Seputar Kita: Diangkat Malaikat Tuhan

0
140

“Mas, Ibu di mana?”

Pertanyaan itu membuat Wiweka Aji, anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Jatinegara Jakarta, spontan menengok ke bangku mobil tempat ibunya semula duduk. Mobil yang Wiweka kemudikan baru saja menghantam tiang stasiun pompa bensin di pinggir jalan tol dan terguling-guling.

Weko, panggilan akrab Wiweka, kaget karena sang ibu tidak ada di tempatnya. “Waduuuh … jangan-jangan ada di bawah mobil, pikir saya,” ungkapnya kepada Kikie dari Suara Baptis (SB).

Rabu malam 6 November 2019 pukul 22:00, datang berita duka dari Klaten, Jawa Tengah: kakak perempuan Dkn. Soetarno, ayah Weko, meninggal dunia. Setelah berembuk dengan keluarga, Weko bersama adik dan kedua orang tuanya berangkat ke Klaten menggunakan mobil. Mereka hendak ikut dalam upacara pemakaman esok harinya.

Pukul 01:22, mereka masuk jalan tol Jatiwaringin. Baru lima menit berjalan, situasi jalan di kilometer 8 jalan tol Jatibening sangat padat. Saat itu sedang ada pengerjaan proyek jalan tol layang Jakarta-Cikampek.

Kemacetan luar biasa di kilometer 12 membuat Weko yang kurang sehat, berniat membatalkan kepergiaan ke Klaten. Ia ingin pulang dan beralih naik pesawat. Namun Wijaya Wijayanta, adik Weko yang menyetir mobil, mengaku sanggup melanjutkan perjalanan. Pukul 04:45, mereka masih di Karawang Timur. Tiba di kilometer 57, mereka beristirahat.

Terjaga dari tidur, Weko lantas mencari informasi kondisi lalu lintas melalui Google Maps. Jika kembali berkendara tanpa berhenti, diperkirakan mereka akan tiba di Klaten pukul 11:06.

“Mengingat rencana pemakaman pukul 12:30, saya berpikir harus segera melanjutkan perjalanan. Saya menggantikan adik saya untuk mengendarai mobil, meskipun badan saya kurang sehat dan masih terasa ngantuk,” tutur Weko.

Baru saja menempuh perjalanan satu setengah jam, Weko tak kuat menahan kantuk. Akibatnya, beberapa kali ia terlelap ketika masih menyetir mobil.

“Dan ternyata kami berempat di dalam mobil tertidur pulas dalam kondisi mobil berjalan,” cerita Weko.

Tanpa disadari, mobil melaju mengarah ke kiri sampai keluar jalur hingga menghantam tiang SPBU Pertamina di kilometer 166 jalan tol Cipali. Benturan hebat menyebabkan mobil terguling-guling sejauh 200-an meter.

“Sebenarnya saya sendiri tidak tahu persis bagaimana kecelakaan itu terjadi, lha wong saya tidur. Kalau saya coba mereka ulang, kira-kira di kilometer 164 posisi mobil kami ada di jalur kanan, dengan kecepatan terakhir 110 kilometer per jam. Setelah itu saya tertidur dan tanpa sadar mobil ke kiri sendiri, masuk row (right of way atau ruang milik jalan),” tutur Weko.

Ayah dua anak ini tetap tak terbangun ketika mobil melaju di atas tanah yang permukaannya sangat kasar. Padahal mobil sudah bergetar sangat keras.

“Saya terbangun saat Bapak saya memanggil, ‘Le…. Le…  kok….’ Dan di depan saya ada tiang plang Pertamina. Mobil menghantam tiang tersebut lalu terguling-guling sekitar 200 meter. Mobil kami hancur parah,” kenangnya.

Spontan semua kaget karena di dalam mobil tinggal tiga orang. Ibu Weko tak terlihat. Dengan mendobrak pintu, Weko segera mencari sang ibu.

“Saya melihat Ibu duduk berjarak enam meter dari mobil kami. Ibu terlempar saat mobil terguling. Langsung saya peluk Ibu,” kata Weko.

Ibu Weko bilang, dirinya tidak apa apa, hanya bahu sedikit sakit. Melihat semua orang luput dari bahaya, Dkn. Soetarno mengajak semua orang berdoa syukur.

Weko, Ketua Tim Pembangunan dan Panitia Inventaris GBI Jatinegara ini tak habis-habisnya bersyukur atas perlindungan Tuhan yang luar biasa. Mereka selamat dari kecelakaan maut tersebut. Padahal mobil mereka rusak parah dan sang ibu harus menjalani operasi pemasangan pen pada bahunya.

“Kami sangat mengagumi Tuhan Yesus, karena kuasa-Nya sungguh sempurna melindungi kami. Sampai saat ini kami tidak mengetahui secara pasti bagaimana cara Ibu bisa keluar dari mobil (yang pintu-pintunya) dalam kondisi terkunci. Ibu tidak mengalami goresan luka pada tubuhnya. Kami meyakini, Ibu diangkat malaikat Tuhan dan didudukkan dengan sangat indah, karena kami menemukan dalam keadaan baik, seperti seorang ibu sedang duduk memperhatikan anaknya bermain di taman,” ujar suami Rahayu Wiji Lestari ini.

Weko menyampaikan ucapan terima kasih kepada gembala sidangnya Pdm. Sofyan Hutagalung dan keluarga, jemaat, diakon dan panitia perancang GBI Jatinegara. “Juga terima kasih kepada handai taulan, serta rekan kerja yang telah membantu dan memberikan perhatian, juga doanya.”

 

Penulis: Kikie

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here