Seputar Kita: “MENJADI TUA BUKAN ALASAN BERHENTI BERKARYA”

0
32

Banyak orang berprinsip, “Saya akan memberi ketika saya sudah punya lebih.” Namun prinsip ini tak berlaku pada seorang mantan Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia Rahmani Purbalingga, Jawa Tengah ini, dialah Pdt. Mohamad Syamsul Islam.

Dalam kesederhanaan dan keterbatasannya, hamba Tuhan asal Kediri ini tetap konsisten dengan janji imannya untuk Sekolah Tinggi Teologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang, almamaternya.

Pdt. Syamsul menuntaskan pendidikan di STBI Semarang pada tahun 1970. Melalui ketekunannya, ia membuktikan, bahwa meski tidak tak lagi berpenghasilan tetap, seorang hamba Tuhan masih bisa berkarya.

“Terlebih berkat memberi daripada menerima,” ucapnya mengutip sepenggal ayat dari Kisah Para Rasul 20:35. “Saya ingin menjadi pelaku firman bukan hanya jadi pendengar. STBI sudah membesarkan saya secara rohani,” tandas Pdt Syamsul mengutarakan alasannya tetap rutin menyisihkan penghasilannya untuk disumbangkan pada organisasi Ikatan Alumni (IKA) STBI.

Dalam wawancara dengan Suara Baptis (SB), Sabtu (06/4/2019), Pdt. Syamsul bertutur mengenai pengalamannya belajar di STBI Semarang. Katanya, belajar di STBI yang kala itu masih bernama “Seminari Baptis Indonesia”, membentuk Pdt. Syamsul menjadi pribadi yang terbiasa bekerja keras dan bertanggung jawab. Sebab sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa kala itu, Pdt. Syamsul harus bergulat dengan waktu. Setiap hari ia bangun sebelum fajar dan tidur larut malam. “Saya harus bekerja selama 40 jam dalam sebulan. Dari 40 jam itu, 30 jam digunakan untuk membuka dan menutup pintu-pintu ruang kuliah, kantor, ruang sosial, dan perpustakaan. Sisanya yang 10 jam, saya bayar dengan membersihkan debu buku perpustakaan setiap Sabtu dan Senin,” paparnya.

Mungkin belum banyak yang tahu, meski STBI menyediakan beasiswa bagi mahasiswanya – khususnya yang kurang mampu-, STBI menerapkan sistem kompensasi kerja. Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter para mahasiswanya, menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, serta tekun dalam menjalani proses.

Sebelum resmi lulus dari STBI Semarang, sekitar tahun 1968, Pdt. Syamsul sudah melayani di beberapa perintisan, seperti Gereja Baptis Indonesia (GBI) Tanah Mas, GBI Sion, GBI Ngudi Mulyo cabang Wonrejo, GBI Ngudi Mulyo (induk), GBI Terang Dunia Trenggalek, serta GBI Terang Dunia Cab. Tugu. Selain melayani di perintisn, ia juga pernah menjadi utusan Injil GBI Kalvari di Tegal yang sekarang menjadi GBI Kalvari Tegal. Ia pun sempat menggembalakan jemaat GBI Peniel Surabaya. Terakhir Pdt. Syamsul menggembalakan GBI Rahmani Purbalingga Banyumas.

Berpuluh tahun setelah tamat berguru di “Kampus Biru” Bukit Simongan dan melayani di berbagai kota, kini Pdt. Syamsul telah purnakarya. Namun semangatnya masih sama. Ia mengisi masa pensiunnya dengan memproduksi kapsul daun kelor. Bahkan Tuhan memakai usahanya itu untuk memberkati STBI.

“Saya turut prihatin dengan banyaknya gereja Baptis yang tidak memiliki gembala. Saya juga mendengar bahwa para dosen STBI banyak yang menunggak dana pensiunnya,” ucap Pdt. Samsul yang mengaku masih kerap mengikuti perkembangan berita yang terjadi di gereja Baptis. Alasan keprihatinan itu jugalah yang mendorongnya tetap setia menyisihkan janji iman.

Tidak lagi menjabat sebagai gembala sidang, bukan berarti suami dari alm. Lucia Magdalena Sulasmi berhenti melayani. Pria yang sudah “kepala tujuh” , tepatnya berusia 74 tahun ini masih setia melayani dalam Kelompok Pembinaan Warga (KPW). Dia pun masih semangat berkhotbah dalam pelayanan tukar mimbar. Bahkan Pdt. Syamsul sering diundang, baik oleh gereja maupun masyarakat untuk menjelaskan manfaat daun kelor. Tak menyia-nyiakan kesempatan, momen “presentasi” daun kelor itu, ia gunakan untuk menyampaikan Kabar Baik kepada masyarakat yang dijumpainya.

Faktanya, daun kelor yang ia jual memang bermanfaat bagi kesehatan. Apalagi dewasa ini pengobatan alami atau herbal sedang digandrungi banyak orang. Daun kelor dipercaya ampuh mengatasi berbagai masalah kesehatan, luar dan dalam, seperti: masalah tekanan darah, gula darah, kesehatan mata, antioksidan, hingga melawan kanker.

Bisnis yang dilakoni ayah empat anak selama beberapa tahun belakangan ini ternyata membuahkan hasil.

Dikatakannya, “Ketika mengikuti reuni STBI dua tahun lalu, IKA STBI mengajak setiap alumnus menyumbang Rp 10.000,- per bulan. Saya punya janji iman, menyisihkan Rp 1.500 per boks kapsul daun kelor yang terjual: Rp 600,- untuk beasiswa dan Rp 900,- untuk dewan penyantun. Puji Tuhan tiap bulan saya mendistribusikan 200 boks kapsul daun kelor,” yang artinya setiap bulan Pdt. Syamsul menyumbang Rp 300 ribu untuk STBI.

Hal itu dibenarkan Pdt. Paul Kristiyono, ketua IKA STBI. “Pdt. Syamsul menjadi teladan yang baik dalam kasih. Dalam kesederhanaan dan keterbatasannya, ia tetap konsisten berjanji iman mendukung mahasiswa STBI bahkan rutin mensuport dana Dewan Penyantun tiap bulan.”

Menurut gembala sidang GBI Cilegon Banten ini, Pdt. Syamsul menunjukan kesetiaan dan kepeduliannya dalam mendukung mahasiswa STBI. Dalam segala keberadaannyaa saat ini, Pdt. Syamsul sudah menjadi aset bagi STBI meneruskan perjuangan dalam dunia pelayanan, pengembalaan di gereja bahkan dalam meneruskan pemberitaan Injil di Indonesia. Padalah menurut Pdt. Paul, banyak lulusan yang mampu bahkan diberkati dengan berkelimpahan namun belum tentu peduli dan mau mendukung almamater sekali pun hanya Rp. 10 ribu per bulan.

Pdt. Paul Kristiyono berharap agar alumni STBI meneladani sosok Pdt. Syamsul yang rela memberi dari kesederhanaannya.
“Pdt. Syamsul Islam sudah menunjukkan teladannya dengan menjalankan komitmennya,” pungkasnya.

Penulis: Juniati
Editor: Andry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here