Perceraian Keluarga Kristen: “SUAMI GUE PSIKOPAT”

0
162
http://intisari.grid.id

Misti (nama samaran) namanya, usianya baru 30 tahun saat dia memutuskan untuk mengakhiri ikatan pernikahan dengan suaminya. Padahal usia pernikahannya belum lama, masih seumur jagung. Mestinya, Misti menikmati masa-masa manis pengantin baru, namun wanita ini justru berjibaku dengan penatnya menjalani sidang gugatan perceraian di Pengadilan Negeri.

Misti berkenalan dengan mantan suaminya melalui media sosial Facebook. Masa perkenalannya pun tak lama. Mungkin kurang dari satu tahun saja. Dari perkenalan yang terbilang singkat, Misti memutuskan untuk membawa hubungannya ke jenjang pernikahan. “Umurku wis tuwo (umur saya sudah tua),” sebut Misti menjelaskan alasannya segera menikah kepada Suara Baptis (SB).

“Orang tuaku wis pingin nduwe mantu (orang tua saya sudah ingin punya mantu)” lanjutnya.

Singkat cerita, Misti menikah dengan pria yang saat itu adalah calon suaminya.

Sama seperti harapan perempuan pada umumnya, Misti ingin hidup bahagia dengan pasangannya.

Sehari setelah mereka resmi menjadi suami istri, perangai suaminya mulai berubah. Dan itu cukup mengagetkan Misti. Lekaki yang sekarang sudah menjadi suaminya itu tidak lagi lembut seperti saat mereka berpacaran dulu. Kata-kata manis yang sering Misti dengar berganti dengan kata-kata kasar yang bahkan tak pernah ia dengar pada masa-masa pendekatan dulu.

“Suami gua ternyata psikopat, ” ujar Misti melanjutkan ceritanya, “Selain itu dia punya kelainan seksual, sebelum berhubungan badan, dia suka nyiksa gua.”

Misti pernah menceritakan sikap si suami kepada mertuanya. Dan cukup mengagetkan sebab Mama mertuanya akhirnya mengakui bahwa putranya memang mengidap kelainan jiwa, dan sedang dalam pengobatan.

“Waktu gua tanya ke mertua sih, mertua gua nangis, minta maaf, nggak jujur soal anaknya. Dia takut anaknya nggak ada yang mau karena sakit jiwa,” lanjut Misti gamblang.

Selain bercerita kepada mertuanya, Misti pun sempat berkeluh kesah kepada gembala sidangnya. “Gua sempet konseling ke pendeta, tapi suami gua nggak mau ikut. Pendetanya juga keliatan bingung sama kasus ini,” ungkapnya.

Lain lagi dengan Nona (bukan nama sebenarnya). Umur pernikahan Nona dan sang suami menginjak empat tahun saat Nona memutuskan untuk “membongkar” bahtera rumah tangga mereka.

Nona dan suami menikah karena dijodohkan kedua orang tua mereka. Dalam wawancara dengan SB, Nona bercerita bahwa mamanya yang menjodohkan dia dengan pria itu. “Selama ini saya selalu menurut apa kata orang tua saya. Kalau menurut Mama baik, ya sudah, itu cukup bagi saya.Tidak mungkin kan keluarga saya pilihkan yang jelek? Dan waktu itu saya memang masih sedih karena baru putus sama pacar saya.”

Nona mengakui ada masalah dalam rumah tangganya. Ketidakcocokan dengan keluarga suami menjadi penyebab keributan dalam rumah tangganya. “Dalam rumah tangga kami, adik ipar saya yang lebih berkuasa,” ujar Nona. “Selain dengan adik ipar, saya juga tidak cocok sama mertua,” lanjutnya.

Suami yang tidak memberi nafkah menambah rentetan masalah dalam keluarga Nona.

Sebenarnya Nona sudah berusaha mempertahankan biduk rumah tangganya. Berbagai cara dia lakukan. Dari mengajak suaminya bicara hati ke hati, pergi berbulan madu, sampai meminta bantuan pamannya. “Kebetulan paman saya itu teman suami saya,” ujarnya.

Namun semua usaha yang Nona lakukan sia-sia. Keadaan rumah tangganya tidak membaik.

Sama dengan Misti, Nona pun pernah disarankan untuk konseling dengan pendeta yang menikahkannya dulu, namun urung lantaran sang suami menolak. Akhirnya pernikahan yang baru berusia empat tahun dan telah membuahkan seorang putri itu harus kandas di Pengadilan Negeri.

