanya sehingga ia minta untuk tidak aktif dulu di KWA pembacaan FT termaksud pada periode ini.)
6) Seluruh anggota KWA ini menguatkan dan mendoakan anggota yang tertinggal dalam pembacaan FT.

Dari kasus kelompok WA Woman Bible Reading terlihat, yang wajib menanyakan, memberi semangat dan mendoakan Ibu D bukan hanya Ibu T, namun Ibu C, Ibu L, dan Ps. Alex. Demikian pula jika kebetulan Ibu L yang terlambat membaca Alkitab, maka seluruh anggota kelompok WA ini wajib mengingatkan juga.

7) Pemimpin / mentor bertugas menjawab dan menjelaskan sampai tuntas setiap pertanyaan yang diajukan oleh setiap anggota mengenai Alkitab yang dibacanya namun masih belum dimengerti.

Seandainya pada pembacaan Alkitab di hari Senin, 25 Maret, Ibu L tidak mengerti apa maksud 1 Petrus pasal 4 ayat 6: ‘Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati’, maka mentor harus menjawab dan menjelaskan ayat ini kepada Ibu D ini sampai ia benar-benar jelas dan mengerti ayat tersebut.

8) Bagi para pengamat dan praktisi SSDR, anggota KWA sebaiknya sama dengan KP (Kelompok Pelayanan).

Mengacu pada artikel “Sekolah Minggu Sebagai Mesin Pertumbuhan Gereja, Bagian 2 (SB Edisi I Februari 2017).

Dengan kata lain, setiap KP seyogyanya membentuk Kelompok WA. Dengan demikian, pada saat terjadi pertemuan minguan KP, para anggota dapat saling bertukar kesaksian tentang apa yang telah mereka lakukan dan alami dalam satu minggu terakhir yang berkaitan dengan pembacaan Alkitab.

Tidak Mungkin Bisa Dilakukan Sendiri
Tuhan Yesus sendiri, dalam Yohanes pasal 14 ayat 21 mengatakan: “Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya dialah yang mengasihi Aku, Dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Pertanyaannya, sudahkah Anda memegang perintah-Nya?

Artinya, sudahkah Anda membaca Alkitab setiap hari dan sudahkah Anda melakukannya?
Bisakah Anda membaca Alkitab secara konsisten setiap hari tanpa ada sesama Anak Tuhan yang mendoakan dan mendorong Anda? Bisakah Anda memahami Alkitab yang sulit Anda cerna tanpa penjelasan dari sesama anak Tuhan yang sudah mengerti dan menghidupi Firman yang sulit Anda cerna itu?

Bisakah Anda secara konsisten melakukan perintah-perintah Tuhan yang disampaikannya melalui Alkitab setiap hari tanpa ada sesama Anak Tuhan yang mendoakan, mendorong, dan memberi masukan?

Terus terang, saya belum pernah bertemu dengan anak Tuhan yang bisa melakukan hal-hal di atas tanpa keterlibatan anak Tuhan lainnya. Itulah sebabnya dalam sistem SSDR dipraktikkan KP yang dalam hal ini adalah Kelompok WA.

*) Penulis merupakan pendeta yang ditahbiskan di The First Baptist Church of Rock Hill Missouri, sekarang melayani di Jakarta
Editor: Andry W.P.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here