Setahun Pertama “Duduk Bareng” BELAJAR TERBANG SAMPAI LANGIT By: Ima Apriliyani

0
499

Learn to Fly. Belajar untuk terbang. Rasa-rasanya kata ini memang tepat untuk mewakili Komunitas “Duduk Bareng” yang sudah berjalan selama satu tahun. Learn to Fly adalah ungkapan kerinduan kami untuk semakin melebarkan sayap dan terbang tinggi membawa apa yang kami cintai (ketertarikan dan hobi) menuju puncak gunung dan menjadi dekat dengan “Langit”. Jelas, penerapannya tidak sesederhana itu, seperti cerita yang dibacakan Pdt. Edwin Halim dalam acara ulang tahun pertama Duduk Bareng, 21 Mei 2019 di Practice Room Studio, Kuningan, Jakarta.

Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) JBC Pulomas ini menceritakan kisah seekor burung rajawali. Kisahnya menarik karena dibawakan dengan lugas, asyik, dan intonasi yang seru. Kami pun terhanyut dalam cerita dan jelas menangkap makna yang ingin disampaikan. Pdt. Edwin bercerita bagaimana seekor rajawali bisa menjadi penerbang yang andal bahkan disebut sebagai penguasa langit. Itu bukan didapat secara mudah atau karena anugerah yang Tuhan berikan sejak masa penciptaan. Kemampuan terbang rajawali didapatkan melalui kesukaran dan usaha tidak mengenakkan yang harus dilalui.

Memang, proses belajar untuk terbang ternyata tidak selalu menyenangkan. Menimbang-nimbang dan membayangkan hasil akhir sangatlah mudah, tetapi tetap saja itu khayalan yang belum diusahakan. Hal yang paling penting untuk bisa “terbang” adalah prosesnya. Itulah mengapa Duduk Bareng mengambil tema “Learn to Fly” pada acara ulang tahunnya. Di umur satu tahun, masih seumur jagung, belum terlihat apa pun, belum tercapai apa pun. Tetapi komunitas ini bertekad belajar dan menikmati proses untuk menjadi wadah anak-anak muda berani berkarya.

Secara keseluruhan, acara ulang tahun Duduk Bareng berjalan hangat dan penuh kekeluargaan, seperti yang kami harapkan. Ada banyak anak muda Baptis yang berkesempatan hadir dan tampil. Juga  ada kalangan-kalangan di luar Baptis yang ambil bagian bahkan di luar Kristen. Acara dipandu Filemon Noya dan para penggerak minat Duduk Bareng lainnya yang dengan asyik mampu menyampaikan suasana hangat di tengah-tengah kami. Meski suasana di ruang Practice Room sangat dingin, kami bisa mengikuti acara dengan nyaman.

Acara dibuka band Good Vibes (@GoodVibes.Band) yang membawakan instrumentalia yang benar-benar membawa suasana baik (good vibes) di antara kami. Acara ulang tahun Duduk Bareng diadakan di hari kerja dan masih masa sekolah. Tetapi kami bersyukur karena semangat kawan-kawan yang datang sungguh besar dan memberkati kami. Bahkan ketika lokasinya adalah di Jakarta, teman-teman dari berbagai penjuru tetap datang dan menikmati acara.

Selain itu, acara tidak hanya diisi penampil-penampil musik, K-Pop, dan sastra. Perwakilan dari visual art juga ikut “tampil” dengan menggambar di kertas yang dipajang ditembok, yang “dicoret-coret” Rocky Marinus, Hans Lazuardi, Clement Noya, juga Timotius Noya.

Setelah Good Vibes, ada juga penampil duo gitar dan keyboard yaitu Sam & Deo. Selain bernyanyi, keduanya menyampaikan narasi indah tentang bagaimana kami harus tetap bangkit walau di atas luka. Namun bersama dengan cinta kasih, semua akan jadi mengagumkan.

Tidak sampai di situ, selanjutnya ada penampil dari Ceband, band kaum muda Baptis Cengkareng yang membawakan instrumentalia full band lagu “Bersyukurlah” dari True Worshippers. Melodi yang dimainkan oleh saksofon serta penampilannnya sungguh menggambarkan suasana bersyukur dan memuji Tuhan.

Ada juga penampil dari Ukuiki (@UKUiki), yaitu komunitas yang mengajar dan bermain ukulele. Komunitas ini bahkan sudah mempunyai sekurang-kurangnya 500 anggota. Bahkan selain belajar dan bermain ukulele, komunitas ini juga mengasah minat mereka dengan melukis alat musik ukulele.

Ada enam orang yang membawa bermacam jenis ukulele dan memainkan beberapa lagu dengan permainan ukulele dan vokal suara yang healing. Kami bahkan sampai takut terhanyut. Tetapi sepertinya kami jadi semakin terhanyut dengan penampilan Visi dan Adi dalam grup Senandung Sendu (@SenandungSendu.id). Musik dan liriknya yang penuh dengan estetika, dengan latar belakang kondisi sosial yang ada di Indonesia seperti terorisme dan bencana alam membuat kami terbawa meresapi makna lirik lebih dalam dan jadi mengerti lebih. Bahkan dengan repetisi lirik “Manusia, apa kamu manusia?” tentang aksi terorisme bom gereja di Surabaya pada Mei 2018 membawa kita merenungkan kasih kepada sesama manusia (tanpa terbatasi perbedaan, karena Tuhan Yesus pun memberi siang dan malam kepada semua orang).

