Sosok – YESUS MENGHAPUS DENDAMNYA KEPADA ORANG TUA, Joko Budi Santoso

0
190

Keretakan hubungan rumah tangga hingga perceraian tak hanya berdampak pada pasangan itu sendiri. Dampak terbesar dapat dialami anak-anak dan bisa membawa pengaruh buruk terhadap perilaku anak. Itu jugalah yang dialami Joko Budi Santoso, pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah 18 Juli 1963 ini. Tumbuh dalam keluarga yang berantakan membuatnya menjadi anak yang gampang marah.

Joko sapaan akrabnya, kehilangan kasih sayang orang tua semenjak berusia satu tahun. Ibunya meninggalkan rumah sementara ayahnya menikah lagi. Maka, Joko pun diasuh kakek-neneknya.

Lulus sekolah menengah tingkat atas, Joko memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Meski sempat dilarang sang kakek, Joko yang keras hati tetap berangkat. Lulus jurusan pertanian di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) memudahkannya diterima menjadi pegawai negeri di Dinas Pertanian dan Perhutanan di Kalimantan.

Mengenang kembali perjalanan hidupnya, pensiunan Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Bengkulu ini mengaku, sedari dulu berharap bekerja dalam lingkungan orang-orang Katolik karena seiman. Dalam perantauan masa mudanya, Joko ditempatkan di Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Di sana, Joko sering mengalami kesulitan. Maklum, daerah tempatnya bekerja memiliki medan yang cukup berat. Selain itu pasang surut air laut memberi masalah tersendiri.

Sesudah empat tahun di Kalimantan, tahun 1967 Joko kembali ke kampung halaman.

“Setelah pulang, saya menganggur kemudian mencari pekerjaan sana-sini namun belum juga ketemu. Akhirnya, saya doa puasa selama tiga hari tiga malam, tidak makan-minum, di kamar yang gelap gulita,” ujar Joko kepada Tiara Gustiani Sutadji dari Suara Baptis 11 Maret 2020.

Tiga hari tiga malam berdoa puasa, Joko lalu mendapat tawaran pekerjaan dari Keuskupan Agung Semarang. Saat itu juga, ia langsung menerima tawaran tersebut. Pihak keuskupan lalu mengirimkan Joko ke Dinas Sarana Bakti, pertanian organik di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Di sana, Joko bekerja selama setahun.

Joko dan keluarganya

“Sebetulnya di Bogor enak. Pastor, suster, semua orang rohani. Namun (kehidupan di sana) terlalu ketat. Pukul 05.00 sudah harus bangun, lanjut doa pagi dan pukul 06.00 sudah harus sarapan. Kalau terlambat, kita didenda nggak boleh makan, potong gaji, makan di luar. Kalau mau pergi harus (minta) izin suster. Jadi, kayak bukan karyawan, malah kayak anak sekolah. Kan lama-lama nggak tahan?” ungkap ayah dua anak ini.

Joko pun kembali mendapat tawaran dari Pdt. Daniel Bepenton untuk melayani di Gereja Pentakosta Karismatik (GPK) Jelambar, Jakarta. Selama tahun 1988-1989, ia melayani di sana.

Ketika itulah, ia mendapat pengalaman supranatural.
“Saya mendengar ada suara yang mengatakan, ‘Kamu harus ke Bengkulu.’ Lalu ada penglihatan di depan saya semacam slide peta Kota Bengkulu,” ungkapnya

Joko meyakini bahwa itu adalah suara Tuhan. Meski tidak tahu sama sekali tentang Bengkulu, ia memutuskan mengundurkan diri. Joko kembali ke Boyolali untuk mencari informasi mengenai Bengkulu.

Ia pun menemukan salah satu kerabatnya bekerja di perkebunan Desa Kuro Tidur, Kabupaten Bengkulu Utara. Akhirnya Joko memutuskan berangkat ke Bengkulu. Enam bulan pertama, ia ikut pelatihan kerja pada dinas perkebunan tersebut.

Tawaran bekerja di perkebunan Desa Air Muring, Bengkulu Utara ditolaknya. Joko ingin pekerjaan di bidang perkebunan yang berkaitan dengan agama. Hingga akhirnya ia dikenalkan dengan Sutadji, salah satu perintis Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Bengkulu. Mulailah Joko melayani di kawasan pertanian seluas 25 hektare itu.

Tahun 1990 Joko resmi diangkat menjadi karyawan bagian peternakan LPPB. Ia nyaman melayani di sini meski gajinya tidak sebesar di tempat kerja sebelumnya.

“Lama-lama saya nyaman. Walau dulu di Jakarta gajinya lebih besar, Rp 500 ribu sedangkan di LPPB Rp 88 ribu,” kenangnya.
Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua sudah dirancangkan Tuhan. Tuhan menuntun Joko ke LPPB, tempat dia membuka hati dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya.

Dendam kepada Orang Tua
Hubungan Joko dengan agama terbilang unik. Lahir dari keluarga yang beragama Budha, Joko hidup dalam lingkungan Islam semasa duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Karena ikut-ikutan teman, ia pun mennjadi muslim.

Masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), Joko masuk Katolik. Namun keputusan itu dilakukan demi mendapat nilai sekolah. Entah mengapa, sebelumnya Joko tidak mendapat nilai agama di ijazahnya.

Perjalanannya ke Bengkulu membawanya berjumpa dengan Michael Hampton, seorang utusan Injil Baptis dari Amerika. Joko pun mulai belajar di seminari ekstensi Bengkulu selama tiga bulan.

Joko dengan kedua orang tuanya

“Tahun 1990 saya dibaptis selam bersama seorang perempuan yang kini menjadi istri saya (meski dulu mereka belum memiliki hubungan),” ujar suami Yayah Putri ini.

Ketika dibaptiskan, Joko dan Yayah belum berpacaran. Seiring berjalannya waktu, keduanya berteman hingga akhirnya menikah pada Juni 1991. Dalam peristiwa inilah, Joko menyaksikan bagaimana Tuhan memberi pertolongan.
“Waktu kami akan menikah, saya tidak punya uang sama sekali. Saya berdoa kepada Tuhan, ‘Tuhan, kalau Engkau menghendaki kami bersama, pasti Tuhan akan memberkati kami’,” ungkapnya.

Pertolongan Tuhan nyata. Banyak orang yang menolong sehingga pernikahan digelar dengan cukup mewah. Bahkan perjalanan pergi-pulang ke Jawa dan Bengkulu pun Tuhan cukupkan. Sampai pada kelahiran putra pertamanya, Joko dan Yayah melihat karya Tuhan.

Melihat putranya lahir ke dunia, Joko tersadar dirinya kini menjadi seorang ayah. Ia teringat kembali kehidupan dan hubungannya dengan kedua orang tuanya.

Selama puluhan tahun, Joko memendam sakit hati terhadap orang tua yang tidak pernah menyayanginya. Hatinya tak pernah tenang meski berada di tempat yang menurutnya nyaman dan enak. Dendam itu dipikulnya ke mana-mana sampai kemudian Joko menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat.
“Saya sakit hati kepada orang tua saya. Meski kami berada di daerah yang sama, hubungan kami tidak baik. Sampai akhirnya ketika saya sudah terima Tuhan Yesus dan menerima pengampunan, saya memutuskan untuk bertemu orang tua saya dan memaafkan mereka. Setelah mengampuni orang tua saya, saya merasakan sukacita,” kenangnya.

Kepahitan akibat perceraian orang tuanya sempat mendera Joko selama puluhan tahun. Tak heran, ia seringkali sulit menguasai emosinya, akunya kepada Pemimpin Redaksi SB Prisetyadi Teguh Wibowo beberapa tahun lalu. Perjumpaannya dengan Tuhan Yesus pelan-pelan menolongnya berubah. Ia yang semula temperamental, berangsur-angsur menjadi pribadi yang tenang.
Juga juga giat dalam pelayanan perintisan jemaat di daerah-daerah pedalaman. Berkali-kali ia terjatuh dari sepeda motor ketika mengunjungi jemaat di perbukitan yang curam. Namun begitu, ia tak merasa pelayanannya menjadi terlalu berat.

Joko kagum dengan cara Tuhan memanggil umat-Nya. Meski awal menjalani pelayanan di LPPB tidak seenak di kota-kota besar, Joko bersyukur untuk setiap hal yang sudah dialaminya. Padahal saat itu LPPB belum seterkenal sekarang. Gaji karyawan rendah, kendaraan yang terbatas, rumah sangat sederhana, sampai perjalanan yang harus melewati hutan sambil memikul beras.

Meski berat, Joko dan teman-temannya di LPPB memilih mengikuti suara Tuhan. Itu sebabnya dalam kondisi apa pun, mereka dikuatkan.
“Apa yang bisa kita lakukan setelah mendapat pengampunan dari Tuhan Yesus secara cuma-cuma? Mau nggak kita berbagi (pengampunan Tuhan) kepada orang yang ada di sekitar kita sehingga mereka juga menerima Tuhan Yesus?” tantangnya.

Setelah Joko menerima Tuhan Yesus, dia dengan setia mendoakan kedua orang tunya untuk membuka hati dan menerima keselamatan. Sekitar 20 tahun kemudian, Tuhan menjawab doanya. Sang ibu membuka hati dan percaya pada Tuhan Yesus.

Joko pun berpesan, “Dalam keadaan seperti apa pun, kalau ada kesempatan untuk berbagi kabar sukacita (Injil), lakukanlah. Karena itulah yang Tuhan perintahkan kepada kita.”

Keluarga-keluarga yang terbelah akan menyebabkan anak-anak tumbuh dengan berbagai kepahitan. Kepada anak-anak yang lahir dalam keluarga seperti ini, Joko mendorong agar mereka tidak melampiaskan kepahitan hatinya pada hal-hal buruk namun menjadikan mereka belajar bersyukur dan mencari maksud Tuhan.

Penulis: Tiara Gustiani Sutadji
Editor: Juniati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here