“Sama-sama Mematikan, Virus Ini Sudah Ada Sejak Dulu Dan Sulit Disembuhkan”

0
281

Melalui peristiwa yang sedang terjadi saat ini (pandemik Covid -19) dan respon terhadapnya, kita dapat melihat karakter asli diri kita sebagai manusia. Bahkan rasanya – sejauh ini dalam kaca mata saya pribadi – kita melihat kubu-kubu yang terbentuk menanggapi persoalan bersama ini. Mereka yang menekankan iman versus mereka yang menekankan hikmat seolah bergelut dalam sebuah ring memperebutkan sabuk kejuaraan bertuliskan, “Tuh kan apa saya bilang”. Di antara keduanya (sebut saja moderat), mengambil pilihan tidak mempertentangkan iman dan hikmat dengan dalil bahwa hikmat adalah buah iman.

Si ‘iman’ berkata bahwa selama berada di ‘rumah Tuhan’ di mana Yesus ada sebagai Christ Over Virus Infection and Death, tidak akan terkena virus apa pun. Namun faktanya – menurut si ‘hikmat’, “Jangan mengira karena di ‘rumah Tuhan’ menjadi kebal karena virus.

Penyebaran Covid-19 di Korea bermula dari Gereja Shincheonji Yesus. ‘Si iman’, “Kalau perkara kumpul-kumpul, di pasar orang juga berkumpul. Masa gereja, kalah sama pasar?” ‘Si hikmat’, “Lha Pasar di sana, terancam ditutup sementara karena ada yang terinfeksi.”

‘Si iman’ berkata, “Kalau begitu hadapi Corona dengan iman!” Tetapi seharusnya iman yang sama tidak lantas menjadi luntur hanya karena jabat tangan tak bersambut oleh ‘si hikmat’ atau karena perbedaan tentang beribadah di gedung gereja atau di rumah oleh keduanya. ‘Si moderat’ menimpali, “Memberi salam adalah budaya kita. Sementara waktu hindari kontak langsung seperti berjabat tangan. Bisa kembangkan ragam alternatif untuk bersalaman seperti membungkuk, melambaikan tangan atau salam namaste (kedua telapak tangan berada di dada/telungkup). Toh betuk salaman itu tidak mengurangi esensi penghormatan terhadap orang lain.

Siapa yang benar? Si iman? Hikmat? Atau moderat? Mari kita kembali pada prinsip Firman Tuhan untuk belajar berdamai bersama orang-orang (Filipi 4: 2-3):

Sehati dan sepikir dalam Tuhan membawa kedamaian (2)

Perhatikan frasa, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” (ayat 2). Apakah Saudara tahu arti nama mereka? Euodia berarti “perjalanan yang makmur” sedangkan Sintikhe berarti “kenalan yang menyenangkan”. Namun apa yang terjadi dengan keduanya? Keduanya sedang berkonflik, berdebat (2). Sungguh tidak selaras dengan arti nama mereka sendiri.

Kalau tidak hati-hati, persoalan iman, hikmat, kasih, perdebatan definisi gereja, ibadah, iman dan lain-lain, bisa membuat perdebatan hingga perpecahan. Apapun perbedaan arti nama Saudara, perbedaan pandangan, bahkan perbedaan teologi, hati dan pikiran yang sama di dalam Tuhan adalah yang terpenting. Dengannya, iman tidak menjadi fideis, fatalistis. Hikmat tidak kebablasan menjadi liberal, moderat tidak menjadi yang paling benar.

Kata kunci surat Filipi ini ialah, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” (Fil. 2:5). Apakah kita berada di dalam Tuhan ketika memikirkan dan merasakan segala sesuatu yang sedang dan akan terjadi dalam hidup kebersamaan kita? Apakah tiap kita sedang berada dalam framing, frekuensi dan nada yang sama persis dengan hati dan pikiran Kristus?

Benarkah iman yang muncul ke permukaan sebagai sebuah ‘doktrin’ itu berdasarkan air jernih yang tersaring dalam perenungan spiritualis kita bertahun-tahun lamanya? Apakah ‘kotoran’ teologi kita yang tertelan bersamaan dengan kebenaran, benar-benar mengendap di di bawah air jernih tadi dan tak terbawa ketika kita mengeruk dan memunculkannya ke permukaan?

Menjadi pembawa damai (3a)

Perhatikan frasa, “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka…” (3a).

Damai dengan orang lain kadang membutuhkan para pembawa damai (3). Oleh sebab itu, Paulus meminta kepada Sunsugos untuk menolong keduanya. Prinsip sederhana dalam menyelesaikan persoalan ialah jangan membuatnya berlarut-larut hingga masalah yang ada tak berujung, bicarakan berdasarkan kasih dengan yang bersangkutan – bukan orang lain, dan jika diperlukan dan disepakati, minta pihak ketiga yang objektif dan bijaksana untuk menolong – dalam konteks Filipi, Sunsugos memiliki karakter setia.

Tuhan memanggil kita untuk memimpin orang percaya lainnya (dalam konteks jemaat Filipi) menuju persatuan. Dan benar saja, memimpin mereka yang berdosa, jatuh, mengalami persoalan, dan lainnya lebih sulit daripada hanya sekadar nyiyir. Mengapa? Karena dengannya memimpin orang berkonflik banyak menuntut pengorbanan (waktu, perhatian, pikiran, hati). Padahal kita bisa saja berkata, “Itukan bukan urusan saya. Masalah yang saya hadapi juga banyak dan belum terselesaikan. Apalagi ngurusin masalah orang lain.”

Dalam persoalan bersama yang sedang kita hadapi, mana jalan yang kita tempuh? Menolong dengan karakter yang telah kita miliki atau yang lainnya? Jika diminta, maukah Saudara menolong mereka yang sedang berada dalam konflik meski Saudara perlu berkorban? Mungkin perkataan ini ada benarnya, jika kita belum bisa menjadi berkat, setidaknya, kita bukan pembuat onar.

Fokus pada Pribadi, bukan masalahnya (3b)

Perhatikan Frasa, “…Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” (3b).

Fokus Paulus bukan pada masalah keduanya, sebab setiap orang dapat mengalami konflik dengan orang lainnya, melainkan karena keduanya (Euodia dan Sintikhe) telah dan terus berjuang dengan Paulus dalam pekabaran Injil – Paulus juga pernah berkonflik dengan Barnabas – dalam hal ini kemenakannya, Markus (Kis. 15:35-41), namun pada akhirnya Paulus dan Markus dapat menjadi kawan sekerja (Kol. 4:10; 2 Tim. 4:11; Filemon 24).

Paulus melihat jauh lebih dari sekadar persoalan, Paulus melihat karakter mereka. Perjuangan bersama dalam pekabaran Injil tidak boleh terhenti hanya karena terjadi perdebatan bahkan perselisihan antara keduanya. Dalam konteks hari ini, kasih dalam tindakan membagikan kasih Kristus dan berjuang demi kemanusiaan tidak bisa dihentikan hanya karena perbedaan pendapat menyikapi Covid-19. Dunia sedang menantikan mereka yang mengklaim diri sebagai para pembawa damai dan kebaikan. Mari kita buktikan!

Fokus Paulus yang kedua ialah karena keduanya (Euodia dan Sintikhe) termasuk dalam golongan orang yang telah diselamatkan (perhatikan frasa, “namanya tercantum dalam kitab kehidupan…”). Paulus meyakini bahwa mereka dapat bahkan mudah mengadakan pendamaian. Mereka dapat kembali sehati sepikir karena mereka telah percaya kepada Kristus.

‘Virus’ mematikan yang menjangkiti banyak orang ini hanya dapat disembuhkan melalui Yesus. Hanya orang yang benar-benar percayalah yang hatinya mau berubah dan berdamai dengan orang lain. Mengapa? Karena mereka memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga di dalam Kristus.

Jadi bukan hanya arti nama mereka yang baik. Nama seseorang bisa sangat baik namun berbanding terbalik dengan kelakuannya (prinsip hidup yang tidak benar). Bahkan nama lahir seseorang dengan mudah dapat diganti. Tetapi persoalan nama tercatat di dalam kitab kehidupan adalah persoalan yang lain. Oleh karena dasar itu (kelahiran baru/nama kita telah tercantum dalam kitab kehidupan), kita menjadi pembawa damai sama seperti Kristus, bukan sebaliknya, menjadi pembuat ketidak-damaian.

Akhirnya

Posisi perbedaan definisi gereja, iman, hikmat, dan kasih yang kian mencolok disikapi dengan cara yang berbeda. Lalu mereka memutuskan bersatu menjadi ‘si kepentingan bersama’ (Fil. 2:5).

Pandemi Corona ini sedang menguji kepedulian kita bersama. Mari kita hentikan bentuk sikap menyalahkan, mencurigai, menuduh pihak lain tidak memiliki iman, meremehkan penyebaran virus dan lain-lain.

Jangan mudah tersinggung hanya karena persoalan berjabat tangan atau tidak. Mari kita kedepankan kehidupan bersama dan mengesampingkan ego semata. Kita berusaha mengantisipasi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Jangan berkomentar buruk  dan berdebat satu dengan lainnya. Seorang pendeta berkata, “Kita mengatisipasi bahaya lebih buruk yaitu pertikaian dan perpecahan yang menyenangkan Iblis.”

Sebagai hamba Tuhan saya menerima resiko disalahpahami (pendeta tidak beriman, terlalu takut, terlalu lebay), saya lebih tidak rela jika mereka yang dekat dan saya kasihi terinfeksi. Mereka ialah keluarga, jemaat yang rentan, teman-teman, sahabat, dan kamu. Iya, kamu!

Tapi kalau ‘imanmu’ kuat, jangan cuma dipake buat nongkrong. Kasihan mereka yang nggak punya pilihan diam di rumah. Tuh dibuka pendaftaran jadi relawan. Atau minimal, Oma, Opa di gerejamu bagaimana kondisi mereka? Mungkin di antara mereka hidup seorang diri, dalam keadaan biasa saja mereka sulit untuk keluar. Mungkin logistik makanan mereka sudah menipis bahkan habis. Mungkin memerlukan obat atau vitamin lainnya. Karena imanmu kuat, belilah bahan makanan, datanglah ke rumah mereka, bawakan bahan makanan itu bertuliskan ‘dari Tuhan Yesus untuk Oma’, taruh di pintu gerbang atau halaman. Panggil nama mereka agar keluar dan bersegeralah pergi. Agar kamu menjadi pahlawan bertopeng dan kemuliaan bagi nama Allah ketika mereka berkata, “Puji Tuhan!”

Penulis: Febbi Timotius

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here