SION KIDS, SIAPAKAH MEREKA?

0
194

Menggegerkan memang, apa yang dilakukan komunitas Sion Kids 14 Mei 2018 lalu. Di tengah sentimen kuat kebanyakan warga Indonesia terhadap Israel, kelompok ini berkeliling kota sambil mengibarkan bendera Bintang Daud, lambang yang identik dengan agama dan etnis Yahudi. Kontan, pemberitaan soal ini menjadi heboh hingga Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar ketika itu, harus memberikan penjelasan secara terbuka.

Dua tahun sebelumnya, 11-14 Mei 2016, kelompok ini juga menggelar konferensi di sebuah gedung. Di tengah acara, peserta bernyanyi dan menari sambil melambai-lambaikan bendera Israel. Rupanya, tiap tahun kelompok ini memang menggelar acara-acara khusus yang memperlihatkan bendera Israel di dalamnya.

Kelompok ini juga menjadi gangguan serius bagi sebagian gereja di Papua lantaran paham teologis yang berkiblat ke bangsa Yahudi. Itu sebabnya, Desember 2020 lalu wartawan Suara Baptis Pdt. Budi Kasmanto mewawancarai peneliti Gerakan Sion Kids Pdt. Yacob Nauw. Penelitian ini dijadikan tesis ketika Pdt. Yacob Nauw mengambil studi pascasarjana di Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang, Jawa Tengah.

Pdt. Yacob tertarik meneliti Sion Kids karena gerakan ini terstruktur, sitematis dan masif. Diungkapkannya, pengaruh Sion Kids sangat kuat sehingga menyebabkan banyak orang Kristen di Papua tidak lagi berfokus menyembah Yesus Kristus tetapi beralih ke Israel.

Gembala Sidang Gereja Baptis Anugerah Indonesia (GBAI) Jemaat Damai Klasaman, Sorong, Papua Barat ini menjelaskan, Sion Kids dimulai dari seorang warga negara Belanda keturunan Papua, Fred Athaboe. Sekitar tahun 1985, ia mengaku mendapat penglihatan dan Tuhan memerintahkannya berdoa bagi Israel. Katanya, kalau seseorang berdoa memberkati Israel, maka Tuhan pun akan memberkati dia, keluarga bahkan bangsanya.

Maka, mulailah ia mengajarkan paham ini kepada orang-orang lain.

Pada tahun yang sama,ia bertemu dua pendeta bangsa Yahudi, Reuven Berger dan Benjamin Berger. Ia mengklaim mendapat mimpi yang ternyata nyambung dengan pendeta Yahudi ini. Pendeta tersebut membuat tulisan-tulisan tentang Israel yang kemudian diperbanyak dan disebarkan ke Papua.

Mulai tahun 1985 sampai sekitar 2003, terjalin komunikasi dengan orang-orang di Papua. Dari situ komunikasi dibangun dan mulai ada kegiatan misi untuk mengajarkan tentang Israel ini ke Papua melalui yayasan Biji Sesawi. Kemudian melalui pelayanan ke Papua terbentuklah tim di Papua.

Lalu mereka mulai merekrut evangelis Marthen Su, pemuda yang cakap mengajar. Ev. Marthen Su dipakai untuk mengajarkan ajaran-ajaran ini dari kota ke kota. Dan pada 14 Mei 2006 didirikanlah Gerakan Sion Kids Papua.

Wawancara denga Pdt. Yacob Nauw

Pdt. Yacob melanjutkan, sekitar Agustus 2020 Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKITP) kemudian mengeluarkan surat edaran yang melarang semua anggota gerejanya terlibat dengan Sion Kids. Mungkin karena itulah, Ev. Marthen Su lalu mengubah nama Sion Kids menjadi International Sion Kids Movement (ISKIM). Dan jabatannya yang sebelumnya disebut “pendiri” berubah menjadi “presiden”. Juga tempat ibadah yang tadinya tersebar di beberapa sudut kota, dilebur menjadi satu tempat ibadah. Maka, di setiap kota hanya satu tempat ibadah, yang lain ditutup.

Berikut adalah percakapan Suara Baptis dengan Pdt. Yacob Nauw.

Mungkinkah Sion Kids telah menyebar ke masyarakat adat di Papua?

Sion Kids adalah gerakan zaman baru sehingga ada banyak tujuan dan harapan yang terbungkus di dalamnya. Kita tidak dapat memastikan untuk apa. Gerakan ini memberikan harapan-harapan baru bagi orang Papua baik itu secara jasmani maupun rohani. Karena untuk bisa menarik minat banyak orang untuk terlibat di dalam gerakan ini. Apa yang menjadi keinginan mereka, bisa diadopsi, dimunculkan supaya menarik.

 

Seberapa jauh pengaruh Sion Kids di gereja-gereja di Papua?

Dari hasil penelitian saya, gerakan ini adalah gerakan yang tidak sejalan dengan iman Kristen, bertentangan dengan iman kepada Kristus karena semua pengikut Sion Kids diajarkan untuk fokus penyembahan dan ajaran mereka pada Israel. Karena itu semua orang Kristen yang terlibat dengan gerakan ini, pasti mereka tidak dapat memuliakan Kristus. Mereka tidak lagi setia pada gereja, pada tujuan dan panggilan gereja, semuanya sudah dengan sendirinya hilang.

Bagaimana pengaruh Sion Kids terhadap gereja-gereja lokal GBAI?

Setahu saya ada dua pendeta GBAI yang terlibat. Salah satunya adalah Pdt. Yulius Karet yang secara resmi mengakui di depan umum bahwa dia terlibat Sion Kids. Dia secara pribadi dengan istri dan keluarganya saja yang ikut sedangkan jemaat tidak ada yang ikut. Dan dia tetap melayani di jemaat. Hal ini menjadi masalah juga dengan Badan Pelayan dan Tua-tua jemaat setempat.

Dan pengaruh Sion Kids di tingkat Badan Pengurus Pusat (BPP)?

Di BPP, Sekretaris Umum, Bapak Menase Jitmau terlibat. Dia mendirikan mezbah, mezbah ini tempat di mana saya mengambil data penelitian, namanya Mezbah Anak Domba, di Bambu Kuning, Kota Sorong. Aktivitas ibadah di mezbah itu hari ini (11 Desember 2020, pen) masih aktif setiap hari Sabtu. Beliau sudah mengundurkan diri sebagai Sekretaris Umum (BPP GBAI) melalui surat dan surat itu ada pada Ketua Umum BPP. Dan secara resmi, Ketua Umum BPP sudah menyampaikan pengunduran diri tersebut.

Apa yang harus dilakukan untuk membendung pengaruh Sion Kids?

Seperti sudah saya sampaikan, gerakan ini terstruktur, sistematis dan masif.Sehingga untuk menghentikan kegiatan ini, hal yang pertama, harus ada kebijakan dari Sinode atau BPP (GBAI). Dan bila perlu, pemerintah harus juga mengambil sikap. Dalam hal ini Kementerian Agama berdasarkan laporan atau usulan dari gereja-gereja. Sehingga gereja-gereja perlu untuk menyamakan persepsi, mengambil pernyataan bersama untuk menolak gerakan ini. Dan pernyataan ini harus disampaikan kepada pemerintah yang memberikan perlindungan hukum atau kebijakan untuk membatasi gerakan ini.

Lalu yang kedua, untuk mengatasi ajarannya yang sudah menyebar, gereja harus melakukan counter (tangkisan) terhadap semua ajaran-ajaran itu, baik melalui seminar, khotbah dan sebagainya.Jadi dua hal itu harus dilakukan, kalau hanya meng-counter ajarannya tanpa membatasi gerakannya secara sistematis, maka tidak bisa. Dua-duanya harus jalan.

Waktu itu di acara Pemantapan Hamba Tuhan (Pemhatu) sudah ada kesepakatan. Apayang harus ditindaklanjuti dengan kesepakatan tersebut?

Saya melihat bahwa Pemhatu itu sangat penting karena forum di mana para pendeta sebagai teolog atau pimpinan gereja mengambil sikap atau pernyataan sikap berkaitan dengan Sion Kids. Penyataan sikap yang telah dibuat itu merupakan respons terhadap gerakan yang berkembang di lingkungan gereja. Jadi pernyataan itu sudah dibuat dan umat sudah tahu bahwa gerakan itu gerakan sesat yang tidak sejalan dengan gereja.

Dampak dari pernyataan itu, saya sendiri sudah melihat, ada banyak orang yang sudah kembali dan tidak mau terlibat lagi. Dua pendeta yang tadi saya sampaikan, yang satu masih dalam pertimbangan untuk mengambil sikap, tetapi yang satu sudah mengambil sikap sebelumnya, sekitar bulan Agustus. Dia sudah kembali bergabung (ke GBAI) dan tidak mau terlibat lagi dengan gerakan itu.

Dan saya tidak melihat secara langsung, tetapi mendengar, anggota jemaat ada yang menyampaikan, bahwa di daerah basis-basis Sion Kids yang ada di GBAI, khususnya yang ada di daerah Aitinyo Kabupaten Maybrat, kegiatannya sudah dihentikan. Jemaat kita yang terlibat di sana mereka tidak lagi terlibat aktivitas ibadah dan sebagainya.

Penulis: Budi Kasmanto

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here