STOP SALING BERSAING (Sereuan Menjelang 20 Tahun Bali Partnership)

0
335
Fasilitator Bali Partnership, Filemon Koweho, menerima potongan tumpeng dari Pemimpin YWAM Bali, Andre Agus, sebagai tanda persekutuan / dok. Budi

Gereja-gereja seharusnya berhenti bersaing dan mulai bekerja sama, tidak lagi terpecah belah tetapi mulai berembuk bersama. Dengan begitu, gereja akan mampu dengan baik menjalankan tugas yang diamanatkan Kristus untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang, demikian imbau Ernie Addicott, salah satu pendiri Bali Partnership, organisasi pelayanan antardenominasi gereja di Bali.

Imbauan Ernie yang dituliskannya dalam buku Body Matters – Prinsip dan Pedoman Praktis dalam Partnership dalam Misi Penyelesaian Amanat Agung selama ini memang menjadi semangat yang menggerakkan Bali Partnership. Dalam buku pegangan para pemimpin organisasi pelayanan di Bali tersebut, Ernie mengingatkan supaya gereja-gereja tidak lagi saling tolak dan saling serang, tetapi menjadi saling melengkapi, menjaling hubungan, dan berdamai satu sama lain.

Pemikiran inilah yang kemudian memunculkan semboyan pelayanan Bali Partnership yang berbunyi “Duduk bersama, berbagi bersama dan melayani bersama.”

Persekutuan Bali Partnership di Youth With a Mission (YWAM) Bali/ dok.Budi

Bali Partnership adalah persekutuan para pemimpin gereja, lembaga serta profesional Kristen di Bali yang bertujuan membangun kemitraan dalam melaksanakan Amanat Agung Kristus. Pada Senin pertama tiap bulan, organisasi yang berdiri sejak Mei 2000 tersebut menggelar acara “Breakfast Meeting”.

Selama bertahun-tahun, acara ini diadakan di sebuah hotel di kawasan Kuta, Badung. Tetapi sejak beberapa tahun terakhir, kegiatan bulanan ini diselingi dengan pertemuan tambahan berjuluk Breakfast Mission yang dilangsungkan di gereja-gereja secara bergiliran untuk meningkatkan kemitraan. Dalam pertemuan itu, gereja maupun lembaga dapat menyampaikan informasi pelayanan mereka.

Sering juga hadir tamu dari luar Bali. Misalnya, dalam pertemuan Juni 2019 lalu, Resident Manager Bukit Doa & Tempat Retret Imannuel Prigen, Jawa Timur Sari Purwanti, datang mengikuti persekutuan. Sari juga menawarkan tempat retret yang disebutnya sungguh-sungguh bernuansa rohani.

Bali Partnership memfasilitasi seminar berkaitan dengan pertumbuhan gereja dengan topik-topik antara lain penginjilan, pemuridan, pendewasaan dan kepemimpinan. Organisasi ini juga mengoordinasi kebaktian kebangunan rohani (KKR) dengan pembicara nasional maupun internasional. Melalui seksi misi,

Bali Partnership juga memberikan subsidi kepada beberapa utusan Injil. Salah satu ide yang sedang digodok kaum muda dalam Bali Partnership yang diketuai Andre Gani, adalah mendirikan Koperasi Serba Usaha (KSU).

Salah satu karya besar Bali Partnership untuk kepentingan gerejagereja di Bali adalah penataan Makam Kristen Mumbul.

“Kuburan Kristen di Taman Mumbul sudah lama penuh. Padahal untuk mencari tanah kuburan lain, hampir-hampir tidak mungkin. Situasi tersebut membuat kami terpanggil dan terbeban membantu mencari jalan keluarnya. Syukur semua berjalan baik hingga proyek kuburan ini bisa terlaksana,” ujar K.S. Gani, salah satu pimpinan Bali Partnership.

Kini pengelolaan makam dipegang Yayasan Purna Bhakti MPAG Bali yang diketuai Pdt. Ketut Sukanada.

Papan pengumuman sebelum penataan – ‘Makam telah Penuh’ | dok.Budi
Kelahiran Bali Partnership

Menurut fasilitator Bali Partnership, Filemon Koweho, kemitraan ini lahir setelah adanya seminar Interdev atau Kingdom Connection yang diadakan di Bali dan Jakarta, 1999. Para pemimpin Kristen di Bali antara lain Bishop Ayub S, Pdt. Firmanyo, Pdt. Timotius Arifin serta K.S. Gani adalah penggagas terbentuknya Bali Partnership.

Berikutnya ada sejumlah hamba Tuhan yang kemudian terlibat dalam pendirian organisasi ini seperti Pdt. Dedy Ndun, Pdt. David Aryana, dan Pdt. Ketut Waspada. Sementara dari kalangan pengusaha atara lain Filemon Koweho, Robby I. Halim, Oscar Nie, Andreas Gunawan, David Eli, Sugeng Heriwijoto, Franz S. Ngodio, Andre Gani, Herwin Kwentino, Aziz Prasetyo, Rudy Alihadi, Dudi Aldi, Yoseph Suwarno, dan Hendra Dinata (Sinyo).

Sesuai filosofi pelayanan, pemimpin Bali Partnership tidak disebut sebagai ketua melainkan fasilitator. Fungsinya memang memfasilitasi agar semua program dapat berjalan seperti yang disepakati. Sementara para staf atau pengurusnya disebut team work (TW). Mereka datang dari beberapa gereja.

Pdt. Basuki Gunawan dari Gereja Baptis Anugerah Indonesia (GBAI)/ dok.Budi

Fasilitator Bali Partnership pertama adalah K.S. Gani, seorang pengusaha yang biasa disebut “Romo Gani”. Anak-anak muda memanggilnya Opa atau Kong Gani.

Setelah melewati kaderisasi selama sekitar10 tahun, posisi fasilitator diserahkan kepada Filemon Koweho yang juga seorang pengusaha. Kaderisasi yang cantik di Bali Partnership membuat K.S. Gani disebut sebagai pemimpin yang menciptakan penerus.

Dalam lingkungan gereja-gereja di Bali, K.S. Gani yang kini berusia 87 tahun dikenal sebagai pemersatu. Di usianya yang cukup sepuh, ia berjuang membawa para pemimpin gereja supaya tidak menjadi idiotes (orang-orang yang tak peduli dengan pelayanan gereja) tetapi mau bersekutu dalam ekklesia (orang-orang yang diundang Tuhan untuk melayani Kristus). Ia juga dikenal sebagai motivator dan “bapa gereja”.

Pada tahun 2012, dalam rangka memperingati ulang tahunnya ke-80, K.S. Gani menerbitkan buku berjudul Ekklesia atau Idiotes – Memoir of Bali Partnership yang memuat komentar dan kesan dari sekitar 50 hamba Tuhan di Bali tentang Bali Partnership dan K.S. Gani. Beberapa nama beken dari Jakarta pun menuliskan komentarnya, antara lain Maimunah Natasha, Julianto Simanjuntak dan Jakoep Ezra.

Dalam buku tersebut, Pdt. Ketut Waspada, mantan Bishop Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) berkomentar, “Sukar bagi kita untuk membayangkan Bali Partnership tanpa Pak Gani… Pak Gani telah dipakai Tuhan sebagai alat untuk membangun dan menggerakkan Bali Partnership ini. Beliaulah sesungguhnya yang menjadi perekat gereja-gereja yang mendukung Bali Partnership. Figur Pak Ganilah yang dilihat sebagai sosok yang dapat dipercaya sebagai orang yang secara murni terbeban untuk kesatuan gereja, karena kehadiran beliau di Bali Partnership tidak mewakili gereja tertentu. Posisi inilah menurut saya, sangat menentukan keberhasilan beliau mempertemukan hamba-hamba Tuhan dari berbagai denominasi.”

Taman Makam Mumbul dalam penataan | dok.Budi

Sedangkan menurut Pdt. Gabriel Goh dari  Gereja Kristus Yesus (GKY), Bali Partnership merupakan berkat istimewa. “Kehadiran Bali Partnership adalah sebuah special blessing bagi gereja-Nya (tubuh Kristus) di Pulau Bali pada generasi ini.”

Secara organisatoris, demikian Pdt. Gabriel, walaupun Bali Partnership tidak didirikan sebagai yayasan atau badan hukum, pengaruh dan efektifitasnya sangat berdampak bagi kesatuan tubuh Kristus dan kerja sama gereja-gereja di Pulau Bali.

Sementara menurut Pdt. Edy Suprayitno dari Gereja Baptis Indonesia (GBI) Anugerah Denpasar, Bali Partnership menjembatani hubungan di antara gereja-gereja di Bali dan juga menjadi mitra Musyawarah Pelayanan Antar Gereja (MPAG), yang kini berganti nama menjadi Musyawarah Pelayanan Umat Kristen (MPUK).

Tahun depan Bali Partnership berusia 20 tahun. Dalam beberapa kali pertemuan, Filemon mengatakan, memasuki usia 20 tahun ada akselerasi yang sangat cepat.

“Banyak sekali hal yang Tuhan berikan. Banyak mukjizat terjadi dan kita sedang melangkah dalam mukjizat,” katanya. “Tidak ada lagi sekat yang membatasi kita menyatakan diri. Kesatuan tubuh Kristus makin nyata.”

Disambungnya, usia ke-20 Bali Partnership perlu dirayakan. “Dua puluh tahun telah kita lewati. Kita diikat ikatan yang kuat oleh tubuh Kristus. Bukan team work yang baik (yang telah mengikat kesatuan gereja-gereja di Bali), tetapi karya Tuhan. Roh Kudus yang memimpin dan karenanya kita patut celebrate (merayakannya).”

Karena itu Filemon berharap, hamba-hamba Tuhan yang tergabung dalam Bali Partnership memberi masukan. “Sepuluh tahun ke depan, pada usia 30 tahun, Bali Partnership mau seperti apa?” tandasnya.

Tantangan sang fasilitator ini mengingatkan tulisan permenungan K.S. Gani dalam bukunya: apakah kita masih seorang “ idiotes” yang acuh tak acuh, ataukah anggota tubuh dari “ekklesia” yang berkomitmen penuh terhadap pertumbuhan tubuh Kristus di Pulau Bali?

 

 

Penulis: Budi Kasmanto, Kontributor Bali

Editor: Prisetyadi Teguh Wibow

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here