SIL ASIK 2020 GEREJA NON-BAPTIS PUN IKUT BERGABUNG

0
137

Sekolah Injil Liburan (SIL) 2020 turut terimbas pandemi Covid-19. Itu sebabnya, kegiatan di masa libur sekolah usia kanak-kanak hingga remaja yang biasanya banyak menggunakan interaksi fisik, harus dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring). Menyadari situasi tersebut, LLB dan sejumlah orang muda dari beberapa gereja Baptis di Jakarta meluncurkan SIL Asik pada 23-25 Juli 2020 bertema “Aku Oke” melalui kisah Ester.

Menurut Manajer Sekolah Minggu (SM) Lembaga Literatur Baptis (LLB) Bandung Elisa Dwi Prasetya, sebenarnya LLB tidak merencanakan adanya SIL online. Karena terjadi pandemi, LLB batal menerbitkan buku SIL 2020. Sebagai gantinya, gereja dapat membeli buku SIL terbitan tahun 2012.

“Kalau LLB mencetak buku SIL 2020 serta peminat sepi, maka akan merugikan LLB karena biaya produksi yang besar,” ujarnya.

Keputusan tidak menerbitkan buku SIL 2020 diambil setelah manajemen melakukan rapat. Sejumlah gereja yang memesan buku SIL pun harus puas mendapatkan buku terbitan tahun 2012.

Daniel Kusmara mengakui, meski sebelumnya LLB tidak akan menerbitkan buku SIL 2020, pihaknya lalu berubah pikiran. Menurut Daniel, setelah mempertimbangkan berbagai usulan guru serta penulis buku SM dari sejumlah gereja, LLB memutuskan mengadakan SIL secara online.

Elisa membenarkan hal itu, “Usulan itu yang kemudian mempertemukan kami (LLB) dengan teman-teman dari Jakarta. Pertemuan ini membahas, apakah LLB mau bekerja sama untuk memproduksi SIL online tahun 2020.”

Pertemuan pada 26 Mei 2020 tersebut menyepakati untuk membuat program SIL online dengan menggunakan buku SIL 2020 dari LLB, sedangkan pengerjaan konten elektroniknya dilakukan orang-orang muda dari beberapa gereja di Jakarta.

Ide untuk mengadakan SIL online ini muncul ketika seorang penggiat pendidikan gereja, menghubungi Pdt. Rony Serworwora. “Dia adalah pengerja Sekolah Minggu dari denominasi lain yang sangat kreatif dan berkata, ‘Pak Ronny, kalau GGBI (Gabungan Gereja Baptis Indonesia) mau bahan-bahan untuk SIL online, hubungi saya. Kami bisa melatih.’ Lho, kita yang melahirkan SIL, kan? Kita punya Sekolah Minggu, kita punya LLB, kita ini besar, kita terkenal, mengapa harus belajar ke gereja lain? Tetapi akhirnya ini menolong saya untuk berpikir, kita punya kok anak-anak muda yang hebat, anak-anak yang mencintai Tuhan. Dan yang lebih lagi, kita mempunyai ‘pasar’ yang luar biasa besar, yaitu GBBI,” ungkap Ketua Proyek SIL Asik 2020 ini.

Pdt. Ronny lantas mengajak kaum muda di Jakarta kemudian menghubungi Gembala Sidang Gereja Baptis Pertama Bandung, Pdt. Ardi Wiriadinata supaya menghubungkannya dengan LLB. Hingga akhirnya, terjadilah kesepakatan menyelenggarakan SIL Asik 2020.

Diakui Elisa, ini kali pertama LLB menyiapkan SIL secara online. Menurutnya, jika LLB berjalan sendiri, hasilnya tidak akan semaksimal yang sudah disiapkan. Berkat kerja sama dengan anak-anak muda yang punya kreativitas tinggi, terciptalah SIL Asik 2020 yang luar biasa.

“Jadi intinya, dalam keterbatasan sekali pun, selalu ada jalan untuk berhasil. Salah satunya melalui kerja sama yang dibangun dan tentunya karena pertolongan Tuhan,” ujar Elisa.

Manajer SM LLB yang menerbitkan buku SIL setiap tahunnya ini mengaku tertantang untuk dapat menyesuaikan kurikulum pengajaran tatap muka tersebut menjadi online. Keinginan tersebut terwujud berkat bantuan tim kaum muda Jakarta dan sekitarnya antara lain Asaf Kharisma, Heru Kurniawan dan Sendi (GBI The Light Communities Chuch), Rommy dan Anthony (GBI Jatinegara), Gloria Sisti dan Hans (GBI Nazareth), Loudy (GBI Selapajang Tangerang), serta Ima (GBI Cisauk),

Tidak mudah menyatukan pemikiran terlebih yang terlibat dalam pembuatan SIL Asik 2020 adalah anak-anak mudah yang berasal dari gereja-gereja Baptis yang berbeda. Tak hanya itu, jarak tempat tinggal mereka pun berjauhan.