Kisah Angela (nama samaran) lain lagi. Usia pernikahan Angela lebih lama dari usia pernikahan Misti dan Nona. Angela dan suami mengakhiri janji setia sampai mati di usia pernikahan ke-12 tahun. Suami Angela yang berprofesi sebagai wartawan menuntutnya sering berpergian karena tugas. Hal itu diakui Angela membuat konseling pranikah mereka tidak maksimal. “Saya menikahi dia karena saya mencintai dia,” ujar Angela kepada SB. Dengan dasar itu pula Angela berusaha mati-matian mempertahankan pernikahannya. Namun usahanya tampak sia-sia. Tahun 2001 suami yang dia cintai mengajukan gugatan cerai kepada dirinya.

“Gugatan yang pertama berakhir damai,” kenang Angela.

Keadaan damai itu ternyata tidak untuk selama-lamanya. Tahun 2007, suami Angela pergi begitu saja meninggalkan Angela dengan alasan pekerjaan. Selang tiga tahun, Angela kembali menerima gugatan cerai dari sang suami.

“Gereja tempat saya menikah sepertinya tahu kalau rumah tangga saya sedang bermasalah, tapi mereka tidak memberi respons atau tindakan apa pun, seperti tidak mau ikut campur,” ujar Angela saat ditanya apakah pernah berkonsultasi ke gereja mengenai masalah rumah tangganya. Angela sempat meminta bantuan seorang pengacara untuk menolong mempertahankan pernikahan. Namun malang, sang pengacara yang kebetulan adalah teman dari suaminya, lebih berpihak ke sang suami. Maka Angela kalah dalam persidangan dan harus menerima ketukan palu hakim pengadilan negeri yang memaksanya mengakhiri rumah tangga yang telah ia perjuangkan lebih dari satu dekade itu. Kisah Misti, Nona dan Angela merupakan sebagian kecil dari ratusan ribu kasus perceraian yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Maraknya kasus perceraian ini juga sempat dikupas secara khusus dalam harian Merdeka dalam websitenya, www.merdeka.com, 20 September 2016 dengan judul “Indonesia Darurat Perceraian!”

Perceraian di Indonesia

Betulkah Indonesia darurat perceraian? Menurut data tahun 2013 dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) angka perceraian di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di Asia Pasifik.

http://www.gresnews.com

Jumlah perceraian di Indonesia per tahun telah mencapai 200 ribu kasus. Dan angka tersebut tak kunjung menurun di tahun-tahun berikutnya. Data Kementerian Agama tahun 2010 menyatakan bahwa dari 2 juta pernikahan yang terjadi pada rentan waktu 2010-2014, 15 persen berakhir dengan perceraian.

Menurut Anwar Saadi, Kasubdit Kepenghuluan Direktorat Urais dan Binsyar Kementerian Agama kepada Merdeka, dalam kurun waktu 8 tahun, (2009 – 2016) tingkat perceraian di Indonesia meningkat 16-20 persen. Sementara tahun 2015, dalam satu jam terjadi 40 kali sidang cerai atau 340.000 gugatan cerai yang masuk ke Pengadilan Agama.

Dikutip dari m.hukumonline.com, tren perkara putusan (inkracht) perceraian di Pengadilan Agama seluruh Indonesia kurun waktu

TahunCerai talakCerai gugatTotal CeraiPutusan
cerai talak (*)
Putusan
cerai gugat (**)
2015113.068281.178394.24699.981253.862
2016113.968289.102403.070101.938263.726
2017113.987301.861415.848100.715273.771

*Cerai talak adalah pengajuan cerai yang diajukan pihak pria

**Cerai gugat adalah pengajuan cerai yang diajukan pihak wanita.

Dari data tersebut, terlihat peningkatan kasus perceraian setiap tahunnya. Menariknya, berdasarkan angka-angka itu, terlihat bahwa wanita lebih banyak mengajukan cerai dibandingkan laki-laki. Data dari Puslitbang (Pusat Penelitian dan Pengembangan) Departemen Agama membenarkan bahwa 70 persen gugatan cerai dilayangkan oleh wanita.

Menurut data Pengadilan Agama seluruh Indonesia tahun 2017, tiga faktor terbesar penyebab perceraian adalah:

  • Perselisihan dan pertengkaran terus menerus 152.575 perkara
  • Faktor ekonomi 105.266 perkara
  • Meninggalkan salah satu pihak 70.958 perkara

Sementara perceraian yang diakibatkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hanya 8.453 perkara. Dan perceraian yang diakibatkan zina hanya 1.896 perkara.

Jika selama ini kebanyakan orang berasumsi bahwa angka perceraian tertinggi berasal dari kota besar, ternyata tidak demikian. Angka perceraian terbesar justru berasal dari beberapa kabupaten. Di Indonesia, peningkatan perceraian tertinggi terjadi di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur sebesar 30 persen. Sementara kota dengan putusan cerai terbanyak ada di Indramayu, Jawa Barat. Ketiga Malang Raya sebanyak 8.944 terdiri dari 6.844 terjadi di kabupaten Malang dan sisanya di kota Malang dan Batu.

Data di atas adalah kasus perceraian yang terjadi di pengadilan agama, belum termasuk putusan perceraian yang terjadi di pengadilan negeri.

Penyebab Perceraian

Berbagai faktor penyebab perceraian ini diklasifikasikan www. idntimes.com. Idn Times menyebutnya sebagai 7 faktor terbesar penyebab perceraian di dunia, yakni:

Menikah di usia remaja atau lebih dari 32 tahun.

Pernikahan di usia remaja dianggap belum siap secara fisik dan mental. Menikah tidak hanya bermodal cinta dan sayang. Namun ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Pernikahan di bawah umur rentan terhadap kesehatan reproduksi dan tingkat kemiskinan sehingga sangat berpotensi untuk bercerai.

Namun, pernikahan yang dilakukan setelah umur 32 tahun pun mempunyai risiko tinggi bercerai. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Nicholas Wolfinger, risiko bercerai menigkat 5 pesen setiap tahun bagi pasangan yang menikah di atas 32 tahun. Semakin besar jarak usia diantara pasangan, maka makin tinggi risiko bercerai.

Suami tidak bekerja.

Dalam lingkungan yang masih menganut prinsip bahwa suami harus bekerja mencari nafkah, maka jika suami mengganggur akan menimbulkan persoalan. Hasil penelitian yang dilakukan Harvard University tahun 2016 menyatakan bahwa suami yang menganggur memiliki risiko perceraian lebih tinggi. Namun sebaliknya, status istri yang bekerja sama sekali tidak berpengaruh pada risiko perceraian.

Tingkat pendidikan: makin rendah makin besar risiko bercerai.

Ternyata tingkat pendidikan seseorang menyumbang risiko perceraian. Penelitian yang dilakukan National Longitudinal Survey of Youth sejak tahun 1979 menyatakan makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin kecil risiko perceraian. Secara tidak langsung, tingkat pendidikan berpengaruh pada rendahnya pendapatan dan perkembangan karakter.

Saling merendahkan dan meremehkan pasangan.

Pernahkah kita mengganggap pasangan lebih rendah dari kita? Atau memberikan “label” karakter tertentu pada pasangan berdasarkan kebiasaannya? Merasa sebagai korban dalam situasi yang sulit? Atau menyetop percakapan dan menghindari diskusi dengan pasangan kita?

http://ngopibae.com

Jika keempat hal tersebut sering terjadi dalam keluarga kita, berhati-hatilah! Menurut penelitian yang dilakukan John Gottman, psikolog dari University of Washington dan sekaligus pendiri Gootman Institute, jika kita sering melakukan keempat hal itu, artinya hubungan kita sedang dalam bahaya. Dan itu berpotensi membuka gerbang perceraian.

Romantisme berlebihan sebagai pengantin baru.

Hasil penelitian yang dilakukan psikolog Ted Huston pada tahun 2001 menyebutkan, kebanyakan pasangan yang pada tahun-tahun pertamanya sangat susah dipisahkan, berpotensi bercerai setelah usia pernikahannya masuk 7 tahun.

Sementara Aviva Patz dalam penelitiannya, pasangan yang intensitas kebersamannya terlalu berlebihan di awal tahun akan lebih susah mempertahankannya seiring berjalannya waktu. Karena begitu intensitasnya berkurang akan memunculkan banyak asumsi dan berujung konflik dan akhirnya bercerai.

Terlalu sering kabur dalam perdebatan/konfik.

Tidak mau ribut. Begitu alasan yang sering dilontarkan suami atau istri saat dihadapkan pada konflik. Ternyata keputusan untuk menghindar saat menghadapi konfik sangat berbahaya bagi keutuhan rumah tangga.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Marriage and Family 2013 menyatakan, kebiasaan kabur dari konflik akan meningkatkan risiko perceraian. Menurut Communication Monographs tahun 2014, bahwa tidak ada pasangan yang bahagia dengan keadaan ini.

Sering mendeskripsikan hubungan dalam sudut pandang yang negatif.

Apa pun keadaan pasangan, jangan pernah menjelek-jelekannya di hadapan orang lain kalau Anda ingin pernikahan Anda langgeng. Penelitian University of Washington menyatakan, mereka yang suka menjelek-jelekan hubungan mereka sendiri berpotensi sangat besar untuk bercerai.

Tidak ada pasangan yang berharap pernikahannya berakhir di ruang sidang pengadilan agama atau pengadilan negeri. Namun melihat tingginya angka perceraian di Indonesia, seharusnya gereja mulai serius memikirkan masalah ini. Jangan sampai kita yang mengaku umat Allah malah ikut menambah angka perceraian di Indonesia.

Penulis: Masdharma

Editor: Andry W.P.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here