Selibat: “Tara Sagita” By: Santosa Lidia *Bagian I

0
525

Dan terakhir Tuhan Allah menciptakan manusia. Adam.

Terciptalah ia. Seorang laki-laki.

Kepadanya Tuhan tidak hanya memaksudkan hubungan Pencipta dan ciptaan,

tapi juga sebagai teman, lalu mitra kerja dalam alam semesta. Bayangkan, tinggi posisinya.

“Adam.”

“Ya, Tuhan.”

“Ah, panggil saja kawan,” tersenyum.

“Haha… Ya, bagaimana, Kawan?”

“Titip alam ini ya. Jaga, cintai, dan

manfaatkan dengan bijaksana.”

“Tentu.”

“Juga…”

“Apa?”

“Itu, hewan-hewan sebegitu banyaknya itu, berilah mereka nama. Kasihan jika tiada dapat

disebutkan nama mereka.”

“Wow… Aku? Tidak salah, Kawan? Banyak seperti itu. Di air, laut, darat… Adakah aku mampu?”

“Kenapa tidak? Ketika Aku memberimu mandat, masakan Kutinggalkan, kau? Kuasa

dan hikmat-Ku pasti Kubagi padamu. Dan Aku, selalu ada untuk Kau tanyai. Jika perlu…”

“Pasti perlulah. Aku membutuhkan-Mu! Selalu…”

Kedua kawan karib itu berangkulan. Lalu, bangga, “Sungguh? Yakin?”

“Tentu, sahabat-Ku. Aku mengenalmu. Aku memilihmu.”

Girang, “Sip. Pasti. Esok pagi!”

http://jadiberita.com

Hampir tidak bisa tidur karena antusias dan semangat, tapi di Eden, tertidur pulas juga.

Belum lama matahari bersinar, si manusia dengan semangatnya mendatangi kawankawannya para hewan, menceritakan kabar sukacita tugasnya, dan mulai menamai mereka.

Antusiasnya bertahan lama seperti lamanya berhari-hari tugas besar maha mulia itu.

Namun, luruh juga, tatkala dalam tugasnya itu, ia jadi menyadari sesuatu.

Setiap kali mau memberi nama, dipanggilnya bukan hanya tunggal, tapi sepasang.

Untuk diamati dulu, siapa nama yang tepat bagi mereka.

Di situlah, ketika diamatinya satu-persatu setiap pasangan, manusia itu jadi menyadari

ada yang “kurang”.

Dirinya.

Siapakah, pasangannya?

“Tidak adil Kau, Tuhan!” runtukku langsung,

tanpa basa-basi.

“Hush, apa yang tidak adil?” emak, panggilanku buat ibu, menegurku setengah

marah, tapi kulihat rautnya yang hampir tersenyum, berarti juga setengah geli.

Aku cemberut.

“Kamu, kelas satu SMP, tahu apa tentang keadilan? Apalagi keadilan Tuhan?”

“Ya tidak adil. Masak ketika bisa jatuh cinta, pertama kali lagi, tidak boleh!”

“Ya tidak boleh, yang kau cintai kakak sepupumu!” sahut emakku.

“Tapi dia kan wanita. Kalau dia sesama pria, nah, itu, tidak boleh.”

“Ah, tahu apa kamu?” dipukulkannya ringan tutup dus bungkus nasi ke kepalaku.

“Sakit, Mak!” Aku marah.

“Bercanda…” mengelus kepalaku, meraih memelukku.

Aku marah bukan karena pukulan itu, aku tahu itu bercanda, karena itupun tak sakit.

Tapi aku marah dan sakit hati karena larangan emakku.

“Nak, Mbak Ida itu saudaramu. Sepupu. Biar sepupu, saudara, kan? Nah, itu yang tidak

boleh. Kita itu tidak boleh jatuh cinta pada saudara sendiri. Apalagi menikahinya.”

Air mataku mengalir.

Melihat itu, alih-alih mengejekku, Emak makin dalam mendekapku, “Besok lah kalau

sudah besar, engkau tahu sendiri. Makmu yang bodoh ini, susah menerangkan. Tapi pokoknya

begitulah, dilarang itu oleh agama, juga oleh adat kita. Incest, begitu Emak pernah dengar

istilahnya.”

“Apa, Mak?” tanyaku, tak urung, ingin tahu juga.

“In…. In… Ah, apa namanya tadi? Kok jadi lupa? Lha susah juga…” Emak tertawa. Aku

pun ikut tertawa atas Emak yang lucu, meski tawaku kutahan karena gengsi.

“Berilah waktu. Jalanmu masih panjang…”

Tapi, siapa bilang jalanku “panjang”. Jalan apa yang emak maksud?

Entah kenapa aku selalu mudah jatuh cinta. Jika orang bilang bahwa bila seorang

pria sangat mencari wanita mungkin karena kehilangan figur ibunya, oleh berbagai sebab

dan pengartian, maka mungkin aku malah sebaliknya.

Justru karena aku sangat dekat dengan ibu, dan memujanya, aku seperti mencintai wanita.

Mereka makhluk yang tiada bosannya ku”pelajari”, ku-”ikuti”, pun kukagumi.

Dan aku telah berulang kali jatuh cinta, meski tidak ada yang tampak hasilnya.

Hasilnya? Hasil apakah yang kauharapkan dari mencintai seorang wanita?

Balas dicintainya?

Ya, pasti!

Tapi, bahwa gayung tidak pernah bersambut, atau harus tiada berujung

karena suatu sebab, seolah tidak pernah mematahkanku mencari dan mencintai wanita.

Mungkin selalu sempat luruh, tapi itu sebentar saja.

Cinta pertamaku, mbak Ida yang tadi, dilarang ibuku yang kusayangi, karena sebab

yang tadinya kutak paham. Kemudian dengan beranjak dewasa, paham, meski juga masih

belum mengerti dalam hati.

Cinta keduaku, kelas dua SMP, menolakku.

Karena aku adalah adik kelasnya. Aku masih kecil, katanya.

Cinta selanjutnya, masih di tingkat sekolah yang sama, gayung bersambut, tapi badai

memisahkan. Ia harus ikut ayahnya pindah tugas ke luar Jawa. Hilang tak berbekas. Janji

korespondensipun entah kenapa saling kandas.

Berikutnya, di bangku awal SMA. Entah kenapa suka dengan anak satu SMP, tetangga.

Tapi dilarang lagi oleh emakku, katanya aku terlalu beda usia, dan disuruh fokus sekolah.

“Sekolah bayar mahal-mahal…!” sungut emak waktu itu.

Yang selanjutnya, akhir SMA. Tragis. Belum sempat kuberani menyatakan, sahabatku

yang ternyata suka juga, “mengambilnya” terlebih dahulu.

Putuslah cintaku, putus pula persahabatan itu. Terluka!

Di ospek atau MOS mahasiswa baru, menjadi akrab dengan empat teman pria. Jadi

karib. Kemana-mana bersama.

Namun merekalah juga yang menjadi batu karang penghiburku, kala sebuah duka

mendalam kualami masa itu.

Aku sempat berpacaran dengan seorang perempuan, sebentar. Hatiku nyaman berlabuh

padanya. Tapi entah kenapa duka selalu ingin mengembalikanku pada kesendirian.

Adakah duka ialah pasanganku, dan betapa cemburunya ia padaku?

Pacarku itu, yang baik, cantik, seiman, meninggal!

Jika tidak ada keempat sohibku itu, patah sudah kali itu harapan hidupku, seperti

hancurnya hatiku.

Namun sampai di situ, aku masih “biasa”.

Tidak pernah ada pikiran apa-apa.

Pikiranku baru muncul, ketika gengku mulai pecah telor.

Satu tahun setelah kuliah, salah satu dari kami lima sekawan sohib seperkuliahan ini,

berhasil meminang kekasihnya dan menikah!

Bahagia, tentu aku ikut bahagia! Secara tulusnya…

Namun ketulusanku tidak lama, berganti iri dan dengki, saat aku menyadari, bahwa dari

kami berlima, aku yang akhirnya membujang paling lama.

Satu-persatu menikah, tapi aku tak kunjung jua.

Bahkan menemukan pasangan pun, tidak.

Ada suka-suka, tapi tidak ada yang berkembang menjadi cinta.

Mungkin aku tidak pandai mendefinisikan apa itu cinta, tapi aku tidak begitu bodoh untuk

dapat membedakan antara naksir biasa dengan benar-benar jatuh cinta.

“Jangan begitu,” hibur satu sahabatku, ketika di tengah kesibukan mereka kami masih

menyempatkan berkumpul meski sebulan dua atau tiga kali. Namun pertemuan itu akan

semakin jarang karena mereka kian digerus kesibukan bekerja pun berumah tangga dan

beranak-pinak.

“Mungkin belum bertemu jodoh saja. Jodoh, kan bukan gampang. Ia adalah untuk

seterusnya nanti, maka pasti bukan hal yang mudah didapat. Paham, kan?”

“Iya,” timpal yang lain, “Mungkin semakin lama kamu dapat jodoh, semakin murni dan

termahal emas yang akan kau dapatkan itu.

Ibaratnya diantara kita, kamu terlama ada di penempaan. Semakin bermutulah apa yang

akan kau dapatkan dibanding kami semua!” Penghiburan yang konyol.

Kali ini, sohib keempat yang akan menikah, terakhir meninggalkanku dalam kebujangan,

berkomentar, “Lagipula, memang susah kan kau melepaskan almarhum Intan dari hatimu?

Dia sangat kaucinta, dan dalamlah duka yang dulu kau alami saat kejadian dia pergi…

http://2.bp.blogspot.com

Maka wajarlah kamu masih sulit mencari…” memandang awang-awang, seolah menghayati.

“Sudahlah! Terima kasih kalian sohib-sohib terbaikku menghiburku. Tapi apapun, aku

bujang lapuk. Aku kalah dibanding kalian,” tiba-tiba iri dan rendah diri itu menyeruak. Aku benci

rasa itu. Aku merasa asing diantara mereka.

“Semua binatangpun, yang terlemah sekalipun, ada jodohnya. Masak, manusia tidak? Kamu kurang doanya, kali?!” ujar seorang

sohib, ujaran yang justru menyakiti.

Ah, tidak penting! Pikiranku tenggelam memandang teh pahit kental di genggaman.

Kuteguk teh itu, kunikmati, sepahit nasibku.

Kini aku semakin susah menghibur diri sebagai “belum bertemu jodoh” saja.

Usiaku makin mantap, kalau tidak boleh dibilang menua.

Rambutku memutih, meski mungkin keturunan karena sebagian teman-temanku toh belum.

Tapi aku sudah tiga puluh lima dan sekian bulan lebihnya.

Telah bekerja, berganti tiga kali, semoga mantap dengan yang terakhir ini.

Di era digital, mencoba “keberuntungan” tambahan dengan mendaftar menjadi ojek

mobil panggilan lewat sebuah perusahaan yang bersistem situs panggilan aplikasi online.

Sebenarnya terselip harapan “gila” juga, bahwa dari antara seribu wanita yang akan

menumpang mobilku, mungkinkah aku akan bertemu satu jodohku?

Dewita Maharani. Bukan.

Ayuning Astuti. Sudah ibu-ibu.

Manikam Jayati. Lansia.

Bernia Simamorang. Numpang bersama kekasihnya.

Hayati Namabelu. Pergi dengan cucunya.

Dan ratusan nama penumpang lainnya, yang tidaklah kuhafal pastinya, tapi kubaca

dan kuamati foto profilnya. Sebelum akhirnya kulupakan dalam kekecewaan.

Mengapa satu itu, di antara ratusan, karena memang belum ribuan, tidak ada?

Adakah aku di planet yang salah?

Atau teori kawanku tidak benar. Mungkin ada juga hewan yang tidak sempat kawin,

yang mati atau entah kenapa sebelum bertemu jodohnya?

Menjadi bertanya, haruskah manusia menikah? Apakah pernikahan itu penting?

Adakah wajib hukumnya? Hukum yang mana?

Hukum siapa?

 

**bersambung**

*) Penulis tinggal di

Salatiga

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here