Senandung Sendu lantas kolaborasi bersama Asaf Kharisma dengan musikalisasi puisinya. Percaya atau tidak, lagu dan puisi yang menafsirkan makna yang bertolak belakang, di mana lirik lagu menceritakan tentang bencana alam, sedangkan puisinya adalah tentang warna bermacam rasa. Tapi anehnya dapat membangun penafsiran baru setelah dijadikan sebagai satu kesatuan penampilan, lagu dan puisi. Makna kata memang bisa seluar biasa itu!

Selain penampilan musik, Duduk Bareng K-Pop juga menampilkan duo mashup dance cover dari Girl Groups Korea, yang dibawakan Jelita dan Sharren. Yang memecah suasana adalah ketika beberapa peserta wanita meneriakkan fanchant selagi penampil menari di depan. Teriakan yang heboh dan menyegarkan. Jadi, walaupun hampir semua kami mungkin asing dengan musik K-Pop, kami tetap bisa menikmati penampilan seru tersebut.

Dan ada juga penampil dari Duduk Bareng Satu sastra yang diwakili teatrikal puisi Gloria Sisti. Dengan setting pencahayaan minim dan kostum selendang sudah cukup menolong kami masuk ke dalam suasana yang ditampilkan. Kata puisi yang dibawakan adalah “Cinta”. Ya, hanya satu kata itu yang diucap sepanjang penampilan. Namun kami dibawa ke sana-sini merasakan tentang mengharapkan cinta, mendapatkan cinta, kehilangan cinta, menyalahkan cinta, dan dipulihkan cinta.

Dilanjutkan penampil dari Duduk Bareng Musik, yaitu Filipus Cahyadi Project, yang beranggotakan lima orang. Yang unik, mereka memadupadankan pianika dalam penampilan pertama. Penampilan ini menyadarkan bahwa mereka adalah orang-orang dengan bakat musik luar biasa. Pada penampilan kedua,  Filipus menjelaskan tentang atonal, musik yang tidak memiliki nada atau kunci spesifik. Dari definisinya saja sudah membuat pusing, pikiran tentang bagaimana bisa musik tanpa kunci? Apakah akan enak didengar? Setidaknya itu yang penulis pikirkan sebagai orang awam. Dan ternyata luar biasa menggelitik telinga! Penampilan yang luar biasa untuk bisa disaksikan secara langsung.

Terakhir adalah penampilan Local Trio (@LocalTrioOfficial), band yang memiliki dua anggota dengan penampilan dari lima orang. Bingung? Tetapi memang seperti itulah yang dijelaskan vokalisnya, Daniel Waas. Band ini membuka penampilan dengan lagu “Berharap Tak Berpisah” dari Reza dilanjutkan dengan single terbaru mereka berjudul “Tebar Pesona” yang sudah rilis di beberapa platform musik secara resmi. Lagu yang ­easy-listening sampai sekali perkenalan lagu, semua yang hadir bisa dengan kompak menyanyikan lagu tersebut.

Acara ditutup dengan perayaan simbolis tiup lilin ulang tahun. Lilin ditata diatas tiga donat yang melambangkan visi Duduk Bareng sebagai wadah kreatif, ruang ekspresi, dan tempat inspirasi untuk anak-anak muda. Kami tahu, memulai segala sesuatu tidak pernah ada kata mudah. Tetapi kami juga tahu bahwa hal pertama yang harus kami lakukan untuk segala sesuatu adalah memulai. Dengan modal kasih mula-mula kami terhadap komunitas ini, bagaimana dan apa alasan terbentuknya komunitas, dan dengan Pribadi siapa kami memulai Duduk Bareng, membuat kami semakin bersemangat melanjutkan dan melebarkan sayap supaya komunitas ini bisa terbang tinggi.

Seperti Rajawali, yang mengembangkan sayapnya dan memanfaatkan angin kencang untuk terbang. Dua tahun, tiga tahun, lima tahun, bahkan sekian tahun ke depan, kami mau tetap fokus pada visi misi Duduk Bareng. Walaupun mungkin akan ada angin kencang, badai, atau rintangan lainnya.

 

Seperti Rajawali, kami mau berani menyambut dan menikmati “angin” tersebut. Karena pun, Rajawali bisa terbang tinggi karena memanfaatkan angin, bukan menghindarinya.

Duduk Bareng baru berumur satu tahun. Kami masih belajar dengan banyaknya hal yang kami ingin capai. Dan satu hal yang menguatkan kami, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” (Filipi 4:13).

Penulis : Ima Apriliyani

Editor : Juni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here