SEKOLAH MINGGU DI MASA PANDEMI COVID 19

0
187

Sejak Pandemi covid-19, tatanan kehidupan manusia ikut berubah, gerak sosial pun sangat terbatas. Hamper semua kegiatan dilakukan di rumah. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, nonton dari rumah, komunikasi dari rumah, termasuk beribadah dan Sekolah Minggu pun di rumah.

Sulit beradaptasi dengan segala keterbatasan ini. Namun gereja-gereja Baptis berusaha semaksimal mungkin untuk tetap mengadakan Sekolah Minggu secara online/daring (dalam jaringan).

Beberapa kesaksian guru maupun murid dalam mengikuti Sekolah Minggu online. Widhaninghar (Guru SM Wanita Senior) Gereja Baptis Indonesia Kebayoran

“Saya menggunakan Whatapp sebagai sarana mengajar. Sebelumnya saya berunding dengan kelas saya waktu yang cocok bagi kebanyakan kami untuk bertemu. Disepakati bahwa kami akan mengadakan Sekolah Minggu kami pada hari Sabtu pagi,” Ujarnya.

Pelajaran Sekolah Minggu pun dilakukan dengan merekam suara kemudian dikirimkan melalui WA (WhatsApp). Selain itu, Murid yang ada dalam kelas Wanita senior pun ada yang bertugas memimpin pujian, ada yang bersaksi dan ada yang memimpin doa. Setiap minggu pun kehadiran diabadikan melalui foto yang dikumpulkan ke satu orang yang bertugas untuk membuat design (kolase) dari foto-foto tersebut.

Sayangnya ada beberapa anggota yang tidak memiliki aplikasi WA sehingga tidak semua dapat mengikuti SM online. meski demikian, sang guru berusaha menghubungi lewat telepon namun terbatas hingga tidak bisa membahas pelajaran secara lengkap. Hambatan lainnya, karena beberapa muridnya bekerja sebagai asisten rumah tangga hingga tak bisa mengikuti SM.

Namun ada keuntungan mengadakan Sekolah Minggu via WA seperti ini. Ada anggota yang sudah pindah di luar pulau, masih bisa ikut berpartisipasi, sehingga bisa tetap terhubung.  Selain itu juga beberapa murid yang biasanya tidak mengikuti SM di waktu normal namun dengan SM online ini dapat mengikuti.

  • Guru-guru Sekolah Minggu Asuhan Gereja Baptis Indonesia Kebayoran

Walaupun masih usia balita, mereka tetap bisa bersekolah Minggu on line dengan dipandu orang tua. Orang tua dapat menolong anak-anak mereka melalui Handphone yang bisa dikoneksikan ke laptop atau televisi.

Setiap Minggu, guru-guru Asuhan berbagi tugas seperti, pembukaan, cerita Alkitab, penutup dan special edition. Tiap guru yang bertugas akan merekam video dari rumah masing-masing. Sementara cerita Alkitab akan menggunakan film pendek, power point ataupun video cerita teladan.

Special edition adalah video rekaman yang terdiri dari panduan hasta karya, sapaan guru, dan touring around kelas Asuhan untuk mengingatkan anak-anak Asuhan pada kelas mereka. Kemudian ada dancing along challenge, di mana orang tua diminta merekan video anak-anaknya menari mengikuti music. Serta lomba menghafal ayat dengan merekam video.

Ada juga program question and answer di mana guru bertanya, orang tua menjawab. Pertanyaannya seputar kegiatan SM Asuhan secara online. Sebelum acara SM ditayangkan, guru-guru terlebih dahulu mengirimkan panduan orang tua melalui WA. Panduan itu berisi langkah-langkah yang harus dilakukan ketika mendampingi anak-anak mereka mengikuti SM sehingga tujuan pelajaran bisa tercapai. Di akhir, biasanya para orang tua akan melaporkan kegiatan SM anak-anak mereka baik foto maupun video.

  • Rani Theorupun (SM Dewasa) dan Maya (Ketua SM) Gereja Baptis Elim – Ambon

Mengadakan Sekolah Minggu online tentu tidak mudah. Namun keadaan mengharuskan hingga tiap guru harus menyesuaikan diri dengan cepat sehingga SM dapat tetap berjalan.

“Pada awalnya agak ribet karena banyak jemaat awalnya menolak dan menentang Sekolah Minggu online karena kurang memahami aplikasi online. Selain itu, ada juga yang tidak mengerti penggunaannya sehingga harus melakukan pendekatan, penjabaran dan pembelajaran tentang bagaimana menggunakan aplikasi ini”.

Melihat respon jemaat, kebanyakan lebih menyukai pertemuan langsung. Namun karena situasi tidak memungkinkan sehingga mau tidak mau harus belajar metode yang baru. Selain itu, harga paket internet di daerah kawasan timur terbilang mahal apalagi di situasi (covid-19) ini banyak yang tida berpenghasilan. Namun akhirnya Sm dapat menggunakan zoom, sementara melalui YouTube dan WA kurang diterima karena mereka lebih suka bisa bertatap muka.

Sisi negatifnya, tidak semua anggota dewasa mampu menggunaka paket data internet sehingga mereka tidak bisa ikut serta.  Disamping itu, ada keterbatasan waktu. Waktu sudah habis sebelum sempat ada diskusi. Demikian guru harus pintar-pintar memanfaatkan waktu yang pendek dan materi yang disiapkan diusahakan untuk mampu difahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kini setiap Sabtu ada kelompok dewasa dan Pratama bertemu untuk bersekolah Minggu melalui zoom.  Kelompok Indria, Madya dan Muda Remaja mengadakan Sekolah Minggu mereka pada hari Minggu. Kiranya dimensi yang baru dalam memberitakan Firman Tuhan melalui SM online bisa dipakai terus untuk mengabarkan Injil Kristus. Amin.

  • Lenny Wattimury, BPW Anugerah Dari Allah, wilayah Jiletreng, Gunung Sindur – Kabupaten Bogor (perintisan Gereja Baptis Indonesia Grogol)

Tidak mudah menerima situasi harus bersekolah mInggu di rumah masing-msing, khusus untuk sebuah BPW. Hingga dua minggu setelah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan Pemerintah, kami belum bisa menentukan metode apa yang akan dipakai. Selain itu, Kondisi kehidupan ekonomi jemaat yang sederhana, sekarang harus ditambah beban membeli paket internet akan semakin memberatkan.

Memasuki minggu ketiga, kami mulai menggunakan WA juga zoom untuk Sekolah Minggu. Bagi kelas Madya dan Tunas Muda, aplikasi ini tidak menyulitkan sebab generasi mereka sudah mahir menggunakan handphone (HP). Namun kelas Indria dan Pratama harus berbagi HP dengan orang tua mereka yang ada di kelas Dewasa. Agar tidak tumpang tindih, akhirnya disepakati bahwa kelompok dewasa akan mengadakan Sekolah Minggu tiap Jumat malam. Karena pada jam-jam itu ibu-ibu sudah lebih surut kesibukannya.

Tantangan terbesar yang saya hadapi mengajar secara online:

  1. Meringkas pelajaran secara singkat tetapi sampai kepada tujuan.
  2. Oleh karena daya serap tiap-tiap ibu berbeda, maka saya harus mencari cara agar semua murid bisa ikut terlibat. Saya memberi tugas kepada murid dengan menghafalkan ayat atau mengisi soal-soal yang dikirimkan via WA minimal 2 hari sebelum “pertemuan”
  3. Tidak semua murid memiliki HP berbasis Android yang bisa dipakai membuat grup WA. Untuk murid yang tidak memiliki HP Android, saya harus menelpon mereka, karena HP nya hanya bisa untuk SMS. Ada yang punya, namun nggak ngerti cara menggunakannya.
  4. Terkadang guru perlu membelikan kuota agar mereka dapat mengakses internet.

Hal positif dari kegiatan SM di rumah:

  1. Karena tidak harus datang ke suatu tempat, maka murid yang dijangkau makin banyak jumlahnya. Ibu-ibu yang tadinya tidak bisa datang pagi ke gereja, sekarang bisa ikut karena diadakannya di malam hari, menyesuaikan dengan kondisi kesibukan mereka.
  2. Pertemuan yang terbatas justru membuat kelas menjadi makin hangat dan akrab. Kami saling merindukan dan tidak segan untuk berbagi pelayanan.
  3. Topik pembicaraan makin banyak, tidak terbatas pada materi SM, sehingga membuka wawasan yang baru bagi anggota SM.

Di banyak gereja Baptis, kelompok lansia adalah golonganyang paling tidak terjangkau untuk belajar Sekolah Minggu. Mereka tidak bisa mengoperasikan HP, Mereka juga tidak memiliki HP. Ada anak-anak mereka yang bisa menolong mereka tetapi banyak pula yang tinggal sendiri dan tidak bisa mengikuti Sekolah Minggu online. Padahal mereka adalah kelompok yang di masa normal, merupakan kelompok yang paling setia hadir SM. Untuk hal ini belum ditemukan cara menjangkau para lansia ini, kecuali guru mereka akan menelpon mereka sewaktu-waktu untuk sekedar mengobrol dan mungkin sedikit memberi ulasan pelajaran. Mereka juga merasa sedih karena tidak bisa “ikut” SM.

Demikianlah pengalaman beberapa guru dan murid di dalam menjalankan dan mengikuti Sekolah Minggu online. Ada berbagai metode yang dipakai. Tidak ada metode yang paling baik, semua tergantung dari kondisi masing-masing kelas dan kreativitas guru.

Entah sampai kapan keadaan ini akan berlangsung. Namun seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus didalam 2 Tim 4:2a: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya  . . .” Firman Tuhan harus tetap diajarkan. Pandemi tidak akan menghentikan pembelajaran Firman Tuhan. Tidak akan!

 

)* penulis adalah seorang pemerhati Sekolah Minggu,

Anggota GBI Kebayoran, Jakarta

Editor: Juniati

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here