Sang Gembala – Pdt. Abdul Amin Kohar – ALKITAB DIKIRA BUKU CERITA SILAT

0
98

Lahir dan besar di Curup, Bengkulu hampir 70 tahun lalu, Pdt. Abdul Amin Kohar masih tampak begitu segar. “Kohar” diambil dari nama ayahnya yang Muslim. Ketika berumur 8 tahun, Amin ditinggal pergi ayahnya. Dari seorang anak tunggal yang dimanja, ia harus berjuang mencukupi kebutuhan hidup.

Perjumpaannya dengan Tuhan Yesus melalui dua cara yang unik. Suatu hari, ia salah mengira Alkitab milik tetangganya sebagai buku cerita silat sejenis karya Kho Ping Hoo.

”Dari salah sangka itulah saya mulai membaca Kitab Kejadian. Waktu meminjam ‘buku cerita silat’ itu untuk dibaca di rumah, tetangga saya yang orang Kristen itu mengiya-iyakan saja tanpa mengatakan apa-apa. Tetangga yang lain, orang Minang, yang mengingatkan saya untuk segera mengembalikan buku itu karena bisa membuat murtad,” ceritanya kepada Yonghan dari Suara Baptis Januari 2021 lalu sambil terkekeh-kekeh.

Karena isinya terlalu “berat”, ia pun mengembalikan Alkitab itu.

Umur 16 tahun, Amin pindah ke Palembang. Ia tinggal di rumah saudara sepupunya yang Kristen. Amin sering mendengar keponakan-keponakannya menyanyikan lagu Sekolah Minggu, seperti “Dalam Nama Yesus”, “Tuhan Yesus Tidak Berubah”, dan “Bilur-Nya”.

”Jujur, saja hati saya tertarik, tetapi saya menentangnya karena sifat fanatik yang kosong,” kenang Pdt. Amin.

Suatu hari, supaya bisa segera mendapatkan pekerjaan, Amin dan kedua temannya menemui seorang dukun. Waktu akan “dimandikan”, si dukun memasukkan tiga kuntum mawar ke dalam ember yang sudah diisi air.

Anehnya, dua kuntum bunga merapat, namun yang satunya memisahkan diri.

Si dukun berkata, “Yang dua ini sudah percaya Tuhan, tetapi yang satu belum.”

Amin merasa kata-kata itu seperti ditujukan kepadanya. ”Saya orang yang belum mengenal Tuhan,” ia terus-menerus membatin.

Sepulang dari ritual sesat itu, Amin menghubungi saudara sepupunya untuk meminta bimbingan bagaimana menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Hari Minggu berikutnya, ia sudah langsung ikut beribadah di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Elim, Palembang. Pendetanya saat itu Pdt. Ribowo Muktiyan. Beberapa bulan kemudian, Amin langsung dibaptiskan dan melayani sebagai guru sekolah Minggu kelas Indria.

”Sejak pertama kenal Tuhan Yesus, saya sudah tertarik untuk melayani Tuhan. Saya suka sekali ketika dikasih tugas sebagai guru Sekolah Minggu. Hanya, karena waktu itu saya belum tahu banyak soal Alkitab, saya malah salah mengajar anak-anak kalau Ayub satu hari akan menjadi raja. Soalnya, saat itu saya salah mengira Ayub sebagai Daud. Aduh, saya minta ampun pada Tuhan karena kesalahan itu,” kenangnya.

Ikut Tuhan tidak berarti hidup akan lancar-lancar saja. Pada 2 Juli 1971, Amin yang sedang bersepeda ditabrak mobil hingga kakinya patah. Ada luka yang cukup besar di kepalanya hingga darah terus mengalir selama beberapa jam.

Ketika terbaring di rumah sakit, tiba-tiba ia bernazar dalam hati, “Tuhan, kalau saya bisa sembuh dan tidak sampai cacat, saya mau melayani Tuhan sepenuh waktu!”

Tuhan menjawab nazar itu dengan menyembuhkannya secara total. Menjelang umur 23, pada 1974, ia masuk Seminari Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan.

Rekomendasi masuk seminari diberikan Pdt. J.B. Rembet yang menggembalakannya ketika itu. Biaya studi juga disedikan GBI Palembang. Karena adanya kebutuhan pelayanan, Amin sempat diminta pulang dari studinya untuk sementara supaya bisa membantu melayani lebih dulu.

Ia kemudian melanjutkan studinya pada 1976 dan selesai tahun 1980. Amin pun melayani Pos Pengabaran Injil (PI) Belitang, Sumatera Selatan sekitar 6 bulan, menggembalakan para transmigran. Ia kemudian dipindahkan ke Pos PI Telang Jaya Jalur 3, Sumatra Selatan.

Karena ada kebutuhan guru agama di Sekolah Baptis Palembang, Amin ditarik untuk mengajar sambil membantu pelayanan GBI Palembang dan Pos PI dalam kota.  Sekitar Agustus 1983, Pdt. Yohannes Heryanto yang menggembalakan GBI Palembang, memintanya melayani di Pos PI Lebong Siareng, Palembang.

”Saya berpikir hanya diminta membantu pelayanan di Lebong Siareng. Tidak pernah terpikir kalau saya disiapkan menjadi gembala sidang di sana. Saya menyelesaikan matrikulasi di STBI (Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia) 1994. Pada 27 Juni 1995, bersamaan dengan pengorganisasian GBI Lebong Siareng, saya ditahbiskan menjadi pendeta pengantar Injil. Saya melayani di sana selama 18 tahun,” ungkapnya.

Di tempat ini jugalah ia menikahi Martha Eveline Patty yang tadinya anggota Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Marturia, Jambi. Martha dikenalnya ketika praktik pelayanan setahun di sana.

Cara Tuhan mempertemukan mereka sungguh ajaib. Pdt. Amin seharusnya praktik pelayanan di GBI Palembang. Namun, seminggu sebelum berangkat, pihak kampus memanggilnya dan berkata, “Saudara Amin, kami dewan pengajar mempertimbangkan kalau Saudara Amin praktik pelayanan di gereja sendiri, maka tidak akan memiliki pengalaman melayani di gereja lain. Karena itu, kami mengutus Saudara Amin ke GPIB Jambi.”

Rupanya Tuhan sudah menyiapkan calon istri untuknya di sana.

Pernikahan mereka berlangsung pada 9 September 1984, dikaruniai dua anak. Grace Amin dan Steven Amin lahir ketika Pdt. Amin melayani di Lebong Siareng.

Sejak kecil, anak-anak sudah dilatih untuk hidup mengandalkan Tuhan saja. Mereka belajar dan mengalami sendiri bagaimana ajaibnya pemeliharaan Tuhan. Pdt. Amin memang membiasakan keluarganya untuk melayani Tuhan sebagai satu kesatuan.

Meskipun ada berbagai pergumulan, Tuhan tetap memelihara keluarga ini dengan ajaib. ”Suatu hari, ketika Grace masih kecil, ia minta dibelikan pisang. Karena memang belum ada uangnya, saya hanya berani berjanji akan membelikan kalau nanti sudah gajian. Belum selesai berbicara, seolah-olah masih ada gemanya, tiba-tiba ada anggota jemaat datang membawa setandan pisang, bukan (hanya) sesisir,” cerita Pdt.  Amin.

Saat ini, Grace menjadi dosen President University Bekasi, Jawa Barat sementara Steven menjadi konsultan IT di Wilmar Consultancy Services Jakarta.

Pada 1998, Pdt. Amin menerima undangan untuk melayani GBI Grogol Cabang Pekanbaru. Setelah sekitar 2,5 tahun melayani di sana, ia pindah ke TPW Cikarang,  (sekarang GBI Cikarang, mandiri 17 Juli 2010).

”Saya masuk Cikarang Juli 2001 dan pensiun Juli 2016. Total 15 tahun melayani di sana,” ujar Pdt. Amin.

Baginya, setiap tempat pelayanan memberikan kesan yang berbeda-beda. ”Saya melihat karya Tuhan di setiap tempat pelayanan yang telah saya jalani. Apa pun suka dukanya, kami anggap setiap tempat pelayanan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membentuk kami.”

Dalam setiap tantangan yang dialaminya, Pdt. Amin belajar bahwa ketika ia menyerahkan semuanya kepada Tuhan, selalu ada hikmat yang diberikan untuk menyelesaikan masalahnya.

Dikatakannya, penyertaan Tuhan luar biasa dan nyata dalam hidup Pdt. Amin. Pertolongan Tuhan yang ajaib bukan sekali-dua kali dialami, namun berkali-kali. Meskipun demikian, ia mengakui, cara dan waktu Tuhan kadang-kadang membuat seseorang jadi harus sport jantung. Namun, Tuhan tidak pernah lalai menolong.

Ketika ditanya nasihatnya untuk para gembala muda, Pdt. Amin dengan lembut berkata, “Pertama, selama kita bergantung kepada Tuhan, Dia akan menuntun kita dalam pelayanan. Kedua, jangan pernah berutang budi pada manusia atau berusaha menyenangkan hati seseorang. Kedua hal itu akan menjadi perangkap dalam pelayanan kita. Ketiga, bertanyalah kepada Tuhan sebelum bertindak. Kalau yakin bahwa itu adalah kehendak Tuhan, jangan bimbang untuk menghadapinya bersama Tuhan.”

Penulis: Yonghan

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here