Sang Gembala Pdt. Yulius Eko Emanuel, Gembala Sidang BPW Sumur Bandung, Lampung – JATUH CINTA PADA PELAYANAN BAPTIS

0
215

Sejak muda bercita-cita menjadi guru, di tengah jalan berbelok ke dunia penggembalaan jemaat yang penuh pergumulan iman. Itulah yang dilakukan Pdt. Yulius Eko Emanuel, Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kebayoran BPW (Balai Pembinaan Warga) Sumur Bandung, Lampung.

Sejak muda, Yulius ingin menjadi guru pendidikan agama Kristen. Ia berusaha mewujudkannya dengan berkuliah mengambil jurusan Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Diakonos, Banyumas, Jawa Tengah.

Semasa kuliah, ada misionaris Baptis yang mengajar tentang pengabaran Injil.  Pihak kampus merekomendasinya agar ikut dengan misionaris itu untuk dilatih menginjil. Hasil belajar menginjil itu dipraktikkan dalam kesehariannya.

“Dari praktik menginjili orang lain itu, saya merasa tidak banyak orang yang mendengarkan saat saya menginjili dengan metode yang saya pelajari. Mereka justru senang mendengarkan pengajaran dan bimbingan dengan cara saya sendiri. Saya telah menemukan cara saya sendiri,” tuturnya kepada kontributor Suara Baptis (SB) Diana Santi.

Yulius berasal dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Banyumas. Pertemuan dengan misionaris Baptis di Kampus Diakonos itu menggugahnya untuk pindah ke gereja Baptis.

“Kesan pertama, saya langsung jatuh cinta kepada pengajaran Baptis karena dorongan pelayanan pengabaran Injil lebih kental,” ujarnya dengan bersemangat

Merasa tidak memiliki karunia menjadi penginjil, pada tahun keenam  ayah dari dua putri ini akhirnya mengundurkan diri dari tim misionaris Baptis. Yulius lalu bergabung di GBI Tiranus, Banyumas.

Menjadi anggota jemaat kecil di tengah hutan karet tak membuatnya melempem dalam pelayanan. Gembala sidangnya waktu itu, Pdt.  Paulus Setiono, mengarahkan Yulius untuk membuka pos pelayanan baru di Desa Kaliori, Banyumas.

Meyakini Panggilan Pelayanan

Memulai Pos PI di Desa Kaliori yang lokasinya berdekatan dengan sebuah pesantren memberinya tantangan baru. Dengan upaya dan doa, Pos PI  yang dirintisnya mendapatkan pertambahan jiwa melalui masyarakat sekitar Pos PI dan komunitas pengamen.

“Saya bergaul dengan para pengamen dan berteman karib dengan ketua (komunitas) pengamen itu, namanya Soni Tato,” kenangnya.

Tak sekadar berteman, suami Galih Supriyati ini sangat memperhatikan anggota komunitas itu. Misalnya, mengunjungi mereka jika ada yang sakit atau memberikan bantuan yang diperlukan.

Pelayanan itu pun berbuah manis. Soni Tato dan keluarganya percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi anggota jemaat Pos PI Kaliori.

“Buah itu sekaligus menguatkan saya bahwa inilah maksud Tuhan untuk saya, yaitu menjadi gembala bagi jemaat,” tuturnya dengan nada terharu.

Meski tak mudah melayani di lingkungan pelayanan tersebut dan pertambahan jiwa tidak banyak, Pdt. Yulius bahagia dengan berdirinya rumah ibadah Pos PI itu. Perintisan jemaat baru juga terus dilakukan, termasuk dengan membuka Pos PI di sebuah desa di Pulau Nusakambangan. Adanya satu anggota jemaat yang bekerja pada proyek reboisasi di Pulau Nusakambangan kala itu, menjadi benih yang tertanam di sana.

Sebulan sekali anggota jemaat itu dikunjungi untuk memelihara imannya. Pertambahan anggota jemaat pun terjadi. Teman-teman anggota jemaat mula-mula yang telah lama tidak bergereja, ikut bergabung dalam kelompok persekutuan kecil di Pulau Nusakambangan. Hambatan alat transportasi untuk menyeberang ke pulau tersebut diatasi dengan membeli perahu. Maka, pelayanan pun berjalan lancar.

“Bersama pelayanan Nusakambangan ini, sekali lagi saya diteguhkan bahwa memang panggilan pelayanan saya adalah menjadi gembala sidang. Saya sangat bersyukur,” imbuhnya

Di sela-sela pelayanan kepada jemaat, Pdt. Yulius juga diminta menjadi asisten dosen sebuah STT. Ia pun mendapatkan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) sekaligus meneruskan kuliah strata 2. Namun pelayanan penggembalaan lebih mendapat prioritasnya. Akibatnya, Pdt. Yulius sering absen dalam mengajar dan akhirnya berhenti menjadi dosen.

Menggadaikan Sepeda Motor

Karena datang dari gereja non-Baptis, Pdt. Yulius harus mengikuti program matrikulasi untuk menjadi pendeta di gereja Baptis.  Campur tangan Tuhan sangat nyata saat proses matrikulasi. Kala itu Pdt. Yulius tidak memiliki uang untuk membayar biaya matrikulasi dan keperluan transportasinya. Berbekal tekad yang bulat dan sepakat dengan istri, sepeda motor kesayangannya pun digadaikan. Saat hendak membayar biaya matrikulasi, seorang hamba Tuhan memberitahu, tidak perlu membayar lagi karena sudah mendapat bantuan dana dari Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI).

“Sungguh, saya kaget sekali, Tuhan begitu baik. Akhirnya sepeda motor bisa kembali saya tebus,” ungkapnya dengan bersemangat

Pada acara matrikulasi itu terjadi pertemuan tak sengaja dengan Gembala Sidang GBI Kebayoran Jakarta Pdt. Radik Irianto. Ketika itu Pdt. Radik bersama Panitia PI GBI Kebayoran sedang mendoakan adanya kebutuhan gembala sidang di salah satu BPW di Lampung.

Tidak ada pembicaraan serius kala itu. Namun beberapa bulan kemudian, Pdt.  Radik Irianto menelepon Pdt. Yulius. Pdt. Radik ingin mengundangnya menjadi Gembala Sidang BPW  Sumur Bandung, Lampung.

Pindah ke Lampung

Setelah bergumul dalam doa bersama istrinya, Pdm. Yulius menyampaikan rencana kepindahan pelayanannya kepada kedua anaknya yang masih kecil. Perbedaan lingkungan dari Banyumas yang situasinya ramai dengan Sumur Bandung Lampung yang sepi, tentu saja memerlukan usaha keras untuk menyesuaikan diri terutama anak-anaknya.

Setelah pindah pelayanan ke Lampung, suatu kali anaknya menangis minta kembali ke Banyumas. Namun tekadnya untuk memenuhi panggilan pelayanan memampukan Pdm. Yulius untuk meyakinkan anak-anaknya bahwa tempat inilah yang dipilih Tuhan sekarang untuk melayani-Nya.

Merintis pekerjaan Tuhan di Lampung memiliki tantangan tersendiri. Maklum, lokasi gereja berada di perkampungan yang masih sepi. Usaha penjangkauan pun dilakukannya dengan mengadakan acara Natal dan mengundang masyarakat sekitarnya. Warga yang belum pernah melihat acara Natal ini, menyambut dengan sangat baik.

Tak sampai di situ saja, Pdm. Yulius membuka rumahnya untuk memberi les bahasa Inggris dan matematika bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD). Namun karena sebagian warga tidak nyaman, pemberian les akhirnya dihentikan.

Kesetiaan dan ketekunannya melayani Tuhan membuahkan hasil. Pdm. Yulius semakin mantap menjalankan pelayanan penggembalaan dengan penahbisannya menjadi pendeta pengantar Injil pada Juli 2019 di GBI Kebayoran Jakarta. Kecintaannya kepada pelayanan Baptis benar-benar dibuktikannya dengan kerja keras  dalam pelayanannya di mana pun berada.

 

Penulis: Diana Santi
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

Pdt. Yulius Eko Emanuel
Lahir               : 12 September 1985
Istri                : Galih Supriyati Ningsih
Anak               : Emanuella Zoe Gracia Cristy
Emanuella Solafide Attalya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here