Sebagai manajer produksi, Asaf mengenal tiap anggota tim untuk terlibat dalam pembuatan SIL Asik. Ia juga mengetahui kapasitas mereka sehingga dapat berbagi visi pelayanan.

“Sebenarnya awalnya, SIL ini bukan prioritas pertama waktu kita membicarakan pelayanan lain melalui media. Namun ketika kita membicarakan lagi, kita melihat bahwa SIL ini yang urgensinya tinggi,” ungkap Asaf.

Menurutnya, memulai pelayanan SIL Asik 2020 adalah langkah yang terbilang nekat. Bukan hanya tempat tinggal anggota tim yang berjauhan, mereka juga punya kesibukan masing-masing. Tak pelak, membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk mengerjakan SIL Asik 2020 ini. Bahkan mereka harus rela bekerja hampir 24 jam demi menghasilkan karya tersebut.

Ima Aprilliyani, salah satu anggota Tim SIL Asik 2020  mengungkapkan, bagaimana ia dan rekan-rekannya bekerja hampir 24 jam selama berhari-hari. “Dari Jumat-Sabtu itu, benar-benar dari pagi sampai pagi lagi. Bahkan setelah syuting, proses editing (video) pun kita masih bertemu. Lalu harus syuting lagi untuk bahan ajar tambahan atau prakarya dan lain-lain.”

Ia melanjutkan, “Pengalaman pribadi aku, waktu syuting dan editing itu  (karena) pulang jam 4 pagi, jadi sempat nggak bisa masuk rumah, nggak dibukain pintu. Terus nggak enak juga (dengan keluarga). Jadi, aku tidur di motor, dan baru masuk rumah jam 5, begitu.”

Meski waktu untuk menyiapkan konten SIL Asik 2020 cukup singkat dan menguras tenaga, promosi ke gereja-gereja pun terbilang pendek, banyak gereja yang mengikutinya. Bahkan beberapa di antaranya datang dari gereja non-Baptis seperti Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Bethel Indonesia dan beberapa sekolah yang mendaftarkan murid-muridnya mengambil bagian dalam SIL Asik 2020.

Yohanes Aris Santosa dari Suara Baptis yang membantu tim produksi mengatakan, pendaftaran hanya dibuka selama satu minggu. Peserta SIL Asik 2020 mencapai 140 orang dari 80-an gereja.

“Sementara jika melihat jumlah viewers di akun YouTube SIL_Asik adalah 2000-an. Awalnya, saya pikir yang mendaftar paling banyak 30-an gereja. Nyatanya, hingga tiga hari sebelum acara, yang menghubungi aku banyak banget. Sampai jam 11 malam pun masih ada yang menghubungi,” ujar pemuda kelahiran Bengkulu yang menangani informasi dan pendaftaran tersebut.

Menurut Aris, banyak gereja menyampaikan ungkapan terima kasih dengan diadakannya SIL Asik 2020 ini. Terlebih gereja-gereja di Indonesia timur.

“Semangat mereka sangat besar, khususnya yang dari Papua. Mereka berkumpul sebelum waktu SIL dimulai, sementara di sana beda dua jam (dengan kita di Jawa). Kalau kita mulai jam 4 sore, di sana sudah jam 6,” ungkap Aris.

Elisa membenarkan. Meski SIL online ini diadakan saat liburan sekolah hampir selesai, tetap saja banyak yang mendaftar. Biarpun waktu menyiapkannya cukup singkat, materi SIL Asik 2020 dapat dikerjakan dengan baik. Hasilnya juga memuaskan.

“Kalau melihat tanggapan langsung di Instagram SIL Asik, yang mengharukan dan menginspirasi adalah semangat anak-anak itu sendiri. Dari kelas Indria sampai Tunas Muda, semua lomba diikuti, (termasuk) ayat hafalan. Bahkan ada anak-anak yang terbatas secara fisik namun bersemangat mengikuti SIL dari hari pertama sampai hari terakhir,” ungkap ayah dua anak ini.

Elisa mengungkapkan, “Tantangan berikutnya justru di tahun 2021 nanti. Apakah LLB akan membuat konten yang lebih baik lagi dari konten SIL Asik 2020 ini? kita lihat saja nanti,” tutupnya.

 

